Sepenggal Sejarah Kematian Napster (2) - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Sepenggal Sejarah Kematian Napster (2)

    Industri musik memandang Napster, sistem file sharing yang pernah sangat populer, sebagai ancaman.

    Dibaca : 3.439 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Saat kamu berpikir tentang Napster, kamu berpikir tentang musik. Tapi hal pertama yang mengagetkan saya ialah bahwa ini merupakan kasus penting bukan untuk industri musik, tapi juga Internet keseluruhan.”

    --David Boies (Pengacara, 1941-...)

     

    Puluhan juta orang yang saling mempertukarkan file musik membuat Napster segera dipandang sebagai ancaman bagi model bisnis tradisional yang ditopang oleh perusahaan-perusahaan rekaman. The Record Industry Association of America (RIAA), yang terutama mewakili lima label rekaman besar—Time Warner, Bertelsman, Sony Music Entertainment, Universal Music, dan EMI, merasa terganggu. “Kami menyukai gagasan menggunakan teknologi untuk membangun komunitas artis, tapi bukan itu yang dilakukan Napster. Napster memfasilitasi pembajakan, dan mencoba membangun bisnis di belakang artis dan pemilik hak cipta,” kata Cary Sherman, senior executive vice president dan general counsel for RIAA, waktu itu. Industri rekaman pun masuk gelanggang pertarungan. Pada 7 Desember 1999, melalui para pengacaranya, RIAA menggugat Napster ke pengadilan atas tuduhan pelanggaran hak cipta.

    Sejak awal, Napster mengkonsentrasikan usahanya untuk menyediakan MP3 file sharing yang mudah di antara pemakai yang ingin berbagi-bersama file. Jadi, dalam pemahaman Napster, mereka tidak meng-“copy” file apapun, melainkan hanya menyediakan sarana yang mudah bagi siapapun untuk menggunakan file musik (content) secara bersama. Antara Napster dan RIAA berlangsung perdebatan panas yang mewakili sudut pandang “kebebasan di internet” (freedom on the net) versus “hak atas isi” (rights to content). Perdebatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman sebelumnya, cara memahami, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, maupun tujuan-tujuan telah mempengaruhi RIAA dan Napster Inc. dalam memandang Napster.

    Kelompok musik dan penyanyi-penyanyi mapan ikut berdiri di sisi industri rekaman. Salah satunya adalah Metallica, sebuah grup musik heavy metal, yang mendapati demo lagu mereka, I Disappear, telah beredar di jaringan Napster, bahkan sebelum lagi itu diluncurkan. Demo itu kemudian diputar di sejumlah stasiun radio di Amerika dan menarik perhatian grup musik ini. Metallica segera mengajukan gugatan hukum melawan Napster.

    Sebulan kemudian, rapper Dr. Dre melakukan hal yang sama, setelah Napster tidak bersedia menghapus karyanya dari jaringan Napster. Namun, mengingat cara file sharing bekerja, mustahil untuk secara gampang menghapus lagu-lagu yang beredar di Napster. Metallica lalu menghendaki agar pemakai yang membajak lagu mereka dilarang memakai Napster. Pada tahun 2000, Madonna, yang sebelumnya sempat bertemu dengan eksekutif Napster untuk membahas kemungkinan kerjasama, menjadi berang ketika single-nya, Music, bocor ke web dan jaringan Napster mendahului peluncuran komersialnya.

    Meski begitu, tidak semua artis merasa dirugikan, salah satunya ialah Radiohead, grup band asal Inggris. Pada Juli 2000, album Kid A yang dibuat oleh Radiohead beredar di Napster tiga bulan sebelum CD-nya diluncurkan di pasar. Tak seperti Madonna, Dr. Dre, maupun Metallica, Radiohead belum pernah menembus Top 20 di radio-radio AS. Lagi pula, Kid A merupakan album eksperimental tanpa single.

    Saat CD-nya diluncurkan, album itu (dalam format MP3) diperkirakan telah di-download secara gratis oleh jutaan orang di seluruh dunia. Hasilnya? Pada Oktober 2000 Kid A menempati urutan pertama grafik penjualan pada Billboard 200 dalam pekan-pekan permulaan sesudah peluncuran. Menurut Richard Menta dari MP3 Newswire, sukses tak terduga album ini merupakan bukti bahwa Napster adalah alat promosi yang bagus buat musik.

    Dispatch adalah grup band lain yang berutang sukses kepada Napster. Sebagai band independen, Dispatch tidak berpromosi secara formal atau melalui radio-radio. Namun, berkat popularitas yang diraih melalui Napster, Dispatch menjadi band independen pertama yang tampil di Madison Square Garden. Mereka membalas utang Napster dengan mendukung Fanning, yang kebetulan salah satu penggemar Dispatch, ketika Napster menghadapi gugatan, antara lain menghadiri dengar pendapat soal Napster dengan Kongres.

    Pihak-pihak yang mendukung Napster, terutama dari para pemakainya, menganggap tuduhan industri rekaman dan grup musik serta penyanyi tidak tepat. Penggemar musik yang menginginkan kualitas suara yang bagus tidak akan puas dengan kualitas suara file MP3 karena dikompresi. Setelah mendengar ada lagu atau musik yang bagus dari Napster, mereka kemudian akan membeli versi CD-nya. ”Jika kamu suka, belilah!” begitu promosi grup-grup musik di Napster.

    Di tengah tudingan bahwa Napster membantu ”pencurian,” ”pengkopian,” ”mengurangi penjualan CD,” ”menurunkan keuntungan artis maupun perusahaan rekaman,” pihak-pihak yang mempertahankan Napster tak kalah gencar mengajukan berbagai argumen. Argumen itu anta lain:”music sharing membantu mempromosikan band,””music sharing mengurangi konsumerisme,” ”inilah cara kita melawan dominasi modal,” ”tak ada potensi penjualan yang hilang, sebab banyak pemakai p2p ’miskin duit tapi kaya waktu,’ ”mendengarkan musik adalah soal pengalaman, bukan kepemilikan (hak cipta).”

    Dukungan terhadap Napster sekaligus merupakan bentuk perlawanan terhadap industri rekaman arus-utama. Kutipan yang agak panjang berikut ini menggambarkan hal itu:

    “Apa yang perusahaan rekaman tidak benar-benar pahami ialah bahwa Napster hanyalah satu ilustrasi mengenai frustrasi yang terus tumbuh terhadap betapa kuatnya perusahaan-perusahaan rekaman mengontrol musik apa yang didengar orang, di gelombang radio mana, label rekaman apa, dan disediakan di toko mana, yang semua itu kini menjadi bagian dari ‘sistem’ yang berhasil dimapankan oleh perusahaan rekaman, yang menjadi kian didominasi oleh ‘produk-produk’ musik sehingga merusak musik yang sebenarnya. Mengapa perusahaan rfekaman harus sedemikian mengontrol bagaimana ia, pecinta musik, ingin mengalami musik? Dari sudut pandang pecinta musik sejati, apa yang sekarang berlangsung hanya dapat dipandang sebagai perkembangan baru yang menyenangkan dalam sejarah musik. Dan, beruntung dia, tampaknya tidak ada sesuatu pun yang dilakukan perusahaan rekaman lama untuk mencegah terjadinya evolusi ini.

    (Artis yang secara formal dikenal sebagai Prince 2000). (Giesler, 2003)

    Pernyataan Prince yang pragmatis itu memperkuat kecenderungan yang berlangsung saat itu dalam budaya konsumsi. Sebuah mode konsumsi hiburan yang terbentuk di seputar gagasan bahwa digitized music dan digitized information dapat dipertukarkan secara online dari satu komputer konsumen ke yang lain. Lebih dari 10 juta pemakai dalam enam bulan pertama sejak diluncurkan menjadikan Napster sebagai pusat hiruk-pikuk realitas sosial baru yang menohok para eksekutif industri rekaman. Giesler menyebut file sharing system Napster sebagai konsumsi emansipatif yang berusaha menembus batasan-batasan pasar musik (Giesler, 2003).

    Konstruksi terhadap Napster tidak terlepas dari pengalaman masing-masing pihak, yang pro maupun yang kontra. David Boeis, pengacara yang dikenal menentang Bill Gates dan Microsoft melalui tuntutan anti-trust, menganggap alasan hak cipta sudah usang. Dalam sejarah inudstri hiburan, menurut Boeis, alasan hak cipta juga digunakan untuk menghalangi munculnya teknologi TV kabel, kaset digital, dan video cassette recorder (VCR).

    Boeis, yang berminat mendampingi Napster Inc., berpendapat hak cipta tidak bersifat absolut. Hak cipta dibuat untuk merangsang penciptaan dan penemuan kreatif dengan memberi penghargaan pada artis serta orang lain yang membantu mereka. Namun hak cipta juga bisa menimbulkan monopoli yang niscaya merugikan masyarakat, sebab bisa menghalangi penyebaran teknologi baru.

    Lagi pula, kata Boeis lagi, para pemakai Napster tidak melakukan kesalahan apapun. Kebebasan setiap warga Amerika Serikat untuk menggandakan lagu bagi kepentingan pribadi dan nonkomersial dijamin dalam Audio Home Recording Act (AHRA) 1992. Merekam isi CD ke kaset untuk dipasang di tape mobil, umpamanya, dinyatakan legal dalam undang-undang tersebut. Boeis bersikukuh, hak Napsterites dilindungi oleh undang-undang ini. Bagaimana jika pengandaan itu dilakukan dalam jumlah sangat besar? ”AHRA tidak menyebut penggandaan menjadi ilegal bila banyak orang melakukannya,” ujar Boeis.

    Seiring perdebatan yang berlangsung seru, di dalam maupun di luar ruang pengadilan, beberapa pihak melakukan survei lapangan. Salah satunya dilakukan oleh SoundScan, yang hasilnya menyimpulkan bahwa penjualan CD merosot di toko-toko dekat kampus yang tercatat memiliki jumlah pemakai Napster terbesar. Kalangan industri rekaman mengklaim, bila penggemar musik bisa men-download musik secara gratis melalui Napster, siapapun tidak akan mau membeli CD.

    Berlawanan dengan itu, hasil survei Forrester Research menyebutkan bahwa munculnya Napster justru meningkatkan penjualan CD musik. Hasil survei Webnoize juga menyimpulkan bahwa Napster membantu menciptakan kegandrungan pada musik tertentu, yang kemudian meningkatkan penjualan CD. ”Ini sebenarnya gerilya pemasaran,” kata Billy Pidgeon, konsultan Jupiter Communication. “Napster benar-benar membantu industri rekaman. Saya percaya, melalui aplikasi Napster para remaja memutuskan untuk membeli CD.”

    Jim Guerinot, manajer grup The Offspring, yakin bahwa kegiatan mengunduh musik MP3 telah membantu mendongkrak penjualan CD. Album terakhir The Offspring, Americana, yang diproduksi Columbia Record, terjual sekitar 10,5 juta keping. ***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: web seo

    Kamis, 11 Agustus 2022 17:33 WIB

    Tip Memanaskan Motor Matic; Jangan Terlalu Lama

    Dibaca : 302 kali




    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi