Kuliah Masih Pakai Tatap Muka Dosen? Ah Itu So Yesterday Sekali - Analisis - www.indonesiana.id
x

Semaraknya Wisuda Universitas Terbuka Periode Dua

Istiqomatul Hayati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kuliah Masih Pakai Tatap Muka Dosen? Ah Itu So Yesterday Sekali

    Sebenarnya, berkuliah tak perlu melulu di kampus konvensional yang mengharuskan bertatap muka. Dunia sudah ada di genggaman kita asal tidak malas gerak.

    Dibaca : 3.534 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Indonesia berambisi menjadi tujuh besar raksasa ekonomi dunia pada 2030. Ini bukan ambisi kebablasan untuk menyebut mega harapan Indonesia. Apa sebab. Karena kita dianugerahi bonus demografi, sebagai negara dengan penduduk jumbo.

     “Bayangkan pada 2030, angkatan usia produktif sebesar 70 persen, hanya menanggung 30 persen usia tidak produktif,” kata Rektor Universitas Terbuka Tian Belawati saat berbicara dalam diskusi #NgobrolTempo, Memaksimalkan Peluang Bonus Demografi melalui Sistem Pembelajaran Jarak Jauh di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Jakarta, Rabu, 25 Mei 2016. “Malah dengan bonus demografi ini, bukan ga mungkin kita jadi empat besar kekuatan ekonomi dunia,” katanya.

    Dengan kelebihan usia produktif ini, Indonesia bisa lebih berfokus untuk membenahi perekonomian negeri. Tapi,  tentu saja ada syaratnya Indonesia mencapai gelar raksasa ekonomi dunia. Gak ujug-ujug ada.  Harus ada usahanya. Apa itu? Kita merancang pada 2030, sebanyak 113 juta orang Indonesia memiliki keahlian dalam bidang tertentu.

    Caranya dengan menaikkan partisipasi pendidikan. “Sehingga bonus demografi bukan jadi beban tapi keuntungan kita,” kata Tian.  Menurut Tian, pemerintah masih jauh sekali dalam memberikan hak pendidikan kepada warga negara.  Saat ini, kata dia, jumlah perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 4.496. “Dan itu baru menampung 31,5 persen usia masuk perguruan tinggi,” katanya.

    Sebenarnya, berkuliah tak perlu melulu di kampus konvensional yang mengharuskan bertatap muka. Zaman sudah maju dan teknologi kian canggih. Dunia sebenarnya sudah ada di genggaman kita asal tidak 'mager', istilah kekinian untuk menyebut malas gerak. Malas menggerakkan jemari untuk mencari tahu informasi perkuliahan dengan metode jarak jauh. 

    Indonesia sendiri sudah lama menggelar pendidikan jarak jauh. Sejak 1950 Indonesia telah memiliki Kursus Tertulis yang menerapkan Pendidikan Jarak Jauh untuk penataran guru. Balai Kursus Tertulis ini merupakan cikal  bakal Pusat Pendidikan dan Pelatihan Guru.

    “Sejak 1952, kita sudah menerapkan siaran raadio pendidikan untuk penataran guru,” kata Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo. Pendidikan dengan siaran radio itu dengan mempertimbangkan alasan demografi dan geografi. Jika guru  tersebar di berbagai daerah, tentu biaya bakal membengkak.

    Ia menambahkan, pemerintah mulai membuka Universitas Terbuka pada 1984. UT Didirikan untuk memecahkan masalah peningkatan dan perluasan pemerataan akses pendidikan. Hingga sekarang, UT sudah menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, ada 1,2 juta mahasiswa belajar di UT atau lima persen dari total mahasiswa di Indonesia yang belajar mandiri dengan memanfaatkan modul perkuliahan yang diberikan.

    Pendidikan jarak jauh sebenarnya lebih ke soal model penyampaian. Dengan memanfaatkan teknologi. Apalagi sekarang media sosial semakin berkembang. Masyarakat tak lagi sekadar menjadi penonton. Semua bisa menjadi produser berita. Belajar bisa dengan melalui semua media sosial.

    “Kalau saya, ini saatnya membenahi arsitektur teknologi,” kata Richardus Eko Indrajit. Kampus-kampus bisa menyelenggarakan pendidikan jarak jauh, sehingga tidak hanya dimonopoli Universitas Terbuka. “Buat e-learning, yang kalau kita mengakses video bisa dilihat banyak orang. Bisa ditaruh di YouTube, “ ujarnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi tanpa harus terpaku di ruang kuliah, kata Eko, mimpi empat besar ekonomi dunia akan berada di genggaman.

    Ikuti tulisan menarik Istiqomatul Hayati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.