Gempuran Produk Impor dari Pangan Hingga Tekstil - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rian Darmawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Gempuran Produk Impor dari Pangan Hingga Tekstil

    Dibaca : 3.232 kali

    Belakangan ini pemerintah kembali membuka keran impor daging sapi dan jeroan. Impor tersebut sempat ditutup beberapa waktu yang lalu namun kembali dibuka dengan berbagai alasan.

    Selain itu tanggal 13 september kemarin mendag dan mentan memberikan lampu hijau kepada perum bulog untuk mengimpor kerbau dari india yang diperkirakan sebanyak 70 ribu ton.

    Lalu pertanyaannya, kenapa impor selalu didlakukan? dan siapa yang diuntungkan oleh kegiatan ini?

    Tidak hanya dari sektor pangan, dari tekstil, alat elektronik, bahkan grosir tas batam, semuanya diimpor ke negara kita. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Saya coba membahasnya dari kacamata akademis.

    Mengapa Impor?

    Sebenarnya sudah banyak pembahasan mengenai alasan mengapa indonesia mengimpor ini itu, namun jika jawaban singkat dan dipadatkan yang dicari jawabannya adalah karena adanya Permintaan.

    Permintaan akan adanya suatu barang yang tidak bisa dipenuhi didalam negeri membuat keran impor terbuka lebar. Namun walaupun ada barang yang dapat terpenuhi didalam negeri tetapi harga jualnya mahal maka langkah impor pun diambil.

    Lalu dari manakah permintaan tersebut berasal? Jawabannya adalah data permintaan tersebut datang dari pengumpulan data di masyarakat masyarakat, naik ke pedagang, naik ke pengepul, naik ke suplier, naik ke importir, lalu ke pemerintah.

    Dampak Impor Bagi Masyarakat

    Terdapat tiga golongan masyarakat yang terkena dampak impor tersebut. Baik positif maupun negatif.

    Dampak positif pasti didapatkan oleh importir dan pedagang, mereka memperoleh harga produk yang (biasanya) lebih murah dan kualitas yang (katanya) lebih bagus daripada produk lokal.

    Konsumen juga memperoleh dampak yang positif, banyaknya pilihan produk membuat mereka menjadi lebih bebas memilih dan menentukan produk mana yang mereka inginkan. Hal ini juga berlaku bagi produsen barang yang membutuhkan impor barang setengah jadi. Misalnya produsen baju yang benangnya diimpor dari negara lain.

    Dan terakhir yang paling dirugikan adalah masyarakat yang ingin produktif, petani, peternak, UMKM, dan berbagai usaha kecil lainnya yang produknya merupakan saingan produk impor. Misalnya peternak sapi, petani kedelai, produsen tas, dan berbagai industri kreatif lainnya.

    Peran Masyarakat

    Pemerintah (oknum) dan importir melihat adanya incompetensi (ketidakmampuan) dari masyarakat untuk memproduksi suatu barang tertentu sebagai peluang untuk melakukan impor. Tentu saja hal tersebut akan sangat menguntungkan mereka secara pribadi.

    Walaupun memang terkadang (atau sering) ketidakmampuan ini juga diakibatkan oleh karena kurangnya dukungan dari pemerintah.

    Masyarakat harus lebih menggali lagi dan belajar lagi untuk membuat bisnisnya mass production, yang dapat mencukupi permintaan dengan skala besar, jika para industri kreatif memiliki produksi dan pasar yang kuat dan terbukti dapat bertahan maka dukungan pemerintah biasanya akan mengalir.

    Dukungan dapat berupa permodalan, penyuluhan dan berbagai bentuk arahan yang merupakan program pemerintah untuk memajukan UMKM dll.

    Kesimpulan

    Tidak selalu semua produk yang tidak bisa diproduksi didalam negeri harus diimpor. Tidak semua produk yang belum bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri harus diimpor. Bisa saja produk dalam negeri tersebut hanya perlu dikembangkan dan disempurnakan secara kuantitas dan kualitas.

    Tugas pemerintah adalah untuk mengarahkan dan membimbing produsen tersebut untuk lebih lagi memaksimalkan produknya.

    Tugas produsen dalam negeri adalah untuk belajar lagi bagaimana produknya agar dapat lebih diterima pasar dengan kuantitas produsi yang memenuhi permintaan pasar.

    Jika ingin negara ini maju baik pemerintah dan pengusaha harus berjalan beriringan supaya tercipta lapangan pekerjaan dan bertambahnya kesejahteraan karena memang begitu seharusnyalah negara dibentuk yaitu dengan tujuan untuk melawan kemiskinan. Sekian.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.