x

Jokowi-Prabowo Redam Isu Pilkada dan Agama

Iklan

yon bayu wahyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sinyal Jokowi Melebarkan Jalan Anies

Tuntas sudah janji Presiden Joko Widodo kepada bekas rivalnya di Pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tuntas sudah janji Presiden Joko Widodo kepada bekas rivalnya di Pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto. Disuguhi nasi goreng, diajak berkuda dan dihadiahi topi koboi, menjadi simbol keramahan tuan rumah bertemu dengan kerendahan hati Jokowi yang meminta “nasehat” terkait berbagai hal. Sungguh pertemuan yang manis karena menyiratkan pesan yang dalam mengenai arti kebersamaan di tengah perbedaan.

Selain basa-basi ala ketimuran, tentu ada banyak hal yang mereka bahas dalam pertemuan tertutup. Politik kekinian dipastikan menjadi topik diskusi utama, termasuk rencana demo elemen masyarakat pada 4 November mendatang. Hal itu tersirat dari pernyataan keduanya. Usai Presiden Jokowi meminta tokoh politik dan agama untuk mendinginkan susana menjelang pelaksanaan Pilkada 2014 yang akan digelar secara serentak di sejumlah daerah termasuk DKI Jakarta. Sementara Prabowo menegaskan semua pihak harus jaga jangan sampai ada unsur-unsur yang mau pecah belah bangsa. "Kalau ada masalah, kita selesaikan dengan sejuk dan damai," ujar Prabowo.

Hanya itukah maksud kedatangan Jokowi ke kediaman ketua umum Partai Gerindra tersebut? Misi besar Jokowi mungkin tidak terucap dalam pertemuan tersebut, namun bisa dibaca dari serangkaian peristiwa besar di belakangnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama ini Jokowi ditengarai oleh sebagian kalangan sebagai pendukung calon petahana dalam Pilgub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kemudahan Ahok “menerobos” istana untuk menemui Presiden, menjadi salah satu indikatornya. Jokowi juga tidak menutupi kedekatannya dengan mantan wakilnya saat menjadi pemimpin Jakarta tersebut. Terakhir Jokowi menyiapkan waktu secara khusus untuk berbincang dengan Ahok saat meninjau pembangunan meninjau proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) dan light rain transit (LRT) di Jakarta. Adanya keinginan Jokowi “pamer” kemesraan dengan Ahok bisa disimak dari berita Kompas: “Saat akan berjalan ke lokasi, Rini sendiri sebenarnya sudah diberi kode oleh salah satu protokoler Istana agar tidak ikut. Petugas Istana itu mencolek Rini dan tangannya lalu memberi gesture agar Rini mundur...” dan didukung dengan empat foto senada yang di-tweet Jokowi di akun Twitter resminya, @Jokowi

Tiga foto memperlihatkan Jokowi sedang bersama rombongan pejabat, sementara satunya menampilkan Jokowi tengah berdua dengan Ahok.

Ternyata konstelasi politik muktahir di Jakarta kurang menguntungkan citra politik Jokowi. Sebagai barometer politik tanah air, apa yang terjadi di Jakarta dengan sendirinya menjadi perhatian masyarakat Indonesia di daerah. Jokowi tentu tidak ingin terkena “getah” dari kasus dugaan penistaan agama yang membelit Ahok. Jika dilihat dari konteks ini, maka kunjungan Jokowi ke Hambalang bisa dimaknai beragam.

Pertama, Jokowi ingin menyampaikan pesan jika dirinya netral dalam Pilgub DKI. Seperti diketahui dalam Pilgub DKI, Gerindra – bersama PKS, mengusung pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno yang menjadi rival Ahok - Djarot Saiful Hidayat. Namun “teori” ini masih menunggu langkah Jokowi berikutnya. Pertemuan Jokowi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi lokomotif pengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono - Sylviana Murni akan menjadi gongnya.

Kedua, Jokowi tengah memainkan kartu lain. Jokowi merasa harus memajukan calon lain yang juga didukungnya yakni Anies Baswedan. Kunjungan ke Hambalang membawa pesan kuat dirinya tidak ada masalah dengan jagoan yang diusung Prabowo tersebut.

Ketiga, melakukan kompromi politik terkait Pilkada Jakarta. Jokowi meminta Prabowo untuk meredakan ketegangan politik yang terjadi saat ini. Imbalannya, istana akan “memberi” jalan kepada Prabowo untuk lebih berperan dalam percaturan politik ke depan. Langkah tersebut pernah dilakukan Jokowi saat dirinya “dipaksa” PDIP untuk meloloskan Jenderal Polisi Budi Gunawan menjadi Kapolri.

Jokowi selalu piawai dan lentur memainkan irama politiknya. Namun ketika dirasa akan menjadi kendala, apalagi menyandera kinerjanya, Jokowi bisa berubah koppig. Hal itu setidaknya tercermin  dari hasil pertemuan antara Presiden Jokowi dengan pimpinan ormas Islam di Istana yakni Majelis Ulama Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, siang ini.

Menurut Ketua MUI Ma’ruf Amin Presiden Jokowi memerintahkan agar kasus penistaan agama diproses sesuai hukum yang berlaku. Bahkan menurut Ketua Umum PB Muhammadiyah Haedar Nasir, Presiden Jokowi menjamin tidak akan melakukan intervensi apapun terhadap kasus tersebut. Inilah pernyataan pertama Presiden Jokowi terkait kasus penistaaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok.

Sikap Presiden Jokowi membuat dinamika politik di Jakarta semakin menarik. Namun Anies Baswedan menjadi pihak yang paling diuntungkan dengan “perubahan”  sikap Presiden Jokowi.

 

Ikuti tulisan menarik yon bayu wahyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu