Belajar Mendidik Diri - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Belajar Mendidik Diri

    Dibaca : 3.796 kali

    Kita tahu belajar tentang hal-hal baik itu bagus, tapi mengapa kita enggan memulai belajar. Kita tahu banyak hal telah berubah, tapi kita mengapa kita malas belajar beradaptasi. Barangkali benar kata orang: “Jarak terjauh di bumi ialah antara kepala dan hati.” Pengetahuan kita tidak serta merta mendorong hati kita untuk bergerak.

    Apa yang dapat kita lakukan?

    Pertama, mari tempatkan diri kita dalam situasi di mana belajar sangat diperlukan agar kita tetap bertahan hidup. Bila pekerjaan kita, hobi kita, atau passion kita tidak mendorong kita untuk terus belajar, kita patut menduga: ‘Jangan-jangan ada yang keliru.”

    Rasanya benar nasihat lama ‘belajarlah sepanjang hayat’. Belajar untuk hidup. Banyak sumber belajar di sekeliling kita: buku, koran, jalanan, bengkel, tempat kerja, kebun, hujan dan terik, pagi dan malam, bertebaran di mana-mana. Ketika bertemu dengan ornag-orang di manapun, kita dapat belajar darinya: dari sikap simpatiknya, dari rasa empatinya, dari kecerdasan berpikirnya, dari kedermawanannya, dari kerendah-hatiannya.

    Kedua, ingatlah bahwa kita perlu terus memahami diri sendiri dengan semakin baik: memahami kekuatan, kelemahan, bakat, keinginan, nilai-nilai, tujuan, pengalaman, keberhasilan, maupun kegagalan. Pelajari apa yang kita sukai. Beri perhatian hal-hal yang membuat kita  merasa asyik.

    Perhatikan siapa orang-orang yang dapat mengilhami dan memotivasi kita untuk jadi orang yang lebih baik. Pikirkan mimpi yang ingin kita wujudkan, dan mulailah kerjakan. Temukan aktivitas yang berpotensi membuat kita ‘tenggelam’ di dalamnya. Amati dari dekat.

    Ketiga, perhatikan apa yang kita tidak sukai. Bisa jadi, daftar ‘apa yang saya tidak sukai’ sama kuatnya dengan ‘apa yang saya sukai’. Perhatikan hal-hal yang membuat kita gerah, canggung, marah, kecewa. Kenali aktivitas dan personalitas yang membuat kita kesal dan hindari bila kita merasa tidak bisa memberi manfaat di sana.

    Tapi, perhatikan pula apakah yang tidak kita sukai itu benar-benar buruk, sebab boleh jadi di dalam apa yang tidak kita sukai terdapat hal-hal yang baik buat diri kita. Bersikap adillah. Lakukan yang terbaik bila kita benar-benar bermaksud menghindarinya.

    Keempat, mari kita pergi keluar dan cari tahu berbagai hal: lakukan perjalanan, temui orang-orang. Hanya karena sesuatu dilakukan dengan cara yang sama selama 30 tahun bukan berarti harus kita lakukan dengan cara yang sama esok hari. Ayo kita pertanyakan dan temukan cara-cara baru yang lebih baik. Eksplorasi apa saja yang ada di sekitar kita, temukan hal-hal menarik untuk memperkaya diri—bukan secara material. Temukan hal-hal yang kita dapat belajar kebaikan darinya. (Foto ilustrasi: tempo.co) ***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.