x

Iklan

Amirudin Mahmud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Menguji Rasionalitas Pemilih Jakarta

Harusnya memilih itu berdasarkan program yang dijanjikan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Pilkada DKI Jakarta semakin dinamis. Berdasarkan hasil berbagai lembaga survei, perolehan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) cenderung meningkat secara tajam. Sebaliknya Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menurun dratis. Sementara Anies Baswedan meningkat, walau tak setajam pasangan nomor urut 1. Perubahan nampak signifikan pada pasangan Ahok-Djarot dan Agus-Sylvi. 

Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ahok terjun bebas ke angka 10.6% setelah sebelumnya memimpin. AHY melesat tinggi. Bermodalkan 0% di awal, sekarang menyentuh 32. 30 persen mengungguli kedua calon lain. Sementara Anies  di posisi 31.10 %.

LSI menemukan perubahan dratis tersebut setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Alasan masyarakat Jakarta meninggalkan Ahok, pertama, karena efek video pidato Ahok di Kepulauan Seribu. Kedua, adanya survei LSI yang menunjukan tingkat kesukaan terhadap Ahok menurun. Ketiga,  kekhawatiran Jakarta di bawah Ahok, penuh gejolak sosial. Keempat,  Agus dan Anies semakin menjadi pilihan untuk Jakarta yang stabil. Kelima, citra buruk pasca status tersangka.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pemilih Jakarta dikenal sebagai pemilih cerdas dan rasional. Tapi alasan di atas tak menunjukkan hal itu. Setidaknya karena tidak adanya alasan terkait penilaian terhadap program yang ditawarkan oleh masing-masing calon. Kelima alasan di atas cenderung bermuara pada faktor subyektifitas. Senang tidak senang. Apa rasional jika persoalan SARA jadi alasan? Apa alasan kekhawatiran gejolak sosial?

Belum lama, Poltracking Indonesia merilis survei terkait elektabilitas dan popularitas dari tiga pasangan calon cagub-cawagub yang akan bertarung dalam Pilkada DKI 2017. Hasilnya, berdasarkan tren dukungan spontan atau top of mind, elektabilitas cagub DKI Agus Harimurti Yudhoyono berada di atas dua rivalnya.

Lembaga survei yang dikomandoi pengamat politik Hanta Yuda tersebut menjelaskan bahwa mayoritas publik memilih pasangan Agus-Sylvi dengan 27,92 persen. Disusul dengan Ahok-Djarot 22 persen dan Anies-Sandi 20,42 persen. Survei dilakukan pada 7 hingga 17 Nopember 2016.

Menurut Hanta Yudha, selisih yang tipis itu membuat ketiga pasangan masih memiliki peluang yang relatif sama untuk unggul. Itu bergantung pada strategi politik dan tren perilaku pemilih di sisa masa kampanye. Seperti LSI, survei ini juga menunjukan pergesaran yang dinamis hanya tidak menyebut alasan, kenapa pemilih meninggalkan Ahok?

Sementara Hasil survei terbaru yang digelar lembaga survei Indikator juga menempatkan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni pada urutan pertama. Elektabilitas Agus-Sylvi disebut sudah berada di angka 30,4 persen.  Agus-Sylvi disebut mengungguli pasangan nomor dua, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, yang berada di urutan kedua dengan eletabilitas 26,2 persen. Disusul pasangan nomor tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dengan elektabilitas 24,5 persen.

Survei terbaru Indikator yang dilakukan pada 15 November sampai 22 November 2016 itu menyatakan bahwa mayoritas warga DKI Jakarta puas terhadap kinerja pemerintahan gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di berbagai bidang. Namun, mereka dinyatakan tidak akan memilih Ahok pada Pemilihan Kepala Daerah 2017 mendatang. Kondisi itulah yang membuat elektabilitas Ahok kini sudah tidak lagi berada di urutan pertama.

Ini sesuatu yang ganjil, aneh. Tak pernah terjadi sebelumya. Juga tak rasional. Burhanudin Muhtadi sendiri sebagai direktur Indikator merasa heran. Bahkan , sebagai sesuatu yang menarik Burhanudin Abdullah ingin menjadikannya sebagai sebuah desertasi. Dia mengatakan, kita sudah pengalaman survei ribuan kali, tetapi baru kali ini ada data kinerja dan elektabilitas tidak berbanding lurus. Biasanya kalau puas akan memilih lagi.

Burhanudin menyebut, faktor utama yang menggerus elektabilitas Ahok adalah pernyataannya mengenai Surat Al Maidah ayat 51. Sebenarnya ada apa dengan Pilkada Jakarta? Apa masyarakat Jakarta lebih mendahulukan emosi keagamaan (yang masih diuji kebenarannya di ranah hukum) daripada rasio akal sehat? Hanya orang Jakarta yang bisa menjawab. Tapi perlu diingat, hasil survei juga tak seratus persen menggambarkan keadaan sebelumnya. Contoh nyata, Pilpres Amerika dimenangkan Donal Trump yang sebelumnya, hampir semua lembaga survei tak ada yang mengunggulkannya.

Terlebih, di Indonesia banyak lembaga survei yang merangkap sebagai konsultan politik bagi calon. Obyektivitas, survei semacam itu tentu diragukan. Kita masih ingat saat Pilpres 2014. Baik Jokowi  maupun Prbowo sama-sama dinyatakan menang oleh lembaga survei yang berbeda. Keduanya pun telah merayakan kemenangan mereka bersama tim sukses masing-masing.

Ada yang mengatakan, di pilkada DKI ini ada calon yang pandai bekerja, tak bisa menata kata-kata. Ada calon pinter berlogika dan berkata tapi belum terbukti dalam bekerja. Terakhir, yang belum dikenal. Kembali pada msayarakat Jakarta, mau pilih yang mana. Saya masih meyakini mereka adalah pemilih rasional dan cerdas. Mereka akan menimbang program kerja yang terbaik sebelum memilih. Sebab pilihan atau keputusan mereka 15 Februari mendatang akan menentukan Jakarta lima tahun kemudian. Wa Allahu Alam

Ikuti tulisan menarik Amirudin Mahmud lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler