Rangga Lawe dan Kekuasaan - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rangga Lawe dan Kekuasaan

    Kekuasaan memang menjadi barang manis bahkan sejak era kerajaan

    Dibaca : 4.432 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     “Sejak jaman nabi sampai kini, tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya, kecuali mereka yang tersisihkan karena gila. Bahkan pertama-tama, mereka yang membuang diri, seorang diri di tengah-tengah samudera masih membawa padanya sisa-sisa kekuasaan sesamanya. Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan mengausai, orang berpolitik” (Pramoedya Ananta Toer, House of Glass). Dikuasai dan menguasai bagaikan dua sisi mata uang yang menjadi hakikat kehidupan. Kekuasaan adalah dambaan bagi setiap insan.

    Kerajaan terbesar nusantara abad ke-13, Majapahit, dibangun dari perebutan kekuasaan dan rongrongan yang menyertainya. Setelah berhasil melumpuhkan Kediri, rongrongan muncul dari lingkup kerajaan. Rangga Lawe yang tak puas dengan posisi yang dianugerahkan kepadanya, melakukan pemberontakan, meski akhirnya mengalami kegagalan.

    Siasat perang Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, diawali dengan membuka hutan Tarik dibantu Wiraraja, bupati Sumenep, yang mengerahkan orang-orang Madura. Dalih mengemuka, hutan Tarik akan digunakan sebagai tempat berburu Raden Wijaya bersama Raja Jayakatwang, penguasa Kediri. Akan tetapi, hutan Tarik adalah kelicikan Raden Wijaya dalam mengakomodasi dan mengorganisasi kekuatan untuk menyerang Kediri.

    Setelah berhasil dibuka, banyak orang Madura menetap di daerah Tarik, hidup berdampingan dengan orang-orang dari Daha dan Tumapel. Keramahan Raden Wijaya membawanya memperoleh sambutan baik di Tarik, bak seorang raja. Melalui dua utusannya, Kapuk dan Mahisa Pawagal, Raden Wijaya menyampaikan kepada Wiraraja bahwa ia telah sampai di Tarik. Namun, Wiraraja tak dapat berkunjung ke Tarik dan mengutus Rangga Lawe, putranya, bersama Tribuwana untuk berkunjung ke Tarik. Sesampainya di Tarik, Rangga Lawe menyampaikan pesan ayahnya yang belum bisa berkunjung.

    Raden Wijaya mengajak Rangga Lawe, yang ahli dalam siasat perang, untuk menyusun siasat apa yang akan digunakan untuk menyerang Kediri, bersama Ken Sora, dan para Wreddha Menteri. Rangga Lawe membicarakan mengenai persiapan senjata, kereta, tentara, dan mata-mata yang digunakan untuk menyelidiki kekuatan musuh. Ia pulang ke Madura guna mengambil kuda yang akan digunakan sebagai kendaraan para menteri saat menyerang Kediri.

    Rangga Lawe kembali ke Tarik dengan membawa sekitar dua puluh tujuh kuda yang diangkut dengan kapal. Pasukan Raden Wijaya dibagi menjadi dua bagian, Wiraraja menyerang Kediri melewati Linggasana, sementara pasukan di bawah komando Raden Wijaya, menyerang melalui Singasari. Bantuan pun datang dari tentara Tartar sebelum penyerangan dilakukan. Kediri berhasil dilumpuhkan setelah Rangga Lawe berhasil membunuh Sagara Winotan, di pihak Kediri dan Jayakatwang berhasil ditawan oleh pasukan Tartar.

    Raden Wijaya menobatkan dirinya sebagai raja pertama Majapahit. Sementara Rangga Lawe, karena jasanya, diganjar dengan gelar Amanca Negara di Tuban dan Adhipati di Datara, serta ayahnya, Wiraraja, sebagai Mantri Mahawiradikara. Rangga Lawe tak merasa puas dengan jabatan yang dipangkukan kepadanya karena, meneurutnya, ia lebih pantas menyandang jabatan Rakryan Mapatih yang diemban Nambi. Perselisihan antara Raden Wijaya dengan Rangga Lawe tak terelakkan dan mewujud dalam sebuah pemberontakan.

    Rangga Lawe tak mengindahkan lagi nasihat ayahnya untuk tetap setia kepada Raden Wijaya. Wataknya yang keras membuat dirinya tetap bersikukuh untuk menyusun siasat menyerang Majapahit, dibantu para menteri, kepala desa, akuwu, demang, dan tumenggung. Pertempuran mengerucut antara Rangga Lawe dan Nambi, musuh yang ingin dibinasakannya. Rangga Lawe berhasil memukul mundur Nambi dan memaksanya melarikan diri.

    Mendengar kebuntuan yang dialami oleh Nambi, Raden Wijaya mendatangkan bala bantuan sepuluh ribu pasukan yang ia pimpin sendiri serta menugaskan empat orang mata-mata, Kala Angerak, Setan Kobar, Buta Angasak, dan Juru Prakosa untuk menyelediki sejauh mana kekuatan musuh. Rangga Lawe dikepung dari tiga sisi, Kebo Anabrang di sisi timur, Gagak Sarkara di sisi barat, serta Majang Mekar di sisi utara. Pertempuran terjadi antara Kebo Anabrang dan Rangga Lawe. Kuda yang ditunggangi oleh keduanya dapat ditikam oleh masing-masing lawan, tetapi keduanya dapat saling mengelak.

    Pertempuran lagi-lagi terjadi, kali ini di dalam sungai Tambak Beras. Sengitnya pertarungan akhirnya melemahkan Rangga Lawe. Sora, paman Rangga Lawe, yang tak tega melihatnya, dengan segera menikam Kebo Anabrang hingga mati. Rangga Lawe dan Kebo Anabrang sama-sama meregang nyawa di dalam air. Raden Wijaya sangat bersedih melihat kematian Rangga Lawe dan Kebo Anabrang. Upacara bela sungkawa untuk Rangga Lawe dilakukan di Pura Majapahit sebagai bentuk penghormatan terakhir.

    Kekuasaan menjadi impian kenikmatan yang diusahakan setiap denyut nadi seorang insan. Isu makar merongrong kekuasaan Presiden Jokowi yang menyeruak ketika aksi damai yang dihelat, awal Desember lalu, membingkai kisah tentang kekuasaan yang masih menjadi barang laris untuk diperebutkan. Ketidakpuasan maupun kecemburuan pihak-pihak yang kontra dengan Presiden Jokowi harus segera diredam. Presiden Jokowi harus pandai-pandai mengorganisasi kekuatan untuk menangkis ancaman, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri. Agaknya benar kata pepatah, “mempertahankan lebih sulit daripada meraih”, karena kekuasaan adalah dambaan bagi setiap insan.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    (sumber gambar: Brilio.net)

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.