Mitos dan Kuasa Pasar: Dewi Sri sebagai Penguat Subsistensi - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mitos dan Kuasa Pasar: Dewi Sri sebagai Penguat Subsistensi

    Menggali makna mitos tentang Dewi Sri ditengah gempuran pasar bebas

    Dibaca : 3.124 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dunia kini memasuki era pasar bebas yang kiranya dapat dianggap sebagai sebuah keniscayaan. Belahan dunia terintegrasi dengan adanya pasar yang tak lagi mengenal sekup atau batas wilayah. Kuatnya kapital ditambah semakin sempurnanya teknologi, termasuk teknologi pangan, berkolaborasi menguasai pangsa. Kolonialisme model baru menjadi semakin kentara melalui invasi produk-produk negara penguasa, sehingga timbul ketergantungan serta memunculkan sebuah subordinasi. Banjir produk, di satu sisi mampu mengisi kekosongan kualitas produk yang tak bisa dicapai oleh sebuah negara (wilayah), tetapi di sisi lain mematikan produk lokal untuk sekadar bertahan hidup. Lalu, apakah Nusantara sudah saatnya meleburkan diri dan menjadi aktor utama dalam nuansa pasar bebas, mengingat kekayaan alam yang melimpah ruah di setiap jengkal tubuhnya?

    Meminjam analisis Marx yang disampaikannya di depan Asosiasi Demokratik kota Brussel, 9 Januari 1884, pasar bebas yang teraktualisasi lewat dicabutnya Undang-Undang Gandum di Inggris mengindikasikan bahwasannya sistem perdagangan bebas bersifat destruktif. Kesenjangan serta antagonisme antara kaum pemilik modal dan kaum proletar semakin melebar. Masuknya gandum, sebagai makanan pokok, yang dapat diimpor dengan harga murah ditambah sistem mesin yang semakin membaik mereduksi peran kaum pekerja, akibatnya meski gandum dapat dibeli dengan harga murah, upah buruh juga murah. Pertanian gandum lokal akan semakin tereduksi, dan pada gilirannya, akan semakin mendekati ajalnya. Pertumbuhan modal industri juga semakin meningkatkan persaingan di antara kaum buruh karena pembagian kerja yang akhirnya dapat dikerjakan oleh siapapun dan peran mesin produksi yang meluas. Industri kecil tercabik, tak mendapatkan peran, dan semakin terhempas dengan keadaan ini. Marx juga mengemukakan ilustraasi ketika, sekitar abad XVII, Hindia Timur tak direpotkan dengan perdagangan dan berhasil menjaga eksistensinya dari keadaan alam yang memang telah mampu mencukupkan hidupnya. Namun, keselarasan itu runtuh ketika eksploitasi kolonialis yang bertujuan untuk menjadi penguasa atas pasar dunia. ‘Kebebasan’ hanya sebuah imaji bagi interaksi individu, nyatanya itu hanya kebebasan modal untuk menekan kaum tak bermodal.

    Ketika Bangsa Barat mulai melemparkan sauh kapal dan menginjakkan kakinya di Nusantara, hal ini menandai dimulainya era baru Nusantara yang terintegrasi dengan pasar internasional. Paling tidak keadaanya semakin kentara, karena sebelumnya Nusantara juga telah menjalin kontak dengan para pedagang Asia dan Arab berabad-abad sebelumnya. Apalagi, inisiatif van den Bosch yang teraktualisasi dalam cultuurstelsel disetujui oleh Raja Belanda dan akhirnya menjadi haluan politik pemerintah kolonial, 1830. Nusantara tak hanya menjadi supplier utama kebutuhan Barat, tetapi monetisasi yang diperkenalkan pada akhirnya menciptakan polar dalam tatanan masyarakat. Banjir modal ketika pada 1870, politik liberal berjalan, semakin menegaskan kesenjangan ini. Apakah keadaan ini, pada kenyataannya, menguntungkan bagi masyarakat Nusantara secara umum?

    Menyikapi iklim pasar bebas yang gaungnya semakin nyaring saja, kita diajak untuk sejenak menengok kembali mitos yang telah lama muncul dan diyakini oleh masyarakat, terutama pedesaan Jawa. Mitos tentang Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan agakanya dapat dijadikan sebuah antitesis dalam menyikapi pasar bebas. Alkisah, seorang wanita berparas cantik bernama Retna Jumilah lahir dari sebuah telur di laut dan diadopsi oleh penguasa kayangan, Batara Guru dan istrinya, Uma. Beranjak dewasa, putri tersebut semakin menarik dan akhirnya meluluhkan hati Batara Guru untuk menikahinya. Namun, sang gadis menolakanya kecuali jika Batara Guru mampu memenuhi permintaannya yakni makanan yang belum pernah ada sebelumnya, pakaian yang belum pernah dipakai sebelumnya, serta instrumen musik yang mampu menghasilkan suara tanpa harus memainkannya. Tak mampu menyanggupi permintaan tersebut, Batara Guru menjatuhkan sang gadis ke dunia dan akhirnya menemui ajalnya. Setelah empat puluh hari pasca dimakamkan di dalam tanah, dari tubuhnya tumbuh beberapa tumbuhan seperti beras dari perutnya serta kelapa dari kepalanya. Batara Guru menahbiskannya sebagai Dewi Sri, Sang Dewi Kesuburan (beras).

    Sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri, Kerajaan Mataram menggelar ritual yang menyajikan gunungan nasi beserta hasil bumi lainnya dan mengarak kerbau suci yang dijadikan perlambang ungkapan rasa syukur atas kesejahteraan raja dan rakyatnya. Ritual ini ditujukan pula untuk memohon keselamatan tahun berikutnya agara panen tetap melimpah ruah. Setelah tahun 1756, ritual ini diasimilasi menjadi tradisi Grebeg yang dijadikan momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad (Grebeg Maulud).

    Belajar dari mitos ini, didapati bahwasannya Nusantara memang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah. Kemakmuran dan kesejahteraan yang diaktualisasikan lewat ritual penghormatan kepada Dewi Sri menandakan kekayaan alam yang terkandung di bumi Nusantara dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk sekadar subsisten (bertahan hidup) tanpa harus melibatkan diri pada modernitas yang ditawarkan oleh Barat. Kita tentu harus menengok kembali analisis Clifford Geertz, dalam karyanya Involusi Pertanian, tentang adanya shared poverty dari sitem subsisten yang dianut masyarakat pedesaan Jawa (tradisional). Filosofi banyak anak, banyak rezeki tak berlaku sepenuhnya dan pada akhirnya hanya menghasilkan kemiskinan yang terbagi. Keadaan ini tak terlepas dari penetrasi modal kolonial yang mencekik pribumi.

    Godaan untuk berpartisipasi dalam arus pasar bebas layak untuk dikaji ulang kembali. Nusantara memang dikaruniai potensi alam yang melimpah, tetapi apakah hal itu disertai dengan faktor pendukung yang memadai, mengingat terbatasnya Sumber Daya Manusia, modal, serta teknologi. Bukankah lebih bijak jika pemerintah terkosentrasi untuk melakukan proteksi dan insentif terhadap produk-produk lokal agar paling tidak subsistensi dapat dicapai sehingga cita-cita kedaulatan pangan dapat direngkuh. Urgensi kedaulatan pangan negeri lebih utama ketimbang partsisipasi kedalam sistemisasi pasar bebas yang bisa saja menimbulkan destruksi.

    #LokalatauImpor

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    Sumber:

    Heringa, Rens, “Dewi Sri in Village Garb Fertility, Myth, and Ritual in Northest Java, Asian Folklore Studies, Vol. 56, No. 2 (1997), pp. 355-377.

    Ricklefs, M. C., Sejarah Indonesia Modern 1200-1800, Jakarta: Serambi, 2008.

    https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1848/free-trade.htm

    http://www.academia.edu/11595656/REVIEW_BUKU_INVOLUSI_PERTANIAN_KARYA_CLIFFORD_GEERTZ  

    Foto: http://collectie.tropenmuseum.nl

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.