x

Iklan

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

#SeninCoaching : Behavioral Change: Who would You Be if Not YOU

Leadership Growth: Who Would You Be if Not YOU. Apakah kita berada di sisi yang tepat dalam sejarah umat manusia?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Leadership: Who would You Be if Not YOU   

Apakah kita berada pada sisi yang tepat dalam sejarah umat manusia?

Mohamad Cholid

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Certified Business & Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

 

Siapakah diri kita hari ini?  Keberanian untuk mempertanyakan keberadaan diri di dunia setiap saat, setiap hari, menentukan kualitas leadership seseorang. Kepemimpinan dapat dijelaskan dari banyak perspektif, kepentingan, dan situasinya.

Ribuan literatur telah ditulis untuk menginterpretasikan ulang tentang leadership, diantaranya ada yang  mengambil contoh Nabi Musa sampai Nabi Muhammad SAW. Dari semua itu, premis yang praktis selalu relevan dengan semua sudut pandang adalah bahwa kualitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuannya bertindak nyata untuk peningkatan kualitas kehidupan. Bukan karena hirarki jabatannya. 

Jadi, kalau Anda lihat ada orang-orang yang sibuk dengan aksesoris dan fasilitas kedudukannya – mulai dari mobil, rumah, petugas security, ajudan dst.nya  -- dan melupakan tanggungjawabnya untuk membuat kehidupan di sekitarnya jadi lebih baik, mereka itu hanya pejabat. Bukan pemimpin.

Pertanyaan siapakah diri kita hari ini merupakan upaya penegasan ulang, bagaimana kita berperilaku untuk merspons dinamika realitas kehidupan. Bagaimana kita menempatkan diri dan berinteraksi positif dengan dunia.

Apakah kita jadi bagian masa lalu dengan mentalitas, pola pikir dan perilaku seperti periode Industrial Age yang terbukti telah menimbulkan banyak penderitaan. Atau menjadi bagian dari masa kini dan masa depan yang lebih memuliakan kemanusiaan.

Salah satu sindrom Industrial Age yang masih banyak terjadi di perusahaan-perusahaan, bahkan di bisnis yang canggih seperti bidang IT, adalah bahwa bos selalu merasa harus unggul di semua urusan.

Dalam buku The Necessary Revolution (2008), Peter Senge menyebut dampak negatif Industrial Age Bubble yang telah menghancurkan keragaman budaya dan keragaman hayati.

Kehidupan sesudah itu, tulis Peter Senge, “bukan hanya tentang hubungan kita dengan bumi, dengan sesama, dan spesies lain. Tapi juga tentang hubungan kita dengan diri sendiri, apa artinya menjadi manusia. Tentang pemahaman lebih mendalam peran kita di dunia, sekarang dan masa mendatang.”

Sekarang, ayo cek diri kita sendiri, apakah kita berada di sisi yang tepat dalam sejarah umat manusia?

Di kalangan perusahaan yang memiliki  visi jangka panjang, implementasi pemikiran semacam itu sudah dilaksanakan. Program perubahan perilaku untuk mengembangkan kepemimpinan para eksekutif mereka agar menjadi lebih baik, lebih efektif,  sudah menjadi kebutuhan pokok di perusahaan-perusahaan yang ingin tumbuh sehat di tengah percaturan global.

Diantara mereka ada Apple, Dell, Hyatt, Ford, GE, GlaxoSmithKline, Johnson&Johnson, dst.nya. Total lebih dari 150 perusahaan di daftar Fortune 500. Para eksekutif mereka ikut program pengembangan dengan metode Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching.

Pertanyaan “siapa kita hari ini”, “apa pentingnya menjadi manusia”,  akan terjawab setelah melalui proses perubahan perilaku yang berkesinambungan, kontekstual sesuai dengan tantangan dan peluang masing-masing.  Agar menjadi lebih efektif dalam kegiatan sehari-hari bersama para stakeholders. Bukan melalui proses bertapa atau nyepi. "Leadership is contact sport", kata Marshall Goldsmith. 

Untuk itu seorang leader perlu membuktikan tiga hal: Berani (keluar dari zona nyaman, melakukan hal baru, mengubah pola pikir, dan berubah), sikap rendah hati (libatkan stakeholders, akui bahwa Anda tidak sempurna), dan disiplin (menerapkan dan mempertajam perubahan perilaku lebih efektif).

Umumnya proses perubahan  berlangsung 12 bulan, untuk sampai taraf perilaku efektif tersebut menjadi second nature. Setiap saat berani mengevaluasi diri, apa versi terbaik diri kita untuk melaksanakan pekerjaan sekarang, sebagai pemimpin tim, di keluarga, dan sebagai anggota masyarakat.

Kenapa perlu  ditekankan setiap saat wajib  menyadari eksistensi diri, karena stimulus di luar diri yang menyenangkan tapi counter-productive terus muncul, dapat membuat seseorang off track.  Tugas seorang coach membantunya tetap on the right track dan melakukan akselerasi agar upaya perbaikan tercapai.

Kalau Anda merasa menjadi pemimpin di dunia ini,  jadi CEO, direktur, kepala divisi, jadi manajer, supervisor, sadarlah bahwa perbaikan budaya di institusi dimulai dengan perbaikan perilaku kepemimpinan Anda.  Siapkan diri menjadi pribadi baru yang lebih efektif.  Who would you be if not New YOU ?

Kata Peter Drucker dalam Management: Tasks, Resposibilites, and Practices:  “If an organization is great in spirit, it is because the spirit of its top people is great. If it decays, it does so because the top rots.” 

 

*) Mohamad Cholid adalah Head Coach di Next Stage Consulting

Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman.

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Mohamad Cholid lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler