x

Iklan

Ridhony Hutasoit

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Urgensi: Pindahkan Ibu Kota!

Kesegeraan yang dibutuhkan dalam mitigasi risiko bangsa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bangsa Indonesia secara karakter cenderung kuat dalam replikasi figur. Makanya tak heran banyak “aliran” dalam agama yang sama, kelompok yang sama, bahkan hingga keluarga yang sama. Figur melahirkan tatanan pengelompokan rasa, nilai, hingga visi. Jika dalam satu lokasi atau kelompok atribusi dan kontribusi sosok figur begitu kuat, niscaya akan muncul pemuja yang secara otomatis mendaftarkan diri sebagai pendukung tanpa kartu. Bahkan yang unik adalah, figur bisa menurunkan nilai suatu kebenaran. Buktinya, tidak jarang, opini atau suara figur cenderung lebih didengar atau ditaati daripada hakikinya ketentuan yang tertulis, karena figur melekatkan rasa dalam setiap kata dan gerakannya. Maka tak heran, dalam suatu pengandaian bahwa rasa berada tepat di dada namun memiliki tali yang kencang mengikat otak. Dampaknya, jika rasa semakin berat dirasakan, maka logika makin ditarik ke bawah, dan tenggelam kemudian dikuasai rasa. Inilah yang menjadi penyebab akal sehat seseorang akan mendekati kedunguan ketika bertemu cinta (maaf sepertinya tulisan ini mulai menyimpang, mari kita kembali ke topik awal.... :D).

Figur bukan hanya berupa sosok manusia yang membawa pengaruh signifikan dalam interaksi, tetapi hal lain seperti ibu kota. Jakarta, sangat kuat menjadi figur bagi Nusantara, karena Jakarta adalah pusat segalanya, mulai dari ekonomi hingga aneka hiburan. Apalagi, dominansi sumber pemberitaan media massa terjadi di Jakarta, mulai dari kebijakan pemerintah sampai dengan Syahrini pergi ke luar negeri. Belum lagi metode pemberitaan melalui televisi di negara ini masih bersifat repetisi berlebihan, dan lucunya kita pun akhirnya terperangkap untuk memikmati berita itu-itu lagi. Padahal alam bawah sadar kita terus merekam kejadian yang kita tonton dan pada satu titik akan membawa kita pada pilihan-piilihan persepsi yang tidak netral. Maka pantas ada yang mengatakan, pengulangan-pengulangan suatu kebohongan akan menjadikannya seolah-olah kebenaran dan/atau persepsi yang dapat diterima. Permasalahannya tidak semua orang terbiasa melakukan klarifikasi, bahkan tidak semua orang setelah dikoreksi akan segera berbalik, apalagi hal tersebut sangat selaras dengan paham “kebatinan” yang dia anut.

Interaksi dan emosi yang terjadi di Jakarta sangat kuat terasa seantero negeri. Jakarta menjadi satu-satunya etalase paradigma dan pusat informasi terkini. Sisi positifnya adalah Jakarta dapat menjadi media efektif untuk mempercepat suatu pergerakan dan efisien dalam menyalurkan berbagai informasi, asalkan pergerakan dan informasi tersebut memiliki dampak yang konstruktif. Sama halnya dengan hal-hal yang bersifat destruktif tadi. Apalagi saat ini makin sering demonstrasi yang serupa, masif, dan terstuktur untuk merincis Pancasila dan NKRI. Seperti yang baru ini terjadi, yaitu Pilkada DKI Jakarta yang mulai memberi dampak kuat membangun satu persepsi bahwa pemilihan pemimpin negeri ini harus memiliki latar belakang agama yang sama. Atau meninggalkan kesan bahwa siapa mayoritas, siapa minoritas, siapa “apa” dan “nonapa”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Saat ini mungkin masih kental adu argumen, tapi bagaimana dengan risiko “kontak fisik” yang terjadi, seperti yang pernah terjadi di Poso atau Ambon (jujur ketika menulis ini saya terdiam sesaat, dan berdoa pada Sang Khalik kiranya dijauhkan bangsa ini dari kejadian tragis seperti yang telah terjadi itu karena dulu saya pernah tugas ke Poso dan mendengar berbagai kisah masyarakat sana). Saat itu, Indonesia akan luluh lantak! Bagaimana tidak, Jakarta saat ini adalah pusat segalanya, mulai dari pemerintah, ekonomi, hingga demografi. Seolah-olah Indonesia tidak memiliki “disaster recovery city”. Oleh sebab itu, mitigasi risiko ini dapat dilakukan dengan tindakan preventif, yaitu mendelegasikan pusat urusan pada lokasi lain. Salah satu bagian yang vital adalah urusan pemerintahan. Artinya, Indonesia memerlukan kota lain untuk menjadi ibu kota, karena saya berpendapat Jakarta sudah sangat jenuh, karena menanggung semua urusan negeri, serta memiliki inherent risk yang besar yang dapat “menggoyang” seantero tanah air.

Saya yakin, pemindahan ibu kota bukan hanya meminimalisasi risiko “kontak fisik” tadi, akan tetapi jauh dalam jangka panjang akan mengubah paradigma kesenjangan sosial antardaerah yang mempersepsikan pembangunan Indonesia “hanya” di pulau Jawa saja. Artinya, pemindahan ibu kota (apalagi ke daerah Tengah atau Timur Indonesia), akan membawa hawa segar bagi pembangunan atau paradigma kebangsaan. Pemindahan ibu kota saya yakini dapat menjadi katalisator pemerataan pembangunan. Hawa segar ini akan menjadi obat pemulihan dan  mitigasi risiko bagi NKRI dan Pancasila yang sedang dirongrong oleh ideologi dan sekelompok lain yang saat ini sedang menyasar Jakarta untuk mempebesar efeknya. Jadi, mau tak mau, segera pindahkan ibu kota kita!

Ikuti tulisan menarik Ridhony Hutasoit lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu