x

Jalan Tol Fungsional Brebes - Batang mulai di padati pemudik. TEMPO/Subekti

Iklan

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mudik dan Orgasme Ramadan

Kenikmatan mudik adalah hal yang paling dicari di penghujung Ramadan, terbukti dari jutaan orang memenuhi jalan, bertebaran dalam beragam kendaraan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mungkin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, akhir bulan Ramadan adalah persiapan menuju “puncak kenikmatan” menjalankan “ibadah” mudik ke kampung halaman. Perjalanan yang jauh dan sulit, tampaknya tak pernah menjadi beban, karena mudik menjadi semacam orgasme setelah puasa yang sulit tergantikan oleh hal apapun. Kenikmatan mudik adalah hal yang paling dicari di penghujung Ramadan, terbukti dari jutaan orang memenuhi jalan, bertebaran dalam beragam kendaraan menuju kampung halaman. Jika para sufi selalu mencapai orgasme ibadah-nya melalui dzikir dalam keheningan batin dan merasa “berduaan” dengan Tuhannya, maka masyarakat Indonesia memburu orgasmenya melalui mudik yang hanya dirasakan pada setiap tahun saja.

Puncak kenikmatan atau orgasme tentu selalu dicari dan diinginkan oleh setiap manusia sebagai bentuk terlampiaskan hawa nafsunya secara total. Orgasme biasanya di dahului oleh proses-proses kesabaran dan pengekangan secara bertahap, demi kesempurnaan sebuah orgasme yang akan diperoleh. Puasa di bulan Ramadan yang dijalankan umat muslim selama satu bulan adalah upaya  pengekangan, proses perjalanan kesabaran seseorang untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya yang puncak kenikmatannya adalah taqwa. Taqwa jelas merupakan “orgasme” keimanan yang didapatkan melalui ujian kesabaran yang selama satu bulan ditempuhnya, mengekang hasrat dan nafsunya dengan berpuasa.

Namun, orgasme Ramadan yang hendak diraih oleh jutaan umat muslim di Indonesia terasa berbeda, bukan kenikmatan “berduaan” dengan Tuhan seperti halnya kaum sufi atau kenikmatan taqwa yang umumnya diraih oleh mereka yang secara khusyuk berpuasa. Puncak kenikmatan setelah berpuasa satu bulan dirasakan oleh kegiatan mudik, berbondong-bondong merasakan kenikmatan pulang kampung walaupun dalam suasana susah payah. Mudik menjadi fenomena orgasme Ramadan yang diburu dan dicari oleh sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia dengan rela mengorbankan apa saja demi memperoleh puncak kenikmatan puasa ini. Meningkatnya jumlah pemudik setiap tahunnya, tentu menjadi sangat nyata bahwa memburu kenikmatan mudik adalah “hasil” dari pengekangan kenikmatan yang dilakukan selama satu bulan penuh.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Disadari maupun tidak, mindset setiap muslim di Indonesia ketika dihadapkan dengan Ramadan adalah bagaimana menyusun strategi yang baik agar mampu mencapai kenikmatan di saat mudik. Dari mulai persiapan pembelian tiket, perbaikan kendaraan, membeli kendaraan baru, mencari waktu yang tepat untuk mudik dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk seluruh pembiayaan yang terkait dengan kegiatan mudik lebaran. Mudik lebaran jelas tidak ada hubungannya dengan promosi “Islam Nusantara” yang ramai di Indonesia, karena mudik bukanlah tradisi yang diserap kedalam ajaran agama. Mudik lebaran hanyalah tradisi kemanusiaan—diluar agama—yang terbentuk secara budaya tetapi mendapat dukungan dari agama. Prinsip silaturrahim yang diwajibkan oleh agama dan boleh dilakukan setiap saat, kemudian dilokalisir oleh kebiasaan masyarakat hanya “wajib” dilakukan di waktu lebaran.

Tidak ada yang salah dengan tradisi mudik, karena banyak nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk  pada setiap aktivitasnya, seperti silaturrahim, menjadi dermawan atau “sabar” melakukan perjalanan mudik . Hanya saja, seringkali kita melupakan atau bahkan membuang jauh-jauh nilai-nilai yang lebih penting dari sisi kemanusian yang dibentuk oleh puasa Ramadan selama sebulan penuh. Nilai-nilai kemanusiaan seperti sabar, mampu menjalankan manajemen emosional secara baik, berwatak dermawan dan suka menolong orang lain, menjadi peka terhadap fenomena kemiskinan dan kesulitan, justru kelihatannya tergerus oleh aktivitas mudik yang seakan menjadi orgasme Ramadan.

Puasa Ramadan yang diwajibkan selama satu bulan, bukanlah sekedar kewajiban agama yang tak memiliki konsekuensi apapun. Jumlah hari dalam puasa menunjukkan betapa manusia tak akan bisa ditembus jiwanya dalam waktu singkat, tapi butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk menembusnya, sehingga terbiasa melakukan kebajikan dan menolak hal-hal yang buruk. Oleh karena itu, puasa yang dijalankan selama sebulan oleh setiap umat muslim semestinya mampu mentradisikan nilai-nilai yang ditanamkan oleh puasa, termasuk sabar, dermawan, memiliki kepekaan sosial dan piawai dalam soal manajemen hawa nafsu. Tiga puluh hari yang diwajibkan kepada umat muslim berpuasa, akan membentuk pribadi-pribadi muslim yang taqwa, mengejar kemanfaatan dan kebaikan terus menerus sebagai bentuk orgasme puasa di akhir bulan Ramadan.

Jika tradisi mudik sejauh ini berhasil mencapai orgasme puasa Ramadan, berarti kebanyakan mereka yang berpuasa hanya berhasil meraih nilai-nilai puasa pada tataran paling luar, belum menyentuh sama sekali sisi terdalam dari inti puasa tersebut. Puasa Ramadan ibarat sebuah pertandingan sepak bola yang dimulai dari babak penyisihan, semi final hingga final. Mereka yang sukses mencapai final jelas sangat sedikit jumlahnya, dan mereka adalah orang-orang pilihan yang sejak awal berpuasa, terus menerus melakukan latihan, introspeksi diri, evaluasi atas dirinya, senantiasa menanamkan kesabaran, semangat dan keyakinan akan sebuah kemenangan. Euforia dalam sebuah kemenangan dalam pertandingan adalah wajar tetapi itu bukanlah nilai-nilai abadi yang ditanamkan, nilai-nilai terbaiknya adalah mereka terus introspeksi dan evaluasi, berlatih, membiasakan diri dan optimis walaupun tidak dalam suasana kompetisi.

Mudik, jika nampak sebagai puncak kenikmatan (orgasme) puasa Ramadan, berarti sama dengan menikmati euforia kemenangan tanpa peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan yang ditanamkan oleh aktivitas puasa Ramadan itu sendiri. Mereka hanya larut dalam euforia mudik, bahkan sudah dirasakan jauh-jauh hari sebelum Ramadan tiba. Wajar saja, jika kemudian sebuah euforia harus dibayar mahal pula oleh negara, melalui pelayanan dan jaminan agar euforia mereka disaat mudik dapat tetap terjaga. Harga yang sangat mahal bagi sebuah orgasme puasa Ramadan yang mewujud dalam mudik lebaran, hingga jalan-jalan dibangun, arus lalu-lintas direkayasa, aparat keamanan siap siaga, dan jaminan atas seluruh sarana dan prasarana yang dikhususkan bagi mereka yang ingin melampiaskan orgasme mudiknya. Padahal, tujuan utama puasa Ramadan jelas, membentuk ketakwaan dan orgasme-nya adalah terbiasa dengan kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan secara terus menerus, bukan sekadar mudik yang orgasmenya hanya setahun sekali.  

Ikuti tulisan menarik SYAHIRUL ALIM lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu