x

Iklan


Bergabung Sejak: 1 Januari 1970

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Korupsi Bak DAUN Kecil Menutupi BUMI yang LUAS

Korupsi makin merebak. Mungkin karena kurang bersyukur atas apa yang dimiliki. Jangan sampai BUMI yang LUAS ditutupi DAUN yang kecil.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Korupsi itu bak DAUN yang kecil menutupi BUMI yang luas.

 

Emang kita hidup itu, pengen apa sih?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pengen bahagia, silakan asal secukupnya.

Pengen sedih, silakan asal seperlunya.

Pengen mencintai, silakan asal sewajarnya.

Pengen membenci, silakan asal sekedarnya.

TAPI INGAT, JANGAN LUPA BERSYUKUR SEBANYAK-BANYAKNYA.

 

Hampir gak percaya. Tahu-tahu, banyak pejabat kena OTT KPK. Dari Walikota Batu, Bupati Batubara, Ketua DPRD Banjarmasin hingga Walikota Tegal. OTT bukan soal kecil atau besar. Tapi soal praktik korupsi yang masih merajalela di bangsa ini.

 

Kenapa bisa gitu?

Tentu bisa ditafsir dari banyak sisi. Silak saja. Dan salah satunya, karena mereka gak bersyukur. KURANG BERSYUKUR atas apa yang dimiliki. Jangan sampai “DAUN yang kecil menutupi BUMI yang luas” …

 

BUMI itu luas. DAUN itu kecil.

Anugerah Allah yang tak terbatas itu BUMI. Uang, harta, jabatan itu cuma selembar DAUN.

Jadi, mana mungkin selembar "daun yang kecil" bisa menutupi "bumi yang luas" ini. Karena faktanya, daun menutupi telapak tangan saja sulit. TAPI kalo DAUN yang kecil menempel di pelupuk MATA kita, maka tertutuplah BUMI. Gelap dan gak bisa terlihat lagi jalan yang terang.

 

Sungguh, selalu ada alasan kuat untuk bersyukur.

Buat kita, buat tiap orang. Apapun keadaannya. Katanya hidup di dunia cuma sementara, terus mau ngapain lagi? Apa lagi sih yang mau dikejar? Sungguh, dunia gak akan pernah ada cukupnya. Tanya deh pada diri sendiri, apa sih yang dicari dalam hidup ini?

 

Jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil.

Gak seimbang, bumi dibanding daun. Gak bersyukur. Terlalu mudah melupakan anugerah Allah. Terlalu gampang gak puas atas apa yang dimiliki. Banyak orang sekarang, menempatkan diri sebagai “korban”. Marasa menderita, merasa ada yang kurang. Merasa kurang, kurang lagi dan kurang terus. Sehingga “jalan hidupnya” pengen disetir sendiri. Sampe lupa kalo ada Allah.

 

Maka, DAUN yang kecil pun menutupi BUMI yang luas.

Tiap hari berkeluh-kesah. Tiap hari menebar kebencian pada orang lain, pada pemimpin. Tiap hari mengais-ngais kejelekan orang. Tiap hari galau, bete sampe seolah gak ada lagi harapan untuk kebaikan. Bermental “korban”, berjiwa menderita. Ahhh, itu semua perasaan kamu aja kok. Gak seberapa jika dibanding Nabi Ayyub.

 

Nabi Ayyub itu sepanjang hidupnya penuh cobaan. Mulai dari dilenyapkan kekayaannya, kehilangan anak-anaknya, diberi penyakit berkepanjangan, hingga ditinggalkan istri tercintanya. Tapi hebatnya, ia tetap sabar dan bersyukur. Tentu, kita bukan disuruh jadi kayak dia, tapi bisa belajar dari dia. Emang, kita ini seberapa sengsara sih hidup di dunia ?

 

Kita kadang suka lupa.

Orang di gunung itu merindukan pantai. Sebaliknya, orang pantai itu kangen sama gunung. Orang desa bilang enak hidup di kota. Orang kota pengen tinggal di desa. Gak sedikit rakyat yang pengen jadi pemimpin. Tapi banyak pemimpin capek dan pengen jadi rakyat.

 

Kata kamu orang lain hidupnya enak. Ehh, orang lain bilang kamu yang hidupnya enak. Jadi mana yang benar? Semua itu fantasi dan aksesori doang kok. Kuncinya, syukurin aja yang ada sekarang. Dan bersyukurlah.

 

Jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil.

Karena kamu terlalu memusatkan pada apa yang diinginkan, bukan yang dimiliki.

Karena kamu selalu melihat pada orang yang diberi nikmat, bukan orang yang gak beruntung.

Lagi sendiri, ngeluh pengen segera nikah. Udah nikah, masih ngeluh belum punya anak. Udah punya anak, ngeluh anaknya nakal plus biaya pendidikan mahal, biaya hidup sekarang mahal. Jadi gak kelar-kelar ngeluhnya …. Gak ciamik kayak gitu.

 

Giliran panas minta hujan, dikasih hujan pengen panas. Giliran di rumah pengen pergi, udah pergi gara-gara macet pengen buru-buru pulang ke rumah. Waktu tenang cari rame, waktu rame cari tenang…. Keder sendiri, sampe lupa bersyukur.

 

Sudahlah, jangan tutupi BUMI yang luas dengan DAUN yang kecil.

Hal yang paling BESAR di dunia itu NAFSU. Nafsu itu bisa bikin manusia jadi apa saja yang dia mau. Alam pun bisa rusak akibat nafsu manusia. Bahkan nafsu bisa bikin kita lupa Allah.

Hal yang paling BERAT di dunia itu AMANAH. Amanah itu bisa jadi petaka kalo gak bisa memikulnya, amanah itu bikin manusia terpuruk karena salah dalam memegang amanah.

 

Sekali lagi jangan, jangan sampe "DAUN yang kecil" menutupi "BUMI yang luas".

 

Jangan tutupi BUMI dengan DAUN yang kecil.

Kita sering mikirin yang belum dipunya. Tapi sering juga lupa atas apa yang sudah dimiliki. Silakan saja kita berjuang untuk memiliki yang kita cintai. Tapi jauh lebik baik mencintai yang sudah kita miliki.

 

Maka, jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR. Karena semua yang kita miliki saat ini adalah anugerah dan karunia yang pantas untuk kita.

Bersyukur itu hal sederhana yang sering dilupakan orang. Hingga nikmat Allah yang banyak pun tertutupi keluh-kesah kita.

 

Sahabat, hidup itu WAKTU yang dipinjamkan, sedang harta adalah BERKAT yang dipercayakan. Dan semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.

 

"Banyak orang sudah punya tapi merasa belum punya". Mau sampai kapan hidup kayak gitu? Sungguh, lebih baik mensyukuri yang ada daripada mengeluhkan yang belum ada.

 

Bahagialah secukupnya. Sedihlah seperlunya. Mencintailah sewajarnya. Membencilah sekedarnya. TAPI INGAT, BERSYUKURLAH SEBANYAK-BANYAKNYA.

Tolong, jangan tutupi "BUMI yang luas" dengan "DAUN yang kecil"… Insya Allah, ciamikk jadinya !! #Bersyukur #Syukur

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu