Mooi Indie - Analisa - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mooi Indie

    Pemerintah kolonial mengelola wisata di Jawa

    Dibaca : 3.734 kali

    Java: The land of eternal summer

             The garden of the east 

             (Eliza Scidmore, Picturesque Java, Februari 1909)

     

    Pesona Jawa yang dipenuhi panorama nan memanjakan mata mampu minyalaukan para pengunjugnya. Hamparan gunung berapi, sejuknya alam yang masih asri, maupun candi-candi peninggalan masa silam dapat dijumpai di tiap jengkalnya. Rafless, dalam History of Java, menggambarkan begitu kayanya Jawa dengan “Nothing can be conceived more beautiful to the eye, or more gratifying to the imagination, than the prospect of the rich variety of hill and dale, of rich plantations and fruit trees or forests, of natural streams and artificial currents.”

    Gunung Gede Pangrango di Jawa bagian barat serta Bromo di Jawa bagian timur, kesejukan alam Sukabumi, Garut, maupun Cibodas, dan candi Borobudur menjadi magnet berdaya tarik tinggi. Ditambah lagi dengan kekayaan flora di Bogor yang begitu akrab bagi penelitian di bidang botani. Seorang ahli botani, Francis Ramaley, yang berkunjung ke Jawa pada awal abad ke-20 menulis “No region of the world has a more luxuriant tropical flora and nowhere else is there found such a garden as that maintained by the Dutch government at Buitenzorg.”

    Sebagai destinasi wisata, awalnya, Jawa kurang begitu ramah bagi para pengunjungnya. Akses bagi mereka yang ingin berkunjung terlalu dibatasi, di kala Jawa sebenarnya telah memiliki fasilitas kereta dan jalan yang mumpuni serta lokasinya yang berada dalam rute pelayaran dari Eropa dan India menuju Australia maupun Hongkong. Bagi orang asing yang ingin berkunjung lebih jauh, ke Bogor misalnya, diharuskan memiliki toelatings-kaart, semacam surat izin dan pemerintah harus mengetahui apa saja yang dilakukan selama dua puluh empat jam di Jawa.

    Haluan pemerintah kolonial, di bidang wisata, sedikit berubah tatkala tuntutan kaum etisi mengkristal menjadi Politik Etis, 1901. Praktik cultuurstelsel, yang dimulai sepertiga awal abad 19, begitu eksploitatif sehingga memantik kaum etisi untuk menyuarakan tuntutan haluan baru (nieuw keurs) bagi pemerintah kolonial dan berujung diterapkannya Trias van Deventer (Irigasi, Emigrasi, Edukasi). Pariwisata mulai dilirik oleh pemerintah kolonial guna menyediakan dana segar bagi terlaksananya program ini. 

    Pemerintah kolonial dalam rangka melakukan promosi wisata mendirikan Official Tourist Bureau (OTB) sebagai langkah awalnya, 1908. Komisi ini dipimpin oleh pemimpin senior di perusahaan kereta api (Staatsspoorwegen) bekerja sama dengan perusahaan pelayaran KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschajppij), pengusaha hotel, restoran, toko, bank, perusahaan rel swasta, serta agen pelayaran. Komisi ini mendapatkan suntikan modal awal dari pemerintah kolonial sejumlah f 25.000 pada 1908 dan f 20.000 pada tahun berikutnya dan semenjak 1910 secara berkala pemerintah mengeluarkan f 10.000.

    Menilik jumlah perjalanan dari Singapura ke Batavia, komisi yang diinisiasi pemerintah kolonial ini mampu mencapai keberhasilannya yang ditandai dengan peningkatan kunjungan sebesar lima puluh persen, setahun setelah komisi ini beroperasi. Statistikpun mencatat, jika pada 1908 jumlah pengunjung hanya 208 orang, jumlahnya meningkat signifikan menjadi 5.579 orang pada 1913. Hal ini menunjukkan bahwa pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial bagi orang asing menjadi lebih longgar.

    Titik keberhasilan berhasil dicapai karena secara terstruktur komisi ini mampu menjalankan programnya. Tugas utama untuk menjalankan promosi wisata dilakukan dengan mengkampanyekan potensi nusantara sebagai destinasi wisata ke Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Secara masif, destinasi wisata di Jawa diiklankan pada koran dan majalah serta poster di hotel. Buku panduan wisata juga dicetak dalam dua bahasa, Inggris dan Belanda, yang berisi detil informasi tentang Jawa. Tercatat pada 1910, Trips in the isle of Java dicetak dan didistribusikan secara internasional. Brosur yang dicetak telah dilengkapi dengan informasi hotel, ongkos kereta, dan layanan pos serta dipenuhi dengan slogan-slogan seperti “Here coolie take my baggage”, “Hold your tongue”, “Remember, if you don't look after the mosquitoes, you don't get your trip” yang semakin menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Namun, dampak perang dunia pertama mengakibatkan jumlah kunjungan menurun drastis, tercatat hanya terdapat 380 kunjungan pada 1915.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    Referensi:

    Cribb, Robbert, “International tourism in Java, 1900-1930”, South East Asia Research, Vol. 3, No. 2 (SEPTEMBER 1995), pp. 193-204.

    Wood, Gillen D’Arcy, “The Volcano Lover: Climate, Colonialism, and the Slave Trade in Raffles's "History of Java" (1817), Journal for Early Modern Cultural Studies, Vol. 8, No. 2, Climate and Crisis (Fall -Winter, 2008), pp. 33-55.

    Ramaley, Francis, “A Botanist's Trip to Java”, The Plant World, Vol. 8, No. 6 (JUNE, 1905), pp. 139-150.

    Pradipto Niwandhono, Yang Ter(di)lupakan Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia, Yogyakarta: Djaman Baroe, 2011.

    Sumber Gambar: media-kitlv.nl



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.