x

Iklan


Bergabung Sejak: 1 Januari 1970

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

3 Sebab Masa Pensiun Merana

Banyak pekerja di Indonesia justru merana di masa pensiun. Apa sebabnya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

3 Sebab Masa Pensiun Merana

 

“Maaf nih Pak, mau tanya aja. Sudah berapa lama bekerja?” tanyaku.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Alhamdulillah Mas, sudah 25 tahun. Insya Allah, sekitar 5 tahun lagi saya pensiun” jawab Si Bapak pekerja.

 

“Tapi Pak, ngomong-ngomong. Apakah Bapak sudah siapkan untuk masa pensiun nanti” tanyaku lagi.

“Nah, itulah masalahnya Mas. Gak terasa, sebentar lagi saya pensiun. Mana belum ada yang dipersiapkan. Yah, gimana nanti aja deh Mas. Syukur-syukur kalo kantor minta tetap bekerja lagi. Atau kalo gak, ya cari kerjaan lagi aja setelah pensiun” jawab Si Bapak pekerja itu lagi.

 

Dialog seperti di atas, mungkin bisa terjadi pada siapapun. Sebuah dialog, tentang orang yang bekerja lebih dari 20 tahun. Tapi saking enaknya kerja, lupa mempersiapkan pensiun. Padahal, cepat atau lambat, masa pensiun pasti tiba. Mungkin bukan hanya Si Bapak pekerja di atas. Kita semua, selagi masih bekerja, penting untuk mempersiapkan masa pensiun.

 

Adalah fakta di kalangan pekerja. Bahwa selama bekerja, mereka hanya fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhan semata. Mungkin ditambah, sedikit gaya hidup. Selama 10 tahun, 20 tahun, mungkin hingga 30 tahun waktunya habis dipakai untuk bekerja. Sementara masa pensiun, sama sekali tidak dipikirkan. Tanpa terasa, 3 atau 5 tahun lagi pensiun. Lalu, ketersediaan dana untuk membiayai hidup selama masa pensiun pun belum dipersiapkan. Terlampat bersiap pensiun. Sehingga bisa jadi, masa pensiunmenjadi momok yang menakutkan.

 

Memang begitu faktanya, tidak sedikit pekerja yang menyepelekan masa pensiun. Masa pensiun dianggap masih lama, masih jauh saat usia muda sedang bekerja. Maka lebih baik fokus untuk memnuhi kebutuhan finansial di masa sekarang. Seperti memebli rumah, membeli mobil, kebutuhan sehari-hari plus sedikit bergaya hidup. Sementara masa pensiun, memang masih lama. Maka pantas, belum dipikirkan, belum dipersiapkan.

 

Adalah sebab masa pensiun pekerja bisa jadi merana.

Karena saat bekerja tidak memikirkan masa pensiun. Tidak mau menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiunnya. Konsekuensinya, prioritas hidup dipandang hanya untuk masa sekarang, jangka pendek saja. Sementara masa pensiun, karena masih lama, relatif diabaikan. Ketersediaan dana di masa pensiun 'nyaris' dilupakan.

 

Alhasil, maka wajar. 9 dari 10 pekerja di Indonesia saat ini tidak siap untuk pensiun. Bahkan 7 dari 10 pensiunan yang ada saat ini pun mengalami masalah keuangan. Terpaksa bekerja lagi atau bergantung kepada anak atau orang lain di masa pensiun. Bekerja di masa muda menjadi tidak sebanding dengan keadaan di masa pensiun.

 

Masa pensiun yang merana. Adalah masa pensiun yang penuh ketakutan. Masa pensiun yang “dekat” dengan kemiskinan. Masa pensiun yang “lebih besar pasak daripada tiang”. Sungguh, masa pensiun yang mengenaskan harus menjadi perhatian jutaan pekerja di Indonesia.

 

Bila ditilik lebih spesifik. Setidaknya ada 3 penyebab masa pensiun pekerja merana. Masa pensiun yang tidak sejahtera dibandingkan saat bekerja. Masa pensiun yang tidak punya uang cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya sendiri. Ada 3 sebab masa pensiun seseorang merana, yatu:

 

  1. Terlambat memulai untuk menyisihkan sebagian gaji.
  2. Menabung terlalu sedikit untuk masa pensiun
  3. Tidak punya tujuan finansial di masa pensiun ketika masih bekerja

 

Maka, solusi sederhana agar tidak merana di masa pensiun adalah “bertindak untuk menyiapkan masa pensiun yang sejahtera”. Karena kita pasti sepakat, bahwa sejahtera itu bukan hanya saat vekerja. Tapi harus berlanjut hingga masa pensiun tiba.

 

Langkah dan ikhtiar yang paling sederhana untuk mempersiapkan masa pensiun sejahtera adalah memulai ikut serta dalam program pensiun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena DPLK adalah program yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja agar tetap sejahtera.

 

Melalui DPLK, seorang pekerja dapat menyetor iuran setiap bulan dari gajinya. Lalu diinvestasikan secara optimal. Sehingga akumulasi dana yang terkumpul hingga masa pensiun dipastikan dapat memenuhi kebutuhan dan gaya hidup sehari-hari di masa pensiun, saat tidak bekerja lagi.

 

DPLK pada dasarnya adalah "jalan keluar" atas ketakutan atau kekhawatiran pekerja saat pensiun. Agar masa pensiun tidak merana. Maka, mumpung belum terlambat dan masih ada waktu. Kurangi sedikit gaya hidup yang tidak perlu. Minimalkan gengsi yang tidak produktif. Abaikan perilaku konsumtif dan hedonis. Mulailah untuk menyisihkan sebagian gaji melalui program DPLK.

 

DPLK pastinya dapat menjadi solusi keuangan bagi pekerja dalam menghadapi masa pensiun. Agar para pekerja dapat tetap sejahtera di masa pensiun dan tidak bergantung kepada orang lain.

 

Ketahuilah, cepat atau lambat, masa pensiun pasti tiba. Bisa 5 tahun lagi atau 10 tahun lagi. Dan yang pasti tidak seorang pun pekerja ingin merana di masa pensiun. Untuk itu, mulailah mempersiapkan masa pensiun yang sejahtera. Karena pensiun itu bukan gimana nanti. Tapi nanti gimana .... Mau seperti apa di masa pensiun? Susah atau senang ….#LiterasiPensiun #EdukasiPensiun #YukSiapkanPensiun #SadarPENSIUN

Ikuti tulisan menarik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu