Modern Boleh, Kesenian Tradisional Tak Kalah Eksis - Travel - www.indonesiana.id
x

Rahmat Joe

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 September 2019

Sabtu, 21 September 2019 03:21 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Modern Boleh, Kesenian Tradisional Tak Kalah Eksis

    Dibaca : 402 kali

    Eksis dengan digital di era modernisasi sah-sah saja. Statusnya lumrah. Sebab, zaman modern sudah menjadi kehidupan yang sudah pasti terjadi pada zaman sekarang. Tak jarang kita melihat banyak yang memuat pola kehidupan kita pada saat ini. Main game, memiliki android, serta sistem robotik yang diberikan keseharian hidup.

    Kebutuhan kehidupan yang serba praktis, tidak memerlukan tantangan untuk eksistensi kesenian tradisional. Untuk hadir di tengah kehidupan, mungkin kita menganggap perlu. Begitulah adanya, semakin berkembangnya zaman semakin kuat pula pertahanan anak-anak muda untuk melestarikan kesenian tradisional.

    Di Padang. Binturan penuh di kenagarian (desa adat) Kuranji Hilir, kecamatan Sungai Limau, pemuda sebagai penggerak atas adat istiadat. Kembali ke atas Warisan leluhur itu masih tetap di jaga. Mereka berprinsip bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan kekayaan budaya, oleh karena itu sekaranglah, kita semua percaya. Moyang kita membuat dan mewarisi. Sementara kita hanya tinggal tinggal menunggu.

    Siapa yang melihat era modern ini kegiatan kesenia tradisional tidak eksis?

    Dapat kita sasksikan dari pelaksanaan kegiatan sudah ada buktinya. Kegiatan demi Kegiatan dilakukan dengan baik dan teratur. Pemuda korong Padang Bintungan memiliki sistem dan struktural dalam menyelami kegiatan yang telah dibuat buat bersama. Sistem-sistem yang belum ada di sebelumnya membuat kolaborasi keutuhan untuk penguatan tradisi.

    Hal itu dapat kita lihat dari Kegiatan-kegiatan yang di jalani.

    Contoh:

    1. Basilek (pencak silat): basilek (pencak silat) dilakukan setiap malam minggu. Dalam agenda dan untuk keberlanjutan agenda basilek ini pemuda Padang Bintungan membuat kepengurusan intern / atau yang pelimpahan wewenang untuk panitia meminta ada pembagian tugas untuk mempertanggung jawabkan bidang kegiatan basilek. Panitia di musyawarah bersama, serta setelah penetapan panitia pengurus di bentuk lah dewan guru yang bertanggung jawab sebagai pengajar di sasaran silek (perguruan silat). 
    2. Batambua tasa (gendang tasa): kegiatan ini adalah agenda rutin yang dilakukan setiap malam kamis. Kegiatan batambua tasa sama dengan pembentukan panitia pencak silat. Namun disini perbedaannya adalah panitia yang berbentuk hanya terdiri dari penanggung jawab harian, selebihnya untuk kelanjutan dari kegiatan di limpahkan secara kondisional. Artinya: pengaturan penanggung jawab bisa dilakukan secara langsung sesuai dengan kebutuhan acara hari ini.

    Semua yang ada di lakuakan dengan pola yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.