Barabas, Nasihat Terakhir Arswendo Kepada Teroris - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover buku Barabas Diuji dari Segala Segi

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 18 Oktober 2019 09:28 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Barabas, Nasihat Terakhir Arswendo Kepada Teroris

    Dibaca : 389 kali

    Judul: Barabas - Diuji Segala Segi

    Penulis: Arswendo Atmowiloto

    Tahun Terbit: 2019

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 272

    ISBN: 978-602-063-190-5

    Novel terakhir karya Arswendo Atmowiloto ini mengambil kisah dari tradisi Nasrani. Namun novel ini bicara tentang pergumulan manusia untuk menghadapi masalah terbesarnya, yaitu kebencian. Apakah manusia akan terus melestarikan kebencian, yakni membalas kebencian dengan kebencian? Ataukah manusia bisa keluar dari lingkaran itu: membalas kebencian dengan kasih?

    Novel Barabas ini adalah gabungan antara riset, imajinasi yang kuat dan perenungan tentang makna hidup. Arswendo Atmowiloto (saya lebih suka memanggilnya Mas Wendo) menghidupkan sosok yang hanya sedikit disinggung di Alkitab dengan imajinasi yang luar biasa. Imajinasinya tentu tidak ngawur. Sebab saya mendapati riset yang sangat kuat dalam “Barabas.”

    Imajinasi digunakan oleh Mas Wendo untuk membuat kisahnya mengalir, memberi alur dan ketegangan dari fakta-fakta yang dikumpulkan melalui riset tentang jaman Barabas hidup. Kisah menjadi luar biasa karena Mas Wendo memasukkan perenungan tentang makna hidup dalam kisahnya, khususnya melalui tokoh kontroversial “Barabas.”

    Siapakah Barabas? Di Kitab nama Barabas muncul di keempat Kitab Injil dalam episode pengadilan dan penyaliban Yesus. Kitab Matius menyebutnya sebagai penjahat yang terkenal (Mat 27:16). Kitab Markus menyebutnya sebagai pemberontakan (Mar 15:7). Kitab Lukas menyebutnya sebagai sebagai pembunuh (Luk 23:19, 25). Dalam Kitab Yohanes ia disebut sebagai penyamun (Yoh 18:40). Dari kesaksian di keempat Kitab Injil tersebut jelas ditunjukkan bahwa Barabas adalah orang jahat.

    Barabas adalah orang jahat yang seharusnya dihukum mati. Namun karena kebencian, ia mendapatkan kebebasan. Sementara Yesus yang tidak bersalah, karena kebencian harus menerima nasib mati di kayu salib. Injil Matius Pasal 27 ayat 15-26 memuat kisah tawaran Pilatus untuk membebaskan Yesus yang diserahkan ke pengadilan karena dengki atau Barabas yang adalah penjahat besar. Ternyata para demonstran yang digerakkan oleh para tokoh agama itu tetap memilih untuk menyalibkan Yesus. Melalui kisah di Injil Matius inilah kejadian “Pilatus cuci tangan” menjadi terkenal.

    Kisah Barabas selanjutnya tidaklah jelas. Keempat Injil tidak lagi menulis tentang nasib orang beruntung ini. Secara samar-samar memang muncul nama Barabas atau Barsabas yang juga disebut Yusuf Barsabas atau Yustus. Tokoh ini disebut menjadi kandidat sebagai pengganti Yudas Iskariot sebagai rasul, meski akhirnya kalah undi dari Matias. Apakah Barabas dalam kisah penyaliban dan Barabas atau Barsabas yang menjadi kandidat pengganti Yudas Iskariot di Kitab Kisah Para Rasul adalah orang yang sama? Alkitab tidak memberi fakta yang cukup jelas tentang hal ini.

    Berdasarkan data yang sangat minim di Alkitab inilah Mas Wendo mengembangkan novelnya. Tentu saja saya yakin Mas Wendo melakukan riset tentang tokoh yang menjadi subyek dalam novelnya. Mas Wendo menggali cara memberi nama atau memanggil orang di jaman Barabas. Ia menjelaskan bahwa Barabas adalah bar-Abba yang artinya anak bapak (hal. 9). Jadi Barabas bisa saja bukan nama, tetapi sekedar panggilan saja karena ayahnya adalah seorang yang terkenal. Jadi Mas Wendo mau mengatakan bahwa Barabas bisa siapa saja. Bisa Anda dan bisa pula saya.

    Selain tentang penamaan dan panggilan, Mas Wendo juga melengkapi novelnya dengan fakta-fakta hubungan orang Yahudi dan orang Romawi di masa Barabas. Kebencian orang Yahudi kepada orang Romawi begitu dalam. Mas Wendo juga memberikan informasi kepada kita bagaimana orang Yahudi menyikapipenjajahan Romawi ini. Ada orang-orang yang lebih memilih untuk mempertahankan budaya Yahudi melalui preservasi agama dan ada yang melakukan pemberontakan. Banyak kelompok-kelompok yang melakukan pemberontakan untuk memerdekakan Yahudi dari Romawi. Pemberontak yang mati sangat dikagumi oleh orang-orang Yahudi (hal. 12).

    Pemberontak yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka disiksa dengan cambuk (hal. 16) dan dimasukkan ke penjara yang sangat gelap (hal. 8). Beberapa dari mereka dipotong jarinya (hal. 11) sebagai penanda. Detail tentang bagaimana tentara Romawi memperlakukan para pemberontak tergambar sangat jelas dalam deskripsi tentang penjara dan cambuk yang berimata duri ikan.

    Mas Wendo juga menggambarkan bagaimana polah para pejabat Romawi yang dengan segala cara ingin diterima oleh warga di tanah jajahan sekaligus disukai oleh penguasa Roma. Tokoh Klausius si Kepala Penjara dan Pontius Pilatus Gubernur Yudea dipakai oleh Mas Wendo untuk menggambarkan perilaku pejabat di jaman Barabas. Kedua pejabat ini melakukan segala hal untuk mempertahankan posisinya sebagai pejabat.

    Fakta-fakta sejarah itu diramu dengan imajinasi yang sangat mengalir. Mas Wendo menggambarkan sosok Barabas sebagai seorang Yahudi garis keras yang ingin membebaskan bangsanya dari penjajahan Romawi. Ia menjuluki Barabas sebagai “Kalajengking Tampan.” Sepak terjang si Kalajengking Tampan dipakai oleh Mas Wendo untuk membangun sosok Barabas yang sangat cinta kepada bangsa dan agamanya. Kecintaan kepada bangsa dan agama ini membuatnya merasa bangga jika akhirnya dia mati sebagai pemberontak. Kematian karena melawan penjajah adalah sebuah kemuliaan yang didambakan.

    Imajinasi Mas Wendo tidak saja dipakai dalam menggambarkan tokoh Barabas sebelum ia tiba-tiba mendapatkan hidup keduanya. Mas Wendo juga menggambarkan dengan sangat menarik bagaimana tokoh Barabas setelah menerima hidup keduanya. Harapannya untuk mati, mayatnya dibungkus kain kafan dan dibawa dengan soros (keranda terbuka) dan diperlihatkan kepada umum tidak terjadi. Ia menjadi sosok yang dilupakan begitu saja setelah dibebaskan. Tidak ada orang yang peduli. Orang banyak lebih peduli dengan kebencian, yaitu menyaksikan penyaliban Yesus daripada mengagumi Barabas yang mendapatkan kesempatan hidup yang kedua. Kalanjengking Tampan menjadi bukan siapa-siapa.

    Kegalauan untuk kembali kepada cara hidup yang lama, atau bergabung dengan kelompok pendoa-–murid-murid Yesus yang terus berkelompok karena menantikan kebangkitan Sang Mesias, terus berkecamuk dalam diri Barabas. Apakah ia akan kembali ke jalan lama sebagai pemberontak, atau ia akan menjadi bagian dari orang-orang yang “membawa khabar baik?”

    Mas Wendo memasukkan tokoh Barabas yang mendapat kehidupannya yang kedua ke dalam kisah-kisah yang tersimpan dalam Alkitab dan tradisi gereja. Mas Wendo membawa Barabas kepada keputusan yang sulit. Apakah ia akan menerima posisi sebagai kepala pemberontak yang mendapat dukungan dari dalam dan luar negeri dengan pendanaan yang tak terbatas, atau ia akan menjadi seorang pembawa khabar baik yang tidak mendapatkan dukungan politik, selain persahabatan yang tulus dari para pengikut Orang Nazaret itu? Dalam posisi inilah Barabas diuji dari segala segi.

    Hal yang paling menarik bagi saya dari novel ini adalah tentang pergumulan dalam merespon kebencian. Paling mudah bagi manusia adalah membalas kebencian dengan kebencian; nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi. Namun bukankah sudah terbukti di sepanjang sejarah manusia bahwa hukum balas membalas ini tidak pernah menyelesaikan permasalahan? Apakah tawaran untuk mengasihi musuh, mendoakan mereka, membalas kejahatan dengan kasih adalah cara yang lebih ampuh untuk memadamkan kebencian? Jika pun itu benar, bukankah sangat sulit bagi manusia untuk melaksanakannya?

    Itulah kira-kira pergumulan hebat yang dihadapi oleh Barabas. Pergumulan dengan diri sendiri untuk mengubah pandangan tentang pemerdekaan manusia sungguh luar biasa berat. Barabas harus menghadapi ujian dari segala segi.

    Jalan kekerasan adalah jalan kepahlawanan. Perlawanan dengan kekerasan adalah jalan untuk mendapat pujian. Mati dalam kekerasan dengan alasan membebaskan bangsa atau manusia adalah sebuah cara untuk dipuja dan menjadi terkenal. Sedangkan jalan kasih adalah jalan sunyi. Para pemilih jalan kasih adalah orang-orang yang harus bersiap berperang dengan diri sendiri sepanjang waktu.

    Namun anugerah hidup kedua yang dialami oleh Barabas dan contoh perilaku para pemuja Yesus Orang Nazaret itu telah membuatnya teguh pada pilihan. Barabas memilih jalan kasih untuk menyelesaikan masalah bangsanya. Ia memilih jalan kasih untuk menyelesaikan masalah manusia. Ia memilih jalan sunyi. Akhir hidupnya tak ada yang memperhatikan dan mengingatnya. Terlupakan. Lenyap.

    Mengampuni, memaafkan dan berbuat baik kepada sesama, termasuk kepada para pembenci kita adalah satu-satunya cara untuk memerdekakan diri. Satu-satunya cara mendapat damai dalam kehidupan.

    Buku ini adalah novel terakhir Arswendo Atmowiloto. Waktu buku ini dalam proses terbit, Arswendo atau lebih sering disapa sebagai Mas Wendo sedang terbaring sakit. Saat terbit, beliau sudah berpulang. Terima kasih Mas Wendo atas pesan terakhirmu melalui novel ini. “Sura Dira Jayaning Rat Lebur Dening Pangastuti” - kejayaan angkara murka padam dengan pengampunan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.