Sinopsis Film Korea Secret Zoo, Kisah Menyelamatkan Kebun BInatang yang Mengalami Kebangkrutan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Sinta Nurhikmah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 September 2019

Sabtu, 8 Februari 2020 18:29 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sinopsis Film Korea Secret Zoo, Kisah Menyelamatkan Kebun BInatang yang Mengalami Kebangkrutan

    Dibaca : 396 kali

    Pernahkah datang ke sebuah kebun binatang, tapi tak ada satupun hewan yang bernaung di sarangnya? Jika iya, mungkin respon pertama kali kita adalah meresa begitu sedih dan kecewa dengan pihak kebun binatang yang tidak bisa memaksimalkan pelestarian hewan. Namun, apa jadinya jika hewan yang ada adalah hewan jadi-jadian? 

    Secret Zoo, film dari negeri Ginseng yang diperankan oleh Kang So Ra, Ahn Jae Hong, Kim Sung Oh, Jeon Yo Bin, dan juga Park Yeoung Gu akan menampilkan bagaimana jadinya jika hewan-hewan di kebun binatang diisi oleh hewan jadi-jadian. 

    Tae Soo (Ahn Je Hong) yang berprofesi sebagai seorang pengacara, tak pernah menyangka akan menjadi seorang direktur di sebuah kebun binatang yang akan tutup. Alasan akan ditutupnya kebun binatang ini adalah sudah tidak adanya lagi hewan yang bernaung di sana, karena sudah ludes terjual. 

    Tae Soo mencoba memutar otaknya untuk bisa tetap membuka kebun binatang, yang masih ramai didatangi oleh para wisatawan terutama anak-anak. Satu hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan mengajak semua teman-teman Tae Soo, untuk menjadi hewan jadi-jadian alias hewan palsu. 

    Dengan menggunakan kostum hewan, Tae Soo, Han Soo Woon (Kang So Ra), direktur Seo (Park Yeong Gu), Kim Gun Wook (Kim Sung Oh), dan Kim Hae Kyung (Joen Yo Bin) mengambil peran masing-masing, para karyawan kebun binatang ini berusaha untuk menghidupkan secret zoo dalam waktu tiga bulan. 

    Tae Soo yang menjadi beruang kutub, Seo Woon yang menjadi singa, direktur Seo yang menjadi jerapah, Gun Wook yang menjadi gorila, dan He Kyung yang menjadi kukang harus berjuang untuk mempertahankan kebun binatang tersebut. Meski panas, hujan, lelah, semua mereka lalui demi berdirinya kembali kebun binatang mereka. 

    Banyak upaya yang mereka lakukan, seperti sang beruang kutub yang bisa meminum minuman soda dan bertingkah lucu agar para pengunjung tetap berdatangan. Semua mereka lakukan, meski tak sedikit yang mencoba melempar makanan dan juga meminta sang hewan untuk terjun ke kolam. Jika terjun ke kolam air, tentu kostum mereka yang memiliki harga tak murah ini pun akan rusak seketika dan kebun binatang makin tak berjalan. 

    Film yang diangkat dari Webtoon dengan judul Haechijiana yang ditulis oleh Hun pada 20 Septeber sampai dengan 27 April 2020 lalu, telah mendapatkan respon apik dari penonton Korea Selatan dengan jumlah satu juta penonton. Mengusung cerita yang fresh dan relate dengan kehidupan nyata, bahwa makin jarangnya hewan yang dilindungi di kebun binatang menjadi sebuah film yang sangat menarik untuk disaksikan. 

    Ditulis naskahnya oleh Son Jae Gon yang juga berperan sebagai sang sutradara Secret Zoo, telah andal dalam mengemas film dengan apik. Sebelumnya, ia pernah menggarap film The Man Who Saw Too Much (2000), My Scary Girl (2006), dan Villain and Widow (2010).

    Film komedi ini sudah mulai bisa disaksikan mulai 5 Februari 2020 ya. Jangan sampai kelewatan, jika ingin melihat aksi para hewan palsu Secret Zoo.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 446 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin