Berjalannya Sistem Perdagangan Pasar Cigombong di Tengah Penyebaran Covid-19 di Indonesia - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Annisa Pratiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Januari 2020

Rabu, 1 April 2020 10:16 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Berjalannya Sistem Perdagangan Pasar Cigombong di Tengah Penyebaran Covid-19 di Indonesia

    Dibaca : 894 kali

    Berjalannya Sistem Perdagangan Pasar Cigombong di Tengah Penyebaran Covid-19 di Indonesia

    Oleh: Annisa Pratiwi*)

     

    SUKABUMI – Kehidupan manusia tidak bisa lepas dari sistem jual beli untuk menghidupi kebutuhan mereka sehari-harinya. Baik itu aktivitas jual beli di toko-toko pasar maupun para pedagang kecil yang berkeliling dan membuka lapaknya di pinggiran jalan. Hal itu mereka lakukan agar tetap bisa menafkahi keluarga masing-masing. Salah satunya adalah di Pasar Cigombong-Warungkiara, dimana sebagian dari pedagang di wilayah tersebut masih melakukan aktivitas jual beli seperti biasanya.

    “Saya sendiri masih berdagang setiap hari dari pagi buta hingga petang, kalo tidak berjualan mau makan apa keluarga saya? Karena hanya dengan berdagang saya bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya. Dan kami juga antar pedagang saling membutuhkan satu sama lain, kami tidak keluar rumah jika tidak benar-benar penting.” ujar Iyus (50) salah satu pedagang es kelapa di pinggiran jalan saat diwawancarai di kediamannya. Ahad malam (29/03/2020).

    Masyarakat sendiri tidak terlalu khawatir akan meningkatnya korban Covid-19 di Indonesia yang dapat merenggut nyawa setiap harinya. Tetapi juga mereka tidak terlalu menyepelekan hal tersebut, mereka tetap menjaga kebersihan lingkungan mereka dengan melakukan penyemprotan atau sterilisasi rumah-rumah dan masjid yang ada.

    “Alhamdulillah untuk menjaga keamanan kampung kami telah dilaksanakan penyemprotan ke seluruh masjid di kecamatan Warungkiara ini setiap hari Jumat, dan kami masih melakukan ibadah salat Jumat seperti biasanya. Begitu pula dengan penyemprotan rumah-rumah yang telah dilakukan pada Selasa (31/3) hari ini, kami diperintahkan untuk membersihkan rumah, dan tetap mengikuti peraturan pemerintah untuk rajin mencuci tangan dengan sabun,” kata Iyus.

    Berbagai ikhtiar telah mereka lakukan untuk tetap menjaga lingkungan agar tetap aman dan nyaman, meski telah beredar kabar bahwa toko-toko dan pasar akan segera ditutup demi keselamatan bersama. Maka para masyarakat pun mulai menampung bahan-bahan makanan dan perlengkapan mandi untuk tiga bulan ke depan. 

    *) Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, STIBA Ar Raayah, Sukabumi


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    Minggu, 31 Mei 2020 10:05 WIB

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.148 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).