Indra Sjafri Optimis Membenahi SSB dan Afiliasinya - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

indra Sjafri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 5 Mei 2020 18:57 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Indra Sjafri Optimis Membenahi SSB dan Afiliasinya

    Dibaca : 664 kali

    Dalam situasi internal PSSI yang kini masih dilanda polemik, tetap ada optimisme yang perlu diapungkan ke hadapan publik sepak bola nasional. Optimisme tersebut tak lain dan tak bukan digelorakan oleh sang Direktur Teknik PSSI yang baru, Indra Sjafri dengan jargon yang sudah familiar bagi publik sepak bola nasional, yaitu #semangatmenolakmenyerah. 

    Dalam komunikasi langsung melalui sambungan telepon dengan saya, Selasa (28/4/2020), Sebagai Direktur Teknik, Indra sangat optimis untuk membantu Timnas Indonesia meraih prestasi. 

    Untuk itu, sektor sepak bola akar rumput juga menjadi perhatian serius untuk dibenahi, terutama menyoal fungsi dan kedudukan SSB, bentuk organisasinya, dan afiliasinya. 

    Selain itu, Indra juga akan bekerjasama dengan stakeholder terkait dan pihak yang mumpuni, demi meraih impian itu. 

    Menurut Indra, nantinya menyoal sepak bola akar rumput, terutama pembinaan, pelatihan, kompetisi, dan keorganisasian SSB wajib "satu pintu". Apa maksud satu pintu versi Indra Sjafri, kita tunggu saja. 

    Gemas pada pelaku akra rumput

    Mendukung #semangatmenolakmenyerah dan optimisme Indra, maka sebelum kita tahu lnkahga Indra,  kali ini saya ulas masalah dasar sepak bola akar rumput kita. 

    Sejujurnya, bicara sepak bola akar rumput, banyak kalangan dan publik sepak bola nasional yang gemas dengan perilaku para pembina, pelatih, orangtua dan anak-anak di Sekolah Sepak Bola (SSB) dan sejenisnya. 

    Di antara yang menggemaskan, adalah banyak SSB yang muncul dan berdiri dengan sangat mudah, tanpa melalui mekanisme dan prosedur yang valid. Sudah begitu, para pembina dan pelatihnya juga bisa dari kalangan apa saja, bahkan hanya sekadar pecinta sepak bola, bukan dari pelaku atau praktisi sepak bola. 

    Efek berikutnya, berdirinya SSB juga menjadi wadah "gaya-gayaan" para pembina/pelatih/orangtua/anaknya. Di antara gaya tersebut adalah "petantang-petenteng seperti sudah menjadi pengurus/pelatih/orangtua/anak yang hebat bak PSSI dan timnas. 

    Lebih nyata lagi, saat para pemilik/pembina/pelatih/orangtua, tergabung dalam satu wadah bernama whatsApp (wa) grup, sudah tak ada batasan lagi dalam berbagi dan menanggapi setiap informasi baik dari admin maupun peserta grup lainnya, Semuanya sudah "sok jago" dan "sok tahu", padahal keilmuan dan pengalaman dalam sepak bola, apalagi khusus sepak bola akar rumput masih hijau. Sudah begitu untuk belajar dan membaca saja "malas".

    Kini, setiap pembina/pelatih/orangtua/anak, bila sudah berjersey SSB dan membawa bendera SSB ini dan itu, sudah luar biasa merasa hebat. Apalagi bila sudah bersanding dengan SSB lain dalam sebuah festival/turnamen/kompetisi, terlbieh saat timnya menang. 

    Padahal mereka kebanyakan belum tentu memahami mengapa wadahnya bernama SSB, lalu harus seperti apa SSB itu dalam proses pembinaan dan pelatihan,  syaratnya apa, dll. Ini semua akibat dari begitu mudahnya mereka lahir dalam wadah SSB yang instan. 

    Apakah mereka salah? Lalu apakah salah, lahir wadah kompetisi swasta  di Jabodetabek seperti IJL, IJSL, Liga Kompas, dan Liga TopSkor? Bukankah seharusnya SSB terafiliasi ke Askot/Askab di kota dan kabupatennya masing-masing dan teregistrasi di Asprov setiap provinsi? 

    Sejarah lahirnya kata SSB

    Sejak almarhum Ronny Pattinasarani, saat masih menjabat Direktur Pembina Usia Muda PSSI, akhirnya menggaungkan nama SSB di tahun 1999,  lalu membakukan dalam event perdana SSB bernama Kid's Soccer Tournamen 3-11 Juli 1999 di Stadion GMSB Kuningan Jakarta. Pesertanya hanya 16 tim dan mewakili Jabodetabek. Saat itu tidak semua tim bernama SSB, namun Ronny memutuskan semua menjadi bernama SSB. 

    Berikut adalah SSB yang terpilih dalam turnamen perdana yang berlangsung di Stadion GMSB Kuningan, Jakarta, 3-11 Juli 1999 dan mencatatkan sejarah sebagai SSB perdana di Indonesia yang secara resmi dipilih dalam event yang digelar oleh PSSI, yaitu: AS IOP, Bina Taruna, Mutiara Cempaka, Sukmajaya, Gala Puri, Bekasi Putra, Pelita Jaya, Jayakarta, BIFA, Pamulang, Harapan Utama, Bintaro Jaya, Bareti, Camp 82, Depok Jaya dan Kemang Pratama. 

    Dari 16 SSB peserta turnamen SSB resmi tersebut, dapat dilihat, hingga kini mana SSB yang bertahan. Namun, yang pasti, itulah 16 SSB cikal bakal yang melahirkan SSB menjamur di Indonesia. 

    Selanjutnya,  saya sendiri ada dalam tim bersama Almarhum Ronny hingga akhirnya membentuk Asosiasi Sekolah Sepak Bola Jakarta (ASSBJ) yang bekerja sama dengan PB PASI. 

    Namun, nasib ASSBJ tidak berlanjut, setelah kerjasama dengan PB PASI terhenti. Dan, atas dukungan dan arahan Ronny, saya melahirkan Asosiasi SSB Depok (ASSBD) di 2001. 

    Perjalanan SSB tak berarah

    Perlu diketahui, sejak Kid's Soccer Tournamen, hingga sekarang, ternyata fungsi dan kedudukan SSB belum pernah jelas di ranah PSSI. Sudah begitu, SSB yang seharusnya menjadi organisasi resmi non formal dalam pembinaan dan pelatihan sepak bola akar rumput, juga tidak ditata dan ditangani dengan benar oleh PSSI, meski SSB notabene-nya adalah pondasi dari lahirnya timnas senior Indonesia yang handal. 

    Maka, dengan SSB yang wadah organisasinya belum pernah ada pembakuan resmi PSSI, jenjang pembinaan dan kompetisi di bawah naungan PSSI juga tidak pernah jelas. 

    Indikatornya, hingga PSSI menggelar turnamen Piala Suratin terbaru yang sudah memainkan U-13 dan U-15, kepanjangan tangan PSSI bernama Asprov di setiap provinsi juga menerjemahkan teknis pelaksanaanya berbeda-beda, pun peserta Piala Suratin yang dimulai dari Askot dan Askab, banyak yang masih belum mencantumkan SSB sebagai pesertanya, namun masih atas nama klub anggota Askot dan Askab. 

    Masalah berikutnya, tidak semua klub membina pemain usia SSB. Apa yang terjadi, banyak klub yang hanya tinggal memakai jasa SSB yang ada. 

    Saat Kompetisi Liga 1 PSSI diputar, lalu lahir kompetisi Liga 1 Elite Pro Academy (EPA) U-16 dan U-18, dari mana klub Liga 1 mengambil pemain? Lagi-lagi, SSB menjadi korban, pemainnya hanya dicomot klub Liga 1 dengan prosedur ada surat keluar dari SSB, alias Klub mencomot pemain SSB gratisan. 

    Seharusnya tata kelola SSB ini nyambung dengan kompetisi Liga Indonesia. Jadi, SSB jelas fungsi dan kedudukannya di bawah kendali Askot/Askab dan naungan Asprov. 

    Karenanya, saat ada anak SSB yang akhirnya mentas dan dipilih klub masuk ke Liga 1, melalui mekanisme dan prosedur yang benar. 

    Pertanyaannya, akan sampai kapan SSB terus diperlakukan demikian? Bila saya hitung sejak lahirnya kata SSB digaungkan tahun 1999, maka keberadaan SSB di Indonesia sudah berusia 21 tahun. 

    Afiliasi SSB macet

    Setelah puluhan tahun nasib SSB tak jelas, ada angin segar. PSSI terbangun dari tidur akan polemik pola pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi sepakbola akar rumput. Hal itu terungkap dari Surat Afiliasi Sekolah Sepakbola (SSB) yang diluncurkan PSSI. 

    Surat Resmi bernomor 665/PGD/130/II-2018, dengan lampiran 1 lembar, perihal Sekolah Sepakbola Terafiliasi, yang ditandatangani Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Ratu Tisha, diterbitkan pada tanggal 20 Februari 2018. Surat ditujukan kepada seluruh Ketua Asosiasi Porvinsi (Asprov) se-Indonesia, dengan lampiran 1 lembar, yaitu form formulir afiliasi SSB, benar-benar menjadi harapan. 

    Sayang, sejak diluncurkan, Sekjen tidak serius menanganinya hingga akhirnya lingsir dari PSSI, program afiliasi ini tak ada gaungnya lagi. Macet. 

    Sejatinya, program afiliasi ini sangat ditunggu hasilnya, demi tertatanya pembinaan sepak bola nasional dari akar rumput hingga tim nasional. Sayang, program afiliasi yang merupakan implementasi dari statuta sesua ketentuan Pasal 19A Statuta PSSI (Edisi 2018) perihal “Lembaga Terafiliasi” dan bagian dari Program PSSI Turbo (yakni perapihan adminitrasi data pemain serta pelaku sepakbola tanah air) ini sekarang tak jelas nasibnya. 

    Bila program ini jalan, maka SSB yang nantinya terafiliasi ke PSSI, pun wajib memenuhi beberapa syarat. Sesuai Pasal 19A Statuta PSSI, ketentuan afiliasi akan diatur dalam regulasi teknis yang akan disetujui oleh Komisi Eksekutif PSSI. 

    Artinya, bila SSB mendaftarpun, tidak lantas semua SSB dengan serta merta dapat terafiliasi ke PSSI. Tergantung apakah prasyaratnya terpenuhi atau tidak. Bila prasyarat terpenuhi, barulah Komisi Eksekutif PSSI mengetuk palu bahwa SSB terafiliasi PSSI/terdaftar sebagai anggota PSSI. 

    Untuk itu, seseuai amanat statuta, seluruh SSB di Indonesia, wajib melakukan afiliasi sesuai syarat yang telah ditentukan. Syaratnya antara lain: pertama, memiliki pelatih yang berlisensi minimal D PSSI; kedua, memiliki pengurus aktif; ketiga, memiliki minimal 2 tim kelompok umur berbeda (semisal kelompok U-13 dan U-15); keempat, memiliki jadwal latihan rutin; dan kelima, memiliki lapangan/home ground berlatih tetap. 

    Sementara proses afiliasi, seluruh SSB wajib mendaftarkan diri kepada Asosiasi PSSI Kota (Askot) atau Asosiasi PSSI Kabupaten (Askab), di setiap kota atau kabupaten seluruh Indonesia. Selanjutnya, tindak lanjut dari formulir isian pendaftaran afiliasi SSB, akan difungsikan sebagai bahan akreditasi berjenjang bagi setiap SSB. 

    Afiliasi juga akan dijadikan kontrol kualitas pembinaan usia muda yang akan ditentukan dalam regulasi teknis Komisi Eksekutif PSSI.

     Afiliasi bukan program baru 

    Menyoal afliasi SSB, sejatinya ini bukan program baru. Karena afiliasi SSB atau registrasi SSB di Askot/Askab di beberapa Asprov, telah dilakukan di sekitar tahun 2012. Saat itu, pembinaan SSB sudah diakui dan terafiliasi ke PSSI. Bahkan, setiap event kompetisi SSB swasta yang ternama di tanah air, selalu mewajibkan pesertanya melampirkan surat rekomendasi dari Askot/Askabnya, minimal telah terdaftar 3 tahun. 

    Namun, tidak semua Askot/Askab melakukan program afiliasi. Kemudian, pola registrasi di setiap Askot/Askab juga tidak seragam sesuai statuta PSSI. Struktur organisasi kepengurusan SSB juga tidak ada panduan yang baku. Maka, program afiliasi yang telah dijalankan oleh Askot dan Askab terkesan sebagai program tempelan. Lalu macet dan mati suri. 

    Seharunya, rencana Tisha dengan program afiliasi SSB ini sekaligus menjadi momentum pemutihan, sekaligus sebagai verifikasi, apakah SSB bersangkutan masih layak dianggap sebagai anggota Askot/Askab sesuai dengan prasaratnya setelah mengisi formulir afiliasi SSB yang diterbitkan pada tanggal 20 Februari 2018, yaitu sesuai FORM MD-C02 AFILIASI PSSI, menjadi acuan struktur organisasi SSB yang hingga kini belum seragam. 

    Bila afiliasi berjalan, maka PSSI juga wajib memikirkan perangkat pembinaan dan kompetisi berjenjang yang benar. PSSI tidak dapat berdiri sendiri. Untuk menerbitkan Kurikulum Sepak Bola Nasional, harus bekerjasama dengan tenaga ahli dan stakeholder terkait. 

    Begitu pun masalah kepelatihan, harus ada sinergi dengan Kemendikud. Untuk masalah keorganisasian juga demikian, harus ada afiliasi dengan stakeholder yang kompeten. 

    Sebab, akar masalah PSSI selalu di pusaran itu, selain terbelenggu oleh statuta yang terus dijadikan alat dan kekuatan rezim yang hanya ingin mencari keuntungan pribadi dan golongan. 

    Itulah sebagian dari akar masalah sepak bola nasional yang minimal dapat dijadikan pijakan untuk Indra Sjafri mengolahnya dengan semangat dan optimisme #semangatmenolakmenyerah. 

    Bismillah. Sesuai izin Allah, mari kita berbuat yang benar melalui sepak bola untuk negeri ini, itulah ucapan penutup Indra dalam sambungan telepon, tujuh hari yang lalu. 

    Semoga di bulan penuh berkah, hikmah, dan ampunan di tengah pandemi corona, semua niat baik yang benar dimudahkan. Aamiin. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.