x

Iklan

Raiders Marpaung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juni 2020

Sabtu, 20 Juni 2020 17:17 WIB

Psikologi Olahraga dan Faedahnya bagi Para Pelaku di Bidang Sport

Psikologi olahraga merupakan bidang studi baru dalam perkembangan ilmu psikologi, sejalan dengan perkembangan psikologi terapan dalam pelbagai bidang kehidupan. Sudah jelas dalam olahraga interaksi antara atlet dengan pelatihnya, sesama anggota tim, lawan bertanding, dan lain-lain akan memberikan efek-efek psikologik tertentu pada atlet. Tulisan ini mengungkap perkembangan psikologi olaharaga dan berbagai gagasan yang tumbuh.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam sejarah psikologi, nama Wilhelm Wundt tidak mungkin diabaikan. Dia mengukir namanya sebagai pendiri Laboratorium Psikologi pertama di Leipzig, Jerman, pada tahun 1879. Sejak saat itu, psikologi dengan berbagai bidangnya berkembang dimana-mana. Salah satu bidang psikologi yang sudah berkembang lama, khususnya di Amerika ialah psikologi olahraga.

Menurut Silva III dan Weinberg, salah satu studi pendahuluan dalam psikologi olahraga telah dilakukan oleh George W. Fitz, yang menyelidiki waktu reaksi (reaction time) yang tercantum dalam “Psychological Review” tahun 1895. Fitz adalah Kepala Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Latihan Fisik pada Harvard’s Lawrence Scientific School sejak 1891 sampai 1899, dan sebagai penanggungjawab berdirinya laboratorium pendidikan jasmani yang pertama di Amerika Utara; telah menciptakan alat-alat untuk mengukur kecepatan dan ketepatan seseorang menyentuh obyek yang dihadapi tiba-tiba dan dalam posisi yang tidak terduga.

William G. Anderson, tokoh pendidikan jasmani terkemuka dan tokoh pendiri “American Association for Health, Physical Education, Recreation and Dance” selama tahun akademi 1897-1898 menyelenggarakan eksperimen mengenai “mental practice”, “transfer of training”, dan “transfer of muscular strength”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Silva III dan Weinberg juga mengemukakan hasil studi Robert A. Cummins, seorang instruktur psikologi pada Universitas Washington yang meneliti efek latihan basketball terhadap reaksi motorik, perhatian dan kesanggupan mengingat. Norman Triplett, ahli psikologi dari Universitas Indiana menyelenggarakan studi untuk membuktikan hubungan antara pengaruh penonton terhadap penampilan motorik.

Adapun Scripture, direktur laboratorium psikologi Universitas Yale, berpendapat watak yang baik dan sifat-sifat pribadi dapat dipelihara dengan berperan serta dalam olahraga dan sifat-sifat tersebut dapat ditransfer dalam keadaan yang berbeda dalam kehidupan seseorang.

Nama Coleman Griffith muncul sebagai ilmuwan yang banyak menulis artikel dan buku mengenai Psikologi Olahraga sekitar tahun 20-an dan 30-an. Menurut Kroll dan Lewis, dalam tulisannya yang dihimpun oleh Straub, Coleman Robert Griffith pada tahun 1918 telah mulai mengadakan penelitian di Universitas Illinois dengan menyelenggarakan serangkaian observasi informal mengenai faktor-faktor psikologis yang terlibat dalam olahraga bola basket dan sepak bola.

Pada tahun 1925 Griffith sudah mengadakan persiapan untuk mendirikan laboratorium psikologi olahraga. Kemudian secara resmi Griffith menjadi Direktur dari “the Athletic Research Laboratory” di Universitas Illinois. Griffith juga disebut-sebut sebagai “Bapak Psikologi Olahraga”, khususnya di Amerika.

Silva III dan Weinberg mengemukakan bahwa banyak orang berpendapat bahwa laboratorium psikologi olahraga di Amerika Utara, di Universitas Illinois, adalah laboratorium psikologi olahraga yang pertama di Amerika Utara. Laboratorium psikologi olahraga pertama di dunia didirikan oleh Carl Diem di “Deutsche Hochschule Fur Leibesubungen” di Berlin pada tahun 1920. Di Rusia A.Z. Puni mendirikan Laboratorium Psikologi Olahraga di “Institute of Physical Culture” di Leningrad pada awal tahun 1925.

Sebagaimana dikemukakan oleh Kroll dan Lewis, yang dikutip oleh Straub, Griffith lebih banyak mencurahkan perhatian untuk meneliti keterampilan psikomotor, proses belajar, dan variabel-variabel kepribadian. Sehubungan dengan itu Griffith mengembangkan sejumlah alat test dan sejumlah alat-alat tertentu, meliputi:

    1. alat pengukur waktu reksi otot yang diberi beban
    2. test kecerdikan dalam baseball
    3. test ketegangan otot dan relaksasi
    4. test untuk membedakan 4 type serial reaction times
    5. test untuk mengukur ketenangan, koordinasi otot-otot, dan kemampuan belajar
    6. test waktu reaksi terhadap sinar, suara, dan tekanan
    7. test untuk mengukur fleksibilitas koordinasi
    8. test untuk mengukur kepekaan otot
    9. test kesiapan mental yang dikembangkan khusus bagi atlit

Pada tahun 1932 Griffith meletakkan jabatan sebagai Direktur “Athletic Research Laboratory” karena suatu pembatalan bantuan finansial. Kemudian sebagai anggota Team Ahli Psikologi Olahraga dari perkumpulan baseball Chicago Club, Griffith menyelenggarakan bermacam-macam test untuk meneliti kepemimpinan, latihan, kepribadian, motor learning, kemampuan (ability), pada bermacam-macam faktor psikologi sosial. Akhirnya Griffith menjadi professor dalam psikologi pendidikan, menjelang masa pensiunnya.

Sumbangan lain dalam pertumbuhan psikologi olahraga telah diberikan oleh John D. Lawther, profesor pendidikan jasmani di Pennsylvania State University, dan profesor pendidikan, Clarence Ragsdale di Universitas Wisconsin, yang mendirikan laboratorium motor learning pada tahun 1930. McCloy, dkk di Stanford Psychological Laboratory telah menyelenggarakan proyek penelitian dengan judul “Character Building Throught Physical Education” pada tahun 1930.

Penelitian Miles di Stanford di fokuskan untuk mengukur waktu reaksi penjaga garis sepak bola. Ternyata bahwa seseorang yang cepat dalam suatu hal, seperti menggerakkan tangan atau jari, tidak berarti bahwa ia juga cepat dalam penampilan motorik yang lain.

Menurut Silva III dan Weinberg pada tahun 1935 Henry telah mengambil prakarsa mengadakan kursus di Berkeley dengan judul “Psychological Basis of  Physical Activity”. Sesudah perang dunia ke II, Warren R. Johnson pada tahun 1949 mengawali penelitian mengenai bermacam-macam elemen stress dan dampaknya terhadap penampilan atlet. Tujuan dari salah satu penelitian tersebut adalah membandingkan reaksi emosional sebelum bertanding pada pemain sepak bola dan pegulat.

Johnson berkesimpulan bahwa emosi kuat sebagai gejala wajar rasa takut dan resah (cemas) sebelum bertanding tidak tampak sebagai faktor utama yang istimewa pada sepak bola, tetapi ada indikasi yang kuat bahwa ini merupakan sesuatu yang penting dan serius dalam gulat.

Dikemukakan pula oleh Silva III dan Weinberg beberapa penelitian setelah perang dunia II yang dilakukan oleh beberapa ahli dari berbagai perguruan tinggi, yaitu antara lain:

Tahun 1952 John M. Harmon dari Universitas Boston, dan Johnson dari Universitas Maryland, menemukan reaksi-reaksi emosional dari atlet-atlet College;

Tahun 1954 Johnson bersama Daniel H. Hutton (University of Maryland) dan Granvile B. Johnson (Emory University) meneliti sifat-sifat kepribadian dari kelompok selektif atlet-atlet yang tergolong superior;

Tahun 1955 Burris F. Husman (Maryland) menyusun disertasi mengenai agresivitas petinju dan pegulat.

Tahun 1955 Johnson bersama Daniel H. Hutton meneliti dampak olahraga perkelahian terhadap dinamika perkembangan kepribadian.

Pada sekitar tahun 1955 Franklin M. Henry dan Celeste Ulrich mulai menganalisis pengaruh stress terhadap penampilan atlet; kemudian penelitian ini dilanjutkan para ahli psikologi olahraga yang lain. Howell meneliti pengaruh ketegangan emosional terhadap kecepatan reaksi dan gerakan; kemudian Howell meninggalkan University of British Columbia pindah ke Universitas Alberta (Canada). Howell dapat digolongkan sebagai pionir psikologi olahraga dan motor learning Canada.

Menurut Bryant J. Cratty the first International Congress on Sports Psychology diselenggarakan di Roma pada tahun 1965, dan diprakarsai oleh seorang psikiater yaitu Profesor Ferrucio Antonelli. Dalam kongres tersebut disepakati pula untuk membentuk “International Society of Sports Psichology” disingkat ( ISSP ), yang didorong oleh kesadaran bahwa olahraga membutuhkan pendekatan psikologis.

Sejak tahun 1965 perkembangan psikologi olahraga bertambah lebih pesat, sesuai juga dengan tulisan Antonelli sport needs psychology”.

Robert Morford ( Berkeley ) sekitar tahun 1966 telah mengajar psikologi olahraga/motor learning di Universitas Alberta ( Canada ), kemudian dilanjutkan oleh Richard B. Alderman dan Bob Wilberg. Bryant J. Cratty ( Universitas California di Los Angeles ) juga menulis buku “Movement Behavior and Motor Learning” ( 1964 ). Tokoh-tokoh lain disamping Cratty, yang juga menulis tentang  motor learning yaitu antara lain: Robert N. Singer ( Florida State University ), dan Joseph B. Oxendine ( Temple University ).

Suatu kumpulan tulisan “Beiser’s book di-edit oleh R. Solvenko dan J.A. Knight diterbitkan pada tahun 1967, dengan judul “Motivations in Play, Games, and Sport” kemudian menyusul buku-buku yang lain.

Di Amerika perkembangan psikologi olahraga juga ditunjang dengan berdirinya organisasi yang bergerak dibidang psikologi olahraga, yaitu North American Society for the Psychologi of Sport and physical Activity ( NASPSPA ), pada tahun 1966, dengan tokoh-tokohnya antara lain Arthur T. Slater-Hammel dari Indiana University ( president ), Bryant J. Cratty dari University of California at Los Angeles ( vice-president for national affairs ), dan Warren R. Johnson dari University of Maryland ( vice-president for international affairs ), demikian menurut Wiggins.

Sesudah diselenggarakannya the Second International Conference of Sport Psychology di Washington, DC, pada tahun 1968, beberapa sarjana dari Canada yang menyelesaikan studi di Amerika mendirikan the Canadian Society for Psychomotor Learning and Sport Psychologi ( CSPLSP ), berpusat di Universitas Alberta pada tahun 1969, dengan tokoh-tokohnya antara lain Bob Wilberg, Alderman, dan sebagainya.

Menurut Alderman sejak dari permulaan psikologi olahraga di Amerika Utara tumbuh atau berkembang atas dasar latar belakang pendidikan jasmani, termasuk orientasi dan falsafahnya. Model-model medis dan therapeutis lebih banyak dikembangkan di Eropa dan di negara-negara belakang tirai besi.

Alderman juga mengemukakan bahwa karena perbedaan minat, “objective” ( sasaran ) dan teknik-teknik penelitian, maka sejak awal 1970 terjadi pemisahan lingkup studi atas “bidang motorik” yang lebih banyak melakukan penelitian terapan ( applied research ), dan profesional psikologi olahraga yang banyak berkecimpung dalam mentest teori dasar ( basic theory ). Pada International Congress of Sport Psychology di Ottawa tahun 1981, lebih dari 30 makalah dibahas, dan pada pertemuan NASPSPA lebih banyak bersifat mentest teori dan pengembangannya.

Para ahli tertarik untuk meneliti independent variable yang mempengaruhi penampilan atlet, dan juga dependent variable atau gejala-gejala yang timbul dalam penampilan seorang atlet setelah menerima pengaruh dari variabel tertentu.

Menurut Saparinah dan Sumarmo Markam dalam suatu penerbitan “Manifesto on Sports Psychology” oleh “European Federation of Sports Psychology” ( FEPSAC ) tahun 1969 dikemukakan bahwa psikologi olahraga berkembang sejak sekitar tahun 1960 dengan pesat. Pada tahun 1965 telah dibentuk “International Society of Sports Psychology” ( ISSP ) yang diketuai DR. Guido Schilling seorang Psikolog Klinis. Kegiatan dari FEPSAC dan ISSP tersebut bertujuan pengembangan dan menerapkan dasar-dasar ilmiah dari disiplin psikologi untuk keperluan aktivitas fisik.

Dikemukakan juga oleh Saparinah dan Sumarmo bahwa di samping Amerika, maka beberapa negara seperti Rusia, Jerman, Austria, Czekh, Slovakia dan Norwegia telah secara konkrit memanfaatkan psikologi olahraga untuk atlet-atlet nasionalnya. Di Norwegia telah dibuka studi mengenai “Sports psychology” pada taraf akademi.

Psikologi olahraga merupakan bidang studi baru dalam perkembangan ilmu psikologi, sejalan dengan perkembangan psikologi terapan atau “applied psychology” dalam pelbagai bidang kehidupan. Robert Singer dari Florida State University juga menegaskan bahwa psikologi olahraga adalah psikologi terapan, ilmu psikologi yang diterapkan terhadap atlet dan situasi-situasi olahraga.

Obyek studi Psikologi pada umumnya adalah gejala kejiwaan yang diselidiki dari tingkahlaku dan pengalaman individu. Psikologi Olahraga tumbuh dan berkembang menjadi cabang dari Ilmu Psikologi, karena adanya gejala-gejala khusus yang belum mendapat penelitian dan studi tersendiri dalam Psikologi, maka gejala-gejala khusus yang terjadi dalam olahraga tersebut dijadikan obyek penyelidikan Psikologi Olahraga.

Yang dimaksud dengan pengertian olahraga adalah bentuk-bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan jasmani yang intensif dalam rangka memperoleh rekreasi, kemenangan dan prestasi optimal.

Sedangkan tujuan utama dari olahraga bukanlah pembangunan fisik saja melainkan juga pembangunan mental dan spiritual membentuk manusia Indonesia Pancasilais yang fisik kuat-sehat berprestasi tinggi, yang memiliki kemampuan mental dan ketrampilan kerja, yang kritis kreatip dan sejahtera.

Jadi olahraga adalah suatu usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan jasmaniah maupun rohaniah pada tiap manusia.

Lebih tegas lagi dikatakan bahwa olahraga untuk mempertahankan eksistensi kemanusiaan dan untuk melakukan cita-cita hidup bangsa.

Olahraga sebagai kegiatan yang memunculkan tingkah laku, perlu dipelajari latar belakang dan pengaruh-pengaruhnya yakni psikologinya. Pendapat Kuhnstamm menyebutkan adanya psikologi yang mempelajari manusia dalam keadaan-keadaan tertentu; misalnya manusia dalam keadaan panik dipelajari oleh Psikologi masa, manusia dalam proses produksi dalam perusahaan/pabrik dipelajari oleh Psikologi Industri, dan sebagainya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, maka manusia dalam berolahraga dipelajari oleh Psikologi Olahraga.

Muzafer Sherif, Direktur Lembaga Riset Nasional Amerika Serikat dalam bidang Socio-dynamincs, mengatakan bahwa manusia dalam interaksinya dengan manusia lain selalu berhubungan dan dipengaruhi oleh situasi sosial yang merangsangnya (Social stimulus situations) dan hal ini tidak bisa diabaikan dalam kehidupan manusia.

Sudah jelas dalam olahraga interaksi antara atlet dengan pelatihnya, interaksi antara anggota tim yang satu dengan anggota tim lain dan interaksi antara pelaku aktifitas olahraga yang satu dengan pelaku aktifitas olahraga yang lain, akan memberikan efek-efek psikologik tertentu pada atlet dan pelaku aktifitas olahraga yang bersangkutan.

Disamping itu situasi yang dibentuk oleh penonton, media-media massa, lingkungan masyarakat sekitar, serta situasi sosial-politik dari tempat diselenggarakannya pertandingan, juga pasti ikut menentukan pula reaksi-reaksi emosional dan situasi psikologik para pemain atau atlet yang bersangkutan. Semua hal tersebut tidak boleh diabaikan dalam mempelajari gejala-gejala psikologis dalam olahraga.

Dengan memperhatikan hal-hal terdahulu, serta membandingkan pendapat tokoh-tokoh psikologi di muka, maka penulis cenderung lebih sependapat dengan Sudibyo Setyobroto sebagai Guru Besar bidang Psikologi Olahraga pertama di Indonesia yang mengajukan pengertian Psikologi Olahraga sebagai berikut: Psikologi Olahraga adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku dan pengalaman manusia ber-olahraga dalam interaksinya dengan manusia lain dalam situasi-situasi sosial yang merangsangnya. Sedangkan Singgih D.Gunarsa merumuskan Psikologi Olahraga sebagai berikut: Psikologi yang diterapkan dalam bidang olahraga, meliputi baik langsung terhadap atlet sebagai pribadi atau dalam tim maupun faktor-faktor diluar atlet yang berpengaruh terhadap kepribadian dan penampilan atlet.

Dengan batasan pengertian ini jelaslah pula perlunya pendekatan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial, dalam mempelajari gejala-gejala psikologis manusia berolahraga.

Sebagai pengetahuan yang diterapkan dalam kegiatan olahraga, psikologi olahraga meliputi beberapa bidang:

  1. Psikologi perkembangan
  2. Psikologi Belajar
  3. Psikologi kepribadian
  4. Psikologi Sosial
  5. Psikometri

Dari kelima bidang psikologi olahraga tersebut, dalam tulisan ini akan dijelaskan sedikit mengenai psikologi perkembangan yaitu mengenai prinsip perkembangan.

Perkembangan tidak terbatas dalam arti tumbuh menjadi besar tetapi mencakup rangkaian perubahan yang bersifat progresif, teratur, koheren dan berkesinambungan. Jadi antara satu tahap perkembangan dengan tahap perkembangan berikutnya tidak terlepas, berdiri sendiri-sendiri.

Perkembangan dimulai dari respons-respons yang sifatnya umum menuju ke yang khusus. Contohnya, seorang bayi mula-mula akan bereaksi tersenyum bila melihat setiap wajah manusia. Dengan bertambahnya usia bayi, ia mulai bisa membedakan wajah-wajah tertentu.

Manusia merupakan totalitas (kesatuan), sehingga akan ditemui kaitan erat antara perkembangan aspek fisik motorik, mental, emosi dan sosial. Perhatian yang berlebihan atas satu segi akan mempengaruhi segi lain.

Setiap orang akan mengalami tahapan perkembangan yang berlangsung secara berantai. Meskipun tidak ada garis pemisah yang jelas antara satu fase dengan fase lainnya, tahapan perkembangan ini sifatnya universal. Dalam perkembangan bicara misalnya, sebelum seorang anak fasih berkata-kata terlebih dahulu ia akan mengoceh.

Setiap fase perkembangan memiliki ciri dan sifat yang khas sehingga ada tingkah laku yang dianggap sebagai tingkah laku buruk atau kurang sesuai yang sebenarnya merupakan tingkah laku yang masih wajar untuk fase tertentu itu.

Karena pola perkembangan mengikuti pola yang pasti, maka perkembangan seseorang dapat diperkirakan. Seorang anak yang dilahirkan dengan faktor bawaan yang kurang dari anak lain, dalam perkembangan selanjutnya akan merupakan suatu kecenderungan perkembangan yang relatif lebih lambat dari anak lain seusianya.

Perkembangan terjadi karena faktor kematangan dan belajar dan perkembangan dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam (bawaan) dan faktor luar (lingkungan, pengalaman, pengasuhan). Jadi sekalipun semua orang mengikuti pola perkembangan yang kurang lebih sama, kecepatan perkembangan pada suatu aspek pada tiap orang berbeda-beda misalnya anak-anak dengan umur yang sama tidak selalu mencapai titik atau tingkat perkembangan fisik, mental, sosial, emosi yang sama. Variasi dalam perkembangan ini banyak hubungannya dengan faktor kematangan, belajar atau pengalaman, bawaan dan faktor lingkungan.

Setiap individu itu berbeda, dengan lain perkataan setiap orang itu khas, tidak akan ada dua orang yang tepat sama meskipun berasal dari orang tua yang sama.

Adapun manfaat mempelajari Psikologi Olahraga sudah barang tentu tidak sama bagi atlet, pelatih, pembina olahraga maupun bagi penonton atau peminat-peminat olahraga pada umumnya.

Dalam tulisan ini penulis akan mengajukan beberapa manfaat atau kegunaan mempelajari Psikologi Olahraga bagi para pelatih atau pembina olahraga, atau pun calon-calon pelatih olahraga dan khususnya para mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan di seluruh Indonesia.

  1. Untuk dapat mempelajari gejala-gejala psikologik yang terjadi pada manusia berolahraga; misalnya terjadinya audience anxiety, yaitu rasa cemas dan bimbang menghadapi penonton; boredom atau perasaan jemu atau bosan untuk melakukan latihan.
  2. Untuk dapat mempelajari faktor-faktor psikologik yang dapat menyebabkan peningkatan atau merosotnya prestasi atlet.
  3. Untuk dapat mempelajari hasil-hasil penelitian psikologi yang mungkin dapat diterapkan dalam bidang olahraga. Kemajuan olahraga yang pesat dewasa ini bukan hanya sekedar hasil dari ketekunan latihan saja, tetapi juga didasarkan atas hasil-hasil penelitian. Dalam hubungan ini penelitian dibidang psikologi akan ikut juga memberikan sumbangan.
  4. Untuk mempelajari kemungkinan-kemungkinan penerapan teori-teori psikologi dalam usaha pembinaan atlet dan pembinaan tim; misalnya mengenai usaha mengatasi ketegangan psikis atlet, beberapa tehnik memotivasi atlet, penerapan teori dinamika sosial/kelompok dalam pembinaan tim.

Kiranya beberapa kegunaan mempelajari Psikologi Olahraga yang diajukan ini masih dapat ditambah dan diperinci lebih lanjut, dan mengingat besarnya manfaat mempelajari psikologi olahraga yang dapat dipetik tersebut, maka menjadi tugas para ahli psikologi untuk mengamalkan pengetahuan, sehingga dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan aktivitas olahraga dan kepelatihan olahraga di Indonesia. Pengembangan psikologi olahraga memerlukan bantuan dari: psikologi kepribadian, psiko-fisiologi, psiko-diagnostik, psikologi pendidikan, psikologi sosial, dan sebagainya.

 

Referensi

Setyobroto Sudibyo. Pengantar Psikologi Olahraga. Diktat. Jakarta: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Jakarta, 1985.

 

Pola Dasar Pembangunan Olahraga. Jakarta: Kantor Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, 1984.

 

Kosasih Engkos. Pengetahuan Olahraga Untuk Sekolah Lanjutan Pertama, Sekolah Lanjutan Atas & Masyarakat Pencinta Olahraga. Jakarta: Karang Laut, 1971.

 

Gunarsa Singgih D. dkk. Psikologi Olahraga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1989.

Ikuti tulisan menarik Raiders Marpaung lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu