Pendidikan Indonesia Terjebak Rasionalisasi Semu, Hasil Diskusi Pedagodik IKA UNJ

Kamis, 30 Juli 2020 10:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan Indonesia terjebak rasionalisasi semu. Anggaran besar tapi dampaknya tidak terasa. Itulah simpulan diskusi pedagodik IKA UNJ

Bertajuk “Mengenali Sumber Persoalan Bottleneck Pendidikan Nasional Untuk Melampangkan Jalan Napas Pendidikan Indonesia”, Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ menggelar diskusi bulanan secara daring terkait sistem pendidikan di Indonesia. Dibuka oleh Dr. Komarudin Sahid, M.Si sekali Rektor UNJ, menegaskan bahwa pendidikan adalah persoalan besar bangsa Indonesia yang terus-menerus berdinamika dan harus dicarikan solusinya.

Menghadirkan dua tokoh pendidikan Indonesiaa, yaitu 1) Prof. Dr. Sutjipto, Rektor UNJ 1997-2005/Direktur Pascasarjana Univ. Pancasila dan 2) Prof. Dr. Yoyon Suryono, Guru Besar UNY kian menegaskan adanya ketidak-fungsian dalam sistem pendidikan. Dipandu moderator Abdulllah Taruna, diskusi pedagodik yang dihadiri 56 peserta ini terbilang sangat mencerahkan karena mampu memetakan persoalan mendasar yang dihadapi dunia pendidikan, apalagi di masa pandemo Covid-19.

“Saya menyebutnya bukan bottleneck tapi lebih tepatnya entropi, ada energi yang tidak berfungsi. Maka bila dibiarkan akan berkembang menjadi kehancuran dunia pendidikan. Maka dari itu, kini saatnya semua pihak utamanya pemerintah harus muali memperlancar komunikasi dan koordinasi agar masalah pendidikan perlahan dapat dicarikan jalan keluar” ujar prof. Dr. Sutjipto dalam paparannya.

Karena memang faktanya, anggaran pendidikan di Indonesia yang lumayan besar 20% atau 500-an triliun tidak memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Maka sebagai sebuah sistem, perlu ada efisiensi terhadap sumber daya agar bisa memberi kontribusi yang lebih besar dan semua elemen harus menjalankan fungsinya dengan benar, jangan jalan sendiri-sendiri.

Prof. Dr. Yoyon Suryono pun menegaskan bahwa pendidikan Indonesia saat ini terjebak pada “rasionalisasi semu”. Seolah-olah program yang dibuat bagus tapi tidak punya manfaat besar. Sehingga keluaran anggaran pendidikan begitu besar tapi dampaknya tidak terasa. Karena pendidikan terbawa arus mainstrem ekonomi yang terlalu liar. “Maka hari ini, kita butuh konsep sistem pendidikan Indonesia yang benar-benar Indonesia, bukan berkiblat keman-mana. Mau seperti apa kita dengan pendidikan? Sehingga kita bisa memetakan persoalan lalu mencari solusinya” ujarnya.

Harus diakui, pendidikan Indonesia hari ini megalami kelangkaaan sumer daya dan pemahaman perilaku pendidikan yang bias. Maka munculan masalah dalam pendidikan. Untuk itu, sangat perlu diperkuat paradigma pendidikan yang ada di Indonesia sambil memperkuat ideologi pendidikan “berwarna” Indonesia. Dunia pendidikan pun harus berkolaborasi dengan berbagai ahli untuk mempekuat sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia, tentu dengan basis kesejarahan Indonesia.

Khusus di masa pendemi Covid-19 seperti sekarang, maka jalan yang paling mungkin dilakukan para praktisi pendidikan adalah melakukan yang terbaik sesuai denga peran dan tanggung jawabnya masing-masing, baik guru maupun dosen. Pendidikan formal maupun nonformal harus diselamatkan semuanya agar saling melengkapi, jangan adda yang ditinggalkan. Dan yang paling penting, siapapun yang berkiprah di dunia pendidikan jauhilah sifat “mbati”, selalu ingin cari keuntungan.

Diskusi pedagogik IKA UNJ ini ditutup sambutan Juri Ardiantoro selaku Ketua Umum IKA UNJ dan Deputi IV KSP yang menekankan pentingnya kepedulian terhadap masalah pendidikan. Karena itu, IKA UNJ akan selalu mendorong diskusi berkala yang positif sebagai masukan terhadap sistem pendidikan Indonesia. Salam pedagogik … #IKAUNJ  

 

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler