Budaya Manakah yang Kini Subur di NKRI, Toleran atau Intoleran? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Intoleransi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 21 November 2020 19:03 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Budaya Manakah yang Kini Subur di NKRI, Toleran atau Intoleran?

    Bila rakyat menuntut dan membela atas hak-haknya dengan demonstrasi, mengritik, dan lainnya, apakah dilandasi oleh kecurigaan? Bukan karena berlandaskan kebenaran, sebab pemimpin/penguasa dan wakil rakyat tak amanah? Rakyat memang sedang menderita dan tak bahagia. Tapi apakah demonstrasi sebagai wujud demokrasi disebut intoleran? Sementara yang tak mau mendengar suara rakyat disebut toleran? Kok bikin kesimpulan tidak tajam dan terkesan dangkal.

    Dibaca : 831 kali

    Apakah Negeri ini telah kehilangan budaya toleransi? Toleransi yang menurut KBBI artinya sifat atau sikap toleran. Toleransi yang selama ini dikenal oleh masyarakat bangsa ini dan bangsa dunia sebagai cara menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di dunia ini.Toleransi yang merupakan keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras seperti Indonesia. Dan, sejak Indonesia merdeka, sebagai bangsa yang majemuk, toleransi sudah mendarah daging di setiap jiwa rakyat kita.

    Ternyata, kini rakyat sudah semakin merasakan bahwa toleransi di negeri ini sudah benar-benar tak lagi menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan.

    Barangkali, sebagai contoh, apakah Pemimpin Indonesia masih menjunjung toleransi, karena sama sekali tak mendengar dan menghargai suara rakyat yang sampai menggelar demonstrasi menolak UU Cipta Kerja, sebelumnya juga tetap mengesahkan UU KPK yang juga ditolak dan demo oleh rakyat. Juga berbagai kebijakan dan keputusan yang tidak memihak rakyat. Tak amanah kepada rakyat.

    Setali tiga uang, lihat betapa sikap tak toleran yang menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perilaku, budaya, agama, dan ras, juga terus dicipta dan dipertunjukkan oleh pihak-pihak yang mendukung siapa yang sedang berkuasa dan terus pula diapungkan hingga menimbulkan perseteruan dan permusuhan tak berujung dengan rakyat yang dikecewakan dan sangat mengancam disintegrasi bangsa.

    Akibatnya, kini rakyat pun meniru sikap tak toleran, dan intoleran terhadap apa saja yang tak sesuai kehendak hatinya. Antar sesama rakyat jadi berselisih, bertikai, berkelahi, tawuran, hingga saling membunuh meski dipicu oleh persoalan-persoalan sepele.

    Di jalan raya, sesama pengendara mau menang sendiri dan seperti jagoan, pun di berbagai tempat dan situasi lain. Sikap intoleran semakin tumbuh subur tak terkendali.

    Bahkan, sikap intoleran pun kini sudah masuk merasuk dalam lingkungan keluarga. Anak tak menghargai orang tua, melawan dan sebagainya. Orang tua pun sebaliknya. Siapa yang menjadi teladan dari sikap intoleran ini?

    Jawabnya siapa lagi kalau bukan para pemimpin bangsa yang diisi oleh para elite partai politik, yang justru terus membombardir rakyat dengan contoh-contoh sikap mereka yang jauh dari contoh toleran, namun semua sikap dan perilakunya terpublikasi di berbagai media massa dan media sosial yang sangat mudah diakses masyarakat di semua kelompok usia.

    Percuma ada niat revolusi pendidikan karakter untuk generasi muda, bila kini malah sedang terjadi revolusi budaya intoleran yang sangat masif yang pelakunya justru generasi tua yang sedang memegang tampuk kekuasaan.

    Bila ada tokoh masyarakat yang menyatakan bahwa orang yang memiliki sikap toleransi tinggi maka akan cenderung lebih berbahagia, karena orang yang intoleran lebih banyak memiliki kecurigaan tinggi terhadap orang lain, rasanya lucu.

    Kendati pernyataan tersebut diungkapkan dalam dalam Seminar yang digelar baik secara luring maupun daring di Akademi Militer (Akmil) Magelang bertajuk 'Eksistensi Pancasila dalam Mencegah Disintegrasi Bangsa dan Intoleransi melalui Bela Negara', Rabu (18/11/2020), seperti diberitakan di beberapa media, namun tetap saja pernyataan tersebut belum tentu sesuai fakta dan kenyataan.

    Sebab, faktanya siapa pihak di negeri ini, yang kini banyak lebih curiga, apakah rakyat atau penguasa? Artinya siapa yang di negeri ini sedang bahagia dan tidak bahagia? Lalu, siapa di negeri ini yang justru lebih banyak intoleran?

    Bila rakyat menuntut dan membela atas hak-haknya dengan demonstrasi, mengritik, dan lainnya, apakah dilandasi oleh kecurigaan? Bukan karena berlandaskan kebenaran, sebab pemimpin/penguasa dan wakil rakyat tak amanah? Rakyat memang sedang menderita dan tak bahagia. Tapi apakah demonstrasi sebagai wujud demokrasi disebut intoleran? Sementara yang tak mau mendengar suara rakyat disebut toleran? Kok bikin kesimpulan tidak tajam dan terkesan dangkal.

    Yang lebih menjadi pertanyaan, tokoh ini juga membuat kesimpulan bahwa orang yang sehat adalah orang yang toleran. Sementara orang yang menyukai Pancasila berarti orang yang sehat.

    Dengan kata lain, orang yang sehat adalah orang yang toleran, sehingga orang yang suka Pancasila adalah orang yang sehat 

    Faktanya, di negeri ini sikap toleransi semakin menghilang, apakah karena para pemimpin dan rakyat Indonesia sedang dalam kondisi tidak sehat semua?

    Mengapa intoleran justru banyak dicontohkan oleh para pemimpin itu? Mereka kan sehat! Artinya, dalam kondisi sehat tapi tak toleran atau intoleran. Berarti apakah cinta Pancasila?

    Hati-hati bikin kesimpulan. Lihat fakta yang terjadi, jangan asal menyimpulkan bila kondisi dan kesimpulannya malah jauh panggang dari api.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.