x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 24 Maret 2021 16:17 WIB

Literasi Online, Jadikan Anak-anak Tidak Seindah Warna Aslinya

Anak-anak zaman online, tidak seindah warna aslinya. Dari candu, bobrok hingga sakit jiwa. Itulah pentingnya literasi online

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hidup serba online, makin sulit dihindari.

Semua jadi serba cepat, mudah, dan instan. Bagi banyak orang, dunia online sudah jadi kebutuhan primer. Banyak menghabiskan waktu di depan smartphone atau computer. Dunia online kian tidak ada batasnya lagi.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Online, daring, dunia maya, mobile. Apalah itu namanya. Intinya, serba online. Serba digital, serba bergantung pada internet. Belanja online, belajar online, kerja online, nikah online. Ada pula utang online. gim online, ojek online. Zaman memang sudah canggih. Lebih fleksibel, lebih keren. Tapi ada tanya yang sulit dijawab. Apa semua yang online baik?

 

Buktinya, ratusan anak di Jabar masuk RS jiwa karena kecanduan ponsel. Lebih dari 6 jam sehari main ponsel. Nonton youtube dan main gim online hingga terganggu Kesehatan mentalnya. Bukti lainnya, pun makin banyak artis yang terlibat prostitusi online. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, ada dugaan banyak orang “terganggu mentalnya” akibat dunia online. Tertawa sendiri, merenung sendiri, hingga hidup di dunia tidak nyata. Mengerikan sekali.

 

Hebatnya dunia online. Anak zaman now lebih memilih tidak makan daripada tidak ada akses internet. Sibuk mencari koneksi wifi daripada melakukan aktivitas yang produktif. Di rumah makan pun, yang ditanya colokan listrik bukan menunya apa? Sungguh, dunia online sudah jadi gaya hidup. Anak-anak maupun orang dewasa.

 

Banyak orang lupa. Dunia online tidak selalu baik. Bila tidak punya sikap dan perilaku literat. Terlalu terbuai gaya hidup online, jadi orang yang kamuflase. Hidup yang direkayasa. Dunia online bikin banyak orang “tidak seindah warna aslinya”. Maka tetaplah hidup di era manual, tidak semuanya harus online.

 

Seperti di taman bacaan. Membaca buku itu manual, tidak perlu online. Karena di taman bacaan, anak-anak tetap mampu bersosialisasi. Terhindar dari kecanduan online. Kebaikan itu nyata, bukan dunia maya. Bahkan taman bacaan pun. Kini jadi satu-satunya “lawan tanding” anak-anak yang terancan gim online, putus sekolah, pernikahan dini atau narkoba.

 

Online itu baik. Bila tahu cara pakainya, tahu waktu untuk memakainya. Dan tetap berpijak pada realitas. Tidak perlu memaksakan diri untuk online. Bila akhirnya jadi orang yang tidak apa adanya. Jadi orang yang tidak sama, saat di dunia maya dan di dunia nyata.

 

Dunia online itu mengerikan. Saat pemakainya tidak tahu kapan waktunya dan untuk apa memakainya? Apalagi sekarang, 80% orang tua tidak pernah bernasehat kepada anak-anak yang memakai ponselnya. Mampu membelikan tapi tidak mampu menjelaskan cara pakainya.

 

Sungguh di dunia online. Siapa pun bisa jadi apa saja. Bahkan mampu terkesan hebat di dunia maya. Online, siapa pun bisa berkata apa saja; mencintai sekaligus menyakiti tanpa henti. Online bikin candu, bobrok bahkan sakit jiwa. Akankah kita berdiam diri? Salam literasi #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Ekamatra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Ekamatra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu