x

Iklan

budi kurniadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Maret 2021

Selasa, 30 Maret 2021 13:46 WIB

Didiagnosa Autoimun, Niken Tantyo Sudharmono Perdalam Pemahaman Tentang Tubuh


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Niken Tantyo Sudharmono bukan berasal dari keluarga mampu. Ayahnya adalah pegawai negeri biasa. Di masa itu, gaji sang ayah bisa dikatakan pas-pasan. Jangankan untuk sekolah di tempat mahal, untuk makan sehari-hari saja keluarganya harus berhemat.

Untuk menambah penghasilan, ayah Niken kemudian berjualan beras. Sementara sang ibu membuka jasa jahit pakaian. Itu dilakukan ibunya sebagai langkah antisipatif jika usaha suami berhenti di tengah jalan. Maklum, ayah niken harus mengutamakan kewajibannya sebagai abdi negera.

Saat duduk di bangku sekolah, Niken terbiasa dengan hidup sederhana. Ia tak seperti kebanyakan teman-temannya yang selalu punya mainan terbaru atau jalan-jalan ke luar negeri saat libur sekolah tiba. Di sela kegiatan sekolahnya, Niken kecil lebih banyak menghabiskan waktu bermain piano, organ, gitar, atau menari bali.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kemahiran Niken bermain piano tak disia-siakan. Saat sekolah menengah pertama (SMP), Niken pernah menjadi guru les piano untuk anak-anak bule. Tentu tak semulus yang dikira. Untuk mendapatkan klien, ia harus berulang kali memasang iklan baris di beberapa surat kabar. Bahkan, Niken juga pernah diusir petugas keamanan rumah bule lantaran tak percaya anak sekecil itu bisa mengajar piano.

Saat dirinya masih pelajar, orangtua Niken lebih sering memberikan petuah ketimbang memberikan mainan mewah. “Jadi apa saja boleh, yang terpenting jadilah yang terbaik di bidang yang kamu pilih.” Itulah salah satu pesan yang selalu diingat Niken. “Doktrin” itu pula yang menjadikan Niken sebagai orang ambisius. Bahkan setelah menikah dengan Tantyo Adji Pramudyo Sudharmono dan memiliki anak, dia tidak mau mengerjakan sesuatu setengah-setengah.

 

Melepas Jabatan Strategis

Dengan kerja keras dan motivasi penuh, Niken berhasil menggapai satu per satu keinginannya. Puncak karirnya, ia ditarik oleh perusahaan multinasional yang berpusat di Jerman untuk membangun bisnis mereka di negara-negara lain, seperti beberapa negara di Eropa, Indonesia, Singapore dan China, sebagai business development.

Di kalangan keluarga dan orang terdekatnya, sifat ambisius Niken memang sangat terlihat. Itu sebabnya mereka tidak kaget dengan berbagai pencapaian yang didapat. Namun hal yang tidak terduga adalah ketika pada tahun 2010 Niken memilih pensiun dini dari perusahaan yang membesarkannya. Rupanya Niken punya pertimbangan lain. Ia rela mengakhiri karirnya di perusahaan tersebut demi menemani suami dan anak-anak.

 

Bisnis Sosioprenership

Kemandirian secara finansial tentu saja berkurang. Beruntung sebelumnya Niken sempat mendirikan usaha bernama CoklatChic. Itu adalah kuliner pertama di Indonesia yang mengusung cake berbetuk 3D berlapis coklat bukan fondant, sebagai bentuk kampanye no sugar.

Setelah pensiun ia juga kembali memperdalam “keisengannya”  di bidang trading forex. Niken yang setelah pensiun sering menemani suami keliling daerah sebagai pekerja sosial, menemukan peluang untuk menyalurkan hobinya itu. Di beberapa daerah, Niken kerap menemukan ibu rumah tangga yang “di rumah” saja. Sebagian besar dari mereka sebenarnya menginginkan mandiri secara finansial namun tetap bisa mengawasi anak-anak, tanpa repot pergi dari rumah.

Dari sanalah Niken terinspirasi untuk membuat sekolah forex khusus para ibu rumah tangga dan disabilitas secara cuma-cuma, padahal pendidikan semacam itu relatif mahal. Sekolah forex yang mulai berjalan sejak 2017 ini menjadi bisnis sosioprenership Niken kedua setelah CoklatChic. Ia berharap dengan adanya tambahan wawasan dan pengetahuan, para istri bisa lebih termotivasi serta membantu suami secara finansial tanpa mengesampingkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

 

Didiagnosa Autoimun

Niat mulia tersebut terpaksa harus berhenti sementara. Itu dikarenakan Niken didiagnosa autoimun (hipertiroid). Ia pun harus lebih memperhatikan kondisi kesehatan lebih ketat lagi.

Bagi sebagian orang, mengalami penyakit autoimun mungkin menghancurkan semangat. Namun tidak bagi Niken. Ia justru termotivasi dan lebih memperdalam pengetahuan tentang dirinya sendiri. Apalagi, ketika kelas 2 SMA, Niken juga kehilangan ayahnya karena penyakit liver bernama sirosis. Hal itu pula yang kemudian menjadi “cambuk” untuknya sehingga lebih mendalami soal ilmu kesehatan.

Sejak ayahnya sakit, Niken memang terbiasa mencari tahu ada apa dengan tubuh. Ia sering kali menambah wawasan dan pengetahuan ke perpustakaan milik British Council. Apalagi, Niken sejak kecil tidak bisa menggunakan perhiasan karena kulitnya alergi.

Pencarian Niken tentang ilmu kesehatan semakin meluas dengan membaca berbagai julnal kesehatan. Ia tidak mau sejumlah penyakitnya tersebut diwariskan ke anak-anaknya, utamanya alergi kulit yang katanya bisa menjadi penyakit bawaan orangtua. Itu sebabnya, ketika anak-anak lahir, sedini mungkin Niken memberikan probiotik. Atas izin Yang Maha kuasa, hingga usia dewasa, anak-anaknya tidak mengalami alergi kulit seperti yang dialami Niken.

Berbagai pengetahuan di dunia kesehatan tersebut, Niken bagikan ke masyarakat melalui berbagai media kekinian. Mulai dari youtube, media sosial pribadi, hingga podcast.

Ikuti tulisan menarik budi kurniadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB