Urbanisasi dan Keterlantaran Lanjut Usia - Analisa - www.indonesiana.id
x

foto: viewbug.com

Ana Nadila

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 April 2021

Selasa, 6 April 2021 06:54 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Urbanisasi dan Keterlantaran Lanjut Usia

    Isu soal lanjut usia sangat penting untuk diperhatikan khususnya dalam konteks kehidupan perkotaan. Isu kerentanan lanjut usia menjadi isu yang cukup jarang dibahas. Pentingnya isu lanjut usia agar lebih diperhatikan karena memasuki usia tua merupakan hal yang sudah pasti dialami oleh manusia.

    Dibaca : 211 kali

    Mengutip data dari Departemen Ekonomi dan Urusan Sosial PBB dalam Zerbo et al. (2020, p. 46), urbanisasi saat  ini tengah berlangsung  secara global.  Lebih dari setengah penduduk  dunia  hidup  di wilayah perkotaan. Populasi perkotaan diperkirakan  meningkat hingga mencapai 60 persen pada tahun 2030. Dari sekian banyak populasi yang hidup di wilayah perkotaan,  setidaknya sekitar  1,2 miliar  hidup  dalam pemukiman  informal  yang berbahaya.

    Seiring dengan meningkatnya angka kemiskinan di perkotaan, kelompok yang paling rentan atas risiko kesehatan adalah perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, buruh industri, dan lanjut usia (Barba et al., 1987, p. 2). Menurut saya, isu soal lanjut usia sangat penting untuk diperhatikan dan khususnya dalam konteks kehidupan perkotaan. Isu kerentanan lanjut usia menjadi isu yang cukup jarang dibahas. Pentingnya isu lanjut usia agar lebih diperhatikan menurut saya karena memasuki usia tua merupakan hal yang sudah pasti dialami oleh manusia.

    Definisi lanjut usia menurut UU No 13 Tahun 1998 Tentang Kesejahteraan Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia enam puluh tahun ke atas. Secara global, negara- negara dunia sedang dalam menghadapi fenomena penuaan penduduk (population aging). Berdasarkan data proyeksi penduduk, di Indonesia, tahun 2017 diperkirakan terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Jumlah penduduk lansia tahun 2020 diprediksi berjumlah 27,08 juta jiwa, tahun 2025 diprediksi berjumlah 33,69 juta, tahun 2030 diprediksi berjumlah 40,95 juta, dan tahun 2035 diprediksi berjumlah 48,19 juta (Kementerian Kesehatan RI, 2017). Data ini memperlihatkan Indonesia merupakan negara berstruktur penduduk tua.

    Penuaan penduduk yang dialami oleh Indonesia di lain sisi dapat menjadi cerminan indikator keberhasilan pencapaian pembangunan secara global dan nasional karena berkaitan dengan bentuk perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial masyarakat (Hermawati, 2015, p. 2). Struktur penuaan penduduk yang dialami Indonesia juga mencerminkan semakin tingginya rata-rata usia harapan hidup (UHH). Namun, struktur penuaan penduduk sekaligus menjadi tantangan bagi Indonesia dalam upaya melindungi atau memberdayakan penduduk lanjut usia dalam segala kerentanannya. Lanjut usia sejatinya merupakan kategori penduduk yang berada dalam posisi paling rentan di antara penduduk kategori lain. Mengutip dalam

    Julianti (2013, p. 71), kerentanan lanjut usia disebabkan adanya penurunan kondisi fisik yang dialami oleh seseorang yang telah berusia lanjut. Walaupun kerentanan karena penurunan kondisi fisik bersifat alamiah, kerentanan lanjut usia juga disebabkan karena konstruksi sosial merendahkan yang melekat pada lanjut usia (ageism). Ageism kerap mengasosiasikan lanjut usia sebagai orang lemah, tidak berdaya, kaku, pikun, dan tidak produktif. Dari segala aspek yang membuat lansia dalam posisi yang lemah, hal tersebut telah membuat lansia berada dalam kondisi rentan miskin dan terlantar.

    Sekitar 45 persen lansia (dari total 21,7 juta lansia) berada dalam rumah tangga dengan status sosial ekonomi terendah. Kemudian, sekitar 67 persen lansia yang berada di 40 persen tingkat kesejahteraan sosial ekonomi terendah hidup dalam kondisi terlantar (TNP2K, 2017). Mengutip juga data dari Kementerian Sosial tahun 2014 yang menyebutkan bahwa terdapat sekitar 2.851.606 lansia yang terlantar (Sulastri & Humaedi, 2017, p. 156). Menurut Kemensos, lansia terlantar adalah seseorang yang berusia enam puluh tahun atau lebih yang karena faktor- faktor tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, serta terlantar secara psikis dan sosial.

    Terkait lansia dan fenomena urbanisasi, urbanisasi secara tidak langsung memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kondisi lansia yang rentan miskin dan terlantar. Implikasi urbanisasi dengan kerentanan lansia menarik untuk dilihat berdasarkan teori modernisasi dalam studi gerontologi. Tesis utama teori modernisasi dalam studi gerontologi adalah perubahan tradisi masyarakat dari pedesaan ke industri yang memperburuk posisi lanjut usia karena melemahnya peran keluarga besar sebagai dampak urbanisasi dan industrialisasi yang kemudian digantikan oleh keluarga inti sebagai kelompok utama dalam masyarakat. Melemahnya peran keluarga besar juga berpotensi mengisolasi orang lanjut usia dari masyarakat dan keluarga.

    Urbanisasi telah menarik orang-orang muda (penduduk usia produktif) dari pedesaan yang kemudian mengakibatkan renggangnya keterikatan dalam keluarga besar (Victor, 2005, p. 25). Victor juga mengungkapkan bahwa dalam masyarakat modern, lansia dianggap sebagai individu yang kurang bernilai karena telah dipensiunkan dari masa kerja.

    Transformasi kehidupan rural ke urban sebagaimana yang dijelaskan oleh teori modernisasi telah mengakibatkan memudarnya peran keluarga besar yang selama ini berfungsi memberikan perlindungan bagi lansia. Akibatnya, lansia rentan terlantar dan hidup dalam kemiskinan. Sebagai contoh kasus mengutip portal berita TheJakartaPost (2018), petugas Dinas Sosial Jakarta Barat pada Desember 2017 menemukan lansia bernama Udjan Susanto yang berumur tujuh puluh empat tahun tengah tidur di atas karton di saluran pembuangan.

    Udjan Susanto mengatakan bahwa ia tidak punya pilihan lain selain tinggal di saluran pembuangan karena ketiga anaknya telah mengusirnya dari rumah. Faktor telah dilantarkan oleh keluarga merupakan faktor utama banyaknya lansia terlantar dan tidak memiliki tempat yang layak untuk menetap. Melihat kota besar seperti Jakarta misalnya, Dinas Sosial DKI Jakarta menyebut terdapat 1.111 orang lanjut usia yang terlantar di DKI Jakarta yang tercatat dirawat di Panti Sosial Tresna Werdha (PSWT) milik Dinas Sosial DKI Jakarta. Lansia yang dirawat di panti milik Dinas Sosial DKI Jakarta berasal dari penjangkauan petugas di jalanan Jakarta karena lansia tersebut tidak mempunyai keluarga (kkbnews.id, 2017).

    Faktornya yang membuat rentannya lansia terlantar semakin lengkap ditambah dengan meningkatnya kemiskinan di perkotaan seiring massifnya urbanisasi sebagaimana yang telah disinggung di paragraf awal tulisan ini. Kemiskinan dan renggangnya hubungan keluarga besar membuat anak dari lansia yang juga telah memiliki keluarga inti tidak punya pilihan lain selain menelantarkan  lansia sebagai cara untuk  mengurangi tanggungan keluarga.  Sebagaimana mengutip dari Sulastri & Humaedi (2017, p. 156), keluarga yang hidup dalam kemiskinan tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar anggota keluarganya yang telah lanjut usia. Selain itu, penanggung biaya hidup dalam keluarga yang miskin sibuk bekerja sehingga tidak mampu mengurus kebutuhan khusus anggota keluarga yang telah lanjut usia apalagi menyewa perawat khusus.

    Dari pemaparan tersebut, urbanisasi yang bersamaan dengan meningkatnya kemiskinan di perkotaan memberikan kontribusi yang kuat atas semakin rentannya posisi lansia dalam masyarakat. Lanjut usia seolah telah terkondisikan untuk menerima nasib akan terpinggirkan secara sosial dan ekonomi karena dianggap menjadi beban bagi penanggung. Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa sebagai warga kota, sudah seharusnya kita bersama merangkul warga lanjut  usia dan tidak  mengeksklusifkan mereka. Cara untuk merangkul tersebut di mulai dari keluarga. Keutuhan hubungan keluarga di tengah massifnya urbanisasi dan modernisasi sangat penting agar semua orang yang kita sayangi termasuk kita di masa tua dapat tetap mendapat perhatian dan perawatan yang cukup dari keluarga.

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.