Filosofi Kecoak, Optimis di Tengah Pandami Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kecoa

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 26 April 2021 13:00 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Filosofi Kecoak, Optimis di Tengah Pandami Corona

    Bagi kecoak, kesulitan dan keterpurukan, serta justifikasi buruk menjadi kesempatan untuk terus bertahan hidup dan berjuang sekaligus membuktikan  bahwa dia tetap berguna dalam mata rantai kehidupan.

    Dibaca : 205 kali

    Untuk berhasil, kesulitan adalah kesempatan. (Supartono JW.26042021)

    Pandemi corona yang terus merajalela, hingga membikin efek domino masalah di berbagai bidang, terutama kesehatan dan ekonomi, maka sangat berdampak pada mental masyarakat. Sebab pandemi, lalu lahir berbagai kebijakan dari pemerintah, imbasnya dalam dua tahun ini, nampak jelas masyarakat yang tak mampu mengendalikan diri, banyak yang putus asa, hilang semangat, tak optimis dan tak termotivasi, sebab upaya perekonomiannya terimbas protokol corona.

    Namun, bagi masyarakat yang mampu mengendalikan diri, maka akan mampu bertahan dan survive di kondisi pandemi ini. 

    Orang-orang yang tak mampu mengendalikan diri atau mampu mengendalikan diri, itu semua tergantung dari kondisi intelektual, sosial, emosional, analisis, kreatif-imajinatif, iman (ISEAKI) berkembang atau tinggi, tentu akan dapat mampu beradaptasi hingga  mudah meraih harapan dan bertahan di situasi sulit, terutama karena dilandasi oleh sikap dan keyakinan, serta optimisme sehingga terus berjuang dan pantang menyerah meraih impian. Menjadikan kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda, sehingga terus memiliki motivasi untuk bangkit hingga berhasil.

    Contoh pejabat pemerintah

    Sayang, saat masyarakat pada umumnya kini sedang bergelut dalam kesulitan di tengah pandemi dan berjuang untuk meraih kehidupan layak melalui jalur normal, ternyata di negeri ini pun disuguhkan drama-drama orang-orang yang diberikan jabatan dan kedudukan tanpa harus berjuang dan bersusah payah dalam situasi pandemi.

    Sebagai contoh, mengapa dalam pemerintahan RI selalu ada kisah reshuffle kabinet? Satu di antara jawabannya adalah karena para menteri yang duduk di kabinet pemerintahan banyak yang tidak berasal dari personal yang kompeten, profesional di bidangnya dan duduk sebagai menteri tanpa melalui proses test kelaikan memegang jabatan.

    Buntutnya, bagaimana tanggungjawab jabatan dan tugas dapat diemban, untuk dirinya sendiri saja tetap banyak menuai masalah hingga tak mampu amanah dengan jabatan dan tugasnya, lebih parahnya tradisi korupsi oleh mereka terus diulang seperti sudah menjadi program.

    Budaya bagi-bagi kursi dan jabatan di pemerintahan RI sulit dihindari, sebab siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin negeri tak mungkin terhindar dari kontrak antar partai pendukung dan cukong yang menjadi pemodal, sehingga tak dapat menghidar dari kewajiban bagi-bagi kursi jabatan sesuai kontrak. Akibatnya, siapa pun yang akhirnya dipilih masuk dalam kabinet, seolah mereka menerima jabatan gratis tanpa perlu melalui tahap proses test kelaikan jabatan yang diemban.

    Terbaru, di tengah pandemi corona, di tengah larangan mudik, di tengah masalah yang terus mendera bangsa dan rakyat terus menderita, isu bagi-bagi jabatan pun kembali menyeruak.

    Bahkan, isu perombakan atau reshuffle kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin yang akhir-akhir ini menyeruak, masih menjadi misteri. Spekulasi pun bermunculan. Dari munculnya kabar sejumlah tokoh dipanggil Presiden Jokowi hingga ada seorang menteri yang langsung menemui ketua umum partai politik pememang Pemilu 2019.

    Diketahui, isu reshuffle ke sekian kalinya ini muncul setelah Jokowi mengusulkan penggabungan Kementerian Pendidikandan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Jokowi juga mengusulkan pembentukan Kementerian Investasi. 

    Namun, ternyata hingga detik ini, reshuffle kabinet itu belum terjadi? Apakah ada tarik ulur? Apakah karena tradisi bagi kursi dan jabatan gratisan ini sudah dihafal publik dan masyarakat? Atau agar Presiden tidak terkesan didikte atau mudah diprediksi? Banyak spekulasi yang akhirnya mengemuka.

    Masalah individu

    Kembali ke masalah ISEAKI yang berkembang atau tinggi, atau yang tak berkembang dan tak tinggi, contoh pejabat pemerintahan yang mendapat kursi gratisan tanpa perlu bersusah payah, selama ini memang bisa jadi terbukti banyak diisi oleh personal yang ISEAKI namun tak ISEAKI.

    Maksudnya, bila saya kasih nilai rapor, ISEAKI berkembang atau tinggi itu menyentuh angka rapor di atas nilai 70 atau 80. Maka, seseorang yang demikian karena intelegensinya 80, maka tentu akan mampu bersosialisasi, meredam emosi, mumpuni dalam analisis, kreatif dan imajinatif, tentu saja akan inovatif. Tetapi, bagiamana kondisi keimanannya? Bila kondisi keimanannya benar, maka semua ISEAKInya akan berada selalu dijalur dan positif. Sebaliknya, bila keimanannya tak baik, tentu kecerdasan intelegensinya akan mengantar pada sifat licik. Sehingga mampu menyutradarai tingkat emosionalnya, dan lain sebagainya hingga nampak tetap menjadi orang baik dan bijak, padahal licik. Hidupnya penuh taktik, intrik, dan politik.

    Bila para pejabat pemerintah yang dibagi-bagi kursi itu dalam menjalankan tugasnya ternyata tak mampu, maka bisa dinilai di mana yang salah dalam ISEKI mereka, karena ketidakmampuannya tentu bukan sandiwara.

    Contoh orang-orang yang diberikan jabatan di pemerintahan, nampaknya lebih mudah bagi masyarakat untuk memahami kapasitas ISEAKI mereka. Bagaimana dengan ISEAKI individu masyarakat pada umumnya?

    ISEAKI individu masyarakat pada umumnya, juga sangat mudah diterka dalam kehidupan nyata. Semisal ada orang yang sengaja bunuh diri. Setelahnya diketahui apa alasannya mengapa bunuh diri. Maka, akan langsung dapat diukur rapor ISEAKI orang tersebut, lemah di bagian mana? Apakah Intelegensi dan analisisnya? Atau imannya? Atau sosialisasinya? Tapi dia kreatif dan imajinatif hingga bikin acara bunuh diri.

    Optimis, motivasi, dan ambisi

    Dari deskiripsi yang telah terurai tersebut, di tengah pandemi corona yang menggerus semua sendi kehidupan, ada hal yang dapat menjadi refleksi bagi setiap individu masyarakat, sebab corona telah membikin berbagai ruang kehidupan terpuruk.

    ISEAKI yang sejatinya telah ada dalam diri manusia sejak lahir, seharusnya menjadi penuntun bagi setiap individu manusia agar dalam keadaan seperti sekarang tetap dapat bertahan karena mampu mengendalikan diri hingga tetap dapat optimis, penuh motivasi, dan penuhi hati dan pikiran dengan ambisi yang positif agar terus dapat bertahan, bersaing, bangkit, dan berhasil.

    Setiap individu manusia wajib terus meningkatkan arus optimisme, keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan dan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal yang ingin diraih. 

    Berikutnya, terus memotivasi diri, tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya dibumbui oleh ambisi positif, yaitu keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk memperoleh atau mencapai sesuatu di jalan yang benar.

    Bila selama ini, masyarakat terus disuguhi kehidupan semu di pemerintahan, kehidupan hedon orang-orang yang bergelimang harta, maka masyarakat umum yang terus berjuang bertahan hidup untuk diri dan keluarganya melalui jalur kehidupan normal yang keras, wajib terus memupuk optimisme dan ambisi positifnya dengan motivasi yang berlipat.

    Gunakan filosofi kecoak, dalam kondisi apa pun tetap mampu bertahan dan hidup. Ketika mereka terbalik/terjungkal, mereka selalu berusaha keras untuk mencoba bangkit kembali, meskipun memiliki resiko yang menakutkan, yaitu kematian. Meski hidup di tempat yang kotor, menjijikkan, kecoa tidak diam dan terus mampu berjuang, dan tetap mampu beranak pinak. Sepanjang keberadaannya terus dibenci dan tak disukai, tapi tetap ada.

    Kecoak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya lipas, yaitu serangga bersayap lurus, dapat terbang, bersungut panjang, berwarna cokelat, terdapat di rumah, terutama di tempat kotor, di kakus dan sebagainya; coro, kecoak; kepuyuk.

    Bagi kecoak, kesulitan dan keterpurukan, serta justifikasi buruk menjadi kesempatan untuk terus bertahan hidup dan berjuang sekaligus membuktikan  bahwa dia tetap berguna dalam mata rantai kehidupan.

    Sebagai manusia yang sudah dibekali ISEAKI, maka baik terdidik maupun belum pernah mengenyam bangku sekolah, tetap akan sama-sama mampu menjadi manusia yang mampu mengendalikan diri karena keimanan yang kuat, hingga mampu bertahan dalam situasi sulit pandemi ini. Bertahan hidup dan sehat ekonomi, sebab terus mampu memotivasi diri untuk tetap optimis menjalani kehidupan ini tanpa melanggar aturan agama, norma, etika, sopan-santun, dan peraturan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta disiplin protokol Covid-19.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.