King Maker dan Obsesi Jadi Raja - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sang Raja (Source: Pixabay)

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 September 2021 20:13 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • King Maker dan Obsesi Jadi Raja

    Siapakah king maker, orang-orang yang bermain di atas demokrasi, yang barangkali tertawa menyaksikan rakyat berselisih tentang memilih siapa; padahal semua bergantung pada kehendak king maker—sang pencipta raja. Bagi king maker, raja-raja itu hanyalah bidak.

    Dibaca : 1.274 kali

     

    Seorang lelaki di Pandeglang menyatakan diri sebagai Raja Angling Dharma. Angling Dharma adalah tokoh dalam legenda Jawa yang dikisahkan sebagai titisan Batara Wisnu. Dibilang aneh, tapi begitulah realitasnya--cukup banyak pula pengikutnya. Dan ini bukan kali pertama orang menyatakan diri sebagai raja di masa milenium kedua. Sebelum Angling Dharma ada Ratu Agung Ratnaningrum yang menyatakan diri sebagai Maharani Sunda Empire atau Kekaisaran Matahari.

    Walaupun terasa menggelikan, menjadi Raja dan Ratu barangkali memang masih jadi obsebsi sebagian manusia di masa medsos ini. Namun, tak semua orang mengatakan obsesinya itu secara terbuka. Orang-orang yang menyebut diri Raja Angling Dharma dan Ratu Agung Ratnaningrum itu walaupun obsesif, namun jujur. Keduanya mengekspresikan  obsesi mereka apa adanya: membuat singgasana, mengenakan busana kebesaran, hingga membentuk pasukan pengawal.

    Walaupun begitu, setidaknya mereka lebih jujur dibandingkan banyak orang yang tidak menyebut diri sebagai raja atau ratu, tapi tindak tanduknya tak berbeda dengan raja dan ratu: minta diistimewakan, diperlakukan dengan nyaman, kehendaknya harus dipenuhi, kemauannya tak boleh ditolak. Dengan mengatasnamakan demokrasi, setelah berkuasa orang-orang ini berlaku tak ubahnya raja-raja. Ada raja kecil yang memimpin kota dan kabupaten, ada pula yang memimpin wilayah lebih besar.

    Sebagaimana kerajaan di masa lalu, apa yang disebut dinasti atau wangsa juga berusaha ditegakkan dengan mendorong kerabat untuk maju ke gelanggang pemilihan. Apabila seseorang terpilih menjadi bupati/walikota, umpamanya, maka berbagai ikhtiar dilakukan agar setelah dua periode, kekuasaan tidak beralih ke orang lain, kecuali kerabat. Jika suami jadi bupati, berikutnya isteri harus jadi bupati, atau anak jadi bupati; jika isteri jadi bupati, suami jadi wakil bupati.

    Kelirukah bila pola seperti itu mirip dengan dinasti atau wangsa di zaman kerajaan dulu? Misalnya, keturunan Tunggul Ametung menjadi raja secara bergantian di Tumapel. Mempertahankan jabatan agar tetap dipegang oleh kerabat dekat adalah cara yang dulu ditempuh oleh raja-raja; hanya saja, di masa sekarang upaya itu dilakukan atas nama demokrasi dan dengan memanfaatkan demokrasi.

    Apatah arti demokrasi bila segala cara dilakukan agar kerabat yang menang dalam pemilihan yang seolah-olah demokratis? Pencalonan ada, calon kompetitor ada, kampanye ada, serta pemilihan pun ada; namun jika semua itu hanyalah proses yang dibuat sedemikian rupa sehingga pemenang yang keluar dari pemilihan itu telah pasti, kelirukah bila itu disebut demokrasi manipulatif atau demokrasi seolah-olah? Orang-orang itu berobsesi membangun dinasti dan menjadi raja, tapi mereka tak melakukannya seperti Raja Angling Dharma di Pandeglang maupun Ratu Agung Ratnaningrum di Bandung—yang walaupun menggelikan, tapi mereka jujur dan berterus terang.

    Di balik orang-orang yang terobsesi oleh kedinastian dengan mengandalkan demokrasi sesungguhnya ada orang-orang yang memainkan peran lebih penting. Mereka disebut king maker, sebab tergantung merekalah seseorang bisa menjadi raja atau tidak—raja di mata manusia. Merekalah yang bertindak bagai penentu nasib apakah seseorang jadi bupati/walikota atau tidak, boleh mencalonkan diri jadi presiden atau tidak, juga boleh jadi ketua umum partai atau tidak.

    King maker sering disebut-sebut, tapi ia atau mereka tidak kasat mata, tidak terlihat di depan publik atau publik tidak melihatnya sekalipun ia atau mereka hadir. Mereka tidak kasat mata, tapi pengaruhnya sangat terasa. Mereka itu tidak tersentuh—the untouchable, kerennya. Mereka itu, meminjam dongeng Harry Potter, adalah yang tak boleh disebut namanya lantaran demikian menakutkan kekuatan dan kekuasaannya, sehingga menyebut namanya pun bisa berakibat buruk.

    Siapakah king maker, orang-orang yang bermain di atas demokrasi, yang barangkali tertawa menyaksikan rakyat berselisih tentang memilih siapa; padahal semua bergantung pada kehendak king maker—sang pencipta raja. Bagi king maker, raja-raja itu hanyalah bidak yang dengan mudah dapat mereka geser atau sanggup membuatnya tersudut oleh langkah skak mat bila tak mau menuruti kehendak mereka. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.