Penguatan Kemampuan Literasi Baca Tulis Menggunakan Kartu Bantu untuk Anak dengan Gangguan Pendengaran dan Bicara, Program KKN Universitas Pendidikan Indonesia - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Fathiyatus Syafigah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Juni 2021

Sabtu, 25 September 2021 08:33 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Penguatan Kemampuan Literasi Baca Tulis Menggunakan Kartu Bantu untuk Anak dengan Gangguan Pendengaran dan Bicara, Program KKN Universitas Pendidikan Indonesia

    Response cards sebagai alat bantu mengembangkan kemampuan literasi baca tulis, numerasi, dan sains pada anak dengan gangguan pendengaran, bicara, dan penglihatan. Program unggulan KKN 39 - Fathiyatus Syafigah (1804141) (KKN UPI 2021)

    Dibaca : 467 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Oleh : Fathiyatus Syafigah (1804141)
    Mahasiswa Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia
    Kelompok KKN 39
    Dosen pembimbing : Vini Agustiani Hadian, M.Pd.


    Adanya perbedaan kemampuan antar anak didik dalam menerima pengajaran dari para guru atau fasilitator tentunya menjadi tantangan yang perlu ditaklukkan. Permasalahannya adalah tidak semua sekolah memiliki ‘tenaga tambahan’ yang khusus memperhatikan anak-anak dengan gangguan tertentu atau memiliki sumber daya manusia yang terbatas. 

    Pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilakukan pada awal bulan September hingga awal Oktober ini, penulis menemukan seorang anak, perempuan, berinisial A  yang memiliki kesulitan dalam proses literasi baca dan tulis akibat memiliki gangguan dalam pendengaran, bicara, dan visual yang sedikit terganggu. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian penulis untuk dijadikan salah satu program unggulan karena pengembangan kemampuan literasi baca tulis maupun numerasi akan membantu sang anak beradaptasi dengan kehidupan.

    Lalu timbul pertanyaan setelah ditemukan fenomena yang ditemukan di lapangan, bagaimana caranya anak tersebut dan anak-anak yang memiliki kondisi serupa dapat meningkatkan kemampuan literasi baca tulisnya?

    Salah satu metode yang dilakukan para pendidik adalah response card. Efektivitas kartu bantu yang digunakan para siswa untuk berperilaku di dalam kelas, menunjukkan sebuah respon, mengungkapkan pendapat, hingga mengenal kata atau kalimat baru dinilai dapat menjadi solusi yang tepat, khususnya bagi anak-anak disabilitas (Clarke, et al, 2016; Duchaine, et al, 2011; Nagro, et al, 2018).

    Penulis memutuskan untuk menggunakan metode tersebut dengan mengobservasi kemampuan sang anak dalam mengenal hal-hal di sekitarnya. Seperti, apakah anak mengenal dan mampu mengidentifikasi nama anggota keluarga dan guru-guru di kelasnya? Apakah anak mampu mengungkapkan ya dan tidak dalam sebuah kalimat? Bagaimana kemampuan anak dalam operasi penghitungan? Apakah anak mampu mengenal bentuk emosi? Dan apakah anak dapat berkomunikasi dengan tulisan?

    Hasil observasi menunjukkan bahwa sang anak sudah mampu mengidentifikasi wajah dan mencocokan dengan nama/kalimat yang benar pada anggota keluarga namun tidak pada guru di kelasnya. Anak mampu melakukan operasi penghitungan penjumlahan namun tidak dengan pengurangan. Subjek belum dapat berkomunikasi dan mengungkapkan keinginan atau pendapatnya sehingga orang lain memahami apa yang ia pikirkan.

    Maka dari itu penulis menyusun beberapa hal yang harus dibuatkan dalam kumpulan kelompok kartu untuk membantu siswa A dalam meningkatkan kemampuan literasi baca tulis maupun numerasi dan sains.

    Contoh response card - KKN UPI 2021

    Bentuk kartu dapat dilihat seperti pada foto. Penulis memutuskan untuk memperkenalkan para guru (menggunakan foto dan nama panggilan), 6 emosi utama (sehingga anak mengetahui ekspresi orang-orang di sekitarnya), kalimat “aku mau” dan “aku tidak mau” untuk mengungkapkan pendapatnya.

    Setelah dilakukan percobaan dan latihan, anak mampu untuk memahami cara kerja dengan bantuan penulis (sekaligus fasilitator nya) untuk mengungkapkan apakah sang anak ingin atau tidak ingin. Apa yang anak rasakan ketika bingung atau salah dalam menjawab soal. 

    Kartu bantu atau response cards dibuat sendiri dengan menggunakan kertas jeruk menimbang ketebalan kertas yang pas dan di print. Selanjutnya, penulis akan membuat beberapa kelompok kartu untuk mengenalkan : angka dengan gambar jari, ungkapan sehari-hari dalam komunikasi, dan di akhir sang anak akan diminta untuk menuliskan ulang kalimat tanpa melihat contoh.

    Keberadaan mahasiswa selama program KKN berjalan tentunya diharapkan untuk dapat membantu sekolah menangani fenomena tertentu sesuai dengan tema KKN yang telah ditentukan. Penulis berharap, usaha penulis dalam memberikan solusi dalam hambatan perkembangan kemampuan literasi anak dalam hal ini dapat bermanfaat bagi banyak orang. Baik para orang tua, guru, dan peserta didik itu sendiri. Tentunya hal ini menjadi salah satu alat ukur sejauh mana penulis atau mahasiswa ini dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapatkan selama berkuliah.



    Sumber :

    Clarke, L. S., Haydon, T., Bauer, A., & Epperly, A. C. (2016). Inclusion of students with an intellectual disability in the general education classroom with the use of response cards. Preventing School Failure: Alternative Education for Children and Youth, 60(1), 35-42.

    Duchaine, E. L., Green, K. B., & Jolivette, K. (2011). Using response cards as a class-wide intervention to decrease challenging behavior. Beyond Behavior, 20(1), 3-11.

    Nagro, S. A., Hooks, S. D., Fraser, D. W., & Cornelius, K. E. (2018). Whole-group response strategies to promote student engagement in inclusive classrooms. Teaching Exceptional Children, 50(4), 243-249.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.