Cara Mengelola Keuangan untuk Milenial - Analisis - www.indonesiana.id
x

zavi Khaerul

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Maret 2020

Kamis, 14 Oktober 2021 19:36 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cara Mengelola Keuangan untuk Milenial

    Cara mengelola keuangan tidak bisa digeneralisir untuk semua orang, karena setiap individu memiliki pemasukan dan kebutuhan yang berbeda. Tetapi, secara umum hal-hal berikut ini bisa Anda lakukan, para milenials, untuk mulai mengelola keuangan demi masa depan.

    Dibaca : 387 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Milenial dikenal sebagai generasi yang boros, bagaimana tidak sebagian besar layanan menarget milenial mulai dari layanan entertainment digital seperti Spotify, Netflix sampai layanan fisik seperti fashion dan coffe shop juga menarget kalangan milenial. Bahkan Mentri Keuangan Sri Mulyani mengajak generasi milenial untuk mengurangi jajan kopi dan menyisihkannya untuk menyiapkan dana pensiun.

    "Kalau mereka mau experience, sampai tua pengen experience terus. Kalau butuh experience tapi butuh resource? Itu lah kita mulai masuk, sisihkan uang kopi kamu yang tadinya setiap hari jadi dua hari sekali. Sisanya bikin sendiri di rumah," ucap Sri Mulyani di Seminar Nasional Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (26/9/2018)

    Cara mengelola keuangan tidak bisa digeneralisir untuk semua orang, karena setiap individu memiliki pemasukan dan kebutuhan yang berbeda. Tetapi, secara umum poin poin ini bisa Anda lakukan untuk mulai mengelola keuangan untuk masa depan.

    1. Membuat Jurnal Keuangan

    Pernah mengalami belum habis bulan tetapi uang sudah habis duluan? Anda tidak sendirian, sebagian besar milenial demikian. Hal ini terjadi karena tidak adanya pencatatan pemasukan dan pengeluaran.

    Membuat pencatatan pemasukan dan pengeluaran sangat penting agar perencanaan keuangan dapat tercapai dan bisa audit pengeluaran mana yang sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan.

    Salah satu sebab sulit mengatur keuangan adalah tidak bisa membedakan mana pengeluaran prioritas dan mana yang bukan karena tidak memiliki catatan pengeluaran.

    1. Membuat Anggaran

    Setelah membuat catatan pengeluaran dan pemasukan Anda akan memiliki data berapa kebutuhan Anda dalam satu bulan. Jika sudah mendapatkan data pengeluaran dan audit, mulailah membuat Anggaran kebutuhan hidup, anggaran menabung uang darurat dan anggaran investasi.

    Pembuatan anggaran ini sangat penting agar bisa disiplin dalam mengelola keuangan.

    1. Dana Darurat

    Sertakan uang darurat dalam perencanaan keuangan Anda. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan seperti tiba tiba butuh uang mendadak dsb.

    Prioritaskan untuk membangun uang darurat terlebih dahulu. Besaran dana darurat bisa disesuaikan, tetapi banyak pakar finansial menyarankan besaran uang darurat untuk yang belum menikah sebesar 3 – 6 kali kebutuhan bulanan sedangkan untuk yang sudah berkeluarga sebesar 6 – 12 kali kebutuhan bulanan.

    Dana darurat harus disimpan berupa uang atau berupa asset likuid yang bisa dijual cepat dalam keadaan mendesak.

    1. Investasi

    Jika dana darurat sudah terpenuhi, maka Anda bisa melakukan investasi untuk mencapai tujuan finansial Anda. Berbeda dengan menabung dalam bentuk uang cash yang nilai pokoknya tetap bahkan terdilusi karena inflasi, investasi dapat menumbuhkan nilai pokok.

    Instrumen investasi ada sangat banyak dan bisa sesuaikan dengan profil risiko Anda, karena setiap instrumen investasi memiliki risiko yang berbeda jadi sesuaikan dengan seberapa besar Anda siap menanggung risiko.

    Jika Anda memiliki profil risiko rendah pilihan investasi yang bisa Anda pillih seperti deposito atau obligasi pemerintah. Deposito dan obligasi pemerintah memiliki risiko yang rendah karena dijamin langsung oleh LPS dan pemerintah untuk obligasi.

    Untuk Anda yang memiliki profil risiko menengah bisa mulai investasi di emas atau reksadana pendapatan tetap. Emas dan reksadana pendapatan tetap dapat memberikan keuntungan yang cukup besar, tetapi memiliki risiko menengah seperti likuiditas dan fluktuasi harga.

    Dan yang terakhir, jika Anda profile risiko Anda tinggi dan siap menanggung risiko besar bisa mulai investasi saham.

    Investasi saham dapat memberikan keuntungan yang tinggi bahkan bisa berkali lipat dalam jangka wakut panjang, tetapi bukan berarti tanpa risiko. Investasi saham memiliki risiko yang besar seperti likuiditas, fluktuasi harga yang cepat, suspen, bahkan delisting



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.