Nela Menjaga Kelestarian Kain Tenun Sumba dengan Cinta - Analisis - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Senin, 18 Oktober 2021 07:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Nela Menjaga Kelestarian Kain Tenun Sumba dengan Cinta

    Aroma alam begitu nyata, udaranya sangat ramah, hampir tak ada kebisingan di sini, masyarakatnya sangat menjunjung tinggi budaya leluhur yang mulia, kaya akan warisan budaya, wilayah yang satu ini menjadi salah satu surga wisata Indonesia. Tak hanya alamnya yang memikat untuk dilihat, keindahan alam sabana yang dimiliki juga berbanding lurus dengan kekayaan budaya yang melimpah.

    Dibaca : 408 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aroma alam begitu nyata, udaranya sangat ramah, hampir tak ada kebisingan di sini.  Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi budaya leluhur yang mulia, kaya akan warisan budaya. Wilayah yang satu ini menjadi salah satu surga wisata Indonesia. Tak hanya alamnya yang memikat untuk dilihat, keindahan alam sabana yang dimiliki juga berbanding lurus dengan kekayaan budaya yang melimpah. 

    Benar, penulis sedang menceritakan sebagian kecil keindahan Pulau Sumba, pulau yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memang sangat istimewa. Tak hanya keindahan alam yang ditawarkan, Sumba juga memiliki warisan budaya yang menggiurkan. Salah satu yang paling mashur adalah Kain Tenun Sumba. Ada satu sosok yang sangat menarik perhatian dalam upaya untuk melestarikan budaya. 

    Semangatnya seperti tak pernah padam, dialah Petronela Pihu. Bersama Sanggar Paluanda Lama Hamu yang artinya “Bergandeng Tangan Menuju Arah Yang Baik”, Nela, demikian dirinya akrab disapa, memotivasi, menggerakkan para pengerajin tenun Sumba di daerahnya untuk mempertahankan pembuatan tenun dengan metode pewarnaan alami.  Tahukah kalian, dalam proses pembuatan kain tenun Sumba, memerlukan waktu yang tak sebentar, karena salah satu proses dalam membuat motif, ada tahapan dimana kain harus diangin-anginkan selama satu bulan penuh sebelum akhirnya dicelup dalam minyak kemiri. 

    Apakah selesai sampai disitu? Jawabannya belum. Proses pembuatan Tenun Sumba sepertinya mengajarkan arti kesabaran, setelah dicelupkan dalam minyak kemiri, kain kemudian dibiarkan ‘tidur’ dalam keranjang seperti menidurkan anak,  melibatkan alam untuk membentuk keindahan dalam tenunan. 

    Nela, mengisahkan, pengerjaan kain Sumba kebanyakan dilakukan oleh gadis dan ibu-ibu. Pengerjaannya juga harus dilakukan dengan sabar dan penuh cinta, sehingga helai demi helai benang itu diberi ruh dan menjadi kain tenun indah. Hasil penjualannya kemudian dipakai untuk menghidupi keluarga.

    Proses pembuatan yang unik dan memakan cukup lama inilah yang membuat tenun Sumba menjadi istimewa. Tak heran bila kain tenun Sumba bisa dibanderol dengan harga yang cukup fantastis. Mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta untuk tiap lembar kain.

    Sosok Nela yang merupakan salah satu ahli waris ilmu pewarnaan alami tenun Sumba. Setiap motif yang terdapat pada kain tenun Sumba juga memiliki maknanya masing-masing. Nela mencontohkan motif kuda pada kain tenun Sumba yang melambangkan kepahlawanan, keagungan dan kebangsawanan. 

    Sedangkan motif buaya atau naga yang mencerminkan kekuatan dan kekuasaan raja. Motif ayam menggambarkan tentang kehidupan wanita. Sedangkan motif burung yang biasanya menggunakan burung kakak tua melambangkan persatuan.  Beberapa motif kuno bahkan juga menggunakan mahang atau singa, rusa, udang, kura-kura, dan hewan lain dengan corak yang khas.


    Pendek kata, setiap helai benang pada kain tenun ini memiliki makna mendalam bagi masyarakat Sumba. “Kain-kain ini semua diisi dengan doa-doa yang dipanjatkan oleh pembuatnya. Doa disematkan untuk masing-masing peristiwa penting di dalam kehidupan orang yang kelak memakai kainnya itu,” kisah wanita 39 tahun tersebut. 

    Selain menjadi kebutuhan sandang, tenun sumba memegang peranan penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba Timur. Kain tenun ini berfungsi sebagai sarana tukar menukar baik dalam upacara perkawinan, penguburan, atau sebagai tanda penghargaan atau cinderamata.

    Kain tenun sumba juga memberikan kesempatan kepada warga Sumba untuk menyekolahkan anak-anak dan memberi penghidupan bagi keluarga. Proses pengerjaan yang lama serta penuh kesabaran ini membuat nilai dari sehelai kain tenun Sumba tidak hanya dilihat dari nominalnya, tetapi dari makna setiap untaiannya pula. 

    Bagiamana? Keren bukan!. Perjuangan Nela dalam menjaga kelestarian Kain Tenun Sumba patut diacungi jempor. Kegigihannya dalam  mengembangkan Kain Tenun Sumba untuk dikenal kalangan luas juga berarti memberikan penghidupan dan meningkatkan kesejahteraan para penenun. Kalau budaya saja dijaga dengan sepenuh hati, apalagi kamu!. (*)

    Penulis : Maulana Yusuf

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.