Rumah Tangga - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Cara berkomunikasi secara jujur dan berempati dengan anggota keluarga menjadi kunci komunikasi efektif pada masa pandemi

Predianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Jumat, 19 November 2021 15:16 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rumah Tangga

    Cerpen ini ringan dibaca dengan berlatar keluarga. dinamika keluarga yang asyik dan tidak bisa terlupakan ketika dalam perantauan.

    Dibaca : 376 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rumah Tangga

    Angin itu sangat kencang dan seakan ingin merobohkan segala hal yang diterjang. Bau bunga jagung yang di bawa oleh angin merangsek masuk ke dalam rumah yang posisinya sangat mepet dengan rumah-rumah warga. Bunga jagung itu tidak asing di hirup oleh masyarakat itu.

    Matahari pagi, siang, sore selalu menyengat atap rumah. Tidak ada pohon yang tingginya melebihi rumah itu. Adapun tanaman hanya sebatas tanaman hias yang selalu dilihat sebagai hiasan dan dirawat agar tetap hidup.

    “Shamponya habis ya mak?” Terdengar teriakan Diyas dari dalam kamar mandi.

    “Habis nduk.” Jawab ibu Diyas dari dapur yang tidak jauh dari kamar mandi sambil menyiapkan sarapan pagi.

    Bagaimanapun keadaanya Diyas sudah terlanjur membasahi rambutnya. Mau menyuruh ibunya untuk membelikan takut kelamaan dan malah kesiangan. Toko lumayan jauh dari rumah. Rambut sudah terlanjur di basahi. Siasat Diyas mulai muncul di kamar mandi. Melihat shampo yang hanya tinggal botolnya. Memegang rambut terasa lengket tak berbusa.

    “Aku isi air saja botol ini! Siapa tahu di dalamnya masih ada beberapa sisa sehingga bisa aku manfaatkan untuk sekedar membuat rambut berbusa.”

    Benar saja meskipun tidak mendapatkan busa dari apa yang telah dilakukan tetapi setidaknya ada bau yang membuatnya bisa dikatakan sebagai keramas. Dengan begitu Diyas bisa menyelesaikan mandinya dalam keadaan lega meskipun ada masalah sedikit namun segera teratasi dengan pikiran di dalam kamar mandi yang sekejap dan seketika itu.

    Belum ada pukul 07.00 tetapi matahari sudah sangat terik. Membuat Hamdan kakak Diyas terbangun secara tergesa-gesa. Kerjanya meraih mimpi dan sampinganya adalah menahan cacian dari orang-orang sekitarnya yang terus mengejek dirinya tidak bisa memberikan yang terbaik dan hanya menjadi beban keluarga. Sudah 2 tahun lebih dia begitu sejak menyelesaikan kuliahnya selama 13 semester.

    “Diyas sudah selesai ya mak mandinya?”

    Pertanyaan itu dilontarkan saat keluar kamar sembari menanggalkan handuk di leher bagian belakang dan menuju dapur saat emaknya menggoreng tempe untuk menu sarapan.

    “Eh, cuci tangan dulu!”

    Hamdan mengambil satu potong tempe goreng yang masih berada di atas wadah tempat meniriskan minyak. Tempe itu di makan secuil demi secuil. Dalam setiap cuilan mengiringi pikiranya mau kemana dia hari ini.

    “Aku mandi dulu mak!” sambil berjalan menuju kamar mandi.

    “Shamponya habis lo!

    Langkahnya yang hampir saja menyentup lantai kamar mandi tiba-tiba terhenti. Ia mengurungkan niatnya untuk mandi ketika belum ada shampo yang tersedia. Dalam pikiran liarnya berspekulasi bahwa ini semua pasti karena ulah Diyas yang terlalu boros menggunakan shampo.

    “Diyas ke mana mak?” tanya hamdan sambil membalikan badan seakan mencoba memvalidasi spekulasi liarnya.

    “Adikmu sudah berangkat ke sekolah.” Dijawabnya sambil mencuci tangan dengan isyarat bahwa kegiatan memasak sudah selesai.

    “Kok pagi sekali mak?

    “Iya. Sarapan saja dia tidak sempat. Katanya ada persiapan acara pelepasan murid-murid SMA kelas tiga. Katanya adikmu sebagai ketua panitianya. Gimana kamu mau beli shampo nggak?”

    Pertanyaan itu seakan sudah mengarah bahwa naluri seorang Ibu peka kepada anaknya yang mencoba mencari kesalahan orang lain.

    “Hehe. Aku mandi nanti saja mak. Lagian juga hari ini tidak ada agenda ke mana-mana.”

    “Baiklah. Coba emak hubungi bapakmu, barangkali sepulang dari pasar bisa mampir ke toko sebentar untuk membelikan shampo.

    Setelah beberapa saat Hamdan bergegas ke kamar mandi berkat adanya shampo yang dibawakan oleh ayahnya. Namun sungguh sayang. Shampo yang dibelikan oleh bapaknya tidak sesuai yang diharapkan oleh Hamdan. Entah mengapa dalam urusan shampo saja, manusia punya pilihan masing-masing.

    Hamdan tidak mau menunda mandinya lagi. Karena sudah terlanjur menyiram seluruh tubuhnya dan termasuk rambutnya hamdan akhirnya mempunyai pemikiran bahwa yang penting shampo itu mengeluarkan busa.

    Dalam keadaan belum selesai mandi, Hamdan menemukan ada seekor kecoa yang mengapung di closed. Dalam benak Hamdan ada dua pilihan. Disiram agar kecoa itu bisa hilang, atau ditolong agar kecoa itu bisa bebas dan tetap hidup. Naluri ingin membunuh dan juga simpati itu seakan bertarung di dalam raga yang dilema.

    Dengan melandaskan pikiran bahwa semua makhluk hidup itu adalah ciptaan Tuhan, maka Hamdan akhirnya mengeluarkan kecoa itu dengan menggunakan sikat WC sehingga kecoa itu bisa merambat keluar. Benar saja kecoa itu setelah ditolong tidak tahu kata terimakasih. Namun dari sini kita tahu bahwa konsep keikhlasan itu justru hadir bukan dari kata terimakasih, tapi bagaiamana kita cara menyikapi dan memberikan kasih kepada sesama makhluk hidup.

    “Ah, bapak belinya shampo tidak seperti biasanya.

    Gubahan Hamdan ketika keluar kamar mandi seakan curhat kepada ibunya kalau bapaknya telah salah membeli merk shampo.

    “Sudahlah, yang pentingkan keuar busanya to? Jawab ibu hamdan.

    “Kamu sudah selesai mandi kan? Kalau sudah ibu mau mandi sekian mau cuci baju.

    Ibu Hamdan  langsung bergegas ke kamar mandi dengan membawa satu ember pakaian kotor. Itu dibawa seakan-akan sebagai bekal ke kamar mandi. Cukup lama memang ibu Hamdan berada di kamar mandi. Tapi dari bekal yang di bawa, terlihat ada banyak hal yang dilakukan secara bersamaan.

    Ibu Hamdan melihat kecoa yang baru saja diselamatkan oleh Hamdan tadi. Namun sungguh naas nasib kecoa itu di tangan Ibu. “Oh, jadi ini yang selama ini mengencingi pakaian di lemar.” Celoteh Ibu sambil membunuh kecoa menggunakan sikat Wc. Alat yang sama tapi tidak memberikan dampak yang sama. Malang benar nasib kecoa itu.

    “Buk... lama sekali, bapak mau mandi juga ini. Dari pasar tadi belum mandi!

    “Lihat ini lo pak. Ayo bantu bawa ini ke dekat jemuran! Benar saja cucian itu sudah selesai dan juga sudah selesai mandi sambil membuka pintu dan menunjuk ke arah ember berisi kain yang siap untuk dihadapkan kepada teriknya matahari.

    Matahari sempurna. Ketika hari itu matahari benar-benar muncul selama satu hari penuh maka sudah cukup untuk menyenangkan keluarga itu. Iya cukup. Cukup untuk membuat kering pakaian. Bukan apa-apa, pakaian yang tidak kering biasanya akan mengeluarkan bau yang sangat tidak enak untuk dihirup. Baunya khas dan orang langsung bisa mendeteksi.

    “Sudah ya buk. Bapak mau mandi dulu.”

    “Iya Pak.

    Bapak wagiman langsung menuju kamar mandi dengan handuk yang diletakan seperti sarung. Padahal biasanya tidak begitu gaya pak Wagiman ketika mau ke kamar mandi. Biasanya handuknya di taruh di kepala seperti sorban yang menutupi rambutnya. Entah mengapa soal pemakaian handuk dan sekedar mandi saja orang mempunyai gaya sendiri-sendiri.

    “Buk. Buk e..? tiba-tiba pak Wagiman teriak-teriak memanggil istrinya yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Istrinya tidak kunjung mendengar panggilannya. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar mandi dengan gaya yang sama namun keadaan berbeda.

    Keluar bukan karena sudah selesai mandi. Tapi keluar dalam keadaan buih shampo itu masih bertanggal di kepalanya sambil mendekati saklar untuk menghidupkan air. Tidak cukup jauh saklar itu dan sebenarnya itu bisa dilakukan sendiri tanpa bantuan istrinya. Air menyala dan mandipun menjadi lebih tenang berkat kenekatanya.

    Untuk sekedar kehabisan air di dalam kamar mandi saja, Pak wagiman memang suka membuat keributan di dalam rumah. Semua anggota sudah hafal tentang watak bapak yang tidak mau keluar sendiri untuk menyalakan saklar air. Kini pak Wagiman berhasil melawan kebiasaanya.

    “Loh pak? Kok pompa airnya bunyi? Airnya habis ya tadi?”

    “Hmmm. Ketawa kamu buk?

    Istrinya mendapati hal yang tidak biasa dilakukan oleh suaminya. Memang, perubahan itu terkadang menjadi bahan tertawaan orang lain.

    Ikuti tulisan menarik Predianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.