Kisah Hidup Tiara - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi wajah wanita

Wida Yanti

Widayanti_9991
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kisah Hidup Tiara

    Kisah hidup seorang perempuan bernama Tiara yang meraih mimpinya.

    Dibaca : 92 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tiara Maulidia, saat usianya 5 tahun ayahnya meninggalkan dirinya dan ibunya begitu saja. Sejak saat itu, ibunya sering sakit, saat Tiara 6 tahun, ibunya meninggal. Tiara akhirnya diasuh oleh paman dan bibinya, Tiara kecil yang selalu merindukan kasih sayang ibunya, sudah tidak dapat merasakan dan melihat ibunya. Terkadang Tiara merindukan ayahnya yang meninggalkan dia begitu saja, jujur Tiara tidak pernah membenci ayahya, karena, dia tetap ayah Tiara.

    Tiara hidup dengan kasih sayang dari paman, bibi dan sepupunya. Tiara sangat menyayangi dan menghormati mereka, Tiara sudah menganggap mereka semua keluarga, begitu pula sebaliknya, mereka sangat menyayangi Tiara. Tiara berusaha tersenyum, menjadi anak baik, dan tidak menyusahkan mereka. Tiara tidak ingin dibenci oleh mereka, karena hanya mereka keluarga Tiara.

    Sejak kecil, tiara selalu dihina teman-temannya karena tidak memiliki orang tua. Tiara tidak pernah marah, karena bagi Tiara, itu semua tidak penting. Tiara berjanji menjadi orang  sukses kepada ibu sebelum ibunya meninggal dunia, sekarang yang ada di pikiran Tiara hanya menjadi sukses dan mewujudkan semua mimpinya. Sekarang Tiara kuliah disalah satu kampus ternama di indonesia dengan beasiswa. Sejak SMA, Tiara sekolah dan mengajar anak-anak kecil, agar tidak menyusahkan paman dan bibinya.

     

     

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     “ada anak yatim piatu nih” Raisa salah satu teman sekelas Tiara, Tiara tidak peduli dan terus berjalan menuju perpustakaan.

    “sudah miskin, sombong juga” Putri teman satu kelas Tiara, Tiara sudah terbiasa mendengarkan caci maki dari semua orang, yang ada dalam pikiran Tiara adalah dia hanya bisa menutup telinganya rapat-rapat, karena dia tidak bisa menutup mulut semua orang dengan tangannya.

    Tiara sampai di perpustakaan, Tiara mencari buku untuk menulis skripsinya.

     “hai Tiara” Ridwan teman sekelas Tiara yang baik terhadapnya.

    “hai Ridwan, kamu mencari buku skripsi juga?”.

    “iya, lagi cari buku, bagaimana dengan skripsi kamu?’.

    “skripsi aku sudah bab 3, kamu sendiri bagaimana?”.

    “sama, aku juga sudah bab 3, judul skripsi kamu apa?”.

    “cara mengatasi pengangguran untuk anak muda, kamu sendiri?”.

    “kalau aku judulnya pengembangan UMKM untuk rakyat kecil”.

    “judul skripsi kamu bagus, kamu bisa membantu rakyat kecil” Tiara tersenyum.

    “skripsi kamu adalah skripsi terbaik tahun ini, kamu mahasiswi terpintar tahun ini” Ridwan tersenyum.

    “skripsi kamu juga pasti bagus Ridwan, aku pergi dahulu, aku ada bimbingan, bye Ridwan” Tiara tersenyum.

    “bye Tiara” Ridwan sangat mencintai Tiara, tapi Ridwan tidak berani mengunggkapkan perasaanya pada Tiara. Sebenarnya Ridwan ingin melamar Tiara setelah wisuda, karena sejak masuk kuliah, Ridwan sudah bekerja menjadi barista di salah satu cafe shop.  Ridwan bekerja keras untuk menabung uang hasil kerja kerasnya sendiri, supaya setelah wisuda, Ridwan bisa melamar Tiara. Tapi Ridwan tidak ingin menghalangi Tiara mewujudkan mimpinya, justru Ridwan ingin membantu Tiara mewujudkan mimpinya.

    Tiara pergi menemui dosen pembimbingnya “kamu sangat disiplin Tiara, pertahankan disiplin kamu, pasti di masa depan, kamu akan menjadi orang yang suskses”.

    Tiara tersenyum “aamiin, terima kasih doanya, bapak sangat baik”.

    “kamu anak yang pintar, disiplin dan baik, saya yakin kamu pasti bisa lulus dengan cepat, kalau begitu mari kita mulai bimbingannya” Tiara melakukan bimbingan selama 2 jam, dan kemudian keluar dari kelas.

    “akhirnya selesai juga bimbingannya, sekarang aku harus pulang membantu paman dan bibi kemudian sorenya aku harus mengajar anak-anak, semangat T iara” Tiara memberikan semangat pada dirinya sendiri. Tiara kembali pulang, tapi Tiara melihat orang yang selama belasan tahun dirindukan, sekarang berada di depan rumah paman dan bibinya. Tiara melihat paman dan bibinya  sangat marah dan membenci ayahnya. Tiara hanya bersembunyi melihat ayahnya diusir, Tiara tidak tahu harus bagaimana.

    Beberapa menit setelah ayahnya pergi, Tiara masuk ke dalam rumah “assalamuaikum”.

    “waalaikum salam” jawab paman dan bibinya.

    “tadi ayah kesini ya?” paman dan bibi hanya terdiam, Tiara tidak menyalahkan paman dan bibi, karena hanya mereka keluarga Tiara.

    “paman dan bibi tidak perlu khawatir, Tiara akan selalu menyayangi kalian selamanya” Tiara tersenyum.

    “paman dan bibi tidak ingin kamu menangis dan menderita karena ayahmu yang tidak bertanggung jawab” ucap paman kepada Tiara.

    Tiara tersenyum, “terima kasih paman dan bibi sayang dan khawatir tentang Tiara, tapi sekarang Tiara sudah dewasa, sudah kewajiban Tiara memaafkan semua kesalahan ayah”.

    “untuk apa kamu memafkan dia, dia sudah membuat ibumu menderita dan akhirnya meninggal” bibi marah.

    “ayah memang sudah menyakiti ibu, tapi ibu sudah memafkan ayah, dan kematian ibu adalah takdir, izinkan Tiara bertemu dengan ayah” Tiara meneteskan air matanya, melihat air mata Tiara, mereka menjadi sedih.

    “baik kamu bisa menemui dia, tapi di rumah ini, karena kami tidak ingin kamu tersakiti lagi”.

    Tiara memeluk paman dan bibinya dengan bahagia “terima kasih paman, terima kasih bibi, Tiara sangat menyayangi kalian”.

    “sekarang paman dan bibi istirahat, biar Tiara yang menjaga toko” Tiara tersenyum.

    “kamu memang anak baik, kalau begitu bibi istirahat, makan siang kamu ada di meja” bibi tersenyum dan kemudian meninggalkan Tiara sendiri, Tiara menaruh tas dimeja dan mengambil makan siangnya. Tiara menjaga toko  hingga jam 3 sore, setelah sholat ashar, Tiara berangkat ke rumah anak-anak yang akan melakukan bimbingan belajar.

    Dalam satu hari, tiara mengajar 2 anak, satu anak selama 2 jam. Jam 9 malam, Tiara mengerjakan skripsi hingga tengah malam.

     

     

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Keesokan paginya Tiara ke kampus untuk melakukan bimbingan skripsi, setelah melakukan bimbingan skripsi, Tiara pulang ke rumah. Saat sampai rumah, Tiara melihat ayahnya datang kembali, sekarang Tiara tidak ingin menjadi pengecut yang lari dari kenyataan, Tiara juga tidak ingin membenci ayahnya.  Tiara melangkah perlahan ke arah ayahnya “assalamualaikum”.

    Semua orang menoleh ke arah Tiara, “paman, bibi, Tiara minta izin untuk mengobrol sebentar dengan ayah”.

    Dalam hati paman dan bibi, mereka tidak ingin Tiara berhubungan dengan ayahnya yang bahkan tidak pantas dipanggil ayah, tapi mereka tidak ingin membuat Tiara sedih “baiklah, kalian bicara dikursi itu saja, supaya kami bisa melindungi kamu”.

    “baik bi, ayo ayah kita bicara disana” Tiara dan ayahnya duduk berdua. Mereka terdiam untuk beberapa menit, Tiara merasa canggung dengan keadaan ini.

    “ayah minta maaf, selama ini ayah salah pada kamu dan ibumu, bisa ayah bertemu dengan ibumu juga?” mendengar perkataan ayahnya membuat Tiara tersenyum karena merasa lucu.

    “ibu?” tanya Tiara tersenyum.

    “iya ibu kamu, ayah ingin minta maaf” Tiara melihat kesedihan dimata ayahnya, tapi Tiara tidak merasa sedih melihat air mata ayahnya.

    “ibu meninggal sejak Tiara berusia 6 tahun, sejak ayah pergi,  ibu menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal” ucap Tiara dengan wajah dingin, ayah Tiara yang mendengar perkataan putrinya semakin sedih dan tidak berkata apa-apa.

    “jika ayah ingin minta maaf pada ibu, ayah pergi saja ke pemakaman ibu di TPU umum” Tiara tidak tahu, mengapa dia tidak peduli pada ayahnya, Tiara tidak peduli walaupun melihat ayahnya menangis.

    “jika tidak ada yang ingin ayah bicarakan, Tiara masuk, Tiara ada urusan” Tiara bangkit, tetapi ayahnya memegang tangan Tiara, Tiara menoleh ke ayahnya dengan wajah dingin.

    Ayah Tiara memberikan amplop pada Tiara “ini uang untuk kamu, ayah tau kamu sedang mengerjakan skripsi”.

    Tiara hanya tersenyum “tidak perlu, selama ini Tiara bisa hidup tanpa ayah, ayah pakai saja uang itu untuk ayah sendiri” Tiara melepaskan tangannya dan pergi.

    Tiara masuk ke dalam rumah, “kamu tidak apa-apa Tiara?” paman Tiara khawatir.

     “paman dan bibi tidak perlu khawatir, ayah hanya minta maaf dan bertanya tentang iibu” Tiara tersenyum.

    “kamu jawab apa?” tanya bibi.

    “menjelaskan bagaimana ibu meninggal, dan mengatakan jika ayah ingin minta maaf pada ibu, pergi saja ke pemakaman ibu, Tiara masuk dan istirahat ya bi, Tiara lelah”.

    “ya sudah hari ini kamu istirahat saja, nanti kamu mengajar anak-anak?” tanya bibi.

    “iya bi, seperti biasa jam 4 sore sampai jam 9 malam” Tiara tersenyum.

    “ya sudah kamu istirahat, makan siang kamu ada di maja”.

    “terima kasih paman dan bibi, jika ada apa-apa, paman dan bibi panggil aku saja” Tiara tersenyum.

    “tidak nak, sekarang kamu istirahat saja”.

    “baik paman, Tiara masuk dulu” Tiara masuk ke dalam rumah, Tiara mandi dan kemudian makan siang. Setelah mencuci piring dan membersihkan rumah, Tiara masuk ke dalam kamar.

    “apa aku tadi terlalu kejam pada ayah?” Tiara takut jika ucapannya tadi menyakiti ayahnya, Tiara melanjutkan skripsinya, dia ingin segera lulus dan mencari pekerjaan yang jauh lebih baik, supaya bisa membuat paman dan bibinya bangga.

     

     

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    sejak hari itu, ayah Tiara tidak pernah datang lagi. Tiara akhirnya berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik,saat Tiara ingin menunjukan hasil kerja kerasnya pada paman dan bibi, Tiara melihat ayahnya datang lagi.

    “assalamualaikum” Tiara memberi  salam pada semua orang, ayah Tiara tersenyum melihat ke arah putrinya.

    “maaf karena tahu ibu kamu meninggal, kondisi tubuh ayah melemah dan tidak bisa kesini, sekarang ayah bawa makanan kesukaan kamu” ayah Tiara tersenyum bahagia, tapi dihati Tiara, Tiara tidak ingin bertemu dengan ayahnya.

    “Tiara tidak suka bakso, ayah makan saja sendiri, Tiara mau istirahat” Tiara masuk kedalam kamar, Tiara bisa mendengar paman dan bibi mengusir ayahnya, Tiara melihat wajah kecewa ayahnya saat meninggalkan rumah. Tiara bingung dengan perasaanya sendiri.

    “maaf ayah, Tiara tidak membenci ayah, tapi Tiara juga tidak bisa dekat dengan ayah setelah semua yang ayah lakukan di masa lalu” Tiara meneteskan air matanya.

     

     

     

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~

    Seminggu berlalu, hari ini adalah sidang Tiara, Tiara melihat paman dan bibinya memberikan semangat, Ridwan keluar dari ruang sidang dan memberikan semangat pada Tiara. Tiara masuk kedalam ruangan, Tiara berhasil menyelesaikan sidangnya dengan sempurna. Tiara tersenyum bahagia ke arah dosen dan kemudian Tiara keluar dari ruangan. Tiara terdiam melihat ayahnya datang,ayahnya tersenyum bahagia melihat Tiara.

    “siapa yang menyuruh ayah datang kesini?” tanya Tiara dengan wajah datar.

    “bibi yang memberi tahu, bibi pikir doa dari ayahmu akan membantu kamu menyelesaikan sidang dengan mudah” bibi merasa khawatir jika Tiara marah.

    “Tiara pergi, assalamualaikum” Tiara pergi tanpa melihat ke arah ayahnya, ayahnya merasa kecewa karena putrinya masih marah padanya. Ayah Tiara mengejar Tiara, sementara Ridwan bertanya pada bibi apa yang sebenarnya terjadi.

    Paman dan bibi menjelaskan semuanya dari awal, saat Tiara berusia 5 tahun. Ridwan mengerti perasaan Tiara saat ini “paman dan bibi tenang saja, Ridwan akan menemani Tiara sekarang”.

    Ridwan mengejar Tiara dan ayahnya, “untuk apa ayah mengikuti Tiara, Tiara tidak ingin bertemu ayah” Tiara terus berjalan tanpa melihat ayahnya.

    Ayah Tiara memegang tangan putrinya “maafkan ayah, ayah ingin menebus kesalahan ayah, ayah ingin membuat kamu bahagia nak” ayah Tiara menangis, Tiara terdiam mendengar perkataan ayahnya, mata Tiara panas menahan air matanya. 

    Raisa membenci Tiara, karena Tiara telah merebut Ridwan. Raisa yang melihat Tiara berdiri di tepi jalan, berfikir untuk menabrak Tiara. Raisa menjalankan mobilnya dengan sangat cepat hingga menabrak Tiara, tapi ayah Tiara yang melihat putrinya dalam bahaya mendorong putrinya hingga Tiara terjatuh,  dan ayahnya yang tertabrak mobil Raisa. Ridwan yang melihat mobil Raisa langsung mengambil handphone miliknya dan merekam semuanya, kemudian mendekati Tiara dan ayahnya.

    “aku akan mengambil mobil”.

    “tidak perlu” ayah Tiara menahan rasa sakitnya. Tiara mendekat dan meletakan ayah dipangkuannya, Ridwan hanya terdiam menuruti perkataan ayah Tiara.

    Tiara melihat ayahnya kesakitan merasa sedih, air mata yang selama ini ditahannya jatuh membasahi pipinya  “Tiara anak ayah satu-satunya yang cantik dan baik, ayah minta maaf untuk semua yang terjadi” ayah Tiara menangis tetapi tersenyum menahan rasa sakit.

    “tidak ayah, seharusnya Tiara yang minta maaf, sekarang kita ke rumah sakit” Tiara berusaha membangunkan ayahnya untuk membawa ke rumah sakit.

    “tidak perlu nak, ayah sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini lebih lama” ayah Tiara mulai sesak nafas.

    “ayah harus bertahan, demi Tiara” Tiara menangis.

    “tidak Tiara, ayah melakukan semua itu karena ayah ingin bekerja dan menjadi sukses, itu alasan kenapa ayah meninggalkan kamu dan  ibumu, ayah menyesal” ucap ayah Tiara menahan rasa sakit di dadanya.

    “Tiara sudah maafkan ayah, Tiara sayang sama ayah”.

    “terima kasih sudah memafkan ayah” ayah Tiara menoleh ke arah Ridwan “jika kamu mencintai Tiara, tolong jadi Tiara, jangan pernah menyakiti Tiara seperti apa yang saya lakukan pada Tiara dan ibunya”.

    “ayah tidak perlu mengatakan apapun, sekarang kita ke rumah sakit” tiara menangis tanpa henti.

    “ayah sayang dan cinta pada Tiara dan ibumu” ayah Tiara mengembuskan nafas terakhirnya. Tiara menangis histeris.

     

     

     

    ~~~~~~~~~~~~~~~~

    setelah pemakaman ayah Tiara, Ridwan melaporkan Riasa dengan bukti rekaman. Raisa dipenjara 15 tahun karena melakukan pembunuhan berencana dan menyebabkan  orang yang ditabrak meninggal dunia. Satu tahun kemudian Ridwan melamar Tiara, Tiara menerima lamaran tersebut, tapi Tiara ingin bekerja hingga memiliki rumah sendiri, Ridwan mendukung Tiara, 2 tahun setelah peringatan meninggal ayah Tiara, mereka berdua menikah. Harta warisan milik ayahnya untuk membuat taman baca dan rumah singgah untuk anak-anak kurang mampu. Setelah menikah, Tiara memilih keluar dari kantor melanjutkan bisnis ayahnya. Setahun setelah menikah, Tiara melahirkan bayi kembar, mereka hidup bahagia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Intan Heryani

    13 menit lalu

    Mentari dari Desa

    Dibaca : 15 kali