Melody Senja - Fiksi - www.indonesiana.id
x

9G.27.Rofiqoh Fatimatazzahro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Kamis, 25 November 2021 16:09 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Melody Senja

    Sekilas kisah hidup seorang anak yang rumit. Hanya bertahan karena suatu hal.

    Dibaca : 122 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Melody Senja

    Oleh : Rofiqoh Fatimatazzahro 

     

         Di sore yang cerah ini, seorang gadis kecil sedang menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya. Angin seakan mengerti keadaan hatinya sekarang. Ditemani senja yang membuat siapa saja nyaman, dan tak ingin pergi. Di depannya terdapat sungai, dengan keadaan air yang jernih. Yang membuat suasana hatinya yang gundah menjadi lebih tenang. 

     

         Ia sangat suka dengan senja, sungai, dan angin. Ketiga perpaduan yang sangat ia suka. Hal yang selalu ia lakukan ketika teringat akan kenangan masa lalu, yaitu dengan mengasingkan diri ke rumah pohonnya. Di sana ia bisa menangis dan menenangkan diri tanpa harus memikirkan banyak hal di sekitarnya. 

     

         Aneh, itu yang ia rasakan. Seakan mati rasa mulai menggerogoti dirinya. Dia tak tau rasanya sakit. Karena ketika dia menangis, dia hanya akan disalahkan. Hidupnya bukan seperti novel-novel pada umumnya. Dimana ia merasakan sakit karena dia broken home, strict parents atau bahkan korban bullying.

     

         Hidup ia bahagia namun ada 1 kejadian yang mengubah dirinya, hidupnya, semua tentang dia 180°. Kejadian yang membuat trauma, kesedihan tak berujung dan tidak ada yang pernah menyadari itu. Bahkan keluarganya tak pernah tau apa yang disembunyikan gadis kecil ini. Kehebatan dia dalam menyembunyikan rasa, membuat ia bertambah sakit. 

     

         Ia kadang merasa paling salah, bersamaan dengan itu ia juga merasa paling tersakiti. 

     

    "Mereka kira aku gak papa, nyatanya gak. Aku butuh orang buat cerita, tapi aku terlalu takut. Takut orang akan pergi, ninggalin aku. Aku gak tau apa-apa. Kenapa dunia jahat sie? Dulu aku diterbangkan bagaikan burung sekarang aku dijatuhkan bagaikan hujan deras yang jatuh dengan keras."

    "Tuhan.. Aku capek, aku pengen ikut. Apa salah? Kenapa gak aku ikut aja? Semakin kesini, semakin aku merasa merepotkan banyak orang." 

    "Jadi dewasa itu ternyata memang capek ya.. Aku memang belum dewasa, tapi aku didewasakan oleh keadaan. Kejam bukan? Kehilangan masa kecil yang bahagia. Dan harus jadi manusia kuat seperti baja."

     

         Gadis itu dulu adalah anak yang periang, cerewet dan banyak tingkah. Bahkan dulu ia gak pernah nangis, ia sangat dijaga oleh orang tuanya. Ia tinggal bersama Papa, dan Mamanya. Sungguh seru hidupnya. Ia punya impian untuk bahagia bersama keluarga selamanya. Ia tumbuh menjadi gadis cantik, baik hati, dan sangat cerdas. Membuat banyak orang iri akan kehidupan dia. Hidupnya sederhana, tapi bahagianya luar biasa. 

     

         Ternyata Tuhan berkata lain, Tuhan tak menakdirkan dia untuk mendapatkan kebahagiaan dari keluarganya. Melainkan dari usahanya sendiri. Ia pun tak mengapa, karena ia belajar untuk berprinsip seperti ini :

    Orang tua bertanggung jawab akan kebutuhan anaknya, bukan keinginan anaknya. 

    Kata-kata ini yang ia pegang agar ia tak berharap lebih ke keluarganya terutama orangtuanya. Ia tak mau berharap pada makhluk karena itu salah dan hasilnya pasti akan menyakitkan. 

     

         Setelah ia merasa puas mengeluarkan tangisannya, akhirnya ia memutuskan untuk pulang sebelum ia dicari oleh Neneknya. Setibanya di rumah ia melihat Neneknya yang sedang menyapu latar depan rumahnya. 

     

    "Mel, kamu baru pulang? Dari mana aja? Cepet mandi terus makan ya.." Ujar Nenek Melody. 

    "Iya nek.." Jawab Melody dengan patuh. 

    Saat Melody melewati Neneknya, tangan Melody ditahan kemudian berkata

    "Kenapa Nek?"

    "Mata kamu kenapa? Nangis? Kenapa nangis lagi, gak ada apa-apa kok nangis. Coba jangan cengeng, kan kamu sudah besar."

    "Hmm iya nek.."

     

         Lagi, lagi dan lagi. Hal ini yang membuat Melody gak suka kalau nangis. Ia bukan ditanya baik-baik tapi malah dicerca dengan kata 'jangan nangis' 'kamu dah besar' 'jangan cengeng'. Lelah itu yang dirasa Melody. Ia segera ke kamar mandi dan makan setelahnya. 

     

         Keesokan harinya, ia berangkat ke sekolah. Sekarang ia kelas VII SMP di sekolah negeri. Ia sedikit menyesali karena nilai kelulusan SD nya tak begitu memuaskan, sehingga ia tidak bisa sekolah di kota favoritnya.

     

         Dulu ia sangat ingin bersekolah di kota, niatnya didukung penuh oleh sang Mama. Setelah Mamanya meninggal dunia dan juga Papanya yang menikah kembali. Ia tinggal di rumah Neneknya. Lebih tepatnya Nenek dari Papanya. Tetapi selama 3 tahun, Neneknya selalu berjualan, hingga ia merasakan sepi, sendirian di waktu kecil. Melody sendiri takut, tapi apa yang bisa ia lakukan. Semua hal yang dibutuhkan Melody selalu disiapkan Mamanya, tetapi sekarang ia harus bisa sendiri. Hal ini membuat ia tumbuh menjadi anak yang dewasa. 

     

         Ketika masuk ke dalam kelas terlihat banyak sekali anak-anak dengan wajah ceria, dan percaya diri tak seperti Melody. 

     

    "Hmmm… Aku gak boleh kelihatan sedih, aku harus mulai hidup baru. Aku harus aktif dan harus sukses di sekolah ini." Katanya bertekad dalam hati. 

    "Melody!!!"

    "Ya??? Tania, kamu di kelas ini juga?"

    "Huum, bareng yuk."

    "Ayok.." 

     

         Sesampainya di kelas ia mulai berkenalan dengan banyak temannya dibantu oleh Tania pastinya. Mereka seru, aku merasa senang lebih dari masa SD ku dulu. Ucapan syukur dikatakan Melody dalam hati. 

     

         Ia terus menjalani kehidupan sekolahnya dengan baik, lancar dan ia banyak mengikuti ekskul dan organisasi sesuai dengan tekadnya. 

     

    "Habis ini pelajaran apa Fel?"

    "Pelajaran Seni Budaya Mel, pelajaran Bu Tisya." Jawab Felicia dengan menekan nama Bu Tisya. 

    "Oh ya, hahaha kenapa sie? Kok gitu banget ngomong Bu mmtf.." Ucapan Melody terpotong karena mulutnya dibekap oleh Felicia. 

    "Jangan keras-keras, kemarin kata Kakak kelas orangnya galak, serem deh pokoknya."

    "Hieleh, gak digalakin, asal kamu gak salah aja."

    "Huh gak percaya yaudah."

     

         Tibalah saatnya jam pembelajaran Seni Budaya. Bu Tisya masuk dengan membawa aura menyeramkan. Tapi Melody santai tak seperti yang lain, karena dia suka hal-hal berbau seni. 

     

    "Selamat sore anak-anak, sebelumnya perkenalkan nama Ibu, Bu Tisya. Di sini ibu mengajar mapel seni budaya."

    "Sore buu, salam kenal…"

    "Oke hari ini ibu belum akan membahas perihal pembelajaran, melainkan ibu akan memberikan sedikit materi Pembentukan Karakter. Ibu akan memperlihatkan beberapa video untuk merenungi dan mulai berubah menjadi anak yang dewasa."

     

         Semua anak diam mendengarkan dengan baik video yang sedang diputar. Video itu tentang kisah perjuangan hidup seseorang untuk bertahan hidup. Hal ini membuat Melody terisak, menangis kecil mengingat perjalanan hidupnya. Banyak yang melihat ia bingung, merasa Melody terlalu lebay. Padahal hidupnya cukup berat. 

     

         Saat video kedua diputar, terdengar alunan lagu begitu mengena di hati. Ciptaan Melly Goeslaw tentang sosok yang menjadi alasan Melody untuk tetap bertahan hidup. Dan juga menjadi anak yang luar biasa. Melody tambah menangis kencang dan disusul dengan teman-temannya yang juga terenyuh hatinya. 

     

         Setelah waktu pulang tiba, Bu Tisya berpesan untuk 'Meminta maaf kepada orang tua terutama Ibu.' Hal ini membuat Melody ingin terus mengeluarkan butiran-butiran mutiara dari kedua matanya. 

     

         Sesampainya di rumah, ia menemui Neneknya untuk meminta maaf. Belum sampai ia menemui Neneknya. Papanya datang seraya berkata, 

     

    "Kamu ikut Papa ya… Kasihan Nenek capek menjaga kamu, lebih baik ikut Papa di sana ada Mama baru ka.. " Ucap Papa terpotong oleh tanggapan Melody. 

    "Aku gak mau Paa, aku mau di sini aja. Gak papa kok, Melody gak papa Pa. Masalah Nenek, Melody janji bakal jadi anak yang mandiri."

    "Yaudah terserah kamu, Papa gak mau maksa. Tapi kenapa?"

    "Melody gak suka sama lingkungannya. Melody udah nyaman di sini."

    "Oke kalo begitu Papa pulang dulu,"

    "Bye bye Papa."

     

         Melody bergerak maju meraih tangan Papanya lalu menciumnya. Membuat Papanya bangga melihat anak yang tinggal sampai besar bisa tumbuh menjadi anak yang penuh dengan etika, adab dan juga bertanggung jawab. 

     

          Setelah kepergian Papanya, Melody kembali menangis kesakitan. Dadanya terasa sesak, seperti dihantam beribu batu. Ia takut, hingga ia sulit bernapas. Sampai akhirnya ia pingsan. Neneknya yang melihat itu, berlari memanggil Papanya. Syukur Papanya juga berfirasat akan ada hal yang terjadi. 

     

          Saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, Mobil yang dikendarai oleh Papa Melody tertabrak mobil truk yang melaju cepat dari arah kanan. Hal ini membuat Papa Melody langsung banting setir menuju beton pembatas jalan. Papa Melody hilang kendali dan mobil menabrak beton. 

     

          Keadaan mobil sudah rusak, bentuknya sudah tidak bisa dikatakan mobil lagi. Kondisi Papa Melody sudah mengenaskan dahi yang mengeluarkan darah begitu banyak. Sedangkan Melody ia tidak terluka, dan ia bangun di saat Papanya mengalami kecelakaan. Banyak sekali yang menolong dan mereka dilarikan ke rumah sakit terdekat. 

     

          Setelah menunggu lama, datanglah seorang dokter kemudian ia berkata, 

     

    "Dek, kamu anak dari pasien ini?"

    "Iya Dok.."

    "Mari masuk, Ayah kamu ingin berbicara kepadamu."

    "Iya Dok.."

     

         Melody masuk ke dalam ruangan itu, kemudian ia melihat Papanya yang terkulai lemas. Membuat Melody sakit melihatnya, ia bisa merasakan rasa sakit Papanya. 

     

    "Paa... "

    "Sini nak, sebelumnya Papa mau bicara sebentar sama kamu."

    "Papa minta maaf belum bisa jadi orangtua yang baik buat kamu, belum buat kamu bahagia malah membuat kamu harus terus mengalah. Nak ingat pesan Papa 'Tetap jadi anak Papa ya… Jangan berubah jadi sosok yang lain, janji buat terus bahagia. Raih semua yang kamu impikan. Jangan takut, jangan nyerah Mama sama Papa ada di dekatmu. Kita gak pergi nak,' ingat ya.."

    "Iya pah, Melody inget. Papa kenapa ngomong gitu?"

    "Papa gak kuat nak, Papa harus pergi. Dan ingat ini untuk kebutuhan kamu Papa sudah menyisihkan uang Perusahaan untukmu dan juga uang hasil dari itu akan masuk ke kamu. Kamu ahli waris Papa nak, jaga diri baik-baik.."

    "Papah jangan Paa.. Melody gak kuat sendiri. Melody mau ikut Papa.. "

    "Tin…Tin… Tin... " Suara alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring, terlihat pada layarnya terdapat garis lurus yang menandakan tiadanya Papa Melody. 

    "PAPA…!!!" Teriak Melody begitu keras dan terdengar pilu. 

     

         Hancur sudah hidup Melody, ia tak kuasa menahan tangis, sakit di dadanya kembali menyerang ini begitu keras bertubi-tubi seperti hidupnya yang diserbu berbagai rintangan. Ia selalu merintih untuk ikut mereka pergi. 

     

    "Paa.. Maa.. Melody mau ikut.. "

    "Melody takut Maaa... Melody gak bisa apa-apa Maa.. Melody gak kuat Maa... "

    "Aku harus gimana Tuhan, aku lelah dengan hidup ini. Apalagi yang harus aku lakukan? Bertahan untuk siapa? Untuk mereka?"

    "Mereka udah gak ada, aku harus gimana?"

    "Hey kamu gak sendiri sayang.. Ada Nenek di sini. Jangan takut, Nenek yang bakal jaga kamu dan jangan pernah bertahan hanya untuk orang lain. Lebih baik bertahan untuk dirimu sendiri. Kamu berhak bahagia Nak.."

    "Nek... Makasih udah ada buat Melody, tapi Melody takut buat Nenek kesulitan. Nenek seharusnya menikmati masa tua, ini malah merawatku.." Ucap Melody dengan nada sedih.

    "Tak apa Nak, Nenek bersyukur malah karena Nenek jadi punya temen di rumah. Gak sendirian karena ada kamu. Nenek dulu mikir kalo gak ada kamu, mungkin Nenek hanya sebatang kara di kampung. Nenek juga butuh kamu sayang.."

    "Iya Nek, makasih…"

    "Melody sayang Nenek.."

    "Nenek juga mau kasih tau 1 hal ke kamu."

    "Apa itu nek?"

    "Sebenarnya, Nenek tau kamu suka nangis karena kamu merasa hidupmu tak sesuai harapanmu bukan? Nenek selalu bilang jangan cengeng itu agar kamu bisa kuat Nak, kamu boleh nangis di depan Nenek tapi jangan di depan banyak orang. Biarkan mereka hanya melihat tawa tanpa melihat sedih di wajah kita. Kita harus menjadi wanita yang kuat seperti Ibumu dulu Nak."

    "Maaf Nek Melody gak tau, makasih Nenek sudah ada untuk Melody dan menerima Melody dengan apa adanya."

    "Sama-sama sayang.. "

     

         Beberapa saat setelah itu, Ibu tirinya datang dan melenggang masuk ke ruangan tempat Ayahnya berada kemudian berkata,

     

    "Rumah dan seluruh harta Ayah kamu ada ditangan saya, maka kamu tidak bisa memilikinya."

    "Iya silahkan ambil sepuas Anda.." Kata Melody dengan tegas, tanpa ada rasa takut sedikitpun. 

     

         Setelah pemakaman Ayahnya usai, Melody pergi ke rumah pohon untuk menenangkan diri. Suasana disana sangat mendukung hatinya. Surya yang berpulang, cahaya yang meredup, serta senja yang menyambut begitu hangat. Seperti orangtuanya yang sudah berpulang, kasihnya meredup tetapi cintanya begitu hangat di dalam hati. Sehingga enggan untuk melupakan dan lebih memilih terperangkap di lubuk hati yang terdalam. 

     

    "Maa.. Papa udah nyusul Mama di sana, seru gak? Melody mau ikut…"

    "Tapi… Nenek kasihan Maa Paa, aku juga mau tetap berjuang selagi nafas berhembus.. Aku gak mau nyerah gitu aja. Aku bakal banggain Mama sama Papa. Sekarang aku paham kenapa Tuhan menakdirkan ini untuk aku, Tuhan ingin menjadikan aku anak yang kuat, anak yang bisa banggain Mama Papa dan pastinya bisa menemani Nenek di usia tuanya." Ucapnya begitu mengena di hati siapa saja yang mendengarnya. 

    "Terimakasih Tuhan akan segala yang telah Engkau berikan kepadaku..Aku sungguh bersyukur akan takdirmu.." Ucapan itu keluar dengan begitu lirih seakan ia telah mengikhlaskan takdirnya. 

     

         Keesokannya setelah kejadian itu, Melody telah bangkit menjadi wanita kuat, pintar, ceria dan baik hati. Ia berjanji untuk menjadi seperti Melody Lagu yang keberadaannya bisa menenangkan pendengarnya dan Senja yang kepergiannya begitu hangat meninggalkan kenangan indah.

         

     

         



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Intan Heryani

    46 menit lalu

    Mentari dari Desa

    Dibaca : 44 kali