Usaha dan Doa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

9F.2. Ani Amilatul Ilma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 hari lalu

4 hari lalu

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Usaha dan Doa

    Menceritakan tentang Aku yang ingin menemukan bakatku.

    Dibaca : 35 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                                    Usaha dan Doa

                              Oleh: Ani Amilatul Ilma

     Seluruh kota terlihat gelap gulita. Bintang dan bulan seakan tertelan oleh sang malam. Rintikan hujan menghiasi jalanan yang kini mulai basah. Aku tengah mengayuh sepedaku sekuat tenaga, beradu dengan dinginya malam dan rintik hujan. Tak lama kemudian, Aku sampai. Perlahan Aku membuka pintu, kulihat semua keluargaku sedang berkumpul dengan raut wajah yang bahagia.

    "Assalamualaikum" Salamku saat memasuki rumah.

    "Wa’alaikumussalam" Jawab seluruh keluargaku.

    Ibu yang melihat Aku sudah basah kuyup datang menghampiri dan memberikan sehelai handuk. 

    "Ini handuknya, segera bersihkan badanmu" Suruh ibuku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

    "Ada apa ini? kalian terlihat sangat bahagia" Tanyaku penasaran.

    "Kakak kamu dapat juara 1 dalam lomba esai bahasa Inggris seluruh kampus di Indonesia" Jawab Ibuku tersenyum dan memeluk Kakakku.

    "Selamat ya Kak" Ucapku ikut tersenyum.

    Setelah itu Aku dan keluargaku makan malam bersama. Selepas makan malam, kami kembali dengan aktivitas masing-masing. Aku mulai merebahkan badanku di ranjang. kutatap langit-langit kamar dan perlahan mulai merenung.

    "Ingin sekali rasanya Aku seperti Kakak yang sudah dapat membanggakan kedua orang tua" Batinku dalam hati.

    "Tetapi, Apa yang bisa Aku lakukan? Aku tidak dapat melakukan sesuatu yang bisa dibanggakan, sedangkan Kakak..." Aku menghela napas.

    "Kakak selalu mendapatkan ranking 1 dari kelas 1 SMP hingga kuliah sekarang. Kakak juga mendapatkan beasiswa dikampusnya dan kini Kakak mendapat juara 1 dalam lomba esai bahasa Inggris, ah Aku benar-benar iri padanya" Batinku terus menggerutu. Seketika Aku tersadar akan lamunanku dan segera duduk.

    "Kalau ingin membanggakan seharusnya berusaha terlebih dahulu ya?" Tanyaku pada diri sendiri.

    "Betul, kamu harus berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar apa yang kamu inginkan terwujud" Kata Kakakku yang tiba-tiba berada diambang pintu kamar. Aku menoleh kearah pintu dan menatap mata Kakakku. Akupun mengalihkan pandangan dan menyuruhnya pergi dari kamar.

     Keesokan harinya saat di sekolah, guru bahasa Indonesia memberikan hasil tes Minggu lalu. Lagi-lagi aku mendapat nilai rendah. Aku benar-benar terpuruk saat itu. Kembali mengingat diwaktu sebelum tes, Aku tersadar bahwa saat itu Aku tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Ternyata memang benar, tanpa usaha yang sungguh-sungguh hasilnya tidak akan sesuai dengan apa yang kita inginkan. 

     Dihari yang sama, guru bahasa Indonesiaku mengumumkan bahwa Minggu depan akan dilaksanakan tes lagi. Aku merasa itu adalah kesempatanku agar mendapat nilai yang tinggi. Tiba-tiba Aku mengingat apa yang dikatakan oleh Kakakku semalam. 

    "Betul, kamu harus berusaha dan berdoa kepada tuhan agar apa yang kamu inginkan terwujud”

     Setelah mengingat apa yang dikatakan Kakakku, Akupun lebih rajin belajar. Aku meluangkan waktu untuk belajar kurang lebih 2 jam sehari, dan mengurangi melakukan hal yang membuang-buang waktu. Tidak hanya belajar, Aku juga rajin beribadah dan berdoa kepada Tuhan agar usahaku tidak sia-sia.

     Seminggu kemudian tes sudah berlangsung. Aku telah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan berharap mendapatkan nilai yang tinggi. Tetapi Aku gagal lagi, kini Aku tetap mendapatkan nilai rendah meski tak serendah kemarin. Aku sangat sedih, rasanya benar-benar ingin menyerah.

    "Tidak apa-apa, jangan menyerah. Mungkin saja kamu tidak terlalu berbakat dalam hal akademik, dan lebih berbakat dalam hal non akademik, jadi berjuanglah wahai Adikku!” Kata Kakak menyemangatiku saat mengetahui Aku mendapat nilai rendah. Aku kembali bersemangat setelah mendengar kata-kata Kakak. Mungkin memang benar, bahwa Aku lebih berbakat dalam hal non akademik. 

     Beberapa hari kemudian di sekolah saat pelajaran Seni Budaya, ada praktik menyanyi. Satu persatu siswa maju ke depan menyanyikan lagu yang dipilih. Kini tiba giliranku untuk maju. Entah mengapa sesaat sebelum maju, keringat dingin membanjiri tubuhku. Aku mencoba menenangkan diri, dan mencoba menyanyi dengan maksimal. Tak Aku sangka selepas Aku menyanyi, suara riuh tepuk tangan terdengar sangat keras. Ibu guru dan semua teman-teman memuji lantunan lagu yang Aku nyanyikan. Semua orang di kelas ini, memuji suaraku. 

    "Hebat sekali! Suaramu benar-benar merdu" Puji guruku.

    "Kebetulan sekali akan ada lomba menyanyi, apa kamu mau ikut lomba?" Tanyanya padaku. Aku terdiam sejenak dan kemudian mengangguk.

    "Baiklah setiap pulang sekolah kamu latihan di ruang musik ya, Ibu tunggu" Lanjut guruku.

    "Siap Bu" Kataku.

     Setelah kejadian itu setiap harinya selesai pulang sekolah, Aku selalu berlatih. Aku sangat menikmati latihan itu dan Aku berlatih dengan sungguh-sungguh. Tak jarang Aku berlatih hingga 3 jam lamanya dalam sehari. Aku sangat berharap, agar usahaku kali ini membuahkan hasil. Selain rajin berlatih, Aku juga selalu berdoa. Selepas salat Aku memohon agar semoga apa yang Aku usahakan tidak sia-sia. Aku sangat ingin membanggakan kedua orang tuaku seperti kakak.

     Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku menyanyi membawakan lagu “Gugur Bunga”, dengan khidmat. Namun selesai menyanyi, tidak terdengar suara riuh tepuk tangan seperti saat Aku menyanyi di kelas. Seketika, Aku merasa pesimis. Aku pikir usahaku akan sia-sia lagi. 

    “Tetapi tak apa, Aku sudah mencoba dan berusaha. Tidak ada salahnya bukan?” Batinku.

     Saat pengumuman kejuaraan tiba, juri mengumumkan dari juara tiga, kemudian dua, dan selanjutnya juara satu. Ketika juara satu diumumkan, juri menyebutkan nama lengkapku serta lagu yang kubawakan. Aku sungguh tidak menyangka, bahwa Aku mendapatkan juara satu. Usahaku ternyata membuahkan hasil. Aku benar-benar belajar dari pengalaman ini. Bahwa, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali