Di Bawah Langit Tourtouille - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Rosyid H. Dimas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 November 2021

Senin, 29 November 2021 06:00 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Di Bawah Langit Tourtouille

    Cerita pendek ini diikutsertakan pada lomba cerpen Indonesianatempo.co

    Dibaca : 163 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         18 April. Sebuah pertemuan rahasia di taman Fleuris. Hari itu serumpun bunga narcissus sedang bermekaran dan ditimpa cahaya matahari pukul empat sore. Di sebuah bangku panjang, Louvet memandang mata biru Helena dalam keheningan. Ia kini membayangkan perempuan di hadapannya sedang berjalan ke sebuah altar gereja dengan lelaki lain. Ia lalu merasakan tubuhnya membeku, seolah-olah sedang berada di bawah hamparan langit musim dingin yang menumpahkan badai salju.

         “Jadi, Helena, kalian akan segera melangsungkan pernikahan itu?”

         Helena meraih tangan Louvet dengan jari-jarinya yang terbungkus kain putih. Mereka menggenggam satu sama lain.

        “Keluarga Varanne menginginkan itu harus dilakukan sebelum musim panas nanti.” Helena diam beberapa saat. Ia menyusun kata-kata di dalam kepalanya lalu kembali melanjutkan, “Kau tahu, Louvet, sejak kalian menjatuhkan gudang senjata Baltaise akhir musim dingin lalu, Serville dirundung prahara bertubi-tubi. Aku tidak bermaksud menyinggungmu atau orang-orang seperti ayahmu, tetapi orang-orang kini berbuat semaunya sendiri atas nama roti dan kesetaraan.”

         “Bisakah kita tidak membicarakan itu untuk saat ini, Helena?” ucap Louvet seperti berbisik. “Itu hanya akan membuat kita berdebat satu sama lain.”

         Mereka kembali diam. Kini Helena melepas satu tangannya dari genggaman Louvet lalu meraba kaki jenjangnya di balik gaun berenda.

         “Sebenarnya apa yang kalian inginkan, Louvet?” tanya Helena dengan suara rendah. Ia memandang ke jalanan dan melihat di seberang, seseorang mengenakan kulot sebatas lutut digiring dari sebuah toko roti oleh empat orang bersenjata. “Aku tahu kau tidak menginginkan roti,” lanjutnya kemudian.

         “Kau benar, Helena,” jawab Louvet. “Aku tidak menginginkan roti. Yang kuinginkan adalah kesetaraan.”

         “Kesetaraan,” ulang Helena dengan suara datar. “Seandainya apa yang kalian inginkan itu berhasil, maksudku yang kaukatakan kesetaran itu, bahwa seandainya kami akhirnya melepaskan hak-hak istimewa kami, apakah kau juga akan memberikan kesetaraan itu kepada orang-orang yang bekerja di pabrik milik keluargamu?”

         “Dengan kata lain,” lanjut Helena. “Kau hanya memanfaatkan mereka untuk kepentinganmu sendiri. Dan, pada akhirnya, yang memegang pemerintahan Tourtouille adalah orang-orang dari kalanganmu sendiri.”

         “Kami akan menjadi perwakilan dari mereka,” jawab Louvet.

          “Perwakilan,” ulang Helena. “Kami sudah melakukannya sebelum pemberontakan musim dingin itu.”

         “Apakah kita membuat pertemuan ini hanya untuk berdebat, Helena?” Louvet melepaskan genggaman tangannya. “Seharusnya kita membicarakan bagaimana cara menggagalkan pernikahanmu dan Varanne.”

         “Hubungan kita sangat rumit, Louvet. Bahwa aku, setidaknya menurut tradisi yang ingin kalian runtuhkan, adalah perempuan yang lahir sebagai kalangan bangsawan. Bahwa kau adalah seorang yang lahir sebagai kalangan biasa, meskipun hartawan. Kita tidak bisa memisahkan diri dari persoalan ini. Tetapi, jika kau ingin menggagalkan pernikahan itu, mungkin, membawaku pergi dari Serville adalah pilihan satu-satunya.”

         Sembari merenungkan kalimat terakhir Helena, Louvet mencondongkan tubuh ke depan dan bertopang dagu dengan genggaman tangannya sendiri. Suara Helena berputar-putar di dalam kepalanya seperti himne yang dilantunkan di jalan-jalan Serville setelah merebut Baltaise pada musim dingin lalu. Dari selatan, seseorang berjalan tergesa-gesa melewati mereka. Helena menyembunyikan wajah di balik kain tipis yang diturunkan dari topinya. Louvet membenamkan dagu di kerah mantelnya. Di kejauhan, terdengar sayup-sayup suara tembakan. Di barat, matahari berwarna keemas-emasan.

    ***

         Sejak pertemuannya dengan Helena sore itu, Louvet menjadi lebih banyak merenung dengan dirinya sendiri. Di salon-salon yang diikutinya, di mana pertemuan-pertemuan dilakukan untuk membicarakan lebih jauh tuntutan-tuntutan yang akan diserahkan saat sidang majelis, Louvet hanya mendengarkan orang-orang yang saling mengeluarkan gagasan dengan sikap acuh tak acuh. Ketika ia ditanya mengenai pendapatnya, Louvet hanya menjawab bahwa ia menyetujui hasil apa pun selama itu baik untuk bangsa Tourtouille.

         Suatu kali, ketika sebuah pertemuan sedang berlangsung di kedai Clornet, Louvet memisahkan diri dari kerumunan dengan duduk di hadapan sebuah jendela. Ia menatap kaca jendela yang sedikit kotor oleh debu dan melihat waktu berkelebat sementara Helena berada di dalamnya. Sebuah tangan menyentuh bahunya dan meleraikan lamunannya yang sublim. Itu lengan ayahnya, Verlin. Lelaki jangkung yang selalu membawa sebuah tongkat di tangannya itu lantas duduk di seberang Louvet.

         “Sepertinya sesuatu sedang mengganggu pikiranmu, Louvet.”

         “Hanya membayangkan bagaimana Tourtouille di masa depan,” tanggap Louvet singkat.

         Verlin menyeringai. Ia menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya dan berucap, “Apa kau akan berbohong kepada ayahmu sendiri?”

         “Apa maksud Ayah?” Louvet mengernyitkan dahi.

         “Jangan kaukira aku tidak mengetahui pertemuan-pertemuan rahasiamu dengan gadis dari keluarga Antoine, Louvet.”

         Louvet menegakkan tubuh. Matanya terbuka penuh seperti tirai opera. “Dari mana ayah mengetahuinya?”

         “Dari mana aku tahu, itu tidak penting. Tapi, apa kau benar-benar mencintainya?”

    Louvet diam. Perasaan aneh kini justru menyergap dadanya. Ia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Helena setelah ini.

         “Sebagai seseorang yang pernah menelan masa muda, aku memahamimu, Louvet. Tapi, sekarang buakanlah saatnya memikirkan perasaan seperti itu. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana mencerabut akar-akar busuk dari tanah Tourtouille,” Verlin berhenti sejenak. “Lagi pula, kau tidak akan bisa menikahi gadis itu selama tradisi buruk masih merantai bangsa kita. Orang-orang itu mengira kalau diri mereka adalah orang suci yang diturunkan Tuhan dari surga untuk membimbing kita yang hanya sekumpulan domba-domba pendosa.”

         Diam-diam Louvet membenarkan perkataan ayahnya. Ia hanyalah seorang jelata, dan orang dari kalangan biasa dalam tradisi kuno selamanya tidak diperkenankan untuk menikahi seseorang berdarah bangsawan. Louvet memalingkan pandangannya ke kerumunan yang sedang berdialog. Dilihatnya seseorang mengenakan celana panjang yang lebar, barangkali buruh dari sebuah pabrik, menyandarkan tubuhnya begitu rupa pada dinding, mengelus sepucuk senapan. Orang itu menginginkan roti, tentu saja, dan peniadaan kelas-kelas, pikir Louvet. Tetapi, ia tahu, orang-orang dari kalangannya sendiri hanya menginginkan kesetaraan sebatas meniadakan hak-hak istimewa kaum bangsawan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berada di dalam pemerintahan Tourtouille.

         Alih-alih sebuah pencerahan yang ia dapat dari perkataan-perkataan ayahnya, Louvet justru merasakan kepalanya semakin berisik oleh kemungkinan-kemungkinan yang lain, yang buruk serta membahayakan dirinya dan Helena. Louvet berdiri dari kursi dan mengenakan mantelnya. Ia akan pulang untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Verlin memahami Louvet dan membiarkan anak lelakinya keluar dari kedai Clornet. Di luar, Louvet memesan kereta. Ia meminta kusir untuk membawanya memutar melalui sebuah jalan yang disebutkannya. Ketika kereta itu sampai di depan sebuah rumah luas yang dihiasi lambang keluarga Antoine, Louvet menyuruh kusir menarik tali kekang kuda.

         “Helena d’Antoine,” bisik Louvet sembari memandang rumah itu melalui jendela kereta. “Ada hal lain yang bisa kulakukan, yaitu membunuh Varanne. Tapi, aku tahu itu sama saja dengan mengotori diriku sendiri.” Louvet diam beberapa saat. Ia menyalakan cerutu lalu kembali berbisik dengan nada suara yang ganjil. “Ya, tapi kita semua adalah orang-orang kotor, Helena.”

         Kusir memacu kudanya kembali. Kereta bergerak melewati pohon-pohon tilia yang tinggi. Louvet menemukan Helena berlari-lari di dalam kepalanya sendiri.

    ***

         6 Mei. Serville diliputi kekacauan akibat majelis tidak menyetujui tuntutan “kesetaraan” dari pihak revolusi. Sidang hanya menyetujui persoalan roti, bukan peniadaan pajak ataupun hak-hak istimewa lainnya yang dimiliki kalangan bangsawan. Maka, orang-orang yang kini menyebut diri mereka sebagai “warga negara” menginginkan dilakukannya sidang kedua. Dan sebagai akibatnya, Serville kembali dipenuhi teriakan-teriakan tentang roti dan kesetaraan. Lagu himne penyerangan musim dingin kembali dikumandangkan di jalan-jalan yang diapit pepohonan tilia, serupa mazmur yang melengking membelah udara.

         Dalam suasana mencekam serupa kanon-kanon yang diledakkan di tengah kota itu, Louvet menerima selembar surat dari seorang utusan. Surat itu berisi tulisan tangan Helena yang mengabarkan bahwa pernikahannya ditunda hingga akhir musim panas. Satu persoalan berakhir baik untuk sementara waktu, pikir Louvet setelah beberapa kali memuji Tuhan. Tetapi, persoalan lain yang lebih genting, sedang mengendap-endap seperti seorang pembunuh menunggu malam tanggal 8 Mei. Pasukan revolusi akan kembali bergerak di jalan-jalan Serville seperti musim dingin kemarin untuk menangkap dan mengumpulkan para bangsawan ke sebuah penjara besar di daerah Dayse. Setelah itu, mereka akan kembali berunding dengan raja agar menyetujui tuntutan yang sebelumnya telah ditolak.

         Louvet lantas menulis selembar surat singkat kepada Helena. Di dalamnya, dia menyetujui usulan kekasihnya itu tentang meninggalkan Serville yang diucapkannya saat di taman Fleuris. Louvet akan menunggu di balik pagar rumah keluarga Antoine dengan sebuah kereta pada tengah malam tanggal 7 Mei. Namun, saat surat itu akan diserahkannya kepada orang kepercayaannya yang bernama Brune, Louvet mengurungkan niatannya lalu merobek kertas di tangannya. Kini ia berpikir, bukankah rencana penyerbuan tanggal 8 itu bisa menggagalkan rencana pernikahan Helena dan Varanne? Jika para bangsawan dikumpulkan di Dayse, itu berarti tidak akan ada pernikahan apa pun.

        “Tidak, itu hanya akan menjadi skandal jika orang-orang mengetahuinya," bisik Louvet kepada dirinya sendiri. "Mereka akan menulis di dalam pamflet-pamflet, putra seorang pejuang revolusi membawa pergi putri seorang bangsawan. Lagi pula, jika rencana penyerbuan ini tercium hingga ke hidung raja, barangkali mereka akan meninggalkan Serville lebih dulu. Yang lebih buruk, mereka akan membentuk kekuatan bersama para penentang revolusi yang telah bergerak di daerah pesisir Herva.”

    ***

         8 Mei. Malam itu himne penyerangan musim dingin menggema di penjuru Serville. Di depan pintu rumah keluarga Antoine, Louvet berdiri bersama seratus pasukan yang menenteng senapan, senjata tajam, dan obor yang membuat Serville berwarna merah. Mereka akan menggiring keluarga Antoine ke jalan Connie di mana kerete-kereta telah berbaris serupa sekumpulan prajurit dalam peperangan. Setelah teriakan-teriakan melengking di udara, pintu rumah itu terbuka sesaat kemudian. Antoine berdiri di ambangnya. Di belakang Antoine, Helena berdiri memeluk ibunya dan diapit oleh kedua saudara lelakinya.

         Louvet lalu memerintahkan sepuluh orang untuk membawa semua anggota keluarga Antoine, kecuali Helena. Louvet menahan kekasihnya itu untuk sementara di dalam rumah. Ia meminta Reynaud, seorang temannya, untuk membiarkan mereka berdua berbicara barang beberapa menit.

         Helena membawa Louvet ke sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya lilin. Seperti laiknya sepasang kekasih yang membuat pertengkaran, mereka duduk berseberangan dan saling membuang muka satu sama lain.

         “Apa kalian berniat melenyapkan kami, Louvet?!” seru Helena dengan kedua tangan terlipat di dada.

         “Tak ada yang akan melenyapkan para bangsawan, Helena,” jawab Louvet. “Kami hanya akan menahan kalian sementara waktu. Itu saja.”

         “Omong kosong!” Helena mendengus. “Pada nantinya rencana kalian akan berakhir seperti pembantaian para penjaga Baltaise. Itulah sifat murni para pemberontak yang tidak beradab.”

         Louvet memandang Helena. Wajah perempuan itu bersemu kekuningan sebab cahaya temaram lilin.

         “Jangan berbicara adab denganku, Helena! Apa memungut pajak dan membiarkan rakyat kelaparan bisa kausebut dengan perbuatan beradab?”

         Helena diam.

         “Jawab, Helena! Apa kalian, orang-orang dengan darah suci dan memiliki hak-hak istimewa yang diberikan secara langsung oleh Tuhan adalah sekumpulan orang beradab?”

         Helena tetap bungkam.

         “Kita semua bukanlah orang-orang yang beradab, Helena, melainkan sekumpulan domba pendosa yang kotor. Itu sebabnya kami memperjuangkan keseteraan!”

         “Kesetaraan,” ulang Helena. “Seharusnya kau sadar Louvet, bahkan seandainya kerajaan Tourtouille runtuh dan kalian menggantinya dengan bentuk pemerintahan yang lain, kesetaraan selamanya hanyalah halusinasi. Tidak ada kesetaraan di dunia ini, Louvet. Tidak ada!”

        Kini keduanya dibungkam kebisuan. Kata-kata yang baru saja diucapkan Helena berputar-putar di kepala Louvet dan membuatnya mengingat seorang pekerja yang mengelus pucuk senapan di kedai Clornet. Sejenak ruangan itu menjelma keheningan gereja setelah langkah kaki jemaat lenyap dari aulanya.

         “Apakah kau mencintaiku, Helena?” tanya Louvet tiba-tiba.

         “Apakah kau bertanya untuk sesuatu yang sudah kauketahui?”

         “Kalau begitu ikutlah denganku. Aku akan menjamin keselamatanmu dan keluargamu jika perlu. Setelah apa yang kami inginkan selesai, kita berdua akan menikah.”

        “Aku tidak yakin dengan ucapanmu. Membawaku ke Dayse, kau hanya akan menemukan tubuhku berlumuran darah. Atau, bahkan sebelum sampai di sana, kau sudah melihat kepalaku digiring orang-orang di atas tombak seperti yang terjadi pada Feraud yang malang saat musim dingin itu," Helena membuat jeda. "Mengapa kita tidak mengakhiri semuanya sekarang saja?”

         “Apa maksudmu, Helena? Apakah kau ingin hubungan kita berakhir?”

         “Tidak, Louvet,” Helena menyeringai. Tangannya yang kecil lalu menyingkap gaun dan mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam stokingnya. “Aku mencurinya dari kamar saudaraku. Kau tahu, sejak kalian merebut Baltaise dan membuat kanal-kanal Serville digenangi darah, aku memliki keinginan kecil untuk membunuhmu. Tentu saja, setelah itu aku juga akan meledakkan kepalaku sendiri untuk menyusulmu,” Helena menimang-nimang pistol di tangannya. “Tapi, rupanya aku tidak memiliki keberanian semacam itu. Itu karena aku mencintaimu. Aku tahu kau menderita, Louvet. Aku pun demikian. Dunia ini hanyalah penderitaan. Tetapi, akan lebih baik jika kita mengakhiri penderitaan ini dan pergi darinya secara bersama-sama.”

         Helena meletakkan pistol ke permukaan meja di depannya. Louvet memandangi perempuan itu bergantian dengan pistol yang mulai menguarkan aroma kematian. Bayang-bayang yang diciptakan api lilin kini menjelma tangan-tangan gaib maut yang siap mencengkeram keduanya. Sayup-sayup terdengar derap langkah kaki. Dari luar, ditingkahi bunyi lonceng tanda bahaya yang bergema di dinding malam, terdengar himne musim dingin yang dinyanyikan serentak;

    “Di bawah langit Tourtouille,

    berjalan para pemberani,

    kebahagiaan mereka dibangun dari,

    tombak yang diciptakan untuk tirani.”(*)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.