Fisika Eksposisi, Sebuah Bayangan di Tengah Ramainya Wacana Merdeka Belajar

Kamis, 2 Desember 2021 18:07 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah Catatan Pengalaman Belajar Fisika Mandiri

Suatu ketika dosen saya memposting kertas ujian mahasiswanya di Instagram. Seperti yang dapat diduga karena mata kuliah yang diampu adalah fisika, maka kertas itu penuh dengan persamaan dan angka-angka. Apakah ada penampakan aneh dikertas ujian itu? jawabannya adalah tidak ada. Begitulah fisika. Isinya hanyalah rumus dan angka-angka.

Jika anda ada waktu senggang atau sedang tidak ada kerjaan, maka cobalah masuk di kelas Fisika. Tak perlu sebuah keburuntungan untuk bisa menyaksikan papan tulis di depan kelas itu penuh dengan persamaan dan angka-angka. Apakah ada penampakan aneh di papan tulis itu? jawabannya adalah tidak ada. Begitulah Fisika, isinya hanyalah rumus dan angka-angka.

Andai bisa mengumpulkan kertas kerja Fisika milik saya sejak SMP, SMA bahkan hingga kuliah maka akan terlihat hal yang sama. Isinya adalah rumus dan angka-angka. Apakah ada keanehan di kertas buram itu? jawabannya adalah tidak ada.

Peristiwanya bermula ketika saya sering berkomunikasi dengan seorang siswa di sekolah. Ada salah satu siswa yang cukup sering bertanya, bahkan mencari saya sewaktu jam istirahat. Dia selalu datang dengan kertas yang sudah penuh dengan rumus dan angka-angka. Sejak kelas satu sampai kelas tiga, dia sering datang di saat jam istirahat. Dia datang dengan kertas yang sudah penuh dan saya tinggal bertanya padanya di beberapa bagian rumus itu. Apakah ada yang aneh di komunikasi itu? jawabannya adalah tidak ada keanehan apapun. Akhir dari setiap pertemuan itu adalah saya memberi paraf pada hasil kerjanya, sebagai tanda bahwa hasilnya sudah benar, setelah melewati satu atau beberapa kali korespondensi.

Sejak pertengahan tahun pertama saya memintanya untuk membuat gambar kasusnya terlebih dahulu, sebelum dia menuliskan rumus-rumus. Ini saya lakukan bukan karena alasan pedagogik, namun hanya untuk alasan kepraktisan. Akan lebih mudah bagi saya ketika gambar obyeknya sudah tertera di kertas kerja. Seringkali saya tidak bisa memulai mengoreksi, karena tidak bisa memastikan apakah simbol dan penanda yang dia gunakan di rumus sudah sesuai dengan obyeknya atau tidak. Saat itu saya harus bolak balik melihat kertas kerjanya, kemudian melihat soal di buku paket tempat kasus itu berada. Keadaan kadang menjadi sulit ketika dia tak membawa buku acuannya.

Masalahnya kemudian berkembang. Gambar obyek yang dia sertakan di kertas kerja seringkali terlalu kecil, karena kertas kerjanya tidak cukup besar untuk menampung gambar, rumus, dan angka-angka menuju hasil ahirnya. Sering juga gambarnya hanya asal-asalan. Pada pertemuan selanjutnya saya minta untuk memakai kertas folio agar gambar dan hasil kerjanya tertampung dengan baik. Saat itupun alasan saya hanyalah seputar kepraktisan pengoreksian dan kerapian saja. Namun ternyata setelah menggunakan kertas folio itu, gambar yang ia buat juga tetap kecil dan tidak begitu rapi.

Sejak beberapa kali pertemuan itu saya mulai berpikir tentang diri saya sendiri. Dulu saya juga tidak begitu mementingkan gambar, saya langsung saja cas-cis-cus dengan rumus dan angka-angka. Karena menurut saya gambar tidak begitu penting, yang penting rumus dan angkanya. Itu karena hasil kerja saya tidak pernah saya komunikasikan dengan orang lain, cukup saya konsumsi sendiri. Tetapi barangkali alasan yang paling mendasar adalah karena soal-soal dan bab yang harus dikerjakan terlampau banyak, sehingga seringkali menggambar adalah aktifitas yang membuang-buang waktu. Itulah mengapa kertas buram saya saat itu hanya berisi rumus dan angka-angka. Situasi menjadi lain ketika saya harus mengoreksi hasil kerja orang lain. Saya butuh gambarnya sebagian acuan. Jika gambarnya tidak lengkap dengan simbol acuannya, maka rumus itu kehilangan koneksinya dengan dunia nyata, yang diwakili oleh gambar itu.  Tiba-tiba saja saya merasa gambar itu begitu sayang jika harus dianaktirikan, kalah dengan rumus dan angka-angka.

Pada tahun kedua saya mulai memintanya untuk menuliskan argumen sebelum meletakkan rumus. Hal itu saya perintahkan karena dari beberapa kali pertemuan, saya mulai berpikir bahwa penting baginya untuk menuliskan argumen sebelum meletakkan rumus, sehingga dia memiliki alasan tertulis yang tegas mengapa dia menggunakan rumus A dan bukan rumus B. Harapan saya agar dia terbiasa mengutarakan argumen secara tertulis, walaupun sebenarnya tujuan awal saya hanya untuk kepraktisan pengoreksian semata. Saya juga tidak perlu bertanya apa argumentasi dari penggunakan rumus tersebut. Saya bisa langsung melompat ke pertanyaan lanjutan “Sudah tepatkah argumen itu?”. Namun ketika saya memintanya untuk menuliskan argumen, dia sangat kesulitan, padahal semua rumus telah lengkap ia kerjakan. Kemudian saya berusaha memberi contoh kepadanya. Dan betapa kagetnya saya, ternyata saya juga mengalami kesulitan untuk menuliskan argumen secara efektif, saya kesulitan membangun argumentasi secara tertulis. Saat itu juga saya mulai menyadari, betapa sebuah argumen yang implisit di dalam kepala tidak mudah untuk dituliskan jika kita tidak terbiasa.

Proses korespondensi itupun berlanjut dari sekedar menuliskan argumentasi yang mendasari pemilihan rumus, menjadi membahasakan ulang secara tertulis proses penggunanaan rumus itu hingga ke tahap yang murni matematis. Pada tahap yang murni matematis saya cukupkan tanpa argumentasi, karena menurut saya hal itu merupakan ranah mata pelajaran matematika.

Begitulah cerita singkatnya, hingga akhirnya kertas folio itu memiliki format 30 persen gambar, 30 persen argumen dan 40 persen rumus dan angka-angka. Tentu saja formasi itu bisa berubah jika proses matematisnya butuh ruang yang lebih banyak. Formasi ini di satu sisi membuat saya bisa memahami hasil kerjanya dengan lebih komprehensif, dan ternyata di sisi lain secara tak langsung siswa juga bisa menyampaikan hasil kerjanya secara lengkap. Semuanya eksplisit. Saya bisa mengecek apakah gambarnya sesuai dengan simbol dan kode di rumusnya, apakah argumennya sudah tepat, dan apakah argumennya sebangun dengan pilihan-pilihan rumusnya. Siswa ini akhirnya tidak hanya berkutat dengan rumus dan angka, tetapi terlebih dahulu berurusan dengan obyek alam (berupa gambar) dan argumentasi.

Fisika Eksposisi

Istilah Fisika Eksposisi ini sebenarnya adalah istilah yang mubadzir, karena Fisika dalam dirinya adalah sejenis eksposisi. Istilah ini memang tidak bertujuan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru dari Fisika, melainkan hanya berupa klaim bahwa pengajaran fisika telah kehilangan eksplisitas eksposisinya. Pengajaran Fisika telah kehilangan unsur argumentatifnya. Hal ini sebagaimana tampak dalam kertas kerja siswa, betapa dominannya rumus dan angka-angka. Betapa tidak ada perhatian dalam aspek bangunan argumentatif dalam pengerjaan soal. Kertas kerja itu hanya berisi angka-angka. Asumsinya adalah jika rumus dan angka-angka ini sudah sesuai dengan yang diinginkan, maka siswa sudah mencapai pemahaman yang diinginkan.

Asumsi bahwa rumus dan angka-angka ini mencukupi dalam dirinya sebagai ukuran pemahaman siswa bisa diperdebatkan, tetapi tulisan ini hendak menunjukkan bahwa dengan menuliskan argumentasi yang mendasari rumus-rumus itu dan membahasakan ulang secara tertulis proses penggunaannya, dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman mereka terhadap obyek belajarnya. Inilah yang disebut Fisika Eksposisi, sebuah tawaran untuk mengeksplisitkan argumentasi dalam kertas kerja siswa. Karena pengetahuan yang masih implisit di dalam kepala bisa menjadi tegas ketika dituliskan. Bahkan proses penulisan ini dapat memberi imbal balik pada tingkat pemahaman siswa. Karena menulis tidak hanya sekedar mengkomunikasikan pengetahuan yang sudah ada, tetapi juga “memproduksi pengetahuan” yang sebelumnya masih belum begitu jelas (Blakeslee, 1997)[1].

Klaim bahwa menulis dapat membantu pemahaman siswa ini, saya dapatkan ketika mencoba mencari referensi seputar pengembangan pembelajaran. Google search saya banyak “tersangkut” pada info-info pengembangan pembelajaran seputar WAC (Writing Across the Curriculum). Semacam kebetulan bahwa wacana WAC ini saya dapatkan sewaktu korespondensi dengan siswa.

Fisika Eksposisi adalah Merdeka Belajar?

Saat itu belum ada wacana merdeka belajar. Hanya saja pasca tiga tahun mengajar, saya sudah mencoba mengubah gaya mengajar di kelas. Hal itu saya lakukan karena beberapa faktor. Faktor pertama adalah pengalaman di kelas, faktor kedua adalah  perubahan referensi. Pengalaman mengajar di kelas selama tiga tahun mengajarkan saya betapa bisa dibilang tidak ada hasil apapun. Siswa tampak faham hari ini, kemudian sudah lupa saat pertemuan selanjutnya, bahkan seringkali banyak siswa yang mengantuk. Gaya mengajar fisika saya saat itu standar saja, saya menulis di papan tulis tentang teori dan contoh soalnya, kemudian saya jelaskan teorinya, selanjutnya saya beri penugasan.

Suatu hari saya iseng-iseng mencari alternatif. Bertemulah saya dengan sosok Jacotot. Jacotot adalah seorang pengajar yang muncul pada karya seorang filusuf Prancis bernama Jacques Rancière, yang berjudul The Ignorant Schoolmaster. ‘Eksperimen’ mengajar yang dilakukan Jacotot merupakan ketidaksengajaan. Selama menjalani pengasingan di Belgia, dia mengajar kelas Bahasa Prancis untuk siswa Belgia. Saat itu Jacotot hanya menguasai Bahasa Prancis, dia tidak mengerti Bahasa Belgia. Sedangkan para muridnya hanya meguasai Bahasa Belgia. Tidak ada cara bagi Jacotot untuk menjelaskan Bahasa Prancis pada siswa Belgia. Kemudian Jacotot menemukan jalan tengah. Dia memakai buku bilingual Prancis-Belgia yang berjudul Télémaque sebagai alat pembelajaran. Singkatnya Jacotot tak menduga, bahwa hanya dengan menyuruh muridnya membaca buku itu secara berulang-ulang, ternyata mampu membuat mereka menulis Bahasa Prancis dengan baik.

Cerita tentang Jacotot yang “dibawa” oleh Rancière ini membuat saya kaget. Salah satu argumen di dalam karya Rancière itu memuat argumentasi berkenaan tentang bagaimana seorang anak kecil dapat mempelajari bahasa orang tuanya tanpa dijelaskan. Seorang anak kecil dapat mempelajari bahasa hanya dengan mengamati orang tuanya. Fenomena ini diperkuat baru-baru ini, saat anak saya belajar bahasa inggris. Anak saya hanya melihat konten anak berbahasa inggris di youtube, dan ternyata dia bisa berkomunikasi menggunakan bahasa inggris, bahkan dengan pengucapan yang baik. 

Apakah mungkin pembelajaran Fisika dapat menggunakan pendekatan yang mirip dengan yang dilakukan oleh Jacocot? Saya mencoba melakukannya. Siswa saya yang sering datang sewaktu jam istirahat itu sama sekali tidak saya jelaskan perihal materi pelajarannya. Saya memintanya belajar sendiri. Setiap kali dia datang membawa kertas kerjanya adalah hasil dari proses belajarnya sendiri. Kemudian dia menjadi percaya diri. Bahkan ketika saya hendak mengajarinya dia tegas mengatakan “Tidak perlu pak, biar saya pelajari sendiri”. Saya senang bukan karena dia bisa belajar dengan hasil yang benar atau salah, tetapi karena dia percaya bahwa dia bisa belajar mandiri. Inikah yang disebut merdeka belajar? Jika belajar mandiri masuk pada kategori merdeka belajar, maka Fisika Eksposisi bukanlah merdeka belajar itu sendiri, melainkan hanya sebagai penopang dalam proses merdeka belajar. Jika salah satu tujuan pendidikan adalah kemandirian, maka belajar mandiri bisa menopang tujuan itu. Kemandirian harus dijadikan sebagai 'premis' awal.

Saya juga mencoba pendekatan ini di level kelas. Namun seringkali gagal. Hanya berhasil saat jam mengajar saya lumayan panjang sekitar 120 menit. Saya mengajar di sekolah pesantren dengan jam yang terbatas. Terbatasnya jam pelajaran ini dikarenakan banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus ditampung di pesantren. Sekali waktu saya memperoleh waktu tatap muka selama 120 menit. Saya mempunyai cukup waktu untuk memberi kesempatan pada siswa untuk membaca terlebih dahulu materinya selama 15-30 menit, membentuk kelompok dan berdiskusi selama 15-30 menit, kemudian mengerjakan satu soal selama 30-45 menit. Di sisa waktu 30-45 menit saya minta siswa untuk presentasi. Ternyata hasilnya memuaskan. Dari empat kelompok, hanya satu kelompok yang kurang sempurna hasil kerjanya. Ini menunjukkan bahwa ada peluang besar untuk menerapkan pendekatan belajar mandiri di level kelas.

Begitulah cerita mengajar saya di tahun ke-4 dan ke-5. Tahun-tahun sebelum pandemi.  Semoga bermanfaat.

 

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

  

 

 

[1] A. M. Blakeslee, Activity, context, interaction, and authority: Learning to write scientific papers in situ, J. Bus. Tech. Commun. 11, 125 (1997).

Bagikan Artikel Ini
img-content
M Lutfi Fauzi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua