Karena Menulis adalah Belajar - Analisis - www.indonesiana.id
x

laptop

M Lutfi Fauzi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Selasa, 7 Desember 2021 15:49 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Karena Menulis adalah Belajar

    Menulis tidak sekedar menyusun kata.

    Dibaca : 647 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    "Menulis adalah cara terbaik untuk menjadi pembelajar yang baik". Kalimat pembuka ini mungkin tampak aneh. Tapi itulah argumen utama tulisan ini. Sebuah alternatif dalam memandang proses belajar  di tengah minimnya perspektif dalam melihat fenomena pembelajaran.

    Isu tentang rendahnya minat menulis di kalangan akademik kita memang bukan hal baru. Problem ini tak hanya dialami oleh siswa dan mahasiswa tetapi juga para guru dan dosennya. Singkatnya hampir semua yang terlibat dalam sistem pendidikan kita punya minat menulis yang rendah. Rendahnya minat menulis ini jelas berakibat pada rendahnya kualitas akademik dari peserta didik yang dihasilkan oleh sistem pendidikan kita. Padahal kemampuan literasi terutama menulis sangat kuat berpengaruh terhadap kebermanfaatan seseorang di sekolah, di dunia kerja maupun kehidupan personalnya (Graham, 2019).  

    Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. Si dalam tulisannya yang berjudul “Kemampuan Menulis Guru Lemah?” mengatakan bahwa rendahnya kemampuan dan minat menulis ini bisa dilihat pada mandeknya jenjang kepangkatan guru. Secara nasional, sebagian besar kepangkatan guru berhenti pada golongan IV A. Mengapa? Sebab, mulai golongan IV A ke atas kenaikan golongan mensyaratkan komponen dari penulisan karya ilmiah, selain komponen mengajar. Akibatnya, sebagai fakta, dari sekitar 2,6 juta guru hanya 0, 87 % guru yang bergolongan IV B, 0, 07 % untuk golongan IV C, dan 0,02 % untuk guru golongan IV D.

    Salah satu faktor yang sangat mendasar berkait dengan rendahnya literasi ini adalah buruknya sistem pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia, umumnya, tak ada yang mengarahkan siswa untuk menyukai, atau setindaknya memberikan waktu, membaca dan menulis. Siswa hanya dijejali bermacam-macam mata pelajaran dan dituntut untuk melahap habis semua itu. Singkatnya struktur kurikulum sekolah tak begitu banyak memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kapasitas literasi.

    Persis di tengah situasi seperti ini mungkin menjadi penting untuk mengajukan sebuah sudut lain dalam pemahaman tentang proses menulis sehingga kita bisa lebih mengapresisasi sesuatu yang sebelumnya kurang diperhatikan ini. Karena belajar pasti identik dengan membaca maka kalimat pembuka di atas bisa berubah menjadi “Menulis adalah cara terbaik untuk menjadi pembaca yang baik”.

    Menarik jika kita membaca riset yang dilakukan oleh Mark G. Simkin dkk di University of Nevada. Dalam risetnya yang berjudul “Student Perceptions of Their Writing Skills: Myth and Reality” mereka menemukan fakta bahwa meskipun mahasiswa sepakat bahwa menulis adalah hal yang penting untuk dikuasasi ternyata mereka tak memiliki kemampuan yang cukup dalam hal tulis-menulis ini. Menariknya adalah mayoritas dari mereka merasa bahwa mereka punya kapasitas menulis yang baik. Sebuah paradoks persis seperti judul risetnya. Ada mitos yang berkembang di kepala mahasiswa itu bahwa mereka punya kapasitas menulis yang baik padahal realitas berkata sebalikya, mereka tak punya kemampuan itu.  Jadi sebenarnya darimana datangnya mitos itu ? kenapa para mahasiswa merasa memiliki kemampuan menulis yang baik padahal ternyata tidak ?. Saya tak bisa menjawabnya secara pasti. Ada kemungkinan mereka merasa bisa menulis dikarenakan mereka mengenyam pendidikan sekolahan. Mungkin secara tak sadar mereka  membandingkan diri mereka dengan orang yang tak  sekolah. Jika tak sekolah maka tak bisa menulis, jika sekolah pasti bisa menulis. Sebuah biner yang sangat bermasalah. Padahal yang terjadi adalah mereka hanya bisa “mengetik”, bukan menulis ?. Hanya bisa menyalin bukan berekspresi ?. Sebuah konsekuensi logis dari sistem pendidikan yang hanya menjejali siswanya dengan bermacam-macam mata pelajaran tanpa memberi ruang yang cukup untuk tumbuhnya proses literasi yang baik ?. Atau mitos itu mucul karena anggapan bahwa jika mereka bisa membaca tulisan maka dengan otomatis mereka bisa menulis dengan baik ?. Wallahu a’lam.

    Menulis sebagai suatu metode untuk meningkatkan kemampuan membaca, mempelajari sesuatu via teks, memang cenderung diremehkan atau tidak dipahami. Selama ini dianggap tak ada hubungan signifikan antara menulis dengan peningkatan kemampuan membaca. Diasumsikan bahwa membaca dan menulis adalah dua hal yang terpisah, tak begitu terkait. Menulis dianggap hanyalah alat untuk komunikasi, maka pembelajaran tentang menulis hanya ditekankan pada aspek penggunaan bahasa yang benar. Menulis dianggap hanya sebagai alat penyampai pesan. Tak lebih dari itu. Diasumsikan bahwa aktifitas membaca bisa memicu menulis sedangkan menulis hanya berahir pada dirinya sendiri, menulis dianggap tak memberi efek pada membaca. Padahal tidak se-linier itu. Ada hubungan timbal-balik antara membaca dan menulis. Membaca adalah salah satu syarat untuk menulis sedangkan menulis bisa memicu proses pembacaan yang lebih baik.  Pembaca yang baik bisa memicu penulisan yang baik sedangkan menulis yang baik bisa meningkatkan pembacaan yang lebih baik lagi. Sebuah hubungan ‘spiral’. Sebuah hubungan timbal-balik yang saling meningkatkan satu sama lain. 

    Sebuah artikel yang dipublis pada 28 Januari 2010 berjudul “Teaching reading and writing as modes of learning in college: A glance at the past; a view to the future” ditulis oleh Karen B. Quinn dari University of Illinois , Chicago memaparkan bagaimana sejarah singkat pergeseran cara pandang terhadap hubungan antara membaca dan menulis terjadi. Sebuah artikel yang cukup panjang berisi 22 halaman menceritakan sejarah pergeseran cara pandang bermula dari tahun 1800-an sampai sekarang. Sebuah sejarah yang kompleks berisi perbedaan gagasan antara dua "kubu" yang saling bertolak belakang. Antara “kubu” yang melihat potensi menulis sebagai alat pembelajaran dengan “kubu” yang hanya melihat  menulis sekedar sebagai alat komunikasi. Sebuah usaha "awal" untuk mengintegrasikan membaca dan menulis sebagai cara belajar sudah dimulai sejak tahun 1894 oleh National Education Association's Committee of Ten (terdiri dari 10 pimpinan universitas) yang dipimpin oleh Charles Eliot, Rektor Harvard University (Applebee, 1974). Dalam prakteknya gerakan integrasi ini tidak berjalan mulus. Ada banyak friksi yang terjadi di level antar departemen. Hingga berahir ironis karena gerakan yang awalnya bertujuan untuk mengintegrasikan membaca dan menulis sebagai cara belajar ini malah berujung pada pemisahan semakin jauh antara membaca dan manulis.

    Walaupun terjadi kegagalan tetapi usaha-usaha untuk mengintegrasikan membaca dan menulis sebagai sarana belajar tidak berhenti disitu. Singkatnya, karena saya tak punya cukup tempat untuk membahasnya secara detil di sini, di tahun 90-an banyak bermunculan program WAC (Writing Across Curriculum) yang berusaha menggunakan skill menulis sebagai alat belajar pada setiap mata kuliah.

    Laporan hasil riset empiris yang relatif baru terbit pada tahun 2015 disusun oleh Paul Anderson, Chris M. Anson, Robert M. Gonyea dan Charles Paine berjudul “The Contributions of Writing to Learning and Development: Results from a Large-Scale Multi-institutional Study” tak hanya menegaskan klaim teoritis dari ilmuwan-ilmuwan sebelumnya bahwa terdapat relasi kuat antara menulis dengan perkembangan belajar tetapi juga berhasil membantu memperbaiki kelemahan-kelemahan hasil riset empiris sebelumnya.

    Salah satu alasan kenapa menulis begitu penting adalah karena dalam menulis seseorang mengeluarkan isi pikirannya dalam wujud tulisan. Ia aktif, ia berekspresi, ia tidak pasif, ia produktif, ia menghadirkan isi pikirannya untuk ditatap kembali.  Setelah seseorang menuangkan isi pikirannya dalam bentuk tulisan  ahirnya si penulis menghadapi isi pikirannya sebagai obyek yang berada diluar kepalanya. Ia dan pikirannya ahirnya berjarak secara spasial, dan ini tampaknya memungkinakan terjadi penjarakan lebih jauh secara esensial (OLSON, 2001). Ia berada disini sedangkan pikirannya berada di sana. Penulis dapat melihat isi pikirannya sendiri dalam wujud tulisan. Isi pikirannya kini sudah berada diluar dirinya sehingga ia bisa melihatnya, menyentuhnya, menganalisanya bahkan mengkritiknya. Ia saat ini menghadapi bagian dari dirinya sendiri dalam wujud yang lebih tegas, berupa obyek eksternal, bukan lagi sebagai “gelombang” pikiran yang berada di dalam otak. Inilah salah satu kelebihan menulis. Ini memungkinkan seseorang merefleksikan pemikirannya sendiri dengan lebih tersetruktur sehingga si penulis bisa mengembangkan pikirannya karena pemikirannya terekam “disana”, di luar sana, stabil, tegas tak hilang saat ia tidur atau melamun.

    Kondisi seperti diatas tak terjadi dalam proses membaca. Karena kejadian yang sebaliknya yang lebih dominan terjadi pada proses membaca. Dalam proses membaca terjadi transformasi dari obyek eksternal yang tegas menjadi gelombang pikiran di dalam kepala. Disini proses “konsumsi” yang terjadi. Ini lebih pasif. Bukan berarti membaca adalah hal yang tak penting. Karena tidak mungkin kita bisa  menulis tanpa membaca. Hanya saja yang ditekankan disini adalah menulis bisa meningkatkan kapasitas kita dalam membaca. Menulis tak hanya “kelanjutan” dari membaca tetapi merupakan “awal” yang bisa memberi imbal balik pada kapasitas membaca ke level yang lebih tinggi.  Pandangan ini berlawanan dengan aliran “gaya bank” dimana belajar dipandang melulu hanyalah proses mengingat/konsumsi (Freire, 1970). 

    Dalam proses menulis dimungkinkan terjadi pembongkaran pada pengalaman “konsumsi”. Pengalaman konsumsi  dipilih dan dipilah relevansinya, distruturasi, disusun dan dibahasakan ulang sesuai dengan konteks dan tujuan penulisan kemudian ditegaskan sebagai obyek eksternal. Proses menulis ini yang bisa berkontribusi pada pembentukan pembaca yang kritis. Pembaca yang kritis tumbuh karena budaya menulis. Karena dalam menulis ia dibiasakan untuk membongkar ulang hasil-hasil bacaannya, ia tak pasif, ia aktif, ia seorang subyek yang berdiri di depan tulisan bukan sebagai pelahap mentah-mentah suatu tulisan tetapi ia memiliki budaya menyusun dan membongkar suatu tulisan. 

    Persis karena menulis dapat menghadirkan bagian dari diri seseorang dalam dunia eksternal maka bisa jadi muncul rasa tak nyaman ketika menatap tulisannya sendiri. Karena tidak semua orang terbiasa atau siap melihat dirinya sendiri. Seperti sebuah cermin, si penulis menatap dirinya sendiri di dalam tulisan. Bisa jadi muncul rasa “insecure” ketika merasa tulisannya tak layak. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh siapapun yang belajar menulis. Juga sesuatu yang harus disadari oleh seorang pendidik ketika menemani seseorang yang belajar menulis.

    The mind has a thousand eyes, education must look at life through every one of them”. (Geraldine Joncich Clifford).

    Ikuti tulisan menarik M Lutfi Fauzi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali