Sisi Lain - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi kritik. Karya Gerd Altman dari Pixabay.com

Ulida Anggraini

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 13:10 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sisi Lain

    Cerpen berikut berisikan tentang sisi lain dari kehidupan yang kadang dipandang sepele oleh orang-orang. Tapi jika kita masuk dan mencoba memahami tentang sisi lain kehidupan itu, maka kita akan lebih banyak berucap syukur.

    Dibaca : 1.096 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    "kenapa hidup selalu tidak mudah dijalani" pikiran itu selalu memenuhi pikiran seorang gadis dewasa yang kini sedang duduk ditepi jalan, sendirian. Menatap jalanan kota didepannya yang padat.

    Terik matahari yang memantul dengan jendela gedung-gedung tinggi seharusnya mengganggu penglihatannya. Tapi gadis itu benar -benar tidak terganggu dengan itu.

    Pikirannya kacau, raganya lelah. Fase hidupnya saat ini benar-benar tidak baik-baik saja. Banyak hal yang tidak dia mengerti di dunia ini, dunia yang banyak memberikan kejutan sekaligus pembelajaran.

    "lagi, dan lagi, aku benar-benar tidak suka melihatmu seperti ini" Ucap seorang wanita berpakaian rapi yang baru saja duduk di samping gadis itu.

    Dia hanya membalas perkataan temannya dengan hembusan nafas lelah. Siapa pula yang mau hidup dalam kemalangan dengan berbagai rintangan kehidupan.

    "Aku tahu kau sepertinya sangat malas mendengar ini dariku berulang kali. Tapi, semangat Salsa" Ucap temannya lagi. Dia berkata pelan di akhir kalimatnya.

    Entah sudah puluhan kali mungkin temannya itu memberikan semangat untuknya dalam kurun waktu enam bulan terakhir.

    Gadis yang tampak menyedihkan itu bernama Salsa, teman yang memberi semangat untuknya adalah Anni, teman seperjuangan Salsa.

    Mereka benar-benar teman yang serasi memiliki Visi dan misi yang sama, Tapi takdir bekerja ke setiap orang dengan caranya. Anni lebih beruntung dalam menjalankan visi dan misinya, sedangkan Salsa mungkin belum. Mungkin semua itu belum saatnya didapat Salsa. Mungkin saja Salsa perlu dibentuk supaya lebih siap menghadapi berbagai rintangan kehidupan selanjutnya.

    "Aku lelah Anni, aku lelah harus pergi dengan penuh semangat, pulangnya kehabisan semangat, aku lelah mendatangi toko percetakan untuk mencetak foto dan membeli amplop coklat, Aku menyayangkan semua uangku yang sudah kuhabiskan seakan itu semua tidak ada artinya. Aku tahu, itu semua bentuk perjuangan, tapi kapan aku berhenti berjuang seperti ini. Aku benar-benar lelah" Salsa berkata dengan masih menatap ke arah depan, enggan menatap kearah temannya yang dari hari ke hari seakan bertambah cantik, seperti mahasiswa pada umumnya.

    Jauh berbeda dengan dirinya yang kulitnya semakin hitam, badannya yang semakin kurus. Kareba harus berjalan di tengah teriknya matahari mencari pekerjaan. Mencari sebuah rencana kehidupan pasti untuknya dimasa di tengah. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, tepat enam bulan lalu dirinya tidak pernah absen mencari pekerjaan. Menawarkan jasanya ke setiap perusahaan atau sekedar toko kecil yang membuka lowongan pekerjaan. Berharap ada peluang baru untuk hidupnya di kemudian hari.

    "Suatu saat nanti, atau sekali lagi, aku yakin kau akan mendapatkan pekerjaan, percayalah" Anni berucap penuh semangat berharap semangat itu ikut tersalur ke temannya yang tampak benar-benar putus asa.

    "Aku selalu menunggu saat itu, aku selalu berharap aku bangun di pagi hari memikirkan segala kesibukan pekerjaan. bukan seperti Sekarang. Ketika bangun aku langsung merasa kecewa, bingung tidak melalukan apa-apa Sepanjang hari" Dia kecewa kepada dirinya sendiri, apakah dirinya se-tidak bisa diandalkan? Sampai-sampai tidak ada yang menerima dirinya menjadi karyawan kecil yang hanya memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas.

    Sebenarnya dia cukup tahu diri, tidak muluk-muluk yang diinginkan, apa pun dia mau. Bagaimana pun dia menyadari usianya bukan lagu untuk bermalas-malasan, terbaring di tempat tidur seharian. Dia perlu bangun, berdiri, dan berjalan. Perlu usaha nyata untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kelak. Kalau bukan di mulai sekarang kapan lagi.

    "Kau pasti akan mendapat kepastian itu Salsa, tapi mungkin kau perlu banyak menunggu dan sabar, percayalah aku yakin kau pasti dapat" ucap Anni tak patah menyemangati temannya itu.

    Dia wanita baik sekaligus teman yang baik. Selalu ada ketika Salsa menghubunginya untuk sekedar ingin ditemani. Menjadi seorang wisudawan adalah mimpinya tapu sepertinya mimpi itu akan tetap bernama mimpi.

    Salsa sudah pernah mendapat Beasiswa dengan biaya kuliah gratis, tapi tidak dengan biaya hidupnya selama berkuliah. Ayahnya hanya sebatas buruh pabrik dan ibunya hanya sebagai penjahit. Dia punya tiga adik yang masih sekolah. Jadi dirinya benar-benar tidak ingin lebih membebankan keluarganya.

    Salsa juga pernah berpikir di Indonesia banyak sekali perusahaan atau usaha kecil-kecilan, banyak sekali. Tapi mengapa dirinya tidak menjadi salah satu bagian dari banyaknya perusahaan itu.

    Atau mungkin seandainya dia punya cukup uang untuk melanjutkan pendidikan, maka dia tidak perlu susah payah mencari pekerjaan demi melanjutkan ambisinya.

    Tapi dia juga tidak ingin menyalahkan siapa pun, bahkan takdir sekalipun, mungkin dirinya yang harus mendapat jatah seperti ini, supaya mengerti apa itu sebuah perjuangan.

    Tidak apa mungkin dia akan pendapat banyak hikmah dari proses yang luar biasa ini. Salsa menarik nafasnya dalam menoleh ke arah temannya yang kini menunduk.

    "Hey ayo beranjak" ucap Salsa sembari tersenyum simpul mencoba menyembunyikan banyak kesusahan yang masih tersisa. Lagi pula tidak seharusnya temannya ikut berpikir keras.

    Seakan menjadi kebiasaan mereka berdua, saling bercerita dan memberikan informasi. Tertawa bersama saat salah satunya mendapat pencapaian dan bersedih bersama saat salah satunya gagal.

    "Apa kau sudah lebih baik sebarang ?" Tanya Anni, menatap Salsa dengan tatapan khawatir, Salsa hanya mengangguk sembari tersenyum.

    Dirinya tidak tahu, tapi mungkin lebih baik menurut Anni tidak sama dengan yang dirinya maksud. Bebannya akan masih sama, tidak berkurang sedikit pun, dia masih harus berjalan menggapai apa pun yang menjadi tujuannya. Mungkin nanti atau besok, tidak apa, dia akan tetap menunggu.

    "Aku harus segera pergi Salsa, sebentar lagi harus masuk belas, ada jam pelajaran tambahan" Ucap Anni menoleh ke arah Salsa bergantian dengan mobil yang baru saja datang.

    Salsa mengangguk lagi "hati-hati An"

    Anni beranjak dengan tersenyum kemudian pergi, meninggalkan Salsa sendiri yang masih enggan beranjak.

    Entah mungkin dia terlalu dalam meratapi nasibnya sampai dia tidak sadar langit yang tadinya tampak sangat cerah kini berubah abu-abu. Dia baru menyadarinya setelah satu kilatan petir menyambar sisi lain bumi.

    Tidak menunggu waktu lama, kini Salsa sudah berdiri berniat mau pulang sampai tangan dingin seseorang menahan dirinya. Salsa menoleh dan mendapati wanita berpakaian hitam dan putih, dan membawa map coklat persis seperti dirinya. Wanita itu kini sedang mengatur pernapasannya karena kenyataannya dia baru saja berlarian mencari tempat berteduh.

    "Satu hari yang buruk lagi" Ucap wanita singkat sembari tertawa hambar tampak Sekali dari tawanya, bahwa harinya juga tidak baik-baik saja.

    "Hai" Ucapnya lagi mengawali menyapa Salsa dengan tersenyum amat tulus. Tersirat semangat di dirinya. Entah untuk menyemangati dirinya sendiri atau sekedar menyembunyikan sesuatu dengan memperlihatkan semangatnya itu.

    Hal itu membuat perhatian Salsa teralihkan, dirinya menjadi enggan tuk pulang.

    "Hai" Jawab Salsa sembari membalas senyumannya. wanita itu duduk tepat di tempat yang di duduki Anni tadi.

    Salsa kembali duduk, tepat saat air hujan mulai berjatuhan.

    "Kau baru pulang bekerja ?" Salsa bertanya memulai percakapan.

    "Aku tidak seberuntung itu" jawabnya tak bisa ditebak.

    Salsa diam mendengar jawaban itu dirinya sedang mencerna perkataan wanita disampingnya. "Lalu ?" Tanya Salsa lagi.

    Bukanya menjawab pertanyaan Salsa wanita itu malah memperhatikan pakaian dan segala yang Salsa bawa. "Apa kau sedang beruntung?" Ucap wanita itu, malah gantian bertanya.

    Salsa kini yang gantian hanya diam, bukan berniat balas dendam. Hanya memperhatikan rintik hujan yang makin lama makin deras. Sedang mencoba memahami alur pembicaraan wanita yang baru saja mengobrol dengannya itu. Dirinya juga sedang berpikir tipe wanita seperti apa yang duduk disampingnya itu.

    Entahlah dia selalu tidak menyukai orang baru, itulah dirinya. Tanpa dia sadari sebenarnya itu malah menjadi kelemahannya, sering salah menilai orang baru.

    "Boleh kutebak? kau sekarang juga sedang mencari pekerjaan bukan?" Tanya wanita itu lagi karena menyadari Salsa tampak enggan menjawab pertanyaannya sebelumnya, atau malas membahas hal yang kiranya tidak penting dan tidak beralur.

    Salsa mengangguk mengiyakan.

    "kalau begitu kita sama. Aku juga sedang berjuang mencari pekerjaan" wanita itu berucap masih dengan senyuman manisnya.

    Salsa sedikit menyadari kalau wanita itu tidak mudah tersinggung, tidak seperti dirinya. Pernyataan itu juga menjawab, menjawab maksudnya yang mengatakan "tidak seberuntung itu" karena nyatanya dirinya belum bekerja.

    "Ya, dan aku belum mendapatkan pekerjaan" Salsa berucap sembari kembali menoleh ke arah hujan.

    "kita sama kawan"

    "Tapi aku benar-benar malang, hampir setengah tahun aku berusaha tapi sampai saat ini pun aku belum mendapatkan yang aku harapkan. Terkadang aku berpikir betapa beruntungnya orang-orang yang mempunyai kerabat Bos atau semacamnya yang seakan mudah mendapatkan, tanpa tahu perjuangan panjang" Salsa berkata panjang dan lebar dengan tertawa diakhir kalimatnya.

    Dia cukup tahu di belahan kota lain, di sisi lain kehidupan, ada banyak orang yang dengan mudahnya mendapat pekerjaan, sejak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagian ada yang menolak pekerjaan karena kewalahan mengatasi banyak sekali tawaran kerja yang dia dapat.

    Di sisi lain ada yang seperti dirinya, mati-matian hanya ingin mendapat satu saja sebuah pekerjaan.

    Dia juga cukup menyadari, terkadang memang ada sebuah usaha untuk mendapatkan itu. Tapi dia rasa, dirinya juga sudah berjuang, sangat berjuang. Apakah masih kurang?

    Baiklah tidak apa bukankah dia wanita yang tangguh. Dirinya bahkan sudah melewati setengah tahun untuk penantian dan perjuangan. Itu bukan waktu sebentar, dia sudah pernah merasakan panas, hujan, gerimis, dan mendung. Juga pernah merasakan teriakan, bentakan, dan diabaikan, dia sudah banyak di bentuk.

    Sedangkan wanita yang disampingnya hanya tersenyum tak mudah dipahami "kau benar, semua tampak berat jika kita merangkum semua beban di hidup kita kemudian membandingkan dengan orang lain yang tampak lebih beruntung" Setelah ucapan itu, mereka diam menyelami pikiran mereka masing-masing, beberapa saat.

    "Aku anak pertama. Sama seperti dirimu, aku juga seorang pemimpi, bermimpi dengan mata terbuka. Aku punya dua adik yang harusnya tidak memiliki nasib seperti ku. Jadilah aku yang harus berjuang setidaknya untuk mimpi adik-adikku supaya supaya terwujud"

    Wanita itu diam seperkian detik, menjeda kalimatnya, menarik nafas dalam sebelum melanjutkan lagi. "Seakan hidupku seperti sebuah film, tapi film yang gagal di setiap episodenya. Perlu merakit dari awal lagi kisahnya, perlu semangat baru untuk menyusun skenarionya. Perlu banyak upaya untuk mendapatkan kata sempurna"

    Dia menghentikan kalimatnya lagi, memastikan Salsa mengerti yang dia bicarakan.

    "Sudut pandang kita memang tergantung pilihan kita, coba kita menilik sisi lain di kehidupan, melihat banyak anak kecil yang berlalu lalang di jalanan seakan mereka harus dewasa sebelum waktunya" Wanita itu melanjutkan pembahasan.

    Dia benar, bukankah tidak ada habisnya jika kita memandang ke atas, membandingkan dan meratapi sebuah nasib. Akan selalu ada banyak perbandingan di kehidupan, itu semua tergantung kita memilih perbandingannya Kita tidak tahu, ternyata mereka yang hidup di jalanan mempunyai mimpi besar. Tapi harus dikubur dalam-dalam. Bahkan Bukankah semua manusia mempunyai mimpi, tapi tidak semua mempunyai upaya.

    Konteksnya adalah tidak ada manusia yang benar-benar menjalani semuanya dengan mudah.

    "Contoh sisi lain yang tidak tampak adalah coba kau lihat orang-orang yang mengendarai mobil-mobil mewah, apa kau yakin mereka bahagia? Siapa yang tahu mungkin mereka baru saja kehilangan seseorang yang amat berarti dikehidupanya" Wanita itu berucap sembari menunjuk beberapa mobil yang masih berlalu lalang di bawah rintik hujan.

    Dia benar, banyak sisi lain yang tak pernah terlihat, itulah manusia. Selalu mengumbar kebahagiaan dan pencapaian menutupi segala kesedihan. Hingga banyak orang yang iri, terkadang juga ada yang mulai menata mimpi.

    Salsa masih diam, tapi dia terus berpikir keras, mempertanyakan sesuatu.

    Jadi kesimpulannya apa?

    "kau pernah mendengar kiasan semua orang punya masalah berbeda dengan taraf yang sama?" Tanya Wanita itu menoleh ke arah Salsa, Salsa hanya mengangguk Sebagai jawaban.

    Dia kini tidak ingin terlalu banyak bicara kali ini, mendengarkan dan memahami dia mendapatkan ilmu kehidupan.

    "Kau tidak pernah sendirian menghadapi masalah, kau bersamaku, juga bersama mereka yang mungkin mempunyai masalah yang lebih besar. Kita tidak pernah tahu sisi lain didalam kehidupan kalau kita tidak pernah benar-benar menyelaminya. Hidup bukan untuk diratapi tapi di syukuri"

    Salsa tersenyum simpul. "Kau benar, aku tidak mengerti ternyata dari dirimu aku bisa mendapat suatu hal yang belum pernah aku pahami selanjutnya. Aku tahu tapi aku abai, aku hanya memikirkan diriku memikirkan segala kemalangan ku, padahal harusnya ada lebih banyak yang bisa aku syukuri"

    Wanita disampingnya itu lagi-lagi benar. Salsa benar-benar menyetujui gagasan itu. Dia sekarang mengerti dari mana sumber semangat wanita yang baru dia kenal itu.

    Tunggu, dia bahkan belum berkenalan.

    "Hey kita sudah bicara sejauh ini, tapi kita tidak tahu nama satu sama lain" wanita itu bertanya seakan satu pemikiran dengan Salsa.

    "Aku Salsa, kau?"

    "Den Andra Sidan" Jawabnya masih dengan senyum simpul khasnya yang sepertinya selalu dia tampakkan.

    "Terima kasih Den Andra"

    Ya, Salsa memang perlu mengucapkan terima kasih. Den Andra Sidan sudah mengajarkan dia sesuatu. Seperkian waktu wanita itu mampu membuat Salsa merubah sudut pandangnya kepada dunia.

    Den Andra Sidan juga memberitahunya tentang sisi lain kehidupan.

    Den Andra Sidan benar kita tidak pernah tahu sisi lain di dalam kehidupan kalau kita tidak pernah benar-benar menyelaminya.

    Perlu kita ketahui Tuhan tidak pernah menciptakan manusia hanya untuk mencari uang, lalu mati. Banyak hal yang bisa kita pelajari, banyak proses luar biasa yang bisa kita dapatkan. Ada banyak sisi lain dunia yang perlu kita mengerti.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.