Sisipan Rasa dalam Puisi Hanya Karya Sapardi Djoko Damono

Sabtu, 25 Desember 2021 05:51 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sapardi Djoko Damono merupakan sastrawan Indonesia yang juga menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Beliau telah menghasilkan banyak karya, salah satunya puisi. Puisi yang dibuat SDD dapat menyihir pembacanya untuk ikut masuk ke dalam bacaan. Genre karya yang dibuat pun bermacam-macam, seperti puisi Cinta yang berjudul Hanya.

Sapardi Djoko Damono merupakan salah satu sastrawan yang berhasil merenggut hati saya dalam membaca karya-karyanya. Beliau lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Beliau juga pernah menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Beliau telah menghasilkan banyak karya, yakni puisi, novel, cerpen, sajak, esai, dan lain sebagainya. Hasil puisi yang dibuat Sapardi Djoko Damono hingga dikenal banyak orang adalah puisi Hujan Bulan Juni. Puisi tersebut juga diadaptasi menjadi sebuah novel. Sapardi Djoko Damono wafat di Tangerang Selatan, 19 Juli 2020. Setelah kematiannya, puisi yang berjudul Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono dikenal banyak masyarakat.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Puisi yang dibuat oleh Sapardi Djoko Damono, memiliki rangkaian kata yang penuh emosional. Tidak jarang, puisi yang dibuat dapat menyihir pembacanya. Salah satu puisi Sapardi Djoko Damono yang paling saya sukai berjudul Hanya. Puisi Hanya terdiri dari 3 bait.

 

Bait pertama, yaitu:

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kau lihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

Dalam bait ini, Sapardi Djoko Damono memberikan pengibaratan untuk menjelaskan bait selanjutnya. Beliau memberikan pesan tertulis bahwa sesuatu yang nyata, tanpa terlihat dengan indera penglihatan, namun terasa dengan indera pendengaran, maka dianggap ada walaupun hanya dengan satu alasan. Kata demi kata di setiap baris pada bait ini memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya, sehingga tidak ada pesan baru dari setiap barisnya.

 

Bait kedua:

Hanya desir angin yang kau rasa

dan tak pernah kau lihat angin itu

tapi percaya angin itu di sekitarmu

Pada bait ini, Sapardi Djoko Damono memberikan pengandaian sebagai pengantar pada bait berikutnya. Beliau memberikan pesan tertulis bahwa sesuatu yang tidak terlihat, namun terasa sentuhannya, maka dianggap ada dan tentunya dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup. Kata demi kata yang dirancang pada bait ini memiliki satu makna utuh, yakni setiap barisnya memiliki keterkaitan dengan baris lainnya.

 

Bait ketiga:

Hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kau lihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

Pada bait terakhir, Sapardi Djoko Damono memaparkan pesan secara langsung dan penjelasan akhir dari bait-bait sebelumnya. Pemilihan kata pada bait ini dilakukan secara langsung, sehingga tidak terdapat makna kiasan. Makna yang diberikan pada bait ini berkaitan erat dengan makna yang ada di bait sebelumnya.

 

Berdasarkan penjelasan pada bait pertama dan kedua serta diakhiri penjelasan di bait ketiga, Sapardi Djoko Damono percaya bahwa sesuatu yang tidak terlihat itu bukan berarti tidak ada. Beliau membuktikannya dengan pemilihan kata angin dan suara burung, walaupun terkesan hanya sepele, namun dari pengandaian tersebut bisa menjadi pengantar pada bait ketiga.

 

Dari puisi ini kita tidak bisa memandang sesuatu hanya karena wujudnya saja. Banyak hal yang bisa menjadi bukti bahwa sesuatu itu memang hadir dan dipergunakan secara tidak sadar. Puisi ini memberikan rasa emosional yang kuat untuk saya. Selain itu, susunan satu kata dengan kata lainnya terlihat apik sehingga tidak membosankan pada saat dibaca dan diselami. Puisi ini juga bisa dikategorikan sebagai puisi percintaan.

 

Secara keseluruhan, puisi ini memberikan makna bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan berpasang-pasangan, tentu mereka memiliki jodoh masing-masing. Kita tidak mengetahui siapa jodoh kita, namun di luar sana ada orang yang tidak diketahui mendoakan kita secara getir. Percaya kepada tuhan bahwa dirimu telah disiapkan jodoh yang terbaik di waktu yang tepat. Kita tidak bisa melihat hal itu. Akan tetapi, kita percaya bahwa hal itu ada. Akhir kata, Sapardi Djoko Damono juga menuliskan "tapi yakin aku ada dalam dirimu" yang bisa dimaknai bahwa jodoh merupakan cerminan diri sendiri.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak anak muda yang sering sekali merasa bahwa dirinya buruk dan tidak menarik hanya karena tidak ada wujud nyata dari seseorang yang mencintai dirinya. Mereka selalu tidak percaya diri hanya karena satu hal, padahal ketika dirinya yakin dan percaya pada takdir tuhan hal-hal tersebut tidak perlu terjadi. Seharusnya generasi muda mempergunakan waktunya untuk terus berjuang dan memperbaiki diri. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya membawa perubahan baik dalam diri dan berkontribusi sosial. Perihal jodoh tidak perlu khawatir. Pada saat kita memiliki kualitas diri yang tinggi, tentu hal-hal baik akan menghampiri kita.

 

Puisi Hanya ini memberikan banyak rasa di dalamnya. Sapardi Djoko Damono berhasil membawa jiwa pembaca ke dalam imajinasinya. Rasa kasih dari puisi Sapardi Djoko Damono memberikan pemahaman baru kepada pembaca perihal cinta. Tidak ada sesuatu yang mustahil jika cinta dan Tuhan sudah berkuasa. Seburuk apapun pikiran manusia dengan jenisnya, hal yang sudah ditakdiran untuk terjadi, maka akan terjadi.

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler