x

Iklan

Elis Susilawati

Mahasiswi UIN Jakarta
Bergabung Sejak: 23 Desember 2021

Jumat, 16 Juni 2023 09:17 WIB

Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Index Card Match pada Rancangan Materi Teks Negosiasi di Tingkat SMA

Rancangan dan Pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Rancangan pembelajaran harus dibuat semenarik mungkin oleh pendidik dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti karakteristik siswa, fasilitas sekolah, dan tingkat kedisiplinan. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah tujuan, capaian, model, metode, media, teknik, evaluasi, dan sebagainya. Artikel ini memberikan contoh rancangan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya teks negosiasi di tingkat SMA.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Rancangan dan Pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses belajar. Saefuddin mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses penambahan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku peserta didik yang awalnya tidak tahu menjadi tahu.[1] Dalam proses belajar ini lah diperlukan rancangan untuk mencapai tujuan dari pembelajaran. Rancangan pembelajaran harus dibuat semenarik mungkin oleh pendidik dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti karakteristik siswa, fasilitas sekolah, dan tingkat kedisiplinan. Selain itu, pendidik juga perlu menyesuaikan mata pelajaran yang diampu dengan rancangan yang akan diterapkan berdasarkan pada tujuan pembelajaran tersebut. Dalam hal ini, penulis akan menitikberatkan pembahasan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi Teks Negosiasi di tingkat SMA.

 

Konsep karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA perlu diperhatikan pendidik untuk melakukan perubahan terhadap peserta didik. Beberapa konsep karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya materi teks negosiasi di tingkat SMA, antara lain, konsep belajar asosiasi, konsep belajar gestalt, konsep belajar disiplin mental, dan konsep belajar insight. Pertama, konsep belajar asosiasi dilakukan dengan cara mengulang-ulang suatu tindakan agar peserta didik terbiasa dan menjadikannya sebagai suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan. Kedua, konsep belajar gestalt memandang bahwa peserta didik merupakan sebuah individu yang utuh karena konsep ini memusatkan pembelajaran pada pengamatan dan pengalaman masing-masing peserta didik.[2] Ketiga, konsep belajar disiplin mental merupakan suatu konsep yang meyakini bahwa peserta didik memiliki kemampuan mengamati, berpikir, mengingat, dan menanggapi. Keempat, konsep belajar insight memiliki persamaan dengan konsep belajar gestalt, yaitu adanya pemecahan masalah dan pembaruan pengetahuan pada peserta didik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Konsep pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi teks negosiasi dapat disusun dengan memperhatikan keterampilan abad 21 atau yang biasa dikenal dengan 4C, yaitu critical thinking, creativity, communication, dan collaboration. Dalam materi teks negosiasi, peserta didik diharapkan dapat 1) menilai dan mengungkapkan masalah, mulai dari pengajuan, penawaran, dan kesepakatan yang disepakati oleh berbagai pihak terlibat; 2) menentukan struktur dan ciri-ciri teks negosiasi; 3) menyusun teks negosiasi dengan memperhatikan struktur dan unsur kebahasaannya; dan 4) mempresentasikan, mengomentari, serta merevisi teks negosiasi, baik secara lisan maupun tulisan. Setelah mempelajari materi ini, pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman peserta didik mengenai teks negosiasi akan bertambah, seperti mampu menganalisis isi, mengkonstruksikan, menyampaikan, dan mengevaluasi teks negosiasi dengan memperhatikan struktur serta kaidah kebahasaannya.[3] Tujuan dan capaian tersebut menjadi landasan bagi pendidik untuk menentukan model, metode, media, evaluasi, dan hal lain yang akan digunakan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, materi teks negosiasi.

 

Model dan metode pembelajaran yang digunakan dalam materi Bahasa Indonesia, khususnya teks negosiasi harus menarik agar peserta didik tidak mudah bosan serta dapat berperan aktif mengikuti pembelajaran sehingga pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang tak terlupakan. Pembelajaran kooperatif index card match dapat dijadikan pilihan sebagai model dan metode dalam mempelajari materi teks negosiasi karena pada penerapannya materi ini memerlukan lebih dari satu individu. Selain model dan metode pembelajaran, pendidik juga harus memilih atau membuat media yang menarik dalam penyampaian materinya agar proses transfer ilmu berjalan dengan lancar. Media audio, visual, dan audiovisual dapat diterapkan dalam pembelajaran materi teks negosiasi. Sebagai contoh, ketika pendidik menggunakan media audio, ia dapat memutar rekaman percakapan negosiasi menggunakan tape recorder. Lalu pada media visual, pendidik dapat menggunakan salindia untuk memberikan penjelasan. Selanjutnya, pendidik dapat memutar rekaman video atau mengajak peserta didik secara langsung untuk mengamati kegiatan negosiasi di suatu tempat dalam penerapan media audiovisual. Pendidik juga dapat memilih media pembelajaran yang lebih bervariasi agar terwujud PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan).  Dalam pembahasan kali ini, media yang digunakan adalah kertas berisi pertanyaan dan jawaban materi teks negosiasi.

 

Model dan metode pembelajaran yang dipilih harus dikuasai oleh pendidik karena berkaitan dengan teknik pelaksanaannya. Dalam pembahasan kali ini, teknik pelaksanaan dari metode index card match dalam materi teks negosiasi, yaitu: 1) pendidik melakukan tanya jawab singkat mengenai teks negosiasi kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan yang dimiliki; 2) pendidik memberikan penjelasan materi teks negosiasi dengan media yang digunakan; 3) pendidik menyiapkan sejumlah peserta didik yang hadir di dalam kelas; 4) pendidik menuliskan pasangan pertanyaan dan jawaban di kertas berbeda yang sudah disediakan, seperti “struktur teks negosiasi” dengan “orientasi dan permasalahan (pengajuan, penawaran, dan kesepakatan)” atau “pengajuan” dengan “Eliza: Harga vas bunga yang ini berapa, bu? Saya tertarik”; 5) pendidik memberitahu teknik pelaksanaan pembelajaran kepada peserta didik; 6) pendidik membagikan kertas berisi pertanyaan dan jawaban; 7) peserta didik diminta mencari pasangan dari kertas yang mereka dapatkan; 8) pasangan peserta didik diminta mempresentasikan pertanyaan dan jawaban yang mereka cocokkan;  dan 9) pendidik memberikan penguatan terhadap penjelasan peserta didik.

 

Perlu diketahui bersama bahwa setiap model dan metode pembelajaran memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kelebihan dari pelaksanaan metode index card match adalah suasana kelas menjadi aktif, menyenangkan, dan interaktif. Akan tetapi, kekurangan dari dipilihnya metode ini, antara lain, pendidik memerlukan waktu yang lama dalam menyiapkan media pembelajaran, suasana kelas menjadi gaduh ketika pendidik tidak dapat mengondisikannya, serta peserta didik yang kurang memahami materi akan sulit menemukan pasangannya.

 

Proses keberhasilan pembelajaran di dalam kelas ditentukan oleh evaluasi. Arifin dalam Asrul, dkk. mengemukakan bahwa evaluasi adalah proses menilai sesuatu dengan memperhatikan kriteria tertentu.[4] Pelaksanaan evaluasi pembelajaran harus berpegang pada lima prinsip, yaitu kontinuitas, komprehensif, adil dan objektif, kooperatif, serta praktis. Dalam metode index card match, evaluasi dilakukan dengan cara mengobservasi pemahaman peserta didik melalui presentasi yang dilakukan, lalu membandingkannya dengan pengetahuan sebelum mempelajari materi teks negosiasi. Selain mengamati pengetahuan, pendidik juga harus menilai afektif dan psikomotorik peserta didik selama proses pembelajaran. Pendidik dapat melakukan tes tambahan, jika diperlukan.

 

Melalui pembahasan di atas dapat kita ketahui bahwa rancangan diperlukan dalam proses pembelajaran. Terdapat beberapa konsep karakteristik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi teks negosiasi, antara lain, konsep belajar asosiasi, konsep belajar gestalt, konsep belajar disiplin mental, dan konsep belajar insight. Model pembelajaran kooperatif dengan metode index card match dapat menjadi pilihan untuk rancangan materi teks negosiasi. Media yang digunakan dalam materi ini berupa kertas yang berisi pertanyaan dan jawaban. Pendidik perlu melaksanakan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dalam kelas.

 

SUMBER REFERENSI

Asrul, Rusydi Ananda, and Rosinta. Evaluasi Pembelajaran. Medan: Citapustaka Media, 2014.

Kherysuryawan. “Silabus K13 Bahasa Indonesia Kelas X Semester 1 & 2 Revisi Terbaru.” kherysuryawan.id, 2019. https://www.kherysuryawan.id/2019/07/silabus-k13-bahasa-indonesia-kelas-x.html diakses pada 15 Juni 2023 pukul 17.28 WIB.

Saefuddin, H. Asis, and Ika Berdiati. Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016.

Wisman, Yossita. “Teori Belajar Kognitif Dan Implementasi Dalam Proses Pembelajaran.” Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang 11, no. 1 (2020). https://doi.org/https://doi.org/10.37304/jikt.v11i1.88.

 

[1] H. Asis Saefuddin and Ika Berdiati, Pembelajaran Efektif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), h.8.

[2] Yossita Wisman, “Teori Belajar Kognitif Dan Implementasi Dalam Proses Pembelajaran,” Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang 11, no. 1 (2020), https://doi.org/https://doi.org/10.37304/jikt.v11i1.88, h.212.

[3] Kherysuryawan, “Silabus K13 Bahasa Indonesia Kelas X Semester 1 & 2 Revisi Terbaru,” kherysuryawan.id, 2019, https://www.kherysuryawan.id/2019/07/silabus-k13-bahasa-indonesia-kelas-x.html diakses pada 15 Juni 2023 pukul 17.28 WIB.

[4] Asrul, Rusydi Ananda, and Rosinta, Evaluasi Pembelajaran, (Medan: Citapustaka Media, 2014), h.4.

Ikuti tulisan menarik Elis Susilawati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler