Pesantren dalam Linimasa Sejarah - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Pesantren Tebuireng Jombang merupakan salah satu Pesantren yang banyak mencetak kader penggerak perjuangan bangsa Indonesia.

Muhammad Arief Albani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Januari 2022

Sabtu, 8 Januari 2022 14:17 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Pesantren dalam Linimasa Sejarah

    Perjalanan panjang dunia pendidikan bangsa ini, merupakan upaya serta perjuangan berbagai pihak. Dari masa ke masa, seluruh elemen bangsa ini melalui kelompok-kelompoknya masing-masing, telah memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan pendidikan yang ada saat ini.

    Dibaca : 477 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perjalanan panjang dunia pendidikan bangsa ini, merupakan upaya serta perjuangan berbagai pihak. Dari masa ke masa, seluruh elemen bangsa ini melalui kelompok-kelompoknya masing-masing, telah memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan pendidikan yang ada saat ini.

    Tidak banyak kesimpulan yang secara detail dapat memastikan kapan kiranya awal dimulainya model pendidikan terpadu di Indonesia yang dahulu disebut Nusantara. Lini masa panjang Nusantara hingga resmi menggunakan nama Indonesia, tentunya juga meninggalkan kisah-kisah perjalanan dunia pendidikan di dalamnya. Meski tidak banyak literatur-literatur kuno masa lampau yang menceritakan secara terperinci dan eksplisit mengenai perjalanan dunia pendidikan di Nusantara. Namun demikian, dari adanya peninggalan literatur masa lampau tersebut, menunjukkan bahwa pendahulu-pendahulu bangsa Indonesia [Nusantara] merupakan orang-orang yang terpelajar karena bisa membuat catatan-catatan yang menjadi peninggalan berharga bagi generasi masa kini.

    Setidaknya, model pendidikan di Nusantara pada masa lampau terlihat mulai diinisiasi dan dijalankan oleh para pemuka agama yang menyampaikan pendidikan agama sesuai metode “dakwah”nya masing-masing. Dimulainya metode-metode dakwah agama oleh para pemuka agama, menunjukkan adanya sebuah sistem yang terkonsep dan merupakan sebuah upaya mendidik. Adanya temuan-temuan berupa tempat-tempat berkumpul yang di dalamnya terjadi interaksi pembelajaran antara guru dan murid di berbagai daerah di Nusantara, menandakan adanya proses pendidikan yang dilakukan para pemuka agama sejak lama.

    Beberapa model pendidikan berbasis ke-Agama-an yang kemudian berkembang di Nusantara [Indonesia], antara lain dalam Islam kita kenal istilah Majelis Taklim[1] yang merupakan kelompok-kelompok masyarakat di berbagai tempat yang mengkaji ilmu agama dan dipandu oleh seorang kyai/ulama. Kemudian Madrasah Takmiliyah[2] atau Madrasah Diniyah[3], yang lebih terorganisir dan memiliki kurikulum pelajaran serta berjenjang. Dalam agama Kristen dikenal istilah Sekolah Minggu, Sekolah Alkitab, Remaja Gereja dan Katekisasi[4]. Dalam agama Hindu dan Buddha terdapat istilah Pasraman[5] dan Pesantian[6] yang merupakan lembaga pendidikan informal sebagai upaya agar pengetahuan dalam agama Hindu-Buddha lebih intensif. Lebih spesifik dalam agama Buddha, dikenal istilah Pabbaja Samanera[7] yang lebih spesifik pada upaya regenerasi Bikkhu/Biksu[8].

    Model pendidikan Pesantren dalam dunia pendidikan [informal] Islam, merupakan salah satu bentuk dari hasil produk akulturasi budaya di Indonesia [Nusantara]. Akulturasi budaya tersebut tidak lepas dari budaya awal (budaya agama) yang telah lebih dulu ada di Nusantara sebelum masuknya Islam. Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin (memberi kebaikan pada semesta alam), tidak memaksakan model-model penyebaran agama melalui pendidikan dengan menggunakan model-model lembaga pendidikan di tempat kelahirannya (Arab). Islam lebih mengedepankan toleransi pada budaya yang telah lebih dulu ada di Nusantara. Karenanya, para penyebar agama Islam kala itu dengan cepat dapat beradaptasi dan mendapat tempat di tengah masyarakat karena memilih untuk menggunakan model-model lembaga pengajaran dan pendidikan yang telah dikenal masyarakat Hindu-Buddha yang menjadi budaya tertua di Nusantara. Inilah salah satu ciri khas para penyebar agama Islam kala itu, yang hingga kini masih terus dipegang teguh oleh para ulama/kyai serta para Murid/Santrinya. Masih tetap dipertahankan dalam Pesantren, melalui teladan yang dicontohkan para kyai/ulama Pesantren dan diserap dengan baik oleh para Santri.

    Islam, mulai masuk ke Nusantara sekitar abad ke-7 melalui jalur perdagangan yang dibawa oleh para saudagar-saudagar berkebangsaan Arab (meski bukan berasal dari Hijaz). Para saudagar yang datang ke Nusantara, sebagian besar juga menguasai ilmu agama Islam dan menjadi seorang mubaligh. Setidaknya, terdapat beberapa versi sejarah yang menyampaikan mengenai periode masuknya Islam ke Nusantara. Salah satunya, jika mengambil sejarah masuknya Islam ke Nusantara menurut teori Mekah[9], maka agama Islam telah hadir di Nusantara sejak abad ke-7 atau sekitar tahun 651 M, yang mana saat itu ke-Khalifah[10]-an Islam dipegang oleh Amirul Mukminin[11] Utsman ibn Affan[12]. Beliau memerintahkan utusan ke tanah Jawa [Nusantara][13], tepatnya ke Kalingga[14] yang saat ini bernama Jepara (Amrullah 2017).

    Fakta lainnya menghadirkan bahwa beberapa dekade sebelum tahun 651 M juga telah ditemukan situs-situs Islam di wilayah Sumatera bagian utara. Wilayah Sumatera Utara yang telah lama dikenal sebagai tempat berkembangnya Islam adalah Barus[15]. Catatan-catatan bangsa Tiongkok pun menceritakan adanya beberapa koloni bangsa Arab yang sudah menetap dan berinteraksi di Barus sejak awal-awal tahun Hijriyah, yakni sekitar tahun 30 Hijriyah atau sekitar tahun 625 M.

    Jika mengambil sejarah datangnya pengaruh Islam dari era-Kalingga (Jepara) seperti diutarakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dimulainya penyebaran risalah Islam di Jawa atau Nusantara telah dimulai sejak abad ke-7 atau tepatnya tahun 651 M. Adapun metode penyebaran risalah Islam pada masa itu memanfaatkan interaksi para pedagang berbangsa Arab (Gujarat maupun Persia), yang tidak menutup kemungkinan juga mereka para saudagar yang datang tersebut berstatus sebagai Mubaligh[16]. Setidaknya, dari sisi inilah yang akan menjadi pijakan awal, adanya kelompok-kelompok masyarakat (Jawa) yang kemudian intens melakukan interaksi ke-ilmuan Islam dan kemudian berkembang menjadi lembaga-lembaga pendidikan ke-agama-an bernama Pondok Pesantren.

    Interaksi-interaksi dalam hal penyampaian nilai-nilai ke-agama-an yang dilakukan para Mubaligh yang sekaligus berperan sebagai pedagang tersebut dilakukan di berbagai tempat dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Menjadi sangat wajar jika mereka kemudian dapat sering berinteraksi, karena para pedagang atau Mubaligh-Mubaligh tersebut tentu membutuhkan sebuah tempat untuk melaksanakan kegiatan ibadah wajib (shalat). Adanya sarana tempat beribadah yang menjadi kebutuhan para pedagang-pedagang tersebut, membuka ruang interaksi antara mereka dan masyarakat sekitar selepas melaksanakan aktivitas ibadah. Dengan semakin seringnya mereka bertemu dan berinteraksi dalam berbagai hal khususnya urusan perdagangan dan urusan agama, memungkinkan adanya sebuah ikatan saling membutuhkan diantara mereka. Ikatan-ikatan saling membutuhkan itulah yang kemudian berkembang menjadi hubungan antara pemilik barang dagangan dan pengedar/penjual atau hubungan antara guru dan murid dalam urusan ilmu agama. Interaksi dalam konteks ke-ilmuan tersebut, yang  melibatkan sang Mubaligh sebagai guru dan anggota-anggota masyarakat dalam kelompok (kecil maupun besar) yang membutuhkan penjelasan mendalam tentang ilmu agama inilah kemudian melahirkan istilah Santri yang dalam masyarakat Jawa dahulu biasa disebut Cantrik.

    Cantrik[17] adalah seseorang yang menjadi pengikut atau seseorang yang mempelajari sesuatu dengan serius secara terus menerus. Kata Cantrik merupakan bahasa Sansekerta[18] yang biasa digunakan masyarakat Jawa pada masa lampau. Kata inilah yang kemudian diadaptasi menjadi “Santri”, sesuai dengan pemaknaan dan kesamaan aktivitas yang dilakukan Santri-Pesantren yang menjadi pengikut seorang ulama dan mengambil ilmu darinya.

    Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, yang dimaksud dengan Santri adalah peserta didik yang menempuh pendidikan dan mendalami ilmu agama Islam di Pesantren (UU RI 2019).

    Sedangkan seseorang yang menjadi pengajar ilmu agama dengan kompetensi sesuai standar keilmuan Islam biasa dikenal dengan berbagai nama yang merujuk pada satu istilah yakni Kyai atau Ulama. Di Jawa dikenal dengan sebutan Kyai (kiai), di Nusa Tenggara dikenal dengan sebutan Tuan Guru, sementara di Minangkabau dikenal dengan nama Inyiak dan Buya atau Abuya, Ajengan di wilayah Jawa Barat dan AnreGurutta di Sulawesi Selatan, yang kesemuanya merupakan istilah yang menggambarkan sosok Ulama atau Syekh dalam bahasa Arab.

    Antusiasme masyarakat untuk ikut berkumpul dalam kelompok-kelompok yang dibentuk para Mubaligh dan dinilai menariknya kajian-kajian yang disampaikan, menambah banyaknya jumlah Cantrik/Santri yang berkumpul untuk mengikutinya. Berkumpulnya banyak Cantrik/Santri tersebut, menjadikan seorang Mubaligh perlu mengakomodir segala kebutuhan yang muncul karenanya. Karena seperti pengertian Cantrik yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa mereka adalah pengikut setia yang berarti mengikuti kemanapun sang Mubaligh  yang diikutinya. Kebutuhan tempat berkumpul, sarana kebersihan, tempat istirahat serta kebutuhan literatur-literatur rujukan ilmu yang disampaikan adalah kebutuhan mendasar yang akhirnya harus diadakan dalam perkumpulan-perkumpulan tersebut. Perkumpulan dengan berbagai konsekwensi kebutuhan itulah yang kemudian menjamakkan kata Cantrik/Santri yang merujuk pada tempat berkumpulnya, yang kemudian memunculkan istilah Pesantren.

    Pesantren (pe-Santri-an[19]), dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai tempat murid-murid (santri) mempelajari ilmu[20] dan segala hal yang menyertainya. Pada perkembangannya, dengan semakin banyaknya santri yang hadir dan memilih untuk tetap bersama panutannya (kyai/ulama), maka dibangunlah kamar-kamar tempat menginap (asrama atau pondok). Tempat-tempat berupa kamar santri itulah yang kemudian memunculkan istilah yang hingga sekarang digunakan, yakni Pondok Pesantren atau Asrama Santri yang mengadaptasi istilah Pashraman (ashram) dalam pendidikan agama Hindu-Buddha.

    Istilah Pesantren juga dimungkinkan mengadopsi kata Pesantian yang digunakan umat Hindu-Buddha, sebagai tempat pembelajaran intensif dalam hal ilmu agama. Kemudian Pasraman atau “ashram” yang merujuk pada tempat tinggal para murid, yang kemudian diartikan sebagai “asrama” atau “pondokan/pondok”.

    Kemunculan model-model padepokan atau sanggar-sanggar yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan terpadu dalam bidang seni, keahlian, ketangkasan dan pendidikan di Jawa sejauh ini belum mendapatkan sumber yang pasti. Kapan mulainya dan siapa yang memulainya, belum menemui kesimpulan akhir disebabkan kurangnya bukti-bukti dan banyaknya analisa-analisa. Jika melihat sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan di Nusantara yang sebagian besar menganut ajaran Hindu-Buddha, maka model sanggar dan padepokan sudah ada di Nusantara sejak masa kerajaan Hindu-Buddha pertama yakni Salakanagara pada abad ke-1, menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara (Ekajati 2005).

    Definisi lainnya yang menjelaskan arti Pesantren, adalah proses pe-nyantri-an yang memiliki dua arti ; yaitu tempat santri atau proses menjadi santri (Soebahar 2013)[21].

    Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren, disebutkan beberapa istilah Pesantren yang dikenal di indonesia. Disebutkan dalam Undang-Undang tersebut istilah Dayah yang digunakan masyarakat Aceh Darussalam untuk menyebutkan tempat belajar mengajar seperti halnya Pesantren. Dayah diadaptasi dari bahasa Arab yakni Zawiyyah yang dalam beberapa bentuk penulisan transliterasi Arab-Melayu ditulis Dhawiyah atau dalam kebiasaan pengucapan lisan melayu terdengar menjadi bunyi Dayah.

    Sejak zaman dahulu, sejak zaman Kerajaan Islam Aceh Darussalam dan sampai sekarang lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut Dinamakan dengan Dayah (Depag RI 1993)[22]. Selain Dayah, masyarakat Aceh Darussalam juga menyebut tempat untuk berkegiatan seperti Pesantren dengan nama Meunasah. Kata Meunasah ini lebih relevan dengan Madrasah karena diadaptasi dari kata yang sama. Meunasah tidak hanya sebagai tempat belajar agama, tapi juga digunakan untuk kegiatan perayaan hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi SAW, Isra’ Mi’raj dan Nuzulul Qur’an[23].

    Masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat) menyebut Pesantren dengan nama Surau. Di Minangkabau, Surau adalah sebutan bagi sebuah tempat/bangunan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat dalam melakukan banyak hal seperti rapat, kegiatan agama dan pembelajaran serta kegiatan interaksi sosial lainnya. Sementara di Jawa, Surau adalah bilik/ruang kecil yang digunakan untuk kegiatan ibadah. Sama fungsinya seperti halnya Masjid namun berbeda ukuran. Surau atau Langgar di Jawa hanya digunakan oleh komunitas kecil keluarga atau lingkungan beberapa keluarga saja. Kesemuanya memiliki kesamaan fungsi, hanya berbeda nama menyebutkannya saja.

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Pesantren yang berangkat dari istilah-istilah seperti sanggar dan padepokan adalah ruang publik tertua yang sudah dikenal di Nusantara. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara memang sudah masyhur dalam sejarah pendidikan masyarakat kita. Setidaknya, mulai dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Madura, Nusa Tenggara dan Bali memiliki tempat-tempat beribadah dan mempelajari ilmu agama yang mengarah pada istilah Pesantren dengan nama yang berbeda di masing-masing daerah tersebut. Bukti-bukti sejarah dan peninggalan-peninggalan keberadaan Pesantren di era awal penyebaran Islam di Nusantara khususnya di wilayah Jawa secara keseluruhan masih bisa ditemui hingga sekarang. Salah satu Pesantren tertua yang masih bisa ditemui peninggalan fisik dan kisahnya adalah Pesantren Tegalsari Ponorogo[24], yang didirikan pada paruh awal abad ke-17 oleh seorang Ulama bernama Kyai Muhammad Besari (kyai Muhammad Bashari)[25].  Pesantren Tegalsari Ponorogo yang juga dikenal masyarakat umum dengan nama Pesantren Gebang Tinatar merupakan salah satu Pesantren penting di wilayah Jawa yang menjadi tujuan utama bagi para bangsawan (kasta ksatria)[26] Mataram untuk menitipkan putra-putra mereka mempelajari ilmu agama Islam.

    Diantara tokoh-tokoh Nusantara yang pernah mengenyam pendidikan dan menyandang gelar Santri serta menjadi “alumni” Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo tersebut yakni Pakubuwono II[27] Raja Mataram ke-9, ada juga Raden Ngabehi Ronggowarsito[28] sang pujangga besar Kasunanan Surakarta cucu dari pujangga utama Kasunanan Surakarta Yosodipuro, kemudian tercatat pula nama Pangeran Diponegoro[29] sebagai santri di Pesantren Tegalsari, serta tokoh pergerakan nasional HOS Cokroaminoto[30] yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional dan menjadi guru dari beberapa tokoh pergerakan kemerdekaan nasional termasuk proklamator kemerdekaan Indonesia bung Karno.

    Dengan demikian, Pesantren bisa dikatakan bukan saja sebagai pusat pendidikan agama Islam semata, tapi juga sebagai tempat pembelajaran karakter kebangsaan bagi santri-santri yang ada di dalamnya. Karakter asli Nusantara yang melahirkan santri-santri berjiwa nasionalis yang loyal pada bangsa dan negaranya.

    Keberadaan Pesantren dengan sistem pembelajaran Madrasah terpadu (bukan sanggar/padepokan) di Nusantara (khususnya Jawa), tercatat sudah ada sejak abad ke-17 dan 18. Beberapa Pesantren tertua yang masih bisa ditemui hingga sekarang, antara lain ; Pesantren Sidogiri[31] yang didirikan tahun 1718 atau versi lainnya menyebutkan tahun 1745, kemudian Pesantren Jamsaren[32] yang didirikan tahun 1750, lalu Pesantren Buntet[33] Cirebon yang didirikan pada tahun 1750 dan Pesantren Darul Ulum Banyuanyar[34] Pamekasan yang didirikan tahun 1787.

    Pesantren-pesantren yang berdiri pada abad ke-17 dan abad ke-18 tersebut, tentu saja telah mendidik banyak santri. Dari sekian Pesantren yang telah mendidik banyak santri itu, kemudian meluluskan santri-santri yang pulang ke daerahnya masing-masing dan mendirikan Pesantren sendiri di daerahnya. Memasuki abad ke-19, perkembangan Pesantren sangat pesat dan semakin berkualitas. Sebut saja kemudian kehadiran Pesantren Langitan[35] Tuban tahun 1852, lalu disusul oleh salah seorang santri Pesantren Langitan bernama KH. Khalil (Cholil) asal Bangkalan, Madura yang mendirikan Pesantren di Wilayah Kademangan[36] Bangkalan, Madura pada tahun 1861. Pesantren di daerah Kademangan ini kemudian dikenal dengan nama Pesantren Syaikhona Kholil. Salah satu santri KH. Khalil yang berasal dari Jombang yakni KH. Hasyim Asy’ari kemudian kembali ke Jombang dan mendirikan Pesantren di daerah Cukir, Jombang pada tahun 1889 yang terkenal dengan nama Pesantren Tebuireng[37].

    Hingga saat ini, lembaga pendidikan Pesantren masih dipercaya sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang memiliki ciri khas dalam menjaga serta membentuk karakter asli daerah masing-masing dan karakter bangsa Indonesia. Karakteristik Santri yang merupakan bagian penting pendidikan Pesantren dapat dilihat dari sikap mencintai daerah asalnya. Terbukti dengan banyaknya Pesantren yang didirikan pada era abad ke-17 hingga abad ke-19, dengan tidak menggunakan nama Pesantrennya dalam bahasa atau istilah Arab namun menggunakan nama daerahnya masing-masing. Sebut saja beberapa Pesantren yang telah disebutkan sebelumnya seperti Pesantren Tegalsari Ponorogo, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Kademangan Bangkalan, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Buntet Cirebon dan banyak lagi Pesantren-Pesantren yang menggunakan nama daerahnya sebagai wujud khidmat pendirinya pada daerah tempat tinggalnya serta sebagai gambaran karakteristik pendirinya. Dari sisi penamaan Pesantren menggunakan nama daerah ini saja, dapat terlihat betapa Pesantren benar-benar merupakan sebuah lembaga yang memiliki karakteristik dan ciri khas asli Nusantara yang memiliki banyak keragaman. Rasa memiliki dan ingin membangun daerahnya melalui Pesantren dapat terlihat dari penamaan Pesantren tersebut.

    Karakteristik rasa memiliki memunculkan tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi. Dari sinilah terbentuk santri-santri nasionalis yang agamis. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro I (Pangeran Sambernyowo) yang juga seorang Santri dan pendiri Pesantren di dalam keraton Mangkunegaran, pernah berpesan pada para pengikutnya dan hingga sekarang masih menjadi pesan penting bagi masyarakat Jawa dalam berperan sebagai warga negara. Beliau berpesan ; “Rumongso melu handarbeni, Wajib melu hangrukebi, Mulat sariro hangroso wani” (merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga/melindungi, selalu siap menginstropeksi diri dan mawas diri). Pesan tersebut menjadi salah satu dasar karakteristik Santri-Pesantren dalam ikut memperjuangkan negara serta turut aktif dalam pembangunan.

    Dari selayang pandang linimasa munculnya lembaga pendidikan bernama Pesantren di atas, dapat sedikit menjelaskan kepada kita tentang eksistensi Pesantren di Nusantara yang saat ini bernama Indonesia. Bahwa, jika kita sebutkan Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis karakter tertua di Indonesi maka tidaklah terlalu berlebihan. Begitu pula jika dalam hal perhatian pemerintah lebih banyak tertuju pada Pesantren, itupun tidak terlalu berlebihan karena melihat linimasa keberadaan serta peran aktif Pesantren selama ini[]

     

    Muhammad Arief Albani


     

    [1] Majelis Taklim (ta’lim) terdiri dari dua kata, yakni Majelis yang berarti sekumpulan/perkumpulan orang serta kata Taklim (ta’lim) yang berarti mempelajari/menerima ilmu. Secara istilah dapat diartikan sebagai kelompok orang-orang yang melakukan kegiatan belajar mengajar.

    [2] Madrasah Takmiliyah terdiri dari kata Madrasah yang bermakna tempat belajar dan kata Takmili[yah] yang bermakna menyampaikan ilmu (secara lisan atau kalam). Secara istilah, Madrasah Takmiliyah adalah tempat berkumpulnya orang-orang (murid) untuk mendengarkan kajian-kajian ilmu dari seorang guru.

    [3] Madrasah Diniyah secara istilah berarti tempat belajar hal-hal (ilmu) agama (dalam Islam). Terdiri dari kata Madrasah yang berarti tempat belajar dan kata Diniyah (dari kata ad-din) yang berarti agama

    [4] Katekisasi adalah pendidikan intensif pada remaja (angkatan muda) Kristen, untuk membentuk pemahaman mendalam bagi umat Kristen. Dalam pendidikan non-formal Islam sama seperti Pondok Pesantren.

    [5] Pasraman atau “ashram” adalah sistem pendidikan penguatan keagamaan bagi umat Hindu dan Buddha, yang sama seperti model Pesantren. Kata “ashram” ini yang diadopsi menjadi kata “asrama” dalam bahasa Indonesia.

    [6] Pesantian adalah model pendidikan yang lebih mengkhususkan pada penguasaan pemahaman kitab suci agama Hindu dan Buddha. Dalam Islam sama seperti Pondok Pesantren Al-Qur’an atau Madrasah Al-Qur’an.

    [7] Pabbaja Samanera merupakan pendidikan spesifik dalam agama Buddha yang mempersiapkan generasi-generasi pemuka agama “bikkhu” Buddha.

    [8] Bikkhu atau Biksu adalah seseorang yang telah ditasbihkan menjalani hidupnya untuk mengabdi kepada agama. Bikkhu atau Biksu juga biasa dikenal sebagai pemuka agama Buddha khususnya aliran/madzhab Theravada.

    [9] Terdapat tiga teori mengenai masuknya Islam ke Nusantara. Pertama adalah Teoti Gujarat yang menyampaikan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, India. Didukung oleh penjelasan bahwa orang-orang Arab ber-Madzhab Syafi’i bermigrasi ke Malabar dan Gujarat, lalu ke Nusantara melalui Sumatera. Didukung pula oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya “L’Arabie et Les Indes Neelandaises”. Teori kedua adalah Teori Mekah yang dicetuskan oleh Hamka atas koreksi Teori Gujarat yang menyatakan Islam masuk Nusantara pada abad ke-13, sedangkan menurut Hamka, Islam masuk Nusantara pada abad ke-7. Ketiga adalah Teori Persia oleh Hoesein Djajadiningrat yang hampir sama dengan Teori Gujarat. Hanya saja berbeda asal pembawanya, yakni ulama-ulama dari Persia.

    [10] Khalifah menurut bahasa berarti Pengganti Nabi SAW setelah beliau wafat. Mengganti Nabi SAW dalam hal penegakan syariat aga dan urusan negara. https://kbbi.web.id/khalifah.

    [11] Amirul Mukminin adalah sebutan bagi pemimpin umat Islam yang biasanya otomatis tersematkan pada Khalifah.

    [12] Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang tergolong dalam sahabat utama (khulafa ar-rasyidin) dan menjadi khalifah ke-tiga setelah Abu Bakr as-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khattab. Menjadi khalifah yang memimpin umat Islam mulai tahun 644 hingga 656 (abad ke-7).

    [13] Utsman bin Affan menugaskan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk memimpin armada ke pulau Jawa dan mendarat di Kalingga (Jepara) yang kala itu dipimpin oleh Ratu Shima.

    [14] Kerajaan Kalingga merupakan nama sebuah Kerajaan yang ada di pantai utara Jawa sejak abad ke-6 bersamaan dengan kerajaan Kutai dan Tarumanegara.

    [15] Barus saat ini meripakan sebuah Kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ibukota daerah ini adalah Padang Masiang. Wilayah ini terkenal sebagai pusat Imperium di wilayah Sumatera.

    [16] Mubaligh berasal dari kata Balaghoh yang secara bahasa berarti “sampai” atau dalam makna lain berarti “jelas”. Mubaligh adalah orang yang “menyampaikan” atau “menjelaskan”, yang dalam hal ini berarti “menyampaikan ilmu agama” atau “menjelaskan ilmu agama”.

    [17] Dalam KBBI berarti Pengikut atau Orang yang berguru pada orang pandai : https://kbbi.web.id/cantrik

    [18] Sansekerta merupakan bahasa yang digunakan umat Hindu-Buddha di Nusantara sejak abad ke-5.

    [19] Kebiasaan masyarakat Jawa menyebutkan sesuatu yang biasa digunakan atau banyak dalam jenisnya dengan menambahkan –an/-en. Seperti Jajan=Jajanan, Klambi=Klambenan, Santri=Santren. Padepokan tempat berkumpulnya para Santri menjadi Pesantren.

    [20] https://kbbi.web.id/pesantren

    [21] Abdul Halim Soebahar, 2013. “Kebijakan Pendidikan Islam dari Ordonasi Guru sampai UU Sisdiknas”. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta. 2013.

    [22] Ensiklopedia Islam. Departemen Agama RI, Jakarta. 1993. 240.

    [23] http://pendidikanislam95.blogspot.com/2016/12/pengertian-meunasah-dan-fungsi-meunasah.html)

    [24] Pesantren Tegalsari didirikan oleh Kyai Ageng Muhammad Besari yang dijuluki Mahaguru para Guru dan Raja karena yang menjadi santri di pesantren yang awalnya bernama Pesantren Gebang Tinatar ini merupakan putra dari tokoh-tokoh besar dan putra mahkota kerajaan.

    [25] Kyai Ageng Muhammad Besari merupakan putra Kyai Anom Besari keturunan Brawijaya V : https://jatim.nu.or.id/read/kiai-ageng-besari--mahaguru-raja-ulama-dari-ponorogo

    [26] Masyarakat Jawa kala itu masih menggunakan tingkatan (kasta) sosial yang diadaptasi dari kasta Hindu-Buddha sebagai tatanan yang telah mapan sejak lama di Jawa. Masyarakat Jawa era Kerajaan Islam membagi kasta menjadi ; Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra, Candala, Mleca dan Tutja/Tuja.

    [27] Pakubuwono II yang nama lahirnya adalah Raden Mas Prabasuyasa adalah Raja Mataram ke-9 yang memerintah tahun 1726-1742 dan menjadi Raja Surakarta ke-1 yang memerintah tahun 1745-1749. Sri Susuhunan Pakubuwono II adalah putra Amangkurat IV putra Pakubuwono I putra Amangkurat I putra Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pakubuwono II menjadi santri Kyai Muhammad Besari di Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari Ponorogo pada tahun 1742 yang kemudian dijuluki Sunan Kumbul. Selama tiga tahun menimba ilmu di Pesantren Gebang Tinatar, pada tahun 1745 kembali ke Surakarta dan bertahta sebagai Raja Surakarta ke-1.

    [28] Raden Ngabehi Ronggowarsito yang bernama lahir Bagus Boerhan adalah cucu Yosodipuro pujangga utama Kasunanan Surakarta. Ayahnya mengirimnya ke Pesantren Gebang Tinatar karena masa muda Ronggowarsito sangat nakal dan suka berjudi.

    [29] Pangeran Diponegoro yang bernama lahir Bendara Raden Mas Mustahar adalah putra Hamengkubuwono III yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

    [30] Haji Oemar Said Cokroaminoto adalah cucu bupati Ponorogo. Beliau juga merupakan guru dari Presiden RI Soekarno dan pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI).

    [31] Pesantren Sidogiri beralamat di Jl. Raya Sidogiri, Kec. Kraton, Pasuruan, Jawa Timur. Didirikan oleh Sayyid Sulaiman pada tahun 1718 atau versi lain menyebutkan tahun 1745.

    [32] Pesantren Jamsaren beralamat di Jl. Veteran No. 263 Kec. Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Didirikan oleh Kyai Jamsari yang berasal dari Banyumas pada tahun 1750.

    [33] Pesantren Buntet beralamat di Desa Buntet Pesantren, Kec. Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat. Didirikan oleh KH. Muqoyyim bin Abdul Hadi atau Mbah Qoyyim pada tahun 1750.

    [34] Pesantren Darul Ulum Banyuanyar beralamat di Desa Potoan, Kec. Pelengaan, Pamekasan, Madura. Didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq pada tahun 1787.

    [35] Pesantren Langitan Tuban didirikan tahun 1852 oleh KH. Mohamad Nur.

    [36] Pesantren di Kademangan ini kemudian dikenal dengan nama Pesantren Syaikhona Kholil yang nantinya memiliki santri bernama Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama.

    [37] Pesantren Tebuireng, Jombang berdiri tahun 1889 yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari sepulang beliau menimba ilmu agama Islam di Mekkah.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Saufi Ginting

    Rabu, 12 Januari 2022 19:42 WIB

    Pertemuan yang Membuat Percaya Diri

    Dibaca : 293 kali