Revitalisasi Nahdatul Ulama Menuju Izzul Islam wal Muslimin - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Pengkaderan serta Penataan Organisasi dalam Nahdlatul Ulama selalu dilakukan secara berkala.

Muhammad Arief Albani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Januari 2022

Minggu, 9 Januari 2022 08:24 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Revitalisasi Nahdatul Ulama Menuju Izzul Islam wal Muslimin

    Di usianya menjelang satu abad serta menyongsong abad kedua kiprahnya di tengah masyarakat dunia, Nahdlatul Ulama semakin memantapkan kemandiriannya. NU juga berupaya memberi “khidmat” terbaiknya untuk dunia. Tema besar di usia menjelang satu abad-nya adalah "Membangun Kemandirian Warga, Menuju Perdamaian Dunia" sejalan dengan cita-cita besar para muassis-nya dalam mewujudkan Izzul Islam wal Muslimin.

    Dibaca : 505 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    فَهَلُّمُوا كُلُّكُمْ وَمَنْ تَبِعَكُمْ جَمِيْعًا مِنَ اْلفُقَرَاءِ وَاْلأَغْنِيَاءِ وَالضُّعَفَاءِ وَالأَقْوِيَاءِ إِلَ هَذِهِ اْلجَمْعِيَّةِ الْمُبَارَكَةِ الْمَوْسُوْمَةِ بِجَمْعِيَّةِ »نَهْضَةُ اْلعُلَمَاءِ  .«وَادْخُلُوْهَا بِالْمَحَبَّةِ وَاْلوِدَادِ وَاْلأُلْفَةِ وَاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِتِّصَال بِأَرْوَاحٍ وَأَجْسَادٍ .فَإِنَّهَا جَمْعِيَّةُ عَدْلٍ وَأَمَانٍ وَإِصْلاَحٍ وَإِحْسَانٍ وَإِنَّهَا حُلْوَةٌ بِأَفْوَاهِ اْلأَخْيَار غُصَّةٌ عَلَى غَلاَصِمِ اْلأَشْرَارِ. وَعَلَيْكُمْ بِالتَّنَاصُحِ فِ ذَالِكَ وَحُسْنِ التَّعَاوُنِ عَلَى مَا هُنَالِكَ بِمَوْعِظَةٍ شَافِيَةٍ وَدَعْوَةٍ مُتَلاَفِيَةٍ وَحُجَّةٍ قَاضِيَةٍ.

    Marilah Anda semua dan segenap pengikut Anda dari golongan para fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata dan orang-orang kuat, berbondong-bondong masuk jam’iyyah yang diberi nama “Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini.” Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga. Ini adalah Jam’iyyah yang lurus, bersifat memperbaiki dan menyantuni. Ia manis terasa di mulut orang-orang yang baik dan bengkal (jawa: kolot) ditenggorokan orang-orang yang tidak baik. Dalam hal ini hendaklah Anda sekalian saling mengingatkan dengan kerjasama yang baik, dengan petunjuk yang memuaskan dan ajakan memikat serta hujjah yang tak terbantah.

    Kutipan Mukadimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama pada pembuka di atas, sedikitnya telah memberi gambaran pada kita mengenai Nahdlatul Ulama yang di dalamnya terdapat Jama’ah[1] serta Jam’iyyah[2]. Struktur kalimat pada Mukadimah Qonun Asasi yang disusun oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadhratussyaikh Hasyim Asy’Ari, menjelaskan pada kita bahwa Nahdlatul Ulama adalah organisasi-nya para Ulama yang memiliki kewajiban memberi pengayoman kepada Jama’ah yang mengikuti para ulama yang ada dalam organisasi ini.

    Mukadimah Qonun Asasi ini merupakan acuan dasar berdirinya sebuah perkumpulan para ulama pemimpin umat/jama’ah menuju tujuan “Izzul Islam wal Muslimin”[3] yang kemudian dinamakan Nahdlatul Ulama. Hal tersebut berarti bahwa peng-organisasi-an perkumpulan ini berada pada ulama/kyai yang dibantu oleh orang-orang yang di-“bawa”-nya sebagai perangkat pelaksana organisasi. Tujuan peng-organisasi-an perangkat tersebut ditujukan bagi kemaslahatan jama’ah/umat.

    Mukadimah Qonun Asasi tersebut pertamakali disampaikan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari pada deklarasi berdirinya Nahdlatul Ulama tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya. Kemudian, untuk kepentingan pengesahan organisasi[4] maka dirumuskanlah Qonun Asasi tersebut dalam tata aturan organisasi atau Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga yang disahkan pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-3 tahun 1928 di Surabaya.

    Nahdlatul Ulama merupakan Organisasi-nya para ulama yang dibantu para pengikutnya sebagai perangkat Organisasi/Jam’iyyah. Kalimat ;

    فَهَلُّمُوا كُلُّكُمْ وَمَنْ تَبِعَكُمْ جَمِيْعًا

    Mengindikasikan bahwa yang diajak untuk berkumpul oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari adalah para ulama/kyai, yang kemudian dari masing-masing mereka tersebut mengajak para pengikutnya. Dengan demikian, Organisasi Nahdlatul Ulama merupakan Jam’iyyah-nya para ulama, yang di-organisir oleh ulama dibantu perangkat organisasi yang ditunjuknya dan diperuntukkan bagi kebaikan jama’ah/umat sesuai prinsip “Izzul Islam wal Muslimin”.

    Sejak awal, Mukadimah Qonun Asasi banyak mengajak kepada persatuan, kekompakan baik dalam urusan Agama maupun urusan kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW serta syair-syair yang dikutip Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari di dalamnya, merupakan tema-tema persatuan serta kekompakan dan saling membantu satu sama lain dalam hal Agama maupun sosial kemasyarakatan menuju kejayaan Islam dan Kaum Muslimin di Nusantara [Indonesia], khususnya Kaum Muslimin dari golongan Ahlusunah wal Jama’ah.

    Dalam perjalanannya, Nahdlatul Ulama dapat menunjukkan perannya mewujudkan cita-cita “Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin” secara global di Indonesia. Melalui serangkaian kiprahnya di masa pra-kemerdekaan hingga kemerdekaan Indonesia di-Proklamasikan pada 17 Agustus 1945.

    Begitu pula halnya di masa pasca-kemerdekaan Indonesia, Nahdlatul Ulama tetap mengikuti dinamika kehidupan kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia dan menjadikannya agenda-agenda penting yang harus dilakukan oleh organisasi para Ulama/Kyai ini. Dengan semangat persatuan, kekompakan dan saling tolong menolong yang sama nilainya seperti yang diinginkan para pendirinya terdahulu. Prinsip-prinsip persatuan, kekompakan dan saling tolong menolong serta selalu ingin mendamaikan inilah yang hingga saat ini masih terus diupayakan untuk dipertahankan dalam menjalankan organisasi yang semakin berkembang.

    Saat ini, disaat Nahdlatul Ulama akan mengakhiri satu abad keberadaannya dan memasuki abad kedua kiprahnya di masyarakat, semangat cita-cita “Izzul Islam wal Muslimin” terlihat semakin bersinar. Memasuki abad kedua usia Nahdlatul Ulama, dengan pemimpin organisasi yang baru dari hasil Muktamar ke-34 tahun 2021 ini diharapkan Nahdlatul Ulama semakin tertata dalam internal organisasi. Revitalisasi organisasi sesuai tatanan organisasi ideal, pernah disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH. Yahya Cholil Staquf pada sebuah wawancara di platform digital, bahwa “harus dilakukan konsolidasi organisasi secara komperehensif[5]. Hal tersebut merupakan langkah ideal dalam organisasi yang harus selalu dilakukan. Beliau melihat adanya kemunduran tata kelola organisasi di dalam Nahdlatul Ulama dengan menggambarkan adanya kegiatan-kegiatan yang tidak terkoordinasi dengan baik di setiap tingkatan yang ada di Nahdlatul Ulama[6].

    Sejalan dengan Mukadimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, di usianya yang telah menuju abad kedua diharapkan mampu menjadi penggerak pedamaian dunia seperti yang tertulis dalam Mukadimah Qonun Asasi mengutip Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 10 ; “sesungguhnya orang-orang itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu dirahmati”. Peran “juru damai” dunia yang telah dijalankan Nahdlatul Ulama, bukanlah sesuatu yang berlebihan. Tidak hanya melihat pada Mukadimah Qonun Asasi saja, namun juga melihat dari gambar besar “bola dunia” yang tersemat dalam lambang organisasi Nahdlatul Ulama, tentu telah menjelaskan pada kita bahwa Nahdlatul Ulama bukanlah sebuah organisasi domestik. Nahdlatul Ulama adalah organisasi yang menjalankan peran “dunia dan akhirat”, demi terwujudnya “Izzul Islam wal Muslimin”.

    Revitalisasi organisasi Nahdlatul Ulama akan terus dilakukan, terlebih lagi telah disampaikan oleh Ketua Umumnya jauh-jauh hari sebelum beliau terpilih dan merupakan salah satu gagasan program yang akan dijalankannya. Selain itu, peran Nahdlatul Ulama di kancah dunia pun semakin ditunggu-tunggu sebagai “juru damai” dunia yang tidak hanya melihat pada negara-negara Islam saja namun sebagai penengah bagi semua negara di dunia.

    Kehadiran Nahdlatul Ulama di dunia, seperti mimpi yang terjadi sebelum dimimpikan. Organisasi ini merupakan organisasi “dunia dan akhirat”, seperti yang pernah saya tulis dalam buku “Memahami Nahdlatul Ulama” (2021). Organisasi ini tidak hanya dijalankan dengan nalar perangkat organisasinya, namun juga dinaungi do’a dan optimisme para pendirinya dan orang-orang yang optimis melihat kehadirannya.

    Kegemilangan Nahdlatul Ulama, pernah disampaikan puluhan tahun silam oleh Sayyid Ahmad ibn Abdillah al-Saqqaf[7], yang diabadikan oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari dalam Mukadimah Qonun Asasi ;

    قَالَ السَّيِّدُ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ السَّقَّافِ :

     إِنَّهَا الرَّابِطَةُ قَدْ سَطَعَتْ بَشَائِرُهَا، وَاجْتَمَعَتْ دَوَائِرُهَا، وَاسْتَقَامَتْ عَمَائِرُهَا فَأَيْنَ تَذْهَبُوْنَ عَنْهَا، أَيْنَ تَذْهَبُوْنَ ..........

    Sayyidina Ahmad bin Abdillah AS- Saqqaf berkata :

    “Jam’iyyah ini adalah perhimpunan yang telah menampakkan tanda-tanda menggembirakan, daerah-daerah menyatu, bangunan-bangunannya telah berdiri tegak, lalu kemana kamu akan pergi? Kemana?”...............

    Revitalisasi Organisasi Nahdlatul Ulama di usianya menjelang satu abad serta menyongsong abad kedua kiprahnya di tengah masyarakat dunia, Nahdlatul Ulama semakin memantapkan kemandiriannya dan berupaya memberi “khidmat” terbaiknya untuk dunia. Tema besar Nahdlatul Ulama di usia menjelang satu abad-nya yakni ; Membangun Kemandirian Warga, Menuju Perdamaian Dunia sangatlah sejalan dengan cita-cita besar para “muassis” nya dalam mewujudkan “Izzul Islam wal Muslimin” serta membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama adalah Organisasi “Dunia dan Akhirat” seperti yang tersemat dalam gambar agung logo Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

     

    Muhammad Arief Albani


    [1] Jama’ah dimaksud adalah sekumpulan orang yang mengikuti “Nahdlatul Ulama” sebagai simpatisan atau muhibbin seorang Kyai yang hanya mengikuti langkah panutannya/orang yang dicintainya. Tidak juga disebut anggota organisasi, karena mereka tidak benar-benar memahami organisasi.

    [2] Jam’iyyah dimaksud sebagai perangkat organisasi yang terstruktur dan terbina. Berisikan struktur pengurus dan anggota yang telah memahami organisasi Nahdlatul Ulama.

    [3] Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin.

    [4] Mengikuti aturan yang diberlakukan pemerintah Belanda yang berkuasa saat itu.

    [5] https://youtu.be/YrHtUd-b_n4 (wawancara viva.co.id tanggal 9 November 2021)

    [6] Tingkatan dalam Nahdlatul Ulama mulai dari Pengurus Anak Ranting-Pengurus Ranting-Majelis Wakil Cabang-Pengurus Cabang-Pengurus Wilayah-Pengurus Besar (bottom up), serta dalam praktek koordinasinya mengacu dari Pengurus Besar ke bawah.

    [7] Sayyid Ahmad ibn Abdillah al-Saqqaf adalah sahabat Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari. Beliau adalah Ulama Hadhramaut, Yaman yang cukup lama tinggal di Surabaya sekaligus merupakan salah satu pendiri ar-Rabithah al-Alawiyah. Beliau wafat di atas kapal dalam perjalan dari Batavia (Jakarta) menuju Hadhramaut dan jenazahnya di-“larung” di lautan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.