Sebuah Panggilan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Senin, 14 Februari 2022 12:21 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sebuah Panggilan

    "Tidak ada yang pernah menduga jika sebuah panggilan telepon bisa menghancurkan sebuah hubungan."

    Dibaca : 1.254 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    x

    Sebuah Panggilan

       Duduk di dalam mobil sedan mewah Mercedes-Benz keluaran terbaru membuat hati Nathalie berbunga-bunga dan semua ini seakan mimpi baginya. Sedangkan pria yang duduk di balik kemudi mobil adalah kekasih Nathalie yang notabene adalah pengusaha muda sukses yang sedang naik daun. Malam ini Mathew sedang mengajak Nathalie pergi makan malam ke sebuah restoran mewah yang ada di tengah kota.

       Mobil sedan mewah yang ditumpangi Nathalie melaju dengan kecepatan standar menyusuri jalanan kota yang berhias gemerlap lampu warna-warni. Malam itu jalanan terlihat ramai dengan dua lajur jalan didominasi oleh kendaraan roda empat. Mobil Mercedes-Benz dengan warna hitam mengkilat yang dikemudikan Mathew berbelok ke sebuah jalan yang di kiri-kanannya ditumbuhi jajaran pohon hingga membentuk kanopi alami. Mobil yang dikemudikan Mathew tiba di sebuah pos pemeriksaan dan mobil pun berhenti. Seorang petugas keamanan datang menghampiri mobil Mathew lalu mengecek bagian bawah mobil dengan alat detektor bahan peledak.

    Setelah menyelesaikan pemeriksaan dengan seksama dan tidak mendapati benda yang mencurigakan, akhirnya petugas keamanan memberi ijin bagi Mathew untuk melanjutkan perjalanan. Palang penghalang akhirnya terbuka secara otomatis dan Mathew segera melajukan mobilnya masuk ke area parkir sebuah restoran mewah yang menyatu dengan apartemen. Mobil Mercedes-Benz melaju dengan anggun menuju tempat parkir yang disediakan untuk tamu VIP sampai akhirnya mobil berhenti di bawah sebuah pohon Kamboja yang sedang mekar. Mathew segera turun dari mobil lalu berjalan ke sisi pengemudi dan membukakan pintu bagi Nathalie. Ketika turun dari mobil, wajah Nathalie tampak berseri-seri lalu dengan lembut Mathew menggandeng tangan Nathalie dan berdua mereka berjalan masuk ke dalam area lobi yang bermandikan cahaya lampu.

       Restoran yang dipilih oleh Mathew adalah restoran yang mendapat predikat bintang lima Michelin dan merupakan salah satu restoran termewah yang ada di kota ini. Restoran ini memiliki pemandangan indah ke arah kota, dengan perpaduan nuansa klasik dan modern membuat siapapun yang berada di dalamnya akan merasa betah untuk duduk berlama-lama sambil menikmati hidangan kelas atas. Ketika Mathew dan Nathalie telah berada di dalam ruang makan VIP, Mathiew dengan sopan menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Nathalie untuk duduk. Kemudian Mathew menarik sebuah kursi untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Nathalie.

       Mathew memandang wajah Nathalie yang terlihat begitu cantik malam ini dengan gaun pesta berwarna hitam, ditambah pulasan tipis make up di wajahnya membuat siapapun pasti akan melirik Nathalie ketika ia sedang berjalan. Dalam suasana romantis seperti malam ini, Mathew mempunyai kejutan yang spesial bagi Nathalie. Oleh karena itu, Mathew benar-benar ingin menikmati serta menghabiskan malam akhir pekan ini bersama Nathalie.

       “Nathalie, penampilanmu malam ini sungguh sempurna. Aku sampai terpesona melihatmu dan sungguh aku adalah pria paling beruntung di dunia ini karena bisa makan malam bersama wanita cantik seperti dirimu,” ucap Mathew membuka percakapan dengan senyum bahagia yang tergambar jelas di wajahnya.

       Mendengar kalimat pembuka yang baru saja Mathew sampaikan, membuat pipi Nathalie merona merah karena merasa malu, tetapi pada saat yang sama juga merasa senang.

       “Ah, kamu bisa aja Mathew,” kata Nathalie malu-malu, “malam ini akulah wanita yang paling beruntung bisa makan malam bersamamu di sebuah restoran mewah untuk pertama kalinya.”

       “sama-sama sayangku,” jawab Mathew sambil meremas kedua tangan Nathalie dengan lembut. “Aku senang sekali akhirnya kita bisa menghabiskan waktu akhir pekan bersama.”

       Nathalie tersenyum bahagia hingga tanpa sadar air mata kebahagiaan turun membasahi pipinya.

       “Aku yang sungguh beruntung memiliki kekasih juga calon suami seperti dirimu Mathew. Muda, tampan, baik hati, serta pengusaha sukses,” ujar Nathalie mengungkapkan kekagumannya pada Mathew.

       Kali ini giliran Mathew yang tersenyum gembira mendengar kekaguman serta kecintaan Nathalie pada dirinya.

       “Sayang, malam ini aku memiliki sebuah kejutan yang spesial untukmu.”

       “Benarkah! Kamu mempunyai kejutan untukku sayang? Bolehkah aku mengetahui kejutan apa yang telah engkau persiapkan?” tanya Nathalie dengan antusias seakan tidak sabar ingin segera mengetahui.

       “Sabar dulu sayang. Kita pasti akan tiba di momen itu,” jawab Mathew sambil mengedipkan mata menggoda Nathalie.

       Percakapan ringan antara Mathew dan Nathalie terhenti sejenak ketika seorang pelayan muda dengan kemeja putih datang mengantarkan hidangan yang telah Mathew pesan sebelumnya. Dengan cekatan pelayan muda itu menghidangkan beberapa menu makanan di atas meja yang langsung menggugah selera makan Nathalie. Setelah selesai menghidangkan makanan, pelayan muda itu kembali meninggalkan meja pasangan muda yang sedang memadu kasih dan terlihat begitu romantis.

       Makan malam kali ini benar-benar membuat hati Nathalie hanyut dibuai perasaan cinta pada sosok pemuda yang bernama Mathew. Belum lagi bayangan Nathalie akan menjadi seorang istri dari salah satu pengusaha muda sukses. Yang mana pernikahan ini akan bisa merubah serta mengangkat status dirinya juga keluarganya yang selama ini bisa dibilang dari keluarga miskin. Bayangan-bayangan itu tanpa sadar membuat Nathalie tersenyum sendiri.

       Mathew yang sejak tadi duduk sambil mengamati wajah Nathalie tiba-tiba mendapati kekasihnya tersenyum sendiri seperti sedang melamun sesuatu yang indah dan tidak menyadari keberadaan dirinya yang duduk di depannya. Dengan lembut Mathew menggoyang tangan Nathalie sambil berkata.

       “Sayang apa kamu baik-baik saja? Kamu terlihat seperti sedang melamun sesuatu yang indah, ya?”

       Ketika Nathalie akhirnya tersadar dari lamunannya menjadi istri seorang pengusaha sukses. Nathalie secara spontan menarik tangannya dari genggaman Mathew, lalu menggerakkan kedua tangannya di depan wajah sambil berkata. “Maaf aku tadi hanya …, lupakan saja sayang. Aku baik-baik saja.” Tingkah laku Nathalie yang apa adanya ini membuat Mathew kembali tertawa bahagia.

       “Tidak apa-apa sayang. Mari kita nikmati hidangan makan malam yang spesial ini,” ujar Mathew.

       “Terima kasih sayangku. Ini sungguh luar biasa, semua hidangan ini terlihat sangat nikmat dan pastinya mahal,” kata Nathalie dengan berterus terang setelah melihat beberapa hidangan yang tersaji di atas meja.

       “Biasa aja sayangku. Jika untuk dirimu, aku ingin selalu memberikan yang terbaik,” jawab Mathew diplomatis.

       Akhirnya Nathalie dan Mathew mulai menikmati hidangan yang tersaji di atas meja. Selama menikmati hidangan makan malam ini, Mathew beberapa kali menyuapi Nathalie dengan manja seolah ingin selalu dekat dengan Nathalie. Tidak ketinggalan Nathalie juga menyuapi Mathew biarpun dengan tangan gemetar karena momen ini adalah yang pertama kali dirasakannya. Setelah Mathew dan Nathalie menghabiskan hidangan yang ada di atas meja. Mathew segera memanggil pelayan muda tadi untuk membersihkan bekas hidangan yang ada di atas meja. Dengan cekatan pelayan muda itu mengambil piring-piring makan beserta tempat hidangan yang sudah habis, sambil pelayan muda itu membersihkan meja hingga kembali seperti semula. Setelah menyelesaikan tugasnya dan merasa puas dengan hasil kerjanya, pelayan muda itu kembali meninggalkan pasangan muda yang sedang di mabuk cinta.

       “Sayangku, inilah saatnya aku ingin memberikan sebuah kejutan yang spesial untukmu,” kata Mathew membuka percakapan.

       “Aku sudah tidak sabar ingin segera mengetahuinya sayangku.” Wajah Nathalie terlihat bahagia dengan senyum menawan.

       “Tetapi, ada satu syarat,” ujar Mathew, “engkau harus menutup mata dan tidak boleh membukanya sampai aku mengatakan ‘buka’.”

       “Baiklah sayangku.” Nathalie lalu memejamkan matanya.

       Dengan perlahan Mathew mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku jasnya lalu meletakkannya di atas meja dengan perlahan.

       “Sekarang kamu sudah bisa membuka mata lagi sayangku,” pinta Mathew.

       Dengan perlahan Nathalie mulai membuka mata dan mendapati Mathew sedang duduk sambil menyunggingkan senyum. Lalu pandangan Nathalie tertuju ke sebuah kotak kecil berwarna merah yang ada di atas meja. Dengan bingung Nathalie berkata.

       “Itu apa sayangku yang ada di atas meja?” Sambil tangan Nathalie menunjuk ke sebuah kotak kecil berwarna merah.

       “Kotak kecil ini adalah kejutan yang telah aku siapkan untukmu sayangku,” ujar Mathew, “sekarang, bolehkah aku membukanya supaya engkau bisa mengetahui isinya.”

       Nathalie hanya mengangguk sekali tanda ia setuju. Lalu dengan perlahan Mathew mulai membuka kotak kecil yang ada di atas meja dan menunjukkan isi yang ada di dalamnya kepada Nathalie. Ketika akhirnya Nathalie melihat isi yang ada di dalam kotak, seketika wajah Nathalie terlihat terkejut dan seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

       “Sayangku, apa kamu bercanda dengan semua ini?” tanya Nathalie seolah bingung dengan benda yang ada di hadapannya.

       “Tidak sayangku. Aku tidak bercanda dengan semua ini, dan itu adalah kejutan yang spesial untukmu,” jawab Mathew dengan tenang.

       Mendengar jawaban Mathew, wajah Nathalie seketika merona karena bahagia dan jantungnya berdegup kencang.

       “Ya ampun!” ucap Nathalie terbata-bata sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Apakah itu untukku sayangku?”

       “Benar sekali sayangku. Cincin berlian ini kupersembahkan untukmu sebagai lambang cintaku kepadamu. Dan malam ini aku melamarmu dengan cincin berlian ini.”

       “Ini sungguh di luar dugaanku sayangku. Jadi semua ini telah engkau persiapkan sebelumnya hanya untukku?” tanya Nathalie dengan bahagia.

       “Benar sekali sayangku,” jawab Mathew. “Malam ini aku ingin memasangkan cincin berlian ini di jari manismu sebagai tanda aku telah melamarmu.”

       “Silahkan sayangku, engkau boleh memasangkan cincin berlian ini di jari manisku,” jawab Nathalie.

       Setelah mendapat ijin dari Nathalie. Mathew segera mengambil cincin berlian dari dalam kotak, dengan perasaan bahagia Mathew memegang tangan kanan Nathalie, kemudian tangan kanan Mathew mulai bergerak untuk memasangkan cincin berlian di jari manis Nathalie. Ketika tangan kanan Mathew tinggal selangkah lagi berhasil memasangkan cincin berlian ini; tiba-tiba telepon genggam Mathew yang ada di atas meja berbunyi. Dering telepon itu membuat rencana Mathew untuk memasangkan cincin berlian jadi terhenti untuk sesaat. Ketika Mathew melihat nama si penelepon yang muncul di layar, seketika wajah Mathew berubah murung dan bahasa tubuh serta sikap Mathew menjadi gelisah.

       Dering telepon genggam Mathew terus berbunyi dengan suara nyaring seakan tidak mau tahu momen romantis yang sedang Mathew jalani malam ini. Nathalie yang melihat perubahan bahasa tubuh juga wajah Mathew menjadi bingung dengan kejadian ini. Nathalie akhirnya memberanikan diri bertanya karena Mathew sepertinya tidak ingin menerima panggilan telepon yang masuk.

       “Sayang, kenapa sikap serta bahasa tubuh kamu menjadi gelisah dan tegang? Aku bisa melihatnya dengan jelas ketika panggilan ini masuk.”

       “Tidak apa-apa sayangku. Aku baik-baik saja,” jawab Mathew dengan tidak meyakinkan.

       “Kamu terima dulu panggilan itu sayangku. Aku bisa menunggu dengan sabar, mungkin ini menyangkut bisnis yang membutuhkan perhatianmu dengan segera.”

       “Oh, tidak apa-apa sayangku. Ini hanya rekan kerja di kantor dan aku bisa meneleponnya setelah acara makan malam ini usai,” jawab Mathew. “Aku tidak mau momen pertunangan ini terhenti hanya karena sebuah panggilan.” Mathew lalu menekan tombol menolak supaya panggilan itu segera berhenti dan suasana kembali tenang.

       Nathalie mulai merasakan ada yang salah dengan Mathew dan semakin lama Mathew menjadi tidak tenang duduk di kursinya. Pasti ada sesuatu yang Mathew sembunyikan darinya. Mungkin ini soal pekerjaan di kantor, atau bisnis yang sedang mengalami masalah dan Mathew tidak ingin membuat kekasihnya ikut merasakan beban yang ditanggungnya. Nathalie bisa menerima situasi ini karena ia begitu mencintai Mathew, tetapi hati kecil Nathalie mengatakan yang sebaliknya dan ini meresahkan hatinya.

       Terjadi keheningan diantara Mathew dan Nathalie. Pandangan mata Mathew sesekali melirik telepon genggam yang ada di atas meja, seolah-olah telepon genggam itu dapat meledak kapan saja dan menghancurkan Mathew beserta Nathalie menjadi berkeping-keping. Namun berbeda dengan Nathalie yang duduk di hadapan Mathew. Sorot mata Nathalie bagaikan seorang hakim yang akan menjatuhkan vonis mati bagi terdakwa yang duduk di kursi pesakitan. Dan terdakwa itu adalah Mathew yang setiap detik semakin tidak tenang duduk di kursinya, ditambah muncul bintik-bintik kecil keringat di dahinya. Keheningan ini sepertinya akan berlangsung selamanya, tetapi akhirnya dipecahkan oleh suara Mathew yang tidak meyakinkan.

       “Sayangku, kenapa engkau menatapku seperti itu? Bagaikan aku ini adalah seorang pencuri yang ketahuan ketika sedang beraksi.”

       “Maaf sayangku, aku tidak bermaksud seperti itu,” jawab Nathalie. “Hanya saja sikap dan tingkah lakumu menjadi aneh setelah dering telepon masuk yang sepertinya mengejutkanmu.”

       “Lupakan soal telepon tadi yang telah merusak acara kita malam ini. Aku akan menelepon balik secepatnya. Aku bisa pastikan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dirisaukan sayangku,” ujar Mathew untuk meyakinkan Nathalie.

       “Baiklah sayangku, aku percaya padamu,” ucap Nathalie dengan senyuman.

       Baru saja Mathew bisa meyakinkan Nathalie yang mulai curiga terhadapnya dan di saat yang sama mendapatkan kembali ketenangannya. Tiba-tiba dering telepon genggam Mathew kembali berbunyi. Ketika Mathew mengetahui nama yang muncul di layar telepon genggamnya, jantungnya seakan berhenti berdetak dan kepanikan kini melandanya.

       “Sial! Kenapa menelepon di saat seperti ini,” ucap Mathew pada dirinya sendiri. Lupa jika Nathalie ada di hadapannya dan bisa mendengarkan yang Mathew katakan.

       Dering telepon itu membuat kecurigaan Nathalie yang sebelumnya mulai menghilang kini kembali dengan lebih kuat. Nathalie semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Mathew darinya. Kini, Nathalie mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang Mathew sembunyikan darinya. Nathalie yakin ini sesuatu yang besar karena bisa membuat Mathew salah tingkah, tegang dan panik hanya dari sebuah panggilan telepon.

       “Kenapa kamu tidak terima telepon itu dan mengatakan jika saat ini kamu sedang makan malam bersama kekasihmu dan akan menelepon balik sepcepatnya setelah makan malam ini selesai,” ujar Nathalie, “dengan begitu orang yang menelepon itu tahu bahwa engkau sedang ada urusan penting.”

       Mendengar ucapan tegas Nathalie yang baru saja disampaikan, membuat Mathew seperti berdiri di tengah rel kereta api tanpa bisa berbuat apa-apa dengan kereta api melaju kencang ke arahnya dan pasti akan menggilasnya tanpa ampun. Sungguh sebuah ironi situasi yang Mathew hadapi saat ini. Mathew harus berpikir cepat bagaimana menemukan jalan keluar dari situasi ini. Namun pada saat yang sama telepon genggam Mathew terus berbunyi menunggu untuk diterima.

       Karena sudah tidak sabar melihat Mahtew yang tidak berani menerima telepon yang terus berbunyi. Nathalie akhirnya berkata dengan kecurigaan yang tidak ditutup-tutupi lagi. “Mathew, kenapa kamu tidak berani menerima telepon yang terus berbunyi itu? Apa jangan-jangan kamu memiliki wanita lain selain aku? Jika kamu tidak berani menerima panggilan itu, biarlah aku yang menerimanya dan berbicara dengan orang yang ada di panggilan itu.”

       Mendengar kata-kata yang disampaikan Nathalie mengenai kecurigaannya tentang adanya wanita lain atau orang ketiga dalam hubungan ini, membuat Mathew langsung bereaksi yang malah membuat suasana semakin runyam.

       “Aku katakan padamu, bahwa aku tidak memiliki wanita lain selain dirimu Nathalie, sungguh!” Namun, ucapan Mathew ini seperti sebuah pembelaan diri dan sangat tidak meyakinkan bagi Nathalie.

       “Aku baru bisa percaya padamu Mathew, jika engkau terima panggilan itu sekarang! Aku tidak peduli siapa yang ada di panggilan itu asal engkau menerimanya di hadapanku tidak di tempat lain,” ujar Nathalie dengan nada yang menunjukkan kemarahan serta kekecewaan.

       Karena tidak memiliki pilihan lain dan situasinya sangat tidak menguntungkan bagi Mathew: ditambah dering telepon yang terus berbunyi menambah ketegangan diantara dirinya dan Nathalie. Akhirnya dengan terpaksa Mathew menerima panggilan itu.

       “Gunakan pengeras suara agar aku bisa mendengar siapa yang sedang berbicara denganmu,” pinta Nathalie dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah.

       Ketika Mathew akhirnya menerima panggilan yang tidak pada tempatnya itu, telapak tangan Mathew telah basah oleh keringat dan Nathalie bisa melihat dengan jelas. Dan ini menambah keyakinan Nathalie bahwa Mathew sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

       Belum sempat Mathew mengatakan ‘halo’ tiba-tiba terdengar suara yang berkata. “Hai sayang, kamu ke mana aja sih kenapa tidak pernah memberi kabar? Aku begitu merindukanmu saat ini.” Mendengar suara wanita yang mengatakan ‘sayang’ membuat Mathew langsung mematikan panggilan. Namun itu semua sudah terlambat.

       Tidak ada yang menduga jika suara yang keluar dari pengeras suara telepon genggam Mathew adalah suara seorang wanita, dan yang membuat situasi semakin runyam dan tegang adalah apa yang wanita itu katakan kepada Mathew. Pada saat Nathalie mendengar panggilan ‘sayang’ dari seorang wanita yang tidak ia kenal kepada kekasih juga calon suaminya. Dunia impian Nahtalie tentang berumah tangga, menjadi seorang istri yang bisa membahagiakan suaminya, juga menjadi seorang ibu yang merawat serta mengasuh buah hati cinta mereka berdua runtuh seketika bagai dihantam sebuah bom atom yang menghancurkan segalanya hingga tidak tersisa. Nathalie tidak pernah menyangka jika makan malam yang awalnya begitu romantis, sampai momen yang membuat Nathalie bahagia ketika Mathew akan melamar dirinya dengan sebuah cincin berlian yang sangat indah, akhirnya hancur dan berantakan karena sebuah panggilan.

       Nathalie begitu hancur menerima kenyataan pahit malam ini, ternyata Mathew memiliki wanita lain selain dirinya. Hati Nathalie bagai disayat ribuan pisau, yang mana setiap sayatan baru menggoreskan luka yang lebih dalam dan lebih menyakitkan. Nathalie tidak habis pikir dengan pengkhianatan yang Mathew lakukan terhadap dirinya. Kini yang tersisa dari Nathalie adalah kemarahan yang memuncak dan siap meledak kapan pun tanpa bisa dibendung lagi.

       Ruang makan tempat Nathalie dan Mathew menikmati hidangan kini berubah menjadi ketegangan antara dua kubu yang semakin lama semakin meningkat. Selepas panggilan singkat itu, Mathew dan Nathalie duduk diam tanpa ada yang berbicara. Mathew terlihat gelisah dan panik dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Sedangkan sorot mata Nathalie bagaikan seorang penembak jitu yang sedang membidikkan senjatanya kepada musuh. Dan musuh itu adalah Mathew.

       Kesunyian ini semakin membuat Mathew tertekan, Mathew ingin mencairkan suasana tapi ia tidak tahu harus memulai dari mana. “Siapa wanita yang baru saja menelepon serta memanggilmu dengan ‘sayang’, Mathew?” Bentak Nathalie dari seberang meja dengan suara keras dan marah yang membuat Mathew terkejut hingga hampir terjatuh dari kursinya.

       “Dia hanya seorang …,” Mathew terlihat bingung dan kikuk mencari jawaban yang pas dan bisa diterima Nathalie.

       “Mathew, jawab pertanyanku! Siapa wanita yang baru saja meneleponmu?” Bentak Nathalie kali ini dengan menggebrak meja makan dengan kedua telapak tangannya.

       “Dia hanya sebatas rekan kerja yang bekerja di perusahaanku,” jawab Mathew. “Dan sungguh aku tidak mengetahui kenapa ia bisa memanggilku dengan sebutan ….”

       “Rekan kerja katamu Mathew?” ucap Nathalie dengan sinisme yang terlihat jelas. “Mana mungkin ada rekan kerja yang berani memanggil pemilik perusahaan dengan sebutan ‘sayang’. Kamu pikir aku ini apa, orang bodoh, bisa kamu kelabui dengan alasan basi seperti anak kecil. Dengar Mathew, aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan.”

       “Nathalie dengarkan aku, kumohon!” pinta Mathew, “aku minta maaf dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tapi, percayalah aku tidak pernah bermain cinta dengan wanita lain dan aku selalu setia kepadamu.”

       Setelah mendengar jawaban yang Mathew sampaikan. Nathalie hanya duduk diam sambil menatap Mathew dengan sorot kebencian dan kekecewaan. “Satu pertanyaan untukkmu Mathew,” ucap Nathalie dingin, “lalu engkau anggap apa wanita itu? dan aku ini engkau anggap sebagai apa selama ini Mathew, jawab!” teriak Nathalie sambil mengeluarkan kemarahan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.

       Mathew yang duduk di hadapan Nathalie hanya bisa menundukkan kepala menghindari pertanyaan Nathalie yang begitu mengena tentang semua yang telah dilalui ini. Kali ini Mathew yang berada dalam posisi sulit dan terjepit. Terjadi keheningan antara Mathew dan Nathalie, karena sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Mathew yang hanya duduk sambil menundukkan kepala. Nathalie mengambil sebuah gelas yang berisi air putih lalu dengan marah menyiramkan air putih yang ada di dalam gelas itu ke wajah Mathew. Seketika Mathew terkejut dan marah mendapat siraman air putih di wajahnya dari Nathalie yang duduk di hadapannya. Baginya ini merupakan penghinaan pribadi dan sudah keterlaluan.

       “Nathalie apa yang baru saja kau perbuat kepadaku? Jangan kurang ajar dan bertindak bodoh kepadaku di sini.” Teriak Mathew tidak terima dengan apa yang baru saja Nathalie perbuat.

       “Memangnya kenapa, kamu tidak terima dengan perbuatan yang baru saja aku lakukan? Lalu kamu mau apa Mathew, berdebat hingga membuat keributan di sini? silahkan jawab pertanyaanku yang tadi, karena aku menunggu jawaban darimu Mathew.” Tantang Nathalie dengan sengit dan tidak gentar.

       “Kamu sudah mulai berani dengan aku ya, Nathalie. Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa,” kata Mathew menyombongkan diri.

       “Aku sedang berurusan dengan lelaki brengsek sepertimu. Lelaki yang hanya menjual karisma dan pencitraan supaya dapat memikat wanita untuk jatuh cinta kepadamu. Tapi pada kenyataannya engkau hanya sampah yang berlindung di balik kemewahan, perusahaan dan gaya hidup hedonis,” pungkas Nathalie.

       “Cukup Nathalie. Hentikan ucapanmu yang sangat keterlaluan dan menghina diriku.” Bentak Mathew karena terpancing emosinya dengan ucapan Nathalie yang begitu merendahkannya.

       “Aku tidak akan berhenti sebelum aku mendapat jawaban darimu. Siapa wanita yang menelepon serta memanggilmu dengan sebutan ‘sayang’?”

       Mathew akhirnya mengangkat kedua tangan untuk meredakan ketegangan yang semakin memuncak. “Tenang Nathalie, tenang. Aku akan jelaskan semuanya kepadamu. Tapi kumohon dengarkan aku baik-baik,” pinta Mathew. “Aku begitu mencintaimu Nathalie dan soal kata-kataku yang kasar kepadamu tadi, aku minta maaf. Aku benar-benar hilang kendali dan tidak dapat mengontrol emosiku sehingga ….” Mathew hanya menggelengkan kepala seolah sedang mengusir setan yang ada di dalam pikirannya.

       “Aku sudah tidak peduli lagi dengan hubungan ini Mathew. mulai sekarang hubungan kita cukup sampai di sini. aku benar-benar kecewa kepadamu Mathew dan sungguh hatiku begitu terluka malam ini.” Nahalie mulai terisak dan tidak dapat menahan air matanya lagi. “Karena apa? Karena engkau telah mengkhianati cinta dan ketulusanku. Aku masih tidak percaya dengan semua ini, bagiku ini semua hanya mimpi yang akan hilang dengan sendirinya. Tapi ini adalah sebuah kenyataan pahit yang harus aku terima dalam perjalanan cintaku.”

       Melihat Nathalie mulai menangis karena rasa sakit di hatinya, Mathew segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri untuk menenangkan dan meminta maaf atas semua kejadian malam ini. Mathew berdiri di samping Nathalie dan dengan lembut tangan Mathew memegang bahu Nathalie untuk menunjukkan bahwa dirinya masih mencintainya. Nathalie hanya duduk diam tidak merespon, hanya suara isak tangis yang terdengar.

       “Maafkan aku sayang. Sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi malam ini.” Suara Mathew terdengar pelan seperti sedang berbisik.

       Masih tidak ada jawaban dari Nathalie dan hanya kebisuan yang Mathew dapatkan.

       “Sayangku Nathalie. Bicaralah kepadaku,” pinta Mathew dengan lembut.

       Sebagai jawaban dari pertanyaan Mathew, Nathalie segera berdiri dari tempat duduknya lalu menghadap Mathew. Tiba-tiba tangan kanan Nathalie menampar wajah Mathew dengan kekuatan penuh hingga membuat Mathew tersungkur ke meja dan jatuh ke lantai.

       “Jangan sekali-kali engkau berani menyentuh serta memegang tubuhku lagi. Ingat itu Mathew!” ucap Nathalie dengan ketegasan yang tidak mungkin salah diartikan.

       Mathew terlihat kesakitan sambil mengusap bagian kiri wajahnya setelah mendapat tamparan telak dari Nathalie. Dengan susah payah Mathew berusaha bangkit dan kembali duduk di kursinya. Setelah berhasil duduk di kursi, Mathew memandang Nathalie dan merncerna kejadian yang baru saja ia alami. Ketika Mathew sedang berusaha menenangkan diri. Nathalie berbicara bagai seorang hakim yang menjatuhkan vonis bersalah terhadap tersangka.

       “Dengarkan aku baik-baik Mathew. Dan, tolong jangan potong kata-kataku ini, cukup dengarkan dengan baik. Malam ini hubungan kita cukup sampai di sini. aku sudah tidak mau lagi mendengar alasan juga penjelasan apa pun darimu. Aku sudah terlanjur kecewa kepadamu dan rasa sakit yang engkau timbulkan kepada hatiku mungkin tidak dapat diobati lagi. Sungguh, awalnya aku meyakini jika dirimu adalah pria yang baik, sopan serta bertanggung jawab. Tetapi malam ini kenyataan yang sesungguhnya tentang dirimu akhirnya terbuka. Dan aku sungguh tidak percaya dengan apa yang aku lihat sendiri. Ternyata penilaianku selama ini terhadapmu adalah salah besar.” Nathalie berhenti berbicara lalu menutupkan kedua tangannya ke wajah dan kembali menangis dengan suara lirih.

       Mathew benar-benar merasa bersalah telah melukai hati Nathalie yang tulus mencintainya. Kini ia berusaha sekuat tenaga memperbaiki hubungan yang telah kandas dihempas ombak lautan yang ganas dan tidak ada cara untuk memperbaikinya.

       “Nathalie! Nathalie!” panggil Mathew.

       “Cukup Mathew. Jangan kau habiskan energi juga tenagamu untuk memintaku kembali kepadamu, itu tidak mungkin. Aku tidak akan pernah kembali lagi dan satu hal lagi, jangan pernah mencariku lagi. Anggaplah aku sudah hilang bagai di telan bumi untuk selamanya,” jawab Nathalie dengan sesekali isak tangis.

       “Tunggu Nathalie. Beri aku kesempatan sekali lagi,” pinta Mathew seolah berat kehilangan Nathalie.

       “Tidak ada kesempatan kedua untukmu Mathew, maaf. Silahkan engkau lanjutkan hubunganmu dengan wanita yang tadi meneleponmu. Aku tidak akan marah lagi, karena malam ini engkau bukan bagian dari hidupku lagi.”

       Nathalie sudah muak melihat wajah Mathew yang memelas karena ingin mendapat perhatian juga cinta Nathalie yang tulus. Namun, tanpa sengaja pandangan mata Nathalie melihat cincin berlian yang sedianya akan dipasangkan di jari manis Nathalie sedang tergeletak di atas meja makan. Dengan cepat Nathalie mengambil cincin berlian itu lalu dengan marah melempar cincin berlian itu ke tubuh Mathew. kemudian Nathalie mengambil tas selempang, mengenakannya dan berjalan meninggalkan Mathew yang masih duduk di kursi dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang baru saja Nathalie perbuat.

       “Nathalie tunggu! Jangan tinggalkan aku begitu saja,” teriak Mathew putus asa.

       Nathalie tidak mempedulikan teriakan Mathew yang terlihat putus asa dan terus berjalan menuju pintu keluar. Ketika telah sampai di pintu, Nathalie berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang tegas dan jelas.

       “Kamu tidak perlu mengantarku pulang Mathew. Aku bisa pulang sendiri malam ini.” Kemudian Nathalie menghilang dari balik pintu untuk selamanya, hanya terdengar suara langkah kaki Nathalie yang semakin jauh meninggalkan Mathew.

       Mathew hanya duduk sambil merenungi semua kejadian yang berlangsung di luar rencananya malam ini. Mathew tidak pernah menyangka jika sebuah panggilan telepon telah menghancurkan hubungannya dengan Nathalie wanita yang begitu ia cintai. Dan sekarang, Mathew dihadapkan pada masalah lain yang harus ia selesaikan dengan wanita yang telah merusak hubungan cintanya dengan Nathalie. Sungguh sebuah malam yang berat serta menguras emosi bagi Mathew, ketika dihadapkan pada dua persoalan pada waktu yang bersamaan dan diharuskan mengambil sebuah pilihan yang begitu sulit. Mathew hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya sambil tangan kanannya memegangi serta memandangi cincin berlian yang ia belikan khusus untuk Nathalie.

    Tamat

      

    Ikuti tulisan menarik Frank Jiib lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.