x

Hardiknas

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 17 Maret 2022 14:50 WIB

Hati-Hati, Doyan Memperkeruh Suasana, Menjadi Karakter yang Diteladani

Yah, inilah kenyataan yang terus bergulir di negeri kita. Mudahnya memperkeruh keadaan. Sebab, memang, segala sesuatu yang terkait kejahatan, ketidakbenaran, ketidakadilan, hal negatif, perbuatan dosa dan sejenisnya, semua lebih mudah dilakukan dibanding perbuatan menjernihkan keadaan. Jahatnya lagi, bila semua dilakukan karena ada skenario karena tujuan dan kepentingan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mengapa dunia maya dan dunia nyata di +62 baik melalui media sosial (medsos), media massa online dan cetak, serta media televisi, penuh dengan berita dan kasus-kasus yang menambah keruh suasana?

Satu masalah tercipta atau dicipta, terus digoreng dan belum berujung solusinya hingga budaya saling hujat dan saling lapor mentradisi, muncul masalah baru, entah tak sengaja tercipta, atau memang bagian dari rencana atau skenario yang terkait dengan masalah-masalah sebelumnya, terus bertaburan dan menggelora.

Sungguh, demi tujuan tertentu, partai/kelompok/golongan/para elite/buzzer/media massa/orang-orang dan lain sebagainya, sangat tega dan menghalalkan segala cara demi kepentingannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam artikel ini, tak perlu lagi saya bahas hal apa yang kini terus terjadi di Indonesia. Namun, sangat penting dipahami, bahwa Indonesia kini lebih dipenuhi masalah yang dicipta oleh mereka yang hanya mengejar ambisi jabatan, kekuasaan, dan harta kekayaan lewat jalan pintas, sebab korupsi di jalur biasa sudah mudah terendus. Karenanya terus berinovasi, berkreasi via jalur lain, yang aman dari jerat KPK.

Lihatlah apa yang terus dilakukan oleh para partai oposisi pemerintah. Bikin kisah Pemilu ditunda, jabatan Presiden ditambah periodemya? Bahkan, bikin pertemuan dengan Komisioner KPU-Bawaslu. Apa maksudnya?

Lihatlah apa yang terus dilakukan oleh parlemen dan pemerintah yang satu badan dan pikiran. Lalu, apa akibatnya bagi rakyat jelata yang sudah menderita dan tambah terus menderita sebab peraturan dan UU yang tak memihak rakyat, tetapi selalu mengatasnamakan rakyat.

Lihatlah, beberapa kementerian yang terus bikin masalah dan keruh suasana berbangsa dan bernegara. Masalah sensitif terus dimunculkan, bukan diredakan malah saling unjuk kekuatan seperti bangsa Hutan Rimba.

Melengkapi kisruh tak berujung para buzzer di dunia maya, seolah berbaju Cebong, Kampret, atau Kadrun. Luar biasa, skenarionya.

Kini masalah label halal pun jadi komoditi masalah baru. Padahal masalah minyak goreng saja belum kelar-kelar.

Sebelumnya siapa yang mereguk untung dari pandemi corona? Rakyat terus diperas dengan berbagai aturan yang ujungnya wajib test PCR atau Swab Antigen. Mulai dari harga selangit, tatkala rakyat tahu harganya adalah permainan bisnis, maka Presiden memerintahkan harga turun. Lucu, rakyat tahu berapa modal dasar harga alat-alat itu. Siapa yang mereguk untung dari Corona?

Lihatlah, Kemah Presiden di Totik Nol calon IKN Baru, juga menjadi polemik karena klenik. Padahal, masalah IKN Baru pun belum kelar, karena UU yang dicipta dianggap persekongkolan dan hanya demi tujuan dan kepentingan para pemodal alias cukong.

Memperkeruh lebih mudah

Dari berbagai deskripsi nyata yang terus terjadi di Indonesia, sejak pemerintahan Presiden Jokowi, saya mencatat, berita-berita yang ujungnya hanya memperkeruh suasana kenyamanan berbangsa dan bernegara, lebih dominan daripada yang menjernihkan suasana dan masalah.

Kini, rasanya, budaya menjernihkan suasana menjadi barang mahal. Padahal menjernihkan suasana itu sama dengan membuat menjadi jernih, menghilangkan perasaan susah (kacau), menjadikan jelas (tentang persoalan, kerumitan, kekacauan, dan sebagainya), dan menjadikan tidak tegang (tentang suasana, persahabatan, dan sebagainya).

Tetapi, sebaliknya memperkeruh suasana menjadi barang murah yang sangat laku dan diminati, karena keuntungan pihak yang berkepentingan menjadi berlipat-lipat.

Pahamilah, keruh itu maknanya buram karena kotor, tidak bening, tidak jernih, kusut tidak keruan, kalut, kacau, tidak beres. Jadi orang yang suka memperkeruh suasana di zaman sekarang, tujuan dan arahnya jelas untuk apa?

Bila dianalisis, situasi yang terus terjadi di negeri kita ini yang lebih dominan seolah sengaja dicipta suasana yang keruh, memang boleh dibilang mustahil bila hal memperkeruhnya karena tak sengaja. Sebab, ada peribahasa, Keledai saja sekarang tak akan jatuh ke lubang yang sama sampai dua kali.

Keledai dianalogikan sebagai kebodohan. Artinya, orang yang bodoh di zaman sekarang saja tidak akan jatuh ke dalam masalah sampai dua kali. Yang sampai jatuh ke dalam masalah yang sama sampai dua kali, biasanya memang karena tak mampu ditolong dan diselamatkan.

Indonesia terkini, dominan dengan para cerdik pandai pembuat keruh suasana. Apakah rtinya, mereka memang mencipta suasana keruh karena bukan tak disengaja? Pasalnya, satu masalah belum kelar, bila melebar atau sengaja agar biar melebar, maka dimunculkan masalah baru untuk mengalihkan isu dan menggiring opini rakyat?

Jadi, segala persoalan dan masalah yang mendera bangsa dan negara , dimungkinkan bukan karena sebab tak sengaja atau akibat semacam peribahasa tentang keledai. Tetapi sepertinya memang bagian dari skenario dan penyutradaraan.

Yah, inilah kenyataan yang terus bergulir di negeri kita. Mudahnya memperkeruh keadaan. Sebab, memang, segala sesuatu yang terkait kejahatan, ketidakbenaran, ketidakadilan, hal negatif, perbuatan dosa dan sejenisnya, semua lebih mudah dilakukan dibanding perbuatan menjernihkan keadaan. Jahatnya lagi, bila semua dilakukan karena ada skenario karena tujuan dan kepentingan. Hati-hati generasi dan anak cucu di negeri ini, jutru meneladani karakter memperkeruh.

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB