Hafshah bintu Sirin Al Anshariyah - Humaniora - www.indonesiana.id
x

dok. pribadi

Annisa Nur Fadhillah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Maret 2022

Kamis, 24 Maret 2022 06:59 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Hafshah bintu Sirin Al Anshariyah

    Tulisan ini sebagai Pemenuhan Tugas Mata kuliah Komunikasi Dakwah

    Dibaca : 575 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hafshah adalah putri dari pasangan Sirin dan Shafiyyah yang menikah saat Islam sudah berkembang di Madinah. Hafshah dilahirkan pada tahun 31 Hijriyah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Hafshah bintu Sirin merupakan seorang wanita teladan yang diberi keutamaan, menghatamkan Alquran di umur 12 tahun. Dia berdiam di ruang shalatnya selama 30 tahun, tidak keluar kecuali untuk menunaikan hajatnya. Teladan wanita yang selalu mengingat kematian, menghabiskan masa hidupnya dalam ketaatan, mendiami rumahnya dan menghiasinya dengan ibadah.

    Malam-malamnya diramaikan dengan isak tangis, cinta kepada Rabb-Nya. Wanita yang pandai dan di jadikan referensi ilmu di zamannya. Hafshah bintu Sirin termasuk ulama perempuan dari kalangan tabi’in. Salah satu perempuan yang banyak meriwayatkan hadis. Ulama hadis perempuan yang  memiliki rekam jejak kisah yang menyedihkan dari latar belakang orangtuanya.

    Ayahnya adalah seorang budak dari sahabat Anas bin Malik yang telah dibebaskan. Singkat kisah, ayah Hafshah semula dijual temannya kepada Khalid bin Walid. Kemudian Khalid menjualnya kepada sahabat Anas bin Malik, lantaran kebaikan Anas bin Malik, Ayah Hafshah Sirin dibebaskan dan diperbolehkan kembali kepada keluarganya.

    Meskipun ayah Hafshah seorang budak, akan tetapi dia memiliki ibu seorang ulama terkemuka  yang bernama Shafiyyah.  Ibu Hafshah pandai memahami ilmu keislaman, lantaran pernah belajar kepada sahabat Abu Bakar, karena dahulu pernah menjadi budak  Abu Bakar. Perjalanan keilmuan Shafiyyah  tidak berhenti pada Sahabat Abu Bakar, dikala Abu Bakar sudah tiada, Shafiyyah melanjutkan belajarnya kepada putri Abu Bakar, yaitu Aisyah  Radhiyallahu’Anha.   Berkat ketekunannya, Shafiyyah berhasil mewariskan ilmunya kepada putrinya yang bernama Hafshah.

    Sejak kecil, Hafshah sudah memiliki ketekunan belajar dan kecerdasan seperti ibunya. Usia 12 tahun, Hafshah sudah mampu menghafal al quran bahkan menguasai semua bacaan qira`at al quran. Seorang bernama Mahdi bin Maimun berkata, “Hafshah bintu Sirin tinggal selama 30 tahun tidak keluar dari tempat salatnya kecuali untuk menemui seseorang atau untuk menunaikan suatu keperluan.” Diriwiayatkan, bahwa Hafshah memiliki tempat khusus yakni sebuah musala di dekat rumahnya. Dia akan masuk ke musala itu untuk melaksanakan salat zuhur dan tidak keluar lagi hingga dia mengerjakan salat subuh besok harinya. Biasanya seusai salat subuh, Hafshah tidak akan langsung meninggalkan musala. Dia akan mengerjakan salat dhuha baru kemudian keluar dan menyelesaikan urusannya. Ketika masuk waktu zuhur, Hafshah akan kembali lagi ke musala itu. Menurut sebuah riwayat, hal tersebut hampir tak pernah dia tinggalkan selama 30 tahun.

    Tak hanya salat, Hafshah juga merupakan sosok yang rajin berpuasa. Diriwayatkan bahwa dirinya berpuasa setahun penuh kecuali pada hari-hari yang dilarang berpuasa. Hafshah juga selalu menghidupkan malam-malamnya dengan membaca setidaknya setengah dari al quran. Kisah keteladanan dari cerminan sosok yang selalu mengingat kematian Persiapan Hafshah bintu Sirin Rahimaallah dalam menemui kematian dilakukan dengan rutin beribadah. Hafshah Selalu Menyimpan Kain Kafan. Kain tersebut akan dia kenakan saat dirinya menunaikan haji atau berihram. Hafshah juga akan memakai kain tersebut pada saat beribadah di 10 hari terakhir Ramadan. Hal tersebut dilakukan salah satunya untuk mengingat kematian yang bisa datang kapan saja. Sehingga dia dapat dengan tulus mengharap ampunan dan rida Rabbnya.

    Diriwayatkan pula bahwa Hafshah pernah membeli seorang budak perempuan. Budak perempuan itu dimintai pendapat mengenai Hafshah. “Dia adalah wanita salehah, dia merasa memiliki dosa yang besar, maka di seluruh malamnya dia menangis dan salat,” begitu pengakuan budak tersebut. Hafshah juga merupakan sosok yang pintar dan sering kali dimintai pendapat mengenai sebuah permasalahan.

    Sungguh cerminan sosok teladan mulia yang menginspirasi dari Hafshah bintu Sirin Rahimaallah . Beliau dikenal sebagai tabi’iyah ahli ibadah . Hafshah juga merupakan sosok wanita yang pintar dan sering kali dimintai pendapat mengenai sebuah permasalahan. Salah satu nasehat  Hafshah yang paling terkenal adalah pesannya bagi para pemuda agar memanfaatkan masa muda mereka dengan beribadah. “Wahai para pemuda, manfaatkanlah masa mudamu. Sesungguhnya aku tidak melihat amal perbuatan (yang dapat dikerjakan dengan baik) kecuali pada masa muda,” katanya.

     Hafshah meninggal pada usia hampir 70 tahun, tepatnya pada 101 Hijriyah, di Madinah. Kisah dari tabi’iyah Hafshah ini hendaknya menjadi motivasi  pembelajaraan bagi kita agar dapat bersifat zuhud dan senantiasa mengingat kematian.

     Terlahir dengan status sebagai anak budak menyandang status sosial terendah. Tak menghalangi Sang anak menjadi seorang yang pandai dan ahli ibadah. Inilah di antara kejaiban rahasia-rahasia yang terkandung dalam takdir Allah untuk manusia. Nasab dan status sosial rendah tidak menghalangi seseorang dari kemuliaan. Kedua orang tua Hafshah bintu Sirin adalah bekas budak, namun sang anak menjadi  ulama hadis perempuan. Diingat hingga sekarang, belasan abad lamanya. Siapa yang nasabnya tinggi, memiliki jabatan dan kedudukan, tetapi jauh dari ketakwaan, hal itu hanyalah kebanggaan yang tak bermanfaat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ومن بطع به عمله لم يسرع به نفسه

    “… Siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.(Hadis Riwayat Muslim,No. 6299).

    Terkadang kita menganggap kemuliaan itu datang dari nasab atau keturunan, padahal kemulian itu datang dari budi pekerti akhlak yang mulia.

    الشرف بالأدب لابالنسب

    “Kemuliaan itu karena adab bukan karena keturunan”.

    Semua yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Allah berfirman dalam Surat Yunus Ayat:49

     لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

    Artinya : “Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya)”.

     Begitulah Allah telah mengingatkan kita akan datangnya kematian yang sangat tiba-tiba. Mengingat kematian merupakan salah cara hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanhu wa ta’ala. Mereka yang senantiasa mengingat kematian akan mengontrol nafsu duniawinya. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan di dunia pasti akan dipertanggungjawabkan kelak. Lebih lagi, mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu di dunia dengan melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat.

    Asrama putri, 11 sya`ban 1443 H

    Referensi:

    https://kalam.sindonews.com/read/691019/72/hafshah-binti-sirin-sosok-muslimah-yang-gemar-mengingat-kematian-1645275728

    https://tafsirweb.com/3323-surat-yunus-ayat-49.html

    *Mahasiswi Prodi KPI Angkatan 3 STIBA Ar Raayah Sukabumi

    *Pemenuhan Tugas mata kuliah Komunikasi Dakwah

     

    Ikuti tulisan menarik Annisa Nur Fadhillah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Dien Matina

    3 hari lalu

    Antre

    Dibaca : 197 kali