x

Ilustrasi Bunga Matahari. Gambar oleh Bruno /Germany dari Pixabay

Iklan

Sausan Nabilah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Maret 2022

Sabtu, 26 Maret 2022 12:37 WIB

Ibunda Para Syuhada


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kebanyakan orang pasti merasakan kesedihan yang mendalam saat di tinggal orang tercinta, terutama keluarga. Rasa sedih yang menyebabkan beberapa orang sampai berbuat hal-hal yang tidak masuk akal. Meratap tanpa henti, bersedih yang berlebihan sampai-sampai tak memikirkan hidupnya dan hidup orang-orang di sekitarnya yang mencintainya. Tapi berbeda dengan sosok satu ini, muslimah tangguh yang rela akan kehilangan anak-anaknya tercinta demi agama penuh kedamaian ini.

Afra’ binti Ubaid bin Tsa’labah bin Ghanmin bin Malik bin An-Najjar al-Anshariyah radhiallahu anha merupakan ibu dari tujuh anak laki-laki yang gugur dalam jihad fisabilillah. Beliau termasuk sohabiyah awal yang masuk Islam dan langsung dibaiat oleh Rasulullah shalallahualaihi wassalam. Beliau menikah dengan Haris bin Rifa’ah bin Haris bin Sawad. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai tiga putra yaitu Mu’adz, Muawwidz radhiallahu anhuma. Namun suaminya menceraikan beliau dan akhirnya menikah dengan Bukair bin Abdul Lail al-Laitsy. Dari pernikahan ini beliau dikarunia empat anak yaitu Aqil, Khalid, Iyas dan Amir radhiallahu anhum. Keempat putra beliau menjadi sahabat yang pertama dibaiat Rasulullah shalallahualaihi wassalam di Mekkah. Sementara putra terakhirnya Auf, lahir dari Harist bin Rifa’ah setelah keduanya memutuskan untuk kembali rujuk.

Dalam mendidik anak-anaknya, Afra radhiallahu anha menanamkan sikap teguh untuk setia dan rela berkorban walaupun harus mengorbankan nyawa demi agama. Afra radhiallahu anha juga senantiasa mendukung putra-putranya untuk terjun dan terlibat dalam setiap peperangan yang dijalani kaum muslimin. Berkat didikan sang ibu, tujuh pria ini tumbuh menjadi anak yang taat dan sangat mencintai Rasulullah shalallahualaihi wassalam. Bakti dan kesetiaan mereka sudah mendarah daging dalam jiwa mereka. Sehingga semua putranya rela bertaruh nyawa demi menemani Rasulullah shalallahualaihi wassalam bertempur di medan Badar, salah satu perang besar pertama dalam sejarah umat Islam.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Empat putra Afra radhiallahu anha yang mati syahid di medan Badar adalah Aqil, Auf, Mu’adz, dan Mu'awwidz radhiallahu anhum. Selain keempat putra tersebut, putra-putra Afra radhiallahu anha yang lain juga syahid saat membela agama Allah. Khalid bin Bukair radhiallahu anhu gugur di tragedi Yaumurraji' di Najd, yaitu saat 10 sahabat Rasullah shalallahualaihi wassalam wafat di Sumur ar-Raji. Amir bin Bukair radhiallahu anhu gugur dalam peristiwa Bi'ir Ma'unah, kelanjutan dari perang Uhud, Iyas bin Bukair radhiallahu anhu  gugur dalam peristiwa Yamamah, peperangan kaum Muslimin dengan para pengikut nabi palsu yaitu Musailamah Al Kadzzab, pada masa khalifah Abu Bakar Ash Shidiq radhiallahu anhu .

Keutamaan putranya banyak diceritakan oleh Rasulullah shalallahualaihi wassalam. Salah satunya yang disebutkan dalam suatu riwayat dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiallahu anhu , dia berkata, “Ketika aku berdiri dalam barisan tentara pada saat Perang Badar, aku melihat kesamping kanan dan kiriku dan ternyata aku berada di antara dua anak muda dari kaum Ansor, padahal sebelumnya aku berangan-angan berada di antara dua orang yang lebih kuat daripada mereka berdua. Kemudian salah seorang dari keduanya memberi isyarat kepadaku dengan matanya seraya berkata: “Wahai paman, apakah paman mengetahui orang yang bernama Abu Jahal?” Aku menjawab:”Ya, lantas apa keperluanmu dengannya?’ Dia menjawab: “Aku mendapat kabar bahwa dia telah mencela Rasulullah shalallahualaihi wassalam. Demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya maka diriku tidak akan berpisah darinya sampai ada di antara kami yang menemui ajalnya.” Abdurrahman radhiallahu anhu melanjutkan: “Aku terkejut mendengarnya. Lalu anak muda yang satu lagi memberi isyarat kepadaku dengan matanya seraya mengatakan perkataan yang sama. Tidak lama setelah itu, aku melihat Abu Jahal bergerak diantara kerumunan pasukan Quraisy. Maka aku berkata kepada keduanya, ‘Tidaklah kalian lihat, itulah orang yang kalian tanyakan kepadaku tadi’.” Abdurrahman radhiallahu anhu melanjutkan “Maka mereka berdua langsung memburu Abu Jahal dan memukulkan pedang mereka hingga akhirnya mereka berdua dapat membunuhnya. Kemudian setelah itu, mereka berdua pergi menemui Rasulullah shalallahualaihi wassalam dan memberitahukan hal tersebut kepada beliau.”Maka beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian bedua yang telah membunuhnya?” Masing-masing dari mereka menjawab: “Akulah yang telah membunuhnya”. Maka Rasulullah shalallahualaihi wassalam bersabda, “Apakah kalian berdua telah membersihkan pedang kalian?” Mereka menjawab: “Belum”. Beliau pun melihat kedua pedang itu lalu bersabda “Kalian berdua yang telah membunuhnya”.

Keteladanan yang dapat kita ambil dari sahabiyah Afra radhiallahu anha   sangatlah banyak, kita belajar bahwa seorang ibu sangat berpengaruh terhadap anak-anaknya. Bagaimana seorang anak bisa sukses jika seorang ibu tidak mendidiknya dengan tarbiyah yang benar dan telaten mengajarkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak mereka agar kelak mereka tumbuh dengan karakter cinta Rasul, berani, mau berjuang dan berdedikasi tinggi terhadap agama. Afra radhiallahu anha memberikan kita contoh tentang apa yang dia yakini dengan perbuatan nyata. Hal ini menjadi penyemangat bagi kita bahwa dakwah tidak hanya soal berbicara namun juga pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari. Dari Afra radhiallahu anha  kita juga dapat belajar arti pengorbanan dan keikhlasan sesungguhnya karena beliau tau tujuan dari semua itu adalah untuk menggapai rida Allah subhnahu wataala.

Dapat kita simpulkan bahwasanya perempuan memiliki peran sangat penting dalam membangun generasi penerus bangsa dan agama. Saat kita perhatikan sejak era Nabi shalallahualaihi wassalam hingga sekarang, lahirnya tokoh-tokoh hebat tidak lepas dari didikan ibu yang hebat pula. Hal ini selaras dengan sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Al-Ummu madrasah ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. (Ibu adalah madrasah pertama, jika engkau mempersiapkannnya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik). Siapkah kita menjadi seperti para sohabiyat hebat pada zaman ini?

 

Referensi:

https://www.republika.co.id/berita/ojhaxd313/afra-binti-ubaid-ibu-dari-tujuh syuhada#:~:text=Nama%20lengkapnya%20adalah%20Afra%20bintu,dua%20laki%2Dlaki%20yang%20berbeda, diakses pada tanggal 27 Februari 2022 Pukul 10.00 WIB

https://www.voa-islam.com/read/mujahid/2009/07/26/477/afra-binti-ubaid-bin-tsalabah-dan-ummu-suraqah/,diakses pada tanggal 27 Februari 2022 Pukul 10.00 WIB

 https://mubadalah.id/afra-binti-ubaid-ibunda-para-syuhada/,diakses pada tanggal 27 Februari 2022 Pukul 10.00 WIB

 

*Mahasiswi Angkatan III Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STIBA Ar Raayah Sukabumi

Ikuti tulisan menarik Sausan Nabilah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu