Dekrit yang Membagi Bumi untuk Jatah Portugal dan Spanyol - Analisis - www.indonesiana.id
x

Peta Kuno Maluku. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Kamis, 21 April 2022 07:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dekrit yang Membagi Bumi untuk Jatah Portugal dan Spanyol

    Setelah adanya “Keputusan Ilahi” mereka berambisi untuk merebut jalur-jalur perdagangan dari Timur ke Barat yang selama ratusan tahun telah dikuasai negara-negara Hindu, Budha, dan Muslim. Di Afrika, Amerika dan Asia, pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol kemudian menjadi tangan-tangan kolonialis Barat pertama yang menancapkan kukunya.

    Dibaca : 1.228 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Eropa mulai mengalami masa penemuan (age of discovery) dan masa perluasan kekuasaan (age of expansion) di kisaran tahun 1450 sampai 1650. Pada masa itu peradaban di Barat secara tersendiri berkembang dengan mengadopsi unsur-unsur atau wujud-wujud budaya yang bermanfaat dari dunia Islam dan Bysanz.

    Kekuatan kolonial utama Eropa pada saat itu adalah Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Perancis. Bangsa-bangsa ini sebelumnya begitu tertinggal, sampai kemudian di tahun 1350 mereka dapat melayari laut Tengah, ujung barat di Spanyol dan ujung timur di Turki. Padahal, lebih dari 1000 tahun sebelumnya orang-orang Romawi telah melakukan hal yang serupa. Dan, pada abad ke-15, bahkan orang-orang Eropa hanya mengetahui sedikit hal tentang permukaan bumi.

    Peta dunia yang dibuat pada tahun 1511 oleh Vessente Maggioli masih berdasarkan pada teori bumi sebagai tanah yang sambung menyambung. Teori yang sudah usang ini diciptakan pada abad ke-2 oleh Ptolomeus, orang Yunani-Mesir. Akibat dari anggapan tentang bumi yang salah itu, Maggioli menggambarkan Amerika sebagai kelanjutan dari Asia. Ia tidak tahu bahwa beberapa benua dipisahkan oleh laut.

    Di akhir abad pertengahan, perkembangan ilmu pengetahuan berhasil menyebabkan munculnya perubahan besar dan cepat (revolusi) di Eropa. Hal itu juga ditandai oleh penemuan Nicolaus Copernicus yang baru menyadari teori Heliosentris (helios=matahari, centrum=pusat), artinya tata surya ini berpusat pada matahari. Teori Heliosentris ini membantah teori lama di Eropa yang bersifat Geosentris (geos=bumi, centrum=pusat) yang didukung dan disahkan oleh gereja sebagai salah satu ajaran resmi para penganut Katolik. Ajaran geosentris ini pada perkembangannya telah melahirkan suatu pandangan bahwa bumi ini datar seperti meja.

    Bersamaan dengan masa Heliosentris bangsa-bangsa Eropa juga telah mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang geografi dan teknologi. Sebelumnya, mereka memang tertinggal selama berabad-abad lamanya oleh bangsa Romawi dan bangsa Islam. Tetapi, mereka tetap berlomba-lomba untuk mengarungi samudra meskipun belum yakin betul apakah dunia ini benar bulat seperti bola atau datar seperti meja. Mereka amat berambisi membangun wilayah-wilayah pendudukan atau koloni dimana hal ini kemudian menjadi cikal-bakal kolonialisme oleh Eropa.

    Lalu, seiring dengan kejatuhan muslim di Andalusia dan adanya Piagam Tordesillas antara Portugis dengan Spanyol, jung-jung yang sebelumnya menguasai jalur perdagangan antara Laut Merah hingga Laut Cina Selatan lambat laun juga digeser oleh kapal-kapal Eropa yang memiliki kemampuan tempur lebih unggul seperti Carravel, Carrack, Galleon, Frigate, dan lainnya.

    Berangsur-angsur selurih penjuru bumi akhirnya didatangi orang berkulit putih berambut jagung, dimana mereka memulai white supremacy secara de facto. Di Nusantara, pada era yang mula-mula sekali kedatangan orang Portugis diawali oleh Marcopolo, seorang Venesia yang datang sebagai (anehnya) utusan Khan, Kaisar Mongolia yang saat itu menjadi penguasa China. Salah satu catatan yang bermanfaat dari perjalanannya itu, Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat itu (1292) penduduk kota kecil Perlak di ujung utara Sumatera sudah menganut Islam.

    Akan tetapi, ketika orang-orang Islam baru saja memuncaki otoritasnya di Nusantara pada abad-abad sesudah kedatangan Marcopolo, kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun segera terganggu oleh kedatangan pelaut-pelaut Portugis lain yang bersikap anti terhadap Islam. Dan, fenomena ini ternyata bukan sebuah kebetulan. Pasca keberhasilan Reconquista, Perjanjian Tordesillas yang disetujui pada 7 Juni 1494 oleh Portugis dan Spanyol secara angkuh telah membagi dunia di luar Eropa ke dalam lingkup kepentingan yang sama, yang dilakukan persis seperti membelah jeruk.

    Garis Tordesillas membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verde di sebelah Barat benua Afrika. Mereka menandatangani persetujuan yang membelah bumi jadi dua kapling. Ke barat untuk Spanyol, dan ke timur untuk Portugis. Perjanjian diantara dua kerajaan dari Holy Roman Empire ini juga berjalan atas restu dari Paus dengan dikeluarkannya dekrit berjudul Inter caetera Devinae, “Keputusan Ilahi”.

    Sedangkan bagi dunia Islam, setelah lama kehilangan khilafah besarnya akibat serbuan Timurlenk ke Baghdad, keberhasilan Reconquista pada akhirnya memunculkan kekhawatiran baru bagi wilayah-wilayah Islam yang lain. Perjanjian Tordesillas yang direstui oleh Paus dengan sendirinya telah mencetuskan lagi berkobarnya Perang Salib, yang kali ini akan dilancarkan oleh Portugis dan Spanyol ke seluruh samudera.

    Pada abad ke-15, bangsa-bangsa di Eropa berada dalam peralihan ke babak baru, dimana konstelasi perdagangan dunia mulai berubah akibat penjelajahan yang menyebar ke seluruh benua dan adanya kolonialisasi. Secara gencar Portugis dan Spanyol mengirimkan serangkaian ekspedisi. Tahun 1488, orang Portugis, Bartolomeus Dias, berhasil melakukan ekspedisi hingga sampai dan mengitari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika dan kembali ke Portugis.

    Tahun 1492, Colombus menemukan benua Amerika, dan dimulailah penjajahan terhadap suku Indian. Tahun 1500, Pedro Alvares Cabral, pelaut Portugis, menemukan rute perjalanan ke Brazil. Tahun 1497, Vasco da Gama memulai ekspedisi mencari rute jalur laut antara Eropa, India dan Timur Jauh; kemudian di tahun 1502, ia sudah berhasil membangun daerah koloni Portugis di Timur Afrika.

    Di awal abad ke-16, pelaut Portugis lainnya, Ferdinand Magellan, bahkan melakukan ekspedisi keliling bumi, konon untuk yang pertama kalinya. Setelah adanya “Keputusan Ilahi” mereka berambisi untuk merebut jalur-jalur perdagangan dari Timur ke Barat yang selama ratusan tahun telah dikuasai oleh negara-negara Hindu, Budha, dan Muslim. Di Afrika, Amerika dan Asia, pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol kemudian menjadi tangan-tangan kolonialis Barat yang pertama menancapkan kukunya.

    Di seluruh daratan yang berhasil dibukanya, mereka tidak sekedar berniaga dan membangun hubungan multilateral seperti yang telah ratusan tahun dilakukan oleh orang-orang Arab, India (Gujarat), Cina, dan lainnya. Selain dalam rangka menegakkan "Keputusan Ilahi", hal tersebut juga dilakukan untuk menjaga supremasi di kampung halamannya sendiri (Eropa) melalui kekayaan yang akan diperolehnya dari dunia baru.

    Pembukaan jalur perdagangan baru ke India oleh Vasco da Gama membawa dampak yang luar biasa. Jalur perdagangan lewat darat antara India dan Eropa menjadi tidak berguna karena jalur laut yang dirintis oleh Portugis melewati Afrika jauh lebih murah. Dan, hal ini merupakan pukulan pahit bagi orang-orang Turki yang sebelumnya telah menutup perdagangan dengan Lisbon.

    Setelah berhasil membuat pangkalan militer di Goa (India), Portugis segera menaklukan Malaka dan Samudera Pasai dengan maksud mencekik jalur perdagangan yang melintas dari Laut Persia, Kepulauan Hindia (Nusantara) dan Laut Cina Selatan. Oleh karena itu, tumbuhnya pilar-pilar baru kepemimpinan Islam di Timur seperti yang dibangun oleh Walisongo di pesisir utara Jawa —juga otoritas-otoritas Islam di wilayah lain, dalam hal ini dapat dipahami berjalan dalam orientasi global.

    Tumbuhnya aliansi-aliansi muslim di Timur tentunya dapat dibaca sebagai “efek domino” dari kehancuran Baghdad (1258), keberhasilan Turki menaklukkan Konstantinopel (1453) yang mengakibatkan terputusnya jalur perdaganggan antara Lisbon dengan kawasan timur Laut Tengah, kejatuhan Andalusia (1492), adanya Perjanjian Tordesillas (1494), dan pendudukan Malaka oleh Portugis (1511). Meluasnya kekuasaan Portugis menjadi awalan yang memukul hegemoni lama. Berbagai kota-kota pelabuhan di Asia jatuh ke bawah tahta Portugal dan memberi dampak yang berantai.

    Ramainya perdagangan dunia yang telah dijalankan melalui wilayah-wiayah Islam, serta adanya tradisi perjalanan haji, merupakan faktor utama yang membuat berbagai peristiwa yang berlangsung di suatu wilayah bisa dengan mudah tersiar dan memberikan pengaruh terhadap daerah-daerah di tempat lain. Maka, kehancuran suatu daerah, apalagi terjadi pada wilayah yang strategis, menjadi sangat berdampak terhadap stabilitas ekonomi maupun politik di daerah-daerah lain.

    Mata rantai perdagangan dan budaya yang telah terbentuk serta mapan di Timur akhirnya terguncang oleh tembakan-tembakan meriam kapal Portugis. Berkat upayanya keluar dari mitos-mitos yang menyebut bumi datar, Eropa tidak lagi menerima rempah-rempah melainkan mereka ambil sendiri langsung dari gudang-gudangnya di Timur. Dan, abad 16 adalah masa peletakan batu pertama bagi Eropa untuk memulai hegemoninya atas bumi.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.476 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi