Ojo Dumèh - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kekuasaan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 21 April 2022 11:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ojo Dumèh

    Barangkali Anda sering bertemu orang yang arogan. Arogansinya mungkin memang ada dasarnya. Dia kaya, atau pintar atau berkuasa. Tapi sejatinya manusia tidak patut arogan karena semua capaian adalah pemberian Allah.

    Dibaca : 917 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ojo dumèh

    Apa arti frasa di atas?  Demikian mungkin anda bertanya.

    Ojo dumèh berasal dari bahasa Jawa. Artinya jangan sombong.  Leluhur kita bangsa Indonesia sudah paham bahwa keberhasilan manusia tergantung pada Allah swt. Memang manusia harus berupaya menggapai cita citanya tapi Allah yang menentukan keberhasilannya.  Apabila sudah diberi ijin oleh Allah maka semesta akan mendukung. Dalam bahasa Jawa ada kalimat suket godong dadi konco.  Artinya rumput dan daunpun jadi teman. Maksudnya semua faktor mendukung.  Apabila belum diberi ijin oleh Allah maka suket godong dadi mungsuh.  Padanannya dalam bahasa Indonesia rumput dan daun jadi musuh. Maksudnya situasi dan kondisi dunia tidak mendukung bahkan menjadi kendala.

    Empu Kanwa dalam karyanya Arjuno Wiwoho juga menulis hal yang sama.  Ketika Arjuno berhasil membunuh cèlèng raksasa yang mengganggu warga desa, ternyata ada dua panah yang menancap di tubuh si cèlèng.  Kemudian muncul seorang satria lain yang memanah pada saat yang bersamaan.  Arjuno dan satria itu saling mengklaim panahnyalah yang membunuh cèlèng. Terjadi pertengkaran yang berujung pada perkelahian.  Arjuno yang sakti ternyata mudah saja dikalahkan oleh satria tersebut.  Seletalh keok satria tadi kembali ke wujud aslinya, seorang dewa. Itu adalah metafora yang maksudnya ada peran Tuhan dalam keberhasilan manusia.

    Bagaimana dalam Islam?

    Di dalam surat Az Zumar ayat 52 disebutkan:

    Tidakkah mereka tahu bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman

    Jadi jelas bahwa kelapangan rejeki manusia tergantung pada Allah swt.  Saya yakin itu berlaku dalam semua bidang.  Orang pintar yang memiliki sederet gelar akademik juga mendapat anugerah ilmu dari Allah.  Orang berkuasa juga mendapat kekuasaan dari Allah.  Pemilu, dagang, belajar itu hanya sarananya saja.  Tapi sumber ilmu, rejeki, kekuasaan adalah Allah swt.

    Maka mari kita bersikap rendah hati.  Tidak perlu menyombongkan diri sebagai orang kaya, berkuasa, pintar dsb.  Masyarakat juga lebih menyukai dan menghormati orang yang rendah hati.  Orang kaya raya, orang pintar dan orang berkuasa yang rendah hati sangat disegani di masyarakat.

    Situasinya sudah jelas. Pilihannya terserah Anda. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.