Persaudaraan Dua Kedaulatan Gowa Tallo - Analisis - www.indonesiana.id
x

Istana Tamalate di Gowa, Sulawesi Selatan. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Selasa, 10 Mei 2022 14:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Persaudaraan Dua Kedaulatan Gowa Tallo

    Dalam beberapa generasi, hubungan Gowa-Tallo juga ditandai oleh satu bentuk persekutuan yang sangat integral, dimana raja-raja Tallo senantiasa diangkat sebagai perdana menteri di kerajaan Gowa, meskipun juga tetap memegang jabatannya sebagai raja Tallo. Hubungan politik ini kemudian semakin erat tatkala raja Gowa yang berusia muda bernama Tunajallo menikahi I Sambo, anak tertua Makkoayang.

    Dibaca : 363 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Edward L Poelinggoman mengutarakan, bahwasannya bandar niaga Makassar terbentuk dari dua bandar niaga kerajaan kembar Gowa-Tallo. Kedua bandar itu adalah bandar Tallo dari Kerajaan Tallo yang terletak di pesisir muara Sungai Bira (Sungai Tallo), serta bandar Sombaopu dari Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir muara sungai Jeneberang. Dua kerajaan tetangga itu berhasil membentuk persekutuan melalui mufakat penyelesaian konflik di tahun 1528, dimana Gowa sebelumnya berhasil mengalahkan Tallo.

    Tunipasuru, penguasa ke-III dalam silsilah kerajaan Tallo, mengadakan perjanjian sumpah setia dengan penguasa ke-IX kerajaan Gowa, Tumpa'risi Kallona. Kesepakatan itu amat berpengaruh bagi rakyat maupun semua yang mengenal dua kerajaan tersebut, sehingga muncul ungkapan se'reji ata narua karaeng" (satu rakyat, dua raja). Sebab, walaupun persekutuan yang dibangun antara Gowa-Tallo telah menyatukan dua sifat kerajaan ke dalam satu aturan bernegara, namun tetap mengakui kedudukan kekuasaan masing-masing sebagai kerajaan. Raja Gowa ditempatkan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan kembar itu (sombaya), sedangkan raja Tallo sebagai pejabat tuma'bicara butta atau perdana menteri yang mengelola jalannya pemerintahan.

    Awalnya, kemunculan antara Gowa dan Tallo terjadi pada masa kekuasaan raja Gowa ke-VI, Tunatangka Lopi, yang membagi kerajaan secara berdampingan ke dalam dua pucuk pemerintahan bagi kedua anaknya. Kepada putranya yang bernama Batara Gowa, Tunantangka Lopi memberikan daerah Pacellekang, Pattallasang, Bontomanai (baik sebelah timur dan barat), Tombolo serta Mangasa. Dan, bagi putranya yang bernama Karaeng LoE ri-Sero, diberikan kekuasaan atas daerah Saumata, Panampu, MocongloE dan ParangloE, yang selanjutnya disebut sebagai Kerajaan Tallo Sedangkan daerah Gowa sendiri, pada mula-mula sekali terdiri dari sembilan komunitas yang disebut sebagai Bate Salapang (Sembilan Bendera) dan selanjutnya menjadi inti bagi berdirinya Kerajaan Gowa, yaitu: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Selain itu, melalui berbagai cara baik damai maupun kekerasan, komunitas lainnya juga bergabung dan turut membentuk Kerajaan Gowa; dimana cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai pendiri Istana Gowa (namun tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang mendahului datangnya Tumanurung, dimana tersebut Batara Guru dan saudaranya sebagai dua orang pertama).

    Menjelang abad ke-XV, hampir seluruh negeri orang Makassar telah berada dibawah kekuasaan atau perlindungan kerajaan Gowa-Tallo. Dan, dalam kurun abad ke-XVI, dibawah kekuasaan Raja Gowa ke-IX dan ke-X, daerah kekuasan Kerajaan Gowa telah melampaui wilayah Gowa sendiri dan meliputi hampir seluruh Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Pengunjung-pengunjung dari kerajaan lain pun mengenal pula Raja Gowa sebagai raja orang Makassar atau Kerajaan Makassar, dan penulis-penulis sejarah kemudian juga biasa menamakan Kerajaan Gowa-Tallo dengan Kerajaan Makassar; malahan, dalam berbagai buku ditulis tentang Kesultanan Makassar dengan maksud arti yang sama dengan Kesultanan Gowa.

    Adanya persekutuan antara Gowa dan Tallo berhasil membawa orang-orang Makassar untuk dengan cepat menjadi kekuatan dominan di wilayah Sulawesi Selatan. Konflik dan persaingan yang kemudian berakhir dengan pembentukan persekutuan kerajaan kembar Gowa dan Tallo, nampaknya juga bertolak dari keinginan Kerajaan Gowa untuk mengubah orientasi ekonomi negaranya dari agraria ke dunia maritim semasa pemerintahan raja Gowa ke-IX yang bergelar Tumapa'risi' Kallonna Daeng Matanre Karaeng Manguntungi (1510-1546).

    Selain itu, kebijakan tersebut nampaknya juga diambil mengingat semakin banyaknya arus migran pedagang Melayu ke kawasan ini setelah Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511. Selain itu, kemunculan Makassar sebagai kekuatan dominan di wilayah Sulawesi Selatan juga tidak bisa dilepaskan dari proses penyatuan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh Gowa dan Tallo.

    Apabila Gowa dikenal sebagai kerajaan yang memiliki keunggulan dalam bidang teknologi kemiliteran, maka Tallo lebih dikenal karena kekuatan perniagaan dan kemampuannya dalam hal diplomasi politik. Walaupun posisi Kerajaan Gowa dalam persekutuan ini nampak lebih menonjol, namun keberadaan Kerajaan Tallo tidak serta-merta menjadi sekunder, melainkan justru sangat signifikan terutama menyangkut urusan-urusan pemerintahan.

    Misalnya, ketika terjadi peperangan antara Gowa dan Tallo dari pihak Makassar melawan kerajaan Bone dari pihak Bugis, Tumenanga ri Makkoayang, raja Tallo, mengambil langkah-langkah diplomasi politik yang cemerlang untuk mengakhiri perang dan membuat perjanjian damai dengan Kerajaan Bone. Peran yang dimainkan Makkoayang berhasil menciptakan stabilitas politik di wilayah Sulawesi selatan.

    Dalam beberapa generasi, hubungan Gowa-Tallo juga ditandai oleh satu bentuk persekutuan yang sangat integral, dimana raja-raja Tallo senantiasa diangkat sebagai perdana menteri di kerajaan Gowa, meskipun juga tetap memegang jabatannya sebagai raja Tallo. Hubungan politik ini kemudian semakin erat tatkala raja Gowa yang berusia muda bernama Tunajallo menikahi I Sambo, anak tertua Makkoayang.

    Namun demikian, kedekatan hubungan Gowa-Tallo di dalam persekutuan Makassar, yang bahkan telah diikat oleh tali perkawinan di antara mereka, tidak lantas menghilangkan kedaulatan masing-masing kerajaan. Keinginan untuk tetap mempertahankan identitas masing-masing kerajaan tetap terlihat dari adanya penolakan, baik di kalangan Gowa maupun Tallo, yang menghindari adanya peleburan antara kerajaan Gowa dengan kerajaan Tallo. Pun setelah Makkoayang wafat dan Tunajallo terbunuh dalam suatu insiden, I Sambo kemudian kembali ke Tallo dan kekuasaan di Gowa diserahkan kepada anak pertama hasil perkawinannya dengan Tunajallo yang dikenal dengan nama Tunipasulu.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.