Sastra Indonesia Sebelum Kemerdekaan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Yulia Nur Hasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 April 2022

Rabu, 11 Mei 2022 20:26 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sastra Indonesia Sebelum Kemerdekaan

    Artikel ini membahas mengenai kesusastraan Indonesia periode sebelum kemerdekaan tepatnya periode Balai Pustaka, periode Pujangga Baru, dan periode Angkatan 45 bagian I. Sastra tentunya terus berkembang dari waktu ke waktu. Dengan adanya artikel ini, pengetahuan mengenai sastra Indonesia khususnya pada saat pra-kemerdekaan akan bertambah.

    Dibaca : 352 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

                Sastra adalah hasil karya ciptaan manusia yang berisi cerita mengenai kehidupan manusia dengan bahasa sebagai mediumnya. Plato berpendapat jika sastra merupakan hasil tiruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis). Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan. Seiring dengan perkembangannya, sastra dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan zaman di mana sastra itu dibuat yaitu karya sastra lama dan karya sastra baru. Sastra masuk ke Indonesia sejak sebelum abad ke 20 yang dalam perkembangannya terbagi menjadi beberapa periode.

                Periodisasi sastra adalah istilah yang dipakai untuk penggolongan sastra berdasarkan waktu pembuatannya. Perkembangan sastra di Indonesia menurut H. B. Jassin terbagi menjadi dua yaitu periode sastra Melayu Lama dan periode sastra Indonesia Modern. Pada periode sastra Indonesia Modern, beliau membagi lagi menjadi lima periode yaitu: angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 45, dan angkatan 66. Pada artikel ini, penulis akan membahas periode sastra Indonesia sebelum kemerdekaan.

                Indonesia dinyatakan merdeka setelah pembacaan prokamasi oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Maka periodisasi kesusastraan Indonesia sebelum kemerdekaan dimulai dari angkatan Balai Pustaka sampai angkatan 45. Khusus untuk angkatan 45 terbagi menjadi dua periode yaitu angkatan 42 - 45 dan angkatan 45 - 53. Karena pembahasan ini berfokus pada kesusastraan sebelum kemerdekaan, penulis hanya memasukan angkatan 45 untuk periode awal di tahun 42 - 45.

    1. Angkatan Balai Pustaka

    Balai Pustaka didirikan oleh Belanda pada tahun 1908 dengan tujuan untuk memerangi bacaan liar yang beredar pada masa itu. Dalam hal ini, bacaan liar yang dimaksud adalah karya sastra berisi perlawanan terhadap pemerintahan dan disebut sebagai sastra perlawanan. Karya sastra angkatan Balai Pustaka didominasi oleh roman, novel, cerita pendek, dan puisi. Tema yang digunakan masih bercorak kebudayaan atau adat istiadat seperti kawin paksa. Mayoritas sastrawan angkatan Balai Pustaka berasal dari Sumatera, sehingga karya sastra angkatan ini banyak menggunakan bahasa Melayu dengan memakai gaya bahasa perumpamaan klise. Salah satu karya sastra populer pada angkatan ini adalah novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli yang fenomenal sampai sekarang hingga menjadi ikon perjodohan.

    1. Angkatan Pujangga Baru

    Angkatan Pujangga Baru muncul setelah terbitnya majalah Pujangga Baru pada tahun 1933. Karakteristik sastra angkatan Pujangga Baru adalah didominasi oleh sastra romantisme dengan penggunaan gaya bahasa yang indah serta bersifat didaktis. Tema yang digunakan pun sudah berganti menjadi kehidupan masyarakat kota. Pada masa ini muncul dua golongan sastrawan yaitu kelompok “Seni Untuk Seni” dan “Seni Untuk Rakyat”. Contoh karya sastra yang populer pada masa ini adalah novel Layar Tembalang karya Sutan Takdir Alisjahbana.

    1. Angkatan 45 Bagian I

    Karya sastra pada masa ini didominasi oleh puisi, cerita pendek, novel, dan drama yang bercorak peperangan atau propaganda.Periode ini dimulai tahun 1942 sampai dengan tahun 1945. Periode angkatan 45 bagian I ditandai oleh banyaknya karya propaganda dan sarat dengan politik Jepang, oleh karena itu karya roman tidak terlalu banyak pada periode ini. Pencitraan stigma yang dilakukan oleh Jepang di antaranya seperti menerbitkan karya tentang kelebihan Jepang di Balai Pustaka.

                Kesimpulan yang bisa didapat dari uraian di atas di antaranya: kesusastraan Indonesia periode pra-kemerdekaan terbagi menjadi tiga bagian atau tiga periode. Diawali dengan periode Balai Pustaka yang didirikan dengan tujuan memerangi bacaan liar. Adapun karya sastra yang mendominasi periode ini adalah roman, novel, cerita pendek, dan puisi. Pada masa ini, sastrawan banyak berasal dari Sumatera sehingga bahasa karya terbitan Balai Pustaka didominasi oleh bahasa Melayu. Balai Pustaka berhasil menerbitkan karya-karya populer, salah satunya yaitu novel Siti Nurbaya karya Marah Roeslil Tahun 1933, muncul majalah Pujangga Baru yang menjadi awal angkatan Pujangga Baru. Karya sastra pada masa ini bercorak romantik, didaktis, dan idealisme. Jika pada Balai Pustaka terdapat Siti Nurbaya, maka pada masa ini ada Layar Tembalang milik Sutan Takdir Alisjahbana yang masih fenomenal hingga saat ini. Kemudian angkatan 45 bagian awal tepatnya tahun 1942 – 1945 memunculkan karya-karya bercorak peperangan dan penuh dengan unsur propaganda.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.